Saat hamil tujuh bulan, Kayla baru sadar bahwa pernikahannya hanyalah kebohongan.
Suaminya berselingkuh.
Mertuanya membencinya.
Dan rumah mewah yang dulu ia sebut rumah perlahan berubah menjadi neraka.
Padahal tanpa Kayla, Adrian Wijaya bukan siapa-siapa.
Dikhianati saat mengandung, dibuang ketika paling rapuh, Kayla memilih bangkit. Perlahan, wanita yang dulu diremehkan itu berubah menjadi sosok yang tak lagi bisa disentuh.
Kini saat semua pria mulai berlutut memperebutkan hatinya...
mantan suaminya justru kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Frenzy hrp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggung Sandiwara
Uap panas dari setrika masih mengepul tipis di ruang belakang, berbaur dengan aroma wangi lavender dari pelicin pakaian yang semalaman Kayla gunakan. Jemari Kayla yang kurus tampak memerah, bergetar kecil saat dia mengangkat gaun malam berwarna biru tua milik Valerie dari papan setrika.
Setiap senti kain sutra premium itu disetrikanya dengan kehati-hatian yang luar biasa, seolah dia sedang meraba bilah pisau yang siap menguliti jantungnya sendiri. Beberapa kali air matanya menetes, namun Kayla buru-buru menyekanya dengan punggung tangan agar tidak meninggalkan noda di atas kain mahal itu. Dia terpaksa merapikan jubah kemenangan untuk wanita yang telah merenggut suaminya.
Dengan langkah tertatih-tatih menahan linu di pangkal paha, Kayla membawa gaun itu ke ruang tengah, tempat Ibu Sandra sudah menunggu dengan berkacak pinggang.
"Lama banget sih! Sengaja ya kamu bikin jadwal kami telat?" Ibu Sandra merebut hanger gaun itu dari tangan Kayla dengan sentakan kasar. Mata paruh bayanya meneliti setiap lipatan kain dengan tatapan penuh selidik.
"Ini sudah Kayla setrika sampai licin, Ibu," ucap Kayla lirih, menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Licin apanya? Ini di bagian pinggang masih agak kerut! Memang dasarnya gak becus, ngerjain tugas sepele begini aja gak becus!" Ibu Sandra mendengus sinis, sengaja mengempaskan gaun itu ke sofa dengan sembarangan. "Ya sudah, sana balik ke dapur. Cuci semua piring kotor. Jangan sampai pas kami pulang nanti, bau dapur kecium sampai ke depan."
Kayla hanya bisa mengangguk pasrah. Di sofa seberang, Tiara sedang sibuk mematut diri di depan cermin kecil, mengenakan anting-anting berlian yang berkilau. Keduanya tampak begitu glamor, siap menghadiri malam paling bergengsi tahun ini: Gala Tahunan Wijaya Corp.
Pukul tujuh malam, atmosfer di dalam mansion mewah itu terasa semakin mengintimidasi Kayla. Koridor lantai bawah mendadak dipenuhi aroma parfum mahal yang pekat ketika Adrian turun dari lantai dua.
Pria itu tampak begitu gagah dan luar biasa tampan. Setelan tuksedo hitam kustom membalut tubuh tegapnya dengan sempurna. Rambutnya ditata rapi, memancarkan aura seorang CEO muda yang sukses dan berwibawa. Sosok pria sempurna yang dulu pernah menjadi milik Kayla seutuhnya.
Kayla berdiri di dekat pilar pembatas ruang tamu, sebelah tangannya reflex memeluk perut buncitnya yang terasa kian berat di usia kehamilan delapan bulan. Daster batik biru pudarnya yang longgar dan wajahnya yang pucat tanpa riasan membuat Kayla tampak seperti bayangan tak kasat mata di rumahnya sendiri.
Adrian berjalan melewati Kayla begitu saja. Langkah kakinya yang tegas berbunyi konstan di atas marmer. Pria itu sibuk merapikan jam tangan Rolex di pergelangan tangannya, sama sekali tidak sudi melirik ke arah istri sahnya yang sedang bersandar lemas menahan sakit di pinggangnya.
"Mas Adrian..." Kayla memanggil dengan suara parau, hampir berupa bisikan yang menyedihkan.
Adrian menghentikan langkahnya tepat di depan pintu besar mansion, namun dia tidak membalikkan badan. Bahunya menegang, menampakkan rasa jengkel yang teramat nyata hanya karena mendengar suara Kayla.
"Apa lagi?" tanya Adrian, suaranya sedingin es malam itu.
"Hati-hati di jalan, Mas..." Kayla memaksakan sebaris kalimat itu keluar dari bibirnya yang pecah-pecah. Dia masih mencoba menjadi istri yang baik, merawat sisa-sisa harapan yang sebenarnya sudah mati.
Bukannya menjawab dengan anggukan atau kalimat penenang, Adrian justru mendengus hambar. "Kunci semua pintu. Jangan berani-berani keluar rumah atau membuat kekacauan malam ini. Awas kalau aku pulang dan mendapati rumah ini berantakan," ketusnya dingin, lalu melangkah keluar menyusul Ibu Sandra dan Tiara yang sudah menunggu di dalam mobil.
Pintu besar itu tertutup dengan bunyi berdentum yang menggema, menyisakan kesunyian yang mencekam. Lampu-lampu utama mansion sengaja dimatikan oleh Tiara sebelum pergi, menyisakan ruang tamu yang gelap, sunyi, dan luar biasa dingin bagi Kayla.
Dengan tubuh yang terasa kian lemas dan kepala yang pening karena belum memasukkan makanan sejak pagi, Kayla berjalan pelan menuju sofa. Di dalam kegelapan ruangan, dia menyalakan televisi layar datar besar di ruang tengah. Jemarinya yang gemetar menekan tombol saluran stasiun televisi lokal yang malam itu menyiarkan secara langsung acara Gala Tahunan Wijaya Corp.
Layar televisi seketika menampilkan kemegahan hotel bintang lima di pusat kota. Karpet merah membentang luas, dikerumuni oleh puluhan wartawan dengan lampu kilat kamera yang berkedip tanpa henti.
Jantung Kayla seolah berhenti berdetak saat kamera televisi menyorot sebuah mobil sport mewah yang berhenti di depan red carpet. Pintu mobil terbuka, dan Adrian turun dengan senyuman paling menawan yang pernah Kayla lihat.
Pria itu kemudian berbalik, mengulurkan tangannya yang kokoh dengan sangat jantan untuk membantu seorang wanita keluar dari dalam kabin mobil.
Wanita itu adalah Valerie Amanda. Dia mengenakan gaun malam sutra biru tua yang semalaman Kayla setrika dengan air mata. Gaun itu melekat sempurna di tubuh ramping Valerie, membuat penampilannya malam itu bak seorang dewi yang mengitari sang raja. Valerie merangkul lengan Adrian dengan sangat intim, melemparkan senyuman penuh kemenangan ke arah kamera wartawan yang terus berkedip menggila.
"Bisa kita lihat pemirsa, CEO muda Adrian Wijaya malam ini hadir didampingi oleh sang muse, model internasional Valerie Amanda yang tampak begitu serasi!" Suara pembawa acara televisi terdengar begitu ceria, namun bagi Kayla, setiap kata itu laksana paku panas yang ditancapkan ke telinganya.
Kamera kemudian beralih ke atas panggung utama, di mana Adrian berdiri di depan mikrofon untuk memberikan kata sambutan di puncak acara. Seluruh jajaran petinggi perusahaan dan investor duduk rapi di bawah panggung.
"Wijaya Corp tidak akan bisa berdiri sekuat dan sesukses ini di puncak industri tanpa adanya kontribusi yang luar biasa dari seseorang," ucap Adrian dengan suara beratnya yang mantap dan penuh karisma. Pria itu mengarahkan tatapan matanya yang penuh binar cinta ke arah barisan kursi depan.
"Visi besar, sentuhan kreatif, dan dukungan tanpa henti dari wanita hebat di samping saya... Valerie Amanda, adalah otak asli di balik kejayaan perusahaan ini. Mari kita berikan tepuk tangan paling meriah untuk Co-Founder baru kita!"
Plok... plok... plok...
Suara riuh tepuk tangan dari ratusan orang di dalam gedung pertemuan itu menggema dari pengeras suara televisi, memenuhi ruang tamu mansion yang gelap gulita.
Kayla membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Air matanya tumpah ruah, membasahi seluruh wajahnya yang pias. Dadanya naik-turun dengan ekstrem, menahan rasa sesak yang teramat jahanam.
Otak asli...? Kayla menjerit di dalam batinnya yang hancur lebur.
Setiap lembar pembukuan, setiap analisis pasar yang rumit, setiap malam yang dihabiskan tanpa tidur hingga matanya perih demi menyelamatkan perusahaan itu dari kebangkrutan... itu semua adalah hasil kerja keras otaknya! Kayla yang memeras seluruh kemampuan akademisnya dari balik meja dapur yang sempit saat mereka masih miskin.
Namun malam ini, di hadapan seluruh dunia, Adrian dengan tega memberikan seluruh penghargaan dan hasil keringat Kayla kepada wanita lain yang sama sekali tidak tahu bagaimana cara membaca laporan neraca keuangan.
Harga diri Kayla sebagai seorang istri dan sebagai seorang manusia telah diinjak-injak hingga menjadi debu. Rasa dikhianati yang teramat besar itu seketika meracuni aliran darahnya.
Bersamaan dengan guncangan emosional yang luar biasa hebat itu, sebuah rasa sakit yang belum pernah Kayla rasakan sebelumnya mendadak meledak di perut bagian bawahnya.
Bukan lagi sekadar kram ringan atau kontraksi palsu yang biasa dia rasakan. Rasa nyeri kali ini luar biasa tajam, terasa seperti ada sepasang cakar besi yang meremas dan memutar rahimnya dari dalam dengan paksa.
"Akhhh!"
Kayla menjerit kesakitan. Tubuhnya seketika kehilangan seluruh keseimbangan. Remote televisi di tangannya terlepas, dan tubuh ringkih Kayla tersungkur dari atas sofa, jatuh terjerembap di atas lantai marmer yang sedingin es.
Kayla meringkuk miring di atas lantai yang gelap. Kedua tangannya mencengkeram perut besarnya yang mendadak mengeras sekeras batu. Rasa sakit itu menjalar dengan cepat ke tulang ekor dan seluruh punggungnya, membuatnya lumpuh seketika.
Dia tidak bisa bergerak, bahkan untuk sekadar merangkak mengambil ponsel jadulnya di atas meja pun dia tidak mampu.
"Sakit... Mas Adrian... tolong... Anakku..." Kayla merintih ditengah isak tangisnya. Suaranya tenggelam di antara deru suara hujan dan petir di luar. Keringat dingin membanjiri tubuhnya, membasahi daster batiknya hingga melekat ketat di kulitnya yang kian kurus. Dia sendirian, sekarat di tengah kemewahan rumah yang dibangun dari hasil otaknya sendiri.
Cklek.
Di tengah siksaan rasa sakit yang membuat pandangan Kayla mulai mengabur hitam, suara kunci pintu depan yang berputar mendadak terdengar.
Pintu besar mansion terbuka kasar, membawa embusan angin malam yang basah dan dingin masuk ke dalam ruangan. Dua siluet manusia berjalan masuk dengan langkah yang sempoyongan, memotong kegelapan rumah.
Itu Adrian. Pria itu pulang jauh lebih cepat dari perkiraan karena acara Gala tampaknya telah usai. Namun, Adrian tidak pulang sendiri. Lengan kekohnya merangkul erat pinggang Valerie Amanda yang tampak setengah mabuk, tertawa cekikikan dengan wajah memerah di ceruk leher Adrian.
Adrian menyalakan sakelar lampu utama ruang tamu dengan kasar. Cahaya terang benderang seketika memenuhi ruangan, dan detik itu juga, langkah kaki Adrian dan Valerie langsung terkunci di tempat.
Pandangan Adrian jatuh ke lantai marmer di dekat sofa. Di sana, istrinya yang sedang hamil tua tengah terkapar lemas memegangi perut, berselimut peluh dan air mata, menatap ke arah suaminya dengan sisa kesadaran yang hampir habis.