Putri Azura dari kerajaan Utara, menikah dengan pangeran Xavier, putra Mahkota kerajaan Selatan. Xavier membenci Azura saat mengetahui wanita itu hanya memanfaatkannya demi pernikahan politik. Semua orang yang pernah dekat dengan Azura pun berpaling darinya dan menganggapnya wanita jahat yang haus akan kekuasaan.
Namun, apakah sang putri benar-benar jahat? Atau dia hanya menjadi boneka politik yang berusaha bertahan hidup?
Nanti akan terungkap bahwa di balik keanggunan dan kepintarannya, Princess Azura diam-diam melindungi Xavier dan orang-orang yang dia sayangi dari bahaya yang jauh lebih besar. Kebencian perlahan berubah jadi keraguan, hingga akhirnya kebenaran mengejutkan terkuak, kebenaran tentang betapa pahitnya kisah hidup Azura dan cintanya yang tulus terhadap Xavier.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu dan murka
Keesokan paginya, ketika Xavier terbangun dari tidurnya, ia tidak mendapati Azura di mana-mana. Ia sudah mencari di seluruh kamar, tapi tidak ada. Setelah ketegangan semalam, Azura tidur di sofa. Namun pagi ini, sofa itu kosong. Rasa marah kembali memenuhi dadanya, lebih hebat dari semalam.
Tok tok tok.
Xavier menatap keluar kamar.
"Pangeran, anda sudah bangun? Sarapan paginya sudah siap." itu suara si anak perdana menteri. Xavier lupa namanya. Dengan cepat ia turun dari kasur, mengenakan jubah khususnya.
Xavier melangkah lebar menuju pintu, membukanya dengan kasar hingga wanita di luar sana sedikit terkejut. Benar saja, itu Elish. Senyum manis yang selalu ia pasang terlihat begitu menyebalkan di mata Xavier saat ini, seolah ada sesuatu yang disembunyikan di balik keramahan berlebihan itu.
"Selamat pagi pangeran," sapa Elish dengan wajah sok manis dan suara lembut yang dibuat-buat. Xavier malah jijik.
"Kau melihat putri?" tanyanya datar. Senyum di wajah Elish sempat hilang sebentar namun dengan cepat ia bisa mengatur ekspresinya lagi.
"Putri? Tidak pangeran. Memangnya putri tidak ada di dalam?"
Xavier tidak menjawab. Wanita ini bodoh apa. Kalau dia bertanya begitu, artinya Azura memang tidak ada di dalam kamar. Anak perdana menteri tapi sebodoh ini. Membuatnya makin kesal saja.
"Biasanya ke mana saja tempat putri berjalan-jalan kalau pagi-pagi begini, kau tahu?" Meski benci bicara lama dengan wanita itu, ia tetap bertahan demi menemukan keberadaan Azura. Elish berpura-pura berpikir keras. Dia tidak tahu karena tidak akrab dengan Azura. Tapi dalam hatinya ia sedang memikirkan rencana liciknya.
"Mm, saya tidak begitu tahu juga pangeran. Tapi kalau mendengar gosip yang beredar selama putri Azura hidup di Kerajaan ini, kebanyakan tempat yang suka dia datangi setiap hari adalah ..."
Ucapan Elish terhenti, pura-pura tidak enak mengatakan tempat apa itu.
"Tempat apa?" Xavier menatap wanita itu tajam.
"Sa-saya tidak enak mengatakan pada pangeran." jawabnya.
"Katakan saja."
"Mm," Elish masih berpura-pura.
"Sebenarnya, ada satu tempat lagi yang namanya sering dikaitkan dengan Putri Azura kalau pagi-pagi begini, meski saya agak malu menyebutkannya," ucap Elish dengan nada ragu-ragu, tangannya menutup separuh mulutnya seolah takut ada yang mendengar, padahal suaranya justru dikeraskan sedikit agar jelas sampai ke telinga Xavier.
Ia melirik sekilas ke arah wajah pria itu, menikmati setiap detik kebingungan yang mulai berubah menjadi ketegangan di sana, sebelum melanjutkan dengan nada berbisik yang penuh makna:
"Dari dulu, banyak sekali bisikan orang ... konon beliau sering menyempatkan diri ke kawasan khusus itu. Tempat di mana banyak laki-laki tampan berkumpul dan melayani wanita-wanita yang ingin bersenang-senang... tempat pelacuran laki-laki, Pangeran."
Kata-kata itu meluncur keluar begitu saja, penuh racun namun dibalut seolah hanya menyampaikan kabar angin. Elish menundukkan wajah, berpura-pura jijik dan tidak setuju, padahal hatinya bersorak kegirangan. Ia tahu betul betapa tajamnya kata-kata itu akan melukai harga diri seorang laki-laki, apalagi seorang pangeran mahkota sekaligus panglima perang sebesar Xavier.
"Katanya, Putri Azura sangat disukai di sana. Sering memberikan uang banyak, sering datang diam-diam untuk ... mencari hiburan dan pelukan hangat dari para pemuda itu. Dulu sebelum menikah, hampir setiap minggu beliau ke sana. Dan... ah, maafkan saya pangeran, saya tidak bermaksud menjelekkan, hanya saja ada yang melihat beliau menyelinap ke arah kawasan itu pagi tadi. Mungkin ... kebiasaan lama yang sulit ditinggalkan?"
Setiap kalimat yang keluar dari mulut Elish bagaikan cakar tajam yang mengoyak dada Xavier. Wajah pria itu seketika berubah merah padam, lalu perlahan memutih pucat karena marah dan cemburu yang meluap-luap. Tempat pelacuran laki-laki?
Pikiran Xavier berputar kacau, tapi dia tidak percaya begitu saja pada apa yang dikatakan Elish. Sejak pertemuan kemarin, ia bisa melihat bagaimana ekspresi wanita ini terhadap istrinya. Jelas tidak suka. Bisa jadi dia sengaja menjelek-jelekkan nama Azura di depannya.
"Kau putri seorang perdana menteri, harusnya kau atur bagaimana caramu bertutur kata. Jangan hanya mengatakan sesuatu tanpa bukti. Walau statusmu tinggi, tapi istriku adalah seorang Putri Agung yang statusnya jauh lebih tinggi darimu. Kalau masih mau hidup, jaga baik-baik mulut kotormu itu."
Elish kaget mendengar peringatan keras itu. Ia langsung berlutut ketakutan di depan Xavier. Ana dan Isol, dayang pribadi Azura yang berdiri di dekat kamar itu dan dari tadi sudah geregetan pada Elish tersenyum puas.
Wajah Elish seketika berubah pucat pasi, darahnya serasa berhenti mengalir mendengar kata-kata tajam yang menusuk itu. Lututnya lemas seketika, tubuhnya gemetar hebat saat ia berlutut di lantai dingin, kepalanya tertunduk dalam-dalam, tak berani menatap wajah sang pangeran yang kini memancarkan aura mengerikan.
"Am-ampun, Pangeran! Saya tidak bermaksud begitu... saya hanya menyampaikan apa yang saya dengar dari rakyat biasa... saya tidak bermaksud menjelekkan... saya..." suaranya tercekat.
"Rakyat biasa?" Xavier menyela dingin, nada bicaranya rendah namun menggelegar hingga membuat tulang belakang siapa saja yang mendengarnya merinding.
"Dan kau, seorang putri dari keluarga terhormat, perdana menteri kerajaan, berani menelan mentah-mentah omongan sampah begitu lalu menyampaikannya kepadaku seolah itu fakta? Kau pikir otakmu hanya dijadikan hiasan saja? Kau pikir aku sebodoh itu hingga percaya omongan murahan yang jelas-jelas diracik untuk menjatuhkan nama baik istriku?"
Xavier melangkah mendekat, menatap wanita yang berlutut itu dengan pandangan merendahkan, persis seperti seseorang yang sedang menatap kotoran di bawah sepatunya.
"Azura adalah Putri Agung yang lahir dan dibesarkan dengan penuh kehormatan. Satu hal yang harus kau tanamkan dalam otak kosongmu itu, tidak ada seorang pun, termasuk kau atau ayahmu atau siapa pun di kerajaan ini, yang berhak menghina atau menjelekkan namanya di depanku. Sekali lagi aku dengar kau atau siapa pun mengucapkan kata-kata kotor tentang dia... kau akan tahu akibatnya. Dan percayalah, itu akan jauh lebih buruk daripada sekadar kehilangan kedudukanmu. Aku bukan berasal dari Kerajaan ini, tapi kau pasti sudah dengar kekuatanku di Kerajaan barat seperti apa bukan?"
Di belakang sana, Ana dan Isol saling pandang dengan mata berbinar bahagia, senyum kemenangan melebar di bibir mereka. Sejak tadi mereka menahan diri, menahan amarah mendengar setiap kata jahat yang keluar dari mulut Elish, namun kini melihat tuannya dibela habis-habisan oleh Pangeran sendiri, hati kedua dayang itu terasa begitu lega dan bangga. Mereka tahu, pangeran sering marah dan menuduh, makanya tidak menyangka putri mereka akan dibela mati-matian.
Elish mengangguk cepat, ia sangat ketakutan.
"M-maafkan saya, pangeran! Saya salah... saya janji tidak akan mengulanginya lagi... saya..."
"Pergi. Jangan tampakkan wajahmu di depanku lagi."
hanya aku yg boleh menghina istriku,KLW orang lain yg berani,siap² kupenggal,dlm hati pangeran Xavier, hanya aq yg dengar 😂😂😂😂😂
dasar elish sok sok cantik dan caper didepan pangeran xavier, kegatelan elish pengen mendekati pangeran xavier..
yg ada pangeran xavier sangat jijik dan muak sama elish...
putri perdana menteri tutur katanya tidak bisa dijaga, berani menjelek2kan dan menghina putri azura...
putri azura tidak seburuk itu, putri azura pasti ada alasannya tiba-tiba menghilang.. lagi mencari kesempatan membebaskan putranya/melihat anaknya lagi sakit...
pangeran xavier sangat curiga gerak-gerik putri azura, dikira xavier merencanakan sesuatu mencelakainya...
kasian juga nasibnya putri azura anaknya disandera, diancam jadi mata-mata, dan pangeran xavier salahpaham pangeran memperlakukan putri sangat kasar dan kata-katanya bikin sakit hati....
ga jeules ya vier
cuman cemburu 🤣🤣🤣🫣
putri azura sangat ketakutan dan khawatir takut terjadi sesuatu sama anaknya, klo kasih tahu pangeran xavier azura serba salah... raja utara sangat jahat dan licik, bisa melakukan apa aja demi ambisinya sampai tega sandera anaknya putri azura....
tapi putri azura gak mau jujur makin salahpaham pangeran xavier, yg ada kebencian dan merasa dikhianati pangeram xavier...
pangeran xavier tidak akan membiarkan putri azura menghilang dari hidupnya, masih jadi misterius anaknya azura apakah anaknya pangeran xavier....
walau sebel sama Azura tapi depan orang lain kamu harus tetap bela istri ....👍👍👍
Mang harusnya begitulah seorang suami.. di depan orang lain harus membela marwah dan harga diri istrinya.. karena itu harga dirinya juga
Meski dibelakang orang lain.. setelah hanya berdua dengan Azura .. Azura di 'siksa' abis2an sama si pangeran.. 😅😅😭😭
Elish!
Syykuriinn.. kapok ngga sii..
Yaa kapoklah.. masa ngga! 😬😬🤣🤣😭😭
Pertanyaannya :
Kemana Azura pegi sepagi itu?
Apakah dayang2nya tau kemana majikan mereka pegi? 🤔🤔