NovelToon NovelToon
Mengandung Benih Kembar CEO Mandul

Mengandung Benih Kembar CEO Mandul

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / One Night Stand / Anak Kembar
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Ternyata kamu tidak lebih dari wanita sampah Kiana! Bagaimana bisa kamu hamil jika tidak berhubungan dengan laki-laki lain?! Kau tahu aku ini Mandul!

...

Kiana Mahira wanita 25 tahun yang terjebak malam panas bersama Pria 35 tahun bernama Ardan Arkatama. Malam itu Kiana terpengaruh obat yang di cekoki pacarnya, Dafa (28). Dafa berniat menjadikan Kiana tumbal pelunas hutang kepada seorang rentenir tua. Malam itu Kiana berhasil kabur dengan kondisi mabuk dan terpengaruh obat dosis tinggi. Namun justru dia jatuh ke pelukan Ardan Arkatama seorang CEO dingin yang sedang frustasi berat karena tuntutan ahli waris di tengah vonis kemandulannya.

Satu malam panas itu ternyata membuat Kiana mengandung anak kembar. Kiana yang sudah sepakat dengan Ardan untuk melupakan malam itu memilih diam karena takut Ardan pasti tidak akan mengakuinya karena pria itu sangat yakin dirinya mandul tanpa tahu semua ini hanyalah rekayasa dari pamannya yang haus kekuasaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 // MBKCM

​Kesibukan di dalam ruang kerja CEO Arkatama Group seolah tidak pernah mereda, bahkan setelah tiga bulan berlalu sejak malam pertunangan megah itu dilaksanakan. Ardan Arkatama duduk tegak di balik meja kerjanya yang luas, jari-jarinya yang panjang bergerak dengan kecepatan konstan di atas papan ketik laptop. Lembar-lembar dokumen analisis pasar dan laporan keuangan kuartal pertama menumpuk di sisi kirinya, menuntut perhatian penuh dari sang pria berahang tegas tersebut.

​Pintu ruang kerja mendadak terbuka tanpa ketukan yang berarti. Dania Abraham melangkah masuk dengan anggun, mengenakan gaun pas badan berwarna merah menyala yang mempertegas lekuk tubuhnya yang ramping. Tas bermerek internasional berharga ratusan juta rupiah tersampir manja di lengan kanannya. Hari ini adalah tepat tiga bulan sejak mereka resmi bertunang, dan Dania sengaja datang untuk membawa sebuah agenda besar.

​"Kak Ardan sayang," panggil Dania dengan suara yang sengaja dibuat semanis madu, berjalan mendekati meja kerja tunangannya.

​Ardan tidak mendongak. Matanya tetap terpaku pada grafik penjualan yang tertera di layar monitor. "Hmm. Ada apa, Dania? Aku sedang sedikit sibuk sekarang."

​Dania mengembuskan napas panjang, meletakkan tasnya di atas sofa dengan sedikit menghentak. Dia berjalan memutari meja kerja Ardan, lalu berdiri tepat di samping kursi kebesaran pria itu.

​"Sudah tiga bulan kita bertunangan, Kak. Tapi setiap kali aku datang ke kantormu, jawabanmu selalu saja sibuk, sibuk, dan sibuk," keluh Dania, melipat kedua tangannya di dada dengan bibir yang mengerucut manja. "Aku ke sini mau membahas soal konsep pernikahan kita nanti. Vendor dari Bali dan desainer gaun pengantin dari Paris sudah mengirimkan beberapa draf proposal ke email-ku. Kita harus mulai menentukan tanggal dan temanya dari sekarang, Kak."

​Ardan tetap tidak bergeming. Jarinya menekan tombol scroll pada mouse, mengabaikan setiap kalimat yang meluncur dari bibir Dania. "Atur saja dulu dengan ibumu. Apa pun yang kamu pilih, aku akan menyetujuinya selama itu tidak mengganggu jadwal kerjaku."

​Mendengar respons yang teramat dingin dan acuh tak acuh itu, kekesalan Dania mencapai puncaknya. Sudah berjalan tiga bulan penuh, namun Ardan sama sekali belum bisa membuka hatinya sedikit pun untuk dirinya. Tidak ada tatapan hangat, tidak ada pelukan spontan, bahkan jabat tangan pun terasa seperti urusan bisnis yang kaku. Ardan benar-benar mengunci rapat seluruh ruang di hatinya dari kehadiran Dania.

​Karena merasa diabaikan dan kesal lantaran Ardan terlalu fokus pada laptopnya hingga seolah tidak mendengar apa yang dia bicarakan, Dania memutuskan untuk mengambil tindakan yang lebih berani. Dengan gerakan cepat, dia menyingkirkan beberapa berkas di dekat Ardan, lalu dengan sengaja mendudukkan tubuhnya tepat di atas pangkuan Ardan.

​Ardan terkejut, jemarinya berhenti mengetik seketika. Badannya menegang kaku seperti batu. "Dania, apa yang kamu lakukan? Turun. Ini di kantor."

​Dania tidak memedulikan teguran itu. Dia justru mengalungkan kedua lengan rampingnya di sekeliling leher Ardan, merapatkan tubuhnya hingga wangi parfum mahal yang menyengat langsung menusuk indra penciuman pria itu.

​"Kak Ardan sayang... dengarkan aku dulu dong," bisik Dania dengan nada menggoda yang sensual. Jemari tangannya yang berkuku merah lentik mulai bergerak membelai rahang tegas Ardan dengan lembut, berniat untuk meruntuhkan pertahanan dingin sang CEO. "Bagaimana jika nanti malam kamu menginap di apartemenku saja? Kita rayakan 3 bulan hari jadi kita, hanya berdua saja."

​Ardan mencoba memalingkan wajahnya, namun Dania justru menahan dagunya dan mendekatkan wajah mereka hingga menyisakan jarak beberapa sentimeter saja.

​"Bukankah kita harus lebih dekat lagi, Kak? Hubungan kita ini terlalu kaku seperti rekan kerja," bisik Dania lagi, mengembuskan napasnya di dekat telinga Ardan. Dia lalu berbisik dengan sangat berani, "Melakukan itu sebelum hari pernikahan kita tiba juga tidak apa-apa kok, Kak... Lagipula, biar kita lebih mudah dekat dan saling terikat satu sama lain, kan? Lebih baik kita langsung ke intinya saja malam ini, bagaimana?"

​Mendengar ajakan sensual yang begitu vulgar dari tunangannya, rahang Ardan seketika mengeras. Alih-alih merasa tergoda, perutnya justru mendadak mual. Sentuhan Dania di rahangnya terasa begitu asing dan tidak nyaman. Pikiran Ardan dalam sekejap mata justru melempar ingatannya pada malam di mana seorang gadis polos menangis ketakutan di bawah kungkungannya, sebuah sentuhan yang jauh dari kata buatan dan penuh dengan kepolosan yang jujur.

​Tanpa membuang waktu lagi, Ardan segera menghindar. Dia mencengkeram kedua pergelangan tangan Dania dengan cukup kuat, lalu dengan paksa menurunkan Dania dari pangkuannya hingga wanita itu berdiri kembali di atas lantai.

​"Maaf, aku sangat sibuk hari ini, Dania. Dan aku tidak punya waktu untuk hal-hal seperti itu," tegas Ardan, suaranya terdengar sangat bariton dan dingin, tanpa ada celah untuk dibantah.

​Dania ternganga, menatap tunangannya dengan tatapan tidak percaya sekaligus malu yang amat sangat. "Kak Ardan! Kamu menolaku lagi?!"

​Ardan tidak menjawab. Dia membuka laci meja kerjanya, lalu mengeluarkan sebuah dompet kulit hitam dan menarik sebuah kartu hitam eksklusif, Black Card tanpa limit lalu meletakkannya di atas meja, menggesernya ke hadapan Dania.

​"Aku harus berangkat ke Bandung siang hari ini juga untuk urusan dinas penting," ucap Ardan, merapikan jasnya yang sedikit kusut akibat ulah Dania tadi. "Bawa kartu ini. Beli apa pun yang kamu perlukan untuk persiapan pernikahan kita. Pilih vendor terbaik, beli perhiasan yang kamu mau. Maaf aku tidak bisa menemanimu."

​Setelah mengatakan hal itu, Ardan langsung menyambar ponsel dan tas kerjanya, lalu melangkah pergi begitu saja keluar dari ruang kerja, meninggalkan Dania sendirian di dalam ruangan yang luas dan sunyi itu.

​Brak!

​Dania menggebrak meja kerja Ardan dengan sangat keras setelah pintu ruangan tertutup. Dia berdecak kesal, wajahnya memerah padam menahan amarah yang meledak-ledak. Dia menyambar kartu hitam di atas meja dengan kasar.

​"Sialan! Kenapa susah sekali membuat pria itu luluh padaku?!" umpat Dania dengan napas yang memburu kesal. Dia berjalan mondar-mandir di dalam ruangan. "Bukankah dia sendiri sudah tahu kalau dia mandul? Dia tidak bisa membuatku hamil atau melakukan kesalahan apa pun, lalu kenapa dia susah sekali diajak bermesraan seolah-olah aku ini adalah racun bagi tubuhnya?!"

​Dania mencengkeram erat kartu hitam di tangannya, matanya menyipit penuh kecurigaan yang tajam. "Apa dia benar-benar tidak berselera denganku? Atau... jangan-jangan ada wanita lain di luar sana yang sedang dia pikirkan?!"

​Dania terdiam sejenak, mengingat bagaimana dinginnya sikap Ardan selama tiga bulan terakhir. Namun, sedetik kemudian dia menggelengkan kepalanya dengan angkuh. "Tidak, itu tidak mungkin terjadi. Ardan Arkatama adalah pria yang sangat rasional dan kaku, dia tidak akan punya waktu untuk wanita lain. Hanya aku... hanya aku seorang yang akan memiliki dirinya dan seluruh kekayaan Arkatama Group!"

​Di luar ruangan, Ardan melangkah dengan tergesa-gesa menyusuri koridor lantai eksekutif. Langkah kakinya yang lebar mencerminkan ketegangan yang sedang melanda pikirannya. Bimo yang melihat bosnya keluar lebih cepat dari perkiraan, langsung berjalan cepat menyamai langkah sang CEO.

​"Bimo, mobil sudah siap di depan, kan?" tanya Ardan tanpa menoleh, suaranya terdengar ketat.

​"Sudah, Pak Ardan. Mobil dan supir sudah siaga di lobi utama," jawab Bimo dengan sigap. Dia melirik jam tangan pintarnya sebentar sebelum melanjutkan, "Tapi mohon maaf sebelumnya, Pak... berdasarkan jadwal manifes yang saya buat, waktu keberangkatan kita ke Bandung sebenarnya masih satu jam lagi. Anda masih bisa bersantai atau beristirahat sebentar di ruangan Anda jika mau."

​"Tidak perlu," potong Ardan dengan cepat dan mutlak. "Kita berangkat sekarang juga. Aku tidak mau berlama-lama di kantor ini."

​Bimo yang paham betul bahwa bosnya baru saja melarikan diri dari situasi tidak nyaman bersama Dania, langsung mengangguk patuh. "Baik, Pak. Saya akan instruksikan supir untuk jalan sekarang."

​Keberangkatan Ardan ke Bandung hari ini sebenarnya adalah untuk menghadiri agenda bisnis penting. Arkatama Group baru saja menyelesaikan pembangunan sebuah pusat perbelanjaan baru di pusat kota Bandung, dan acara grand launching serta pembukaan resminya akan dilaksanakan besok pagi. Sebagai CEO utama, kehadiran Ardan adalah hal yang mutlak untuk memotong pita peresmian.

​Mobil Alphard hitam mewah itu akhirnya bergerak membelah jalanan tol Jakarta menuju ke Bandung. Ardan duduk di kursi tengah, menyandarkan kepalanya di bantalan kursi sembari menatap keluar jendela kaca yang gelap, melihat pemandangan gedung-gedung tinggi Jakarta yang perlahan digantikan oleh hamparan perbukitan hijau.

​Mengingat kata Bandung, entah mengapa sebuah denyutan aneh mendadak muncul di dalam dada Ardan. Pikirannya yang tadi penuh dengan urusan bisnis dan kekesalan pada Dania, secara perlahan namun pasti mulai bergeser, terseret oleh arus kenangan masa lalu.

​Bandung. Kota kelahiran wanita itu.

​Ardan memejamkan matanya rapat-rapat, namun bayangan wajah Kiana Mahira justru muncul dengan sangat jelas di kegelapan kelopak matanya. Sudah tiga bulan lamanya dia tidak mendengar kabar apa pun tentang pelayan toko itu.

​Secara sadar, bibir Ardan bergumam pelan, mengeluarkan kata-kata yang penuh dengan penyangkalan atas egonya sendiri. "Aku membencinya... Dia adalah wanita kotor yang sudah membohongiku dan tidur dengan pria lain..."

​Namun, bertolak belakang dengan apa yang diucapkan oleh bibirnya yang angkuh, di dalam sudut hati kecil Ardan yang paling dalam, ada sebuah rasa rindu dan kekosongan yang teramat sangat pekat, sebuah rasa yang sama sekali tidak bisa dia jelaskan dengan logika medis atau teori bisnis apa pun. Rasa bersalah yang sempat terkubur oleh hasil laboratorium palsu tiga bulan lalu, entah mengapa perlahan-lahan mulai mencuat kembali ke permukaan seiring roda mobil yang membawanya semakin dekat dengan kota tempat Kiana berada.

​“Apa wanita itu sehat-sehat saja sekarang di sana? Apakah dia... apakah dia masih baik-baik saja?” batin Ardan lirih, menatap langit Bandung yang sedikit mendung dengan perasaan yang mendadak diselimuti oleh kegelisahan yang tidak menentu.

1
Lisa
Gmn tuh sadar atau g si Ardan klo twins benar² anaknya..
Lisa
Keras kepala banget si Ardan ini..msh blm mau mengakui klo twins adl anaknya
Lisa
👍 bagus Kiana..anggaplah si Ardan itu udh g ada..
Lisa
ya bener ceo koq g tegas sikapnya..periksa ke dokter yg lain donk..
Dewi Amalia
malass bca cerita nya msa ceo mudah di bohongi berkali-kali.. seharusnya gnti dg dokter yg lain...
jenny
menanti penyesalan Ardan 😁
Novaa: tunggu kelanjutannya ya, terimakasih sudah mampir 🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!