NovelToon NovelToon
SIAPA TAKUT Jadi BEDA?

SIAPA TAKUT Jadi BEDA?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:538
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Di saat fisiknya yang sawo matang selalu dihina oleh geng Ivanka, Alisha membuktikan bahwa kecerdasan dan rasa percaya diri jauh lebih memikat daripada standar kecantikan dunia. Namun, ketangguhannya diuji oleh Reyshaka, rival abadi berotak encer yang hobinya berdebat, tapi diam-diam selalu pasang badan paling depan saat Alisha direndahkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Mentor dan Kelas yang Membara

Hari Jumat membawa babak baru yang tidak kalah mendebarkan di Kelas Alisha. Sejak jam pertama dimulai, papan tulis putih di depan kelas sudah bersih dari coretan mata pelajaran sebelumnya, digantikan oleh tulisan besar dengan spidol hitam di bagian pojok atas: Sesi Mentoring Fisika – Cepat Rambat Gelombang.

Sesuai instruksi Bu Retno kemarin, Alisha dan Shaka resmi mengemban tugas sebagai mentor kelas. Meja guru yang biasanya hanya diisi oleh satu orang, kini digeser agak ke tengah, menyediakan ruang bagi dua kursi yang diletakkan berdampingan.

Alisha duduk di kursi sebelah kiri, sibuk membolak-balik lembar rangkuman rumus ralat yang sudah ia susun rapi semalam. Rambut panjangnya hari ini dikuncir kuda tinggi, memperlihatkan leher dan rahangnya yang tegas. Di sampingnya, Shaka duduk dengan gaya yang jauh lebih santai. Jari-jarinya dengan lincah memutar-mutar sebuah spidol papan tulis, sementara matanya sesekali melirik draf materi milik Alisha.

"Rangkuman lo terlalu rapi," celetuk Shaka tiba-tiba, memecah keheningan di antara mereka sebelum anak-anak lain selesai bersiap. "Anak-anak kelas kita gak bakal paham kalau lo kasih penjelasan formal kayak buku cetak begini."

Alisha menoleh, menatap Shaka dengan dahi berkerut. "Terus mau lo gimana? Ini udah cara paling logis setelah rumus ralat kemarin."

Shaka terkekeh pelan, suara baritonnya terdengar rendah. Ia mencondongkan badannya sedikit ke arah Alisha. "Pakai analogi, Sha. Otak mereka itu gak selevel sama otak singa betina kayak lo. Nanti biar bagian teori abstraknya gue yang pegang, lo masuk di bagian eksekusi rumus cepatnya. Gimana?"

Mendengar sebutan "singa betina" yang diucapkan Shaka dengan nada santai namun intens, jantung Alisha memberikan satu letupan kecil. Ia buru-buru memalingkan wajah, menyembunyikan semburat hangat yang mendadak muncul di pipinya. "Terserah lo deh. Yang penting kelasnya kondusif."

Begitu bel sesi mentoring dimulai, atmosfer kelas mendadak berubah menjadi semi-formal. Sebagian besar murid menyambut sesi ini dengan antusias karena mereka lebih senang diajar oleh teman sebaya daripada mendengarkan ceramah panjang Bu Retno. Namun, tidak semua orang memiliki pemikiran yang sama.

Di barisan ketiga, Ivanka duduk dengan melipat tangan di dada. Pandangannya yang tajam dan sinis lurus tertuju pada Alisha yang kini sudah berdiri di depan kelas, memegang spidol. Bagi Ivanka, melihat Alisha berdiri di sana, berdampingan dengan Shaka sebagai pusat perhatian satu kelas, adalah pemandangan yang sangat menyiksa matanya.

"Baik, semuanya. Kita mulai dari konsep dasar ralat gelombang bunyi yang kemarin keluar di ujian praktik," buka Alisha, suaranya terdengar jernih dan penuh percaya diri. Ritme bicaranya teratur, menjelaskan poin demi poin dengan sangat terstruktur.

Baru saja Alisha menuliskan satu persamaan rumus di papan tulis, sebuah suara interupsi yang sengaja dibuat dengan nada tinggi memotong penjelasannya.

"Eh, sebentar deh, Alisha," potong Ivanka sambil menaikkan satu tangannya dengan gerakan malas. Seisi kelas langsung menoleh ke arahnya. "Gue kurang paham sama penjelasan lo. Lagian, rumus ralat yang lo tulis di papan itu apa gak salah? Kemarin pas di lab kan lo pake hitungan yang beda gara-gara alat lo... katanya sempet 'bermasalah'?"

Siska yang duduk di sebelah Ivanka langsung menutup mulutnya, menahan senyum mengejek. Maksud Ivanka sangat jelas: ia ingin mengingatkan kelas tentang insiden sabotase kemarin sekaligus meragukan keabsahan nilai sempurna yang didapat Alisha.

Suasana kelas mendadak agak canggung. Amelia sudah bersiap untuk berdiri dan mengomeli Ivanka, namun Alisha memberi kode lewat tatapan mata agar temannya itu tetap tenang.

Alisha menarik napas dalam-dalam. Namun, sebelum ia sempat membuka mulut untuk membalas, siluet tinggi di sampingnya sudah melangkah maju.

Shaka berdiri tepat di sebelah Alisha, mengambil alih spidol dari tangan gadis itu. Sepasang mata elangnya mengunci pandangan Ivanka dengan tatapan yang begitu dingin dan intimidatif, membuat nyali Ivanka yang tadinya menggebu-gebu mendadak agak ciut.

"Rumus yang ditulis Alisha gak ada yang salah, Ivanka," ucap Shaka, suaranya terdengar datar namun tak terbantahkan. "Kalau lo gak paham, itu artinya kapasitas otak lo yang belum sampai ke materi ini. Bukan penjelasan mentornya yang keliru."

Ooooh...

Beberapa anak cowok di barisan belakang langsung bersorak tertahan mendengarkan kalimat skakmat dari Shaka. Shaka yang biasanya tidak pernah peduli pada urusan orang lain, kali ini memasang badan secara terang-terangan untuk membela partnernya.

"Dan soal alat yang 'bermasalah' kemarin," Shaka melanjutkan, melangkah satu kali ke depan dengan senyum miring yang terlihat sangat berbahaya bagi Ivanka. "Alisha bisa dapet nilai seratus karena dia tahu cara pakai rumus ralat modifikasi untuk mengatasi sabotase murahan. Sesuatu yang bahkan gak bakal kepikiran sama orang yang cuma bisa main curang."

Wajah Ivanka langsung berubah pucat pasi. Ia tahu betul arah sindiran Shaka murni ditujukan kepadanya dan Siska. Rahangnya mengeras karena malu, apalagi sekarang satu kelas mulai berbisik-bisik sambil melirik sinis ke arahnya.

Shaka tidak memedulikan wajah syok Ivanka lagi. Ia berbalik menatap Alisha, kilat dingin di matanya lenyap seketika, berganti dengan binar tenang yang hanya diperlihatkan pada gadis itu. "Lanjut, Sha. Jangan buang waktu buat ngejelasin ke orang yang emang gak mau pinter."

Alisha terpaku sesaat, menatap Shaka yang kini sudah kembali bersandar di meja guru dengan santai. Sudut bibir Alisha perlahan terangkat, membentuk sebuah senyuman tulus yang sangat manis. Rasa percaya dirinya melonjak hingga ke tingkat maksimal.

"Oke, kita lanjut," ujar Alisha, suaranya kini terdengar jauh lebih lantang dan berenergi.

Sisa sesi mentoring hari itu berjalan dengan sangat luar biasa. Duet antara otak taktis Shaka dan penjelasan terstruktur Alisha membuat materi Fisika yang menyeramkan berubah menjadi sangat menyenangkan bagi anak-anakkelas ini. Di sudut kelas, Ivanka hanya bisa menunduk dalam-dalam sambil meremas pulpennya menahan dengki. Hari ini dia kalah lagi, secara intelektual maupun dalam memperebutkan perhatian Shaka.

Begitu bel pulang berbunyi dan kelas mulai sepi, Alisha sedang merapikan buku-bukunya ke dalam tas ketika Shaka berjalan mendekat.

"Gimana sesi hari ini? Sukses, kan?" tanya Shaka sambil menyampirkan tas ranselnya di satu bahu.

Alisha mendongak, lalu mengangguk mantap. "Sukses banget. Makasih ya, Shak... buat yang tadi di kelas."

Shaka menaikkan sebelah alisnya, sebuah senyuman misterius kembali terbit di wajah tampannya. "Gak perlu makasih.gue tahu Lo itu gak bisa kalau tanpa gue"ucap Shaka sombong dengan senyum smirk khas cowok calm itu."Dih PD banget Lo"alisha memutar bola matanya malas.

Shaka Perlahan mendekatkan wajahnya ke arah alisha,membuat alisha sedikit kikuk karna di tatap seintens itu.

"Kan gue udah bilang di kelas kemarin, permintaan gue sebagai pemenang taruhan itu simpel: kalau ada sampah yang nyenggol lo, orang pertama yang bertindak itu harus gue. Gue cuma lagi nepatin janji."

Jantung Alisha kembali berdegup tidak karuan. Sebelum ia sempat membalas, Shaka sudah berbalik dan melangkah menuju pintu kelas.

"Duluan, Singa Betina. Jangan lupa istirahat, besok kita masih punya banyak draf materi yang harus diselesaiin," seru Shaka tanpa menoleh, sambil mengangkat satu tangannya ke udara.

Alisha memandangi punggung cowok itu yang kian menjauh di koridor. Kali ini, ia tidak bisa lagi mengelak dari kenyataan bahwa pesona seorang Reyshaka telah benar-benar menjebol benteng pertahanannya.

1
S3C
semangat author 👍👍👍👍
Anisa Nurlatifah: siap,Makasihhhh😍😍😍😍👍💪
total 1 replies
Anisa Nurlatifah
😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!