Dua putri kembar lahir, namun nasib memisahkan mereka.
Xiao Ning kecil diculik oleh beberapa orang Penjahat, berganti nama menjadi Luna, dan tumbuh keras di dunia kejahatan. Sementara kakaknya, Xiao Ling, dibesarkan dengan penuh cinta, sehingga menjadi gadis yang lembut, baik hati dan penyayang.
Wajah mereka sama, namun takdir diantara keduanya berbeda. Pada akhirnya takdir itu kembali mempertemukan si kembar, dan identitas pun mulai terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB XXVIII
Di Kediaman Pangeran
Tidak butuh waktu lama bagi Pangeran Haoran untuk menyiapkan segala keperluan pernikahan. Ia segera mengatur dekorasi yang megah untuk menyambut kedatangan Luna di kediamannya. Setelah semuanya dianggap siap, Pangeran Haoran mengenakan jubah pernikahan berwarna merah terang yang membuatnya tampak semakin gagah dan berwibawa. Wajahnya yang tampan memancarkan pesona yang membuat siapa saja yang memandangnya akan terpesona. Ia pun segera berangkat menuju kediaman Menteri dengan diiringi seluruh rombongan pengantin yang megah.
Di Kediaman Menteri
Sementara itu, di kediaman Menteri, Luna dan Lili sedang bersiap mengenakan pakaian pernikahan mereka. Luna mengenakan busana merah terang bersulam benang emas yang sangat mewah, serasi dengan pakaian yang dikenakan Pangeran Haoran. Sedangkan Lili tampak anggun dalam gaun merah maroon dengan hiasan emas yang elegan, serasi dengan pakaian pengantin Dafi.
Tak lama kemudian, rombongan Pangeran Haoran tiba dan memasuki halaman kediaman. Banyak orang berkumpul untuk menyaksikan dan merayakan hari bahagia itu. Acara dihias dengan dekorasi semewah mungkin. Kedua saudara kembar itu berjalan beriringan menuju Altar, sambil memegang kipas kecil untuk menutupi sebagian wajah mereka. Saat tiba di tempat masing-masing, mereka berdiri di hadapan pasangannya. Pendeta yang memimpin acara pun memandu jalannya upacara dengan khidmat.
Namun, tepat saat akan mengucapkan janji suci terakhir, tiba-tiba Kaisar dan Permaisuri muncul di depan pintu. Melihat kehadiran mereka secara tiba-tiba, Pangeran Haoran dengan sigap melangkah ke depan dan melindungi Luna di belakangnya.
"Yang Mulia, apa maksud kedatanganmu dan Permaisuri ke sini?" tanya Pangeran Haoran dengan nada waspada.
Kaisar tersenyum lembut sambil mengangkat tangan tanda damai. "Tenanglah, Nak. Kami datang bukan untuk mengganggu Pernikahan mu ini. Kami hanya ingin memberikan restu dan berkah bagi pernikahan kalian berdua."
Setelah diyakinkan bahwa kedatangan mereka memang tulus, Pangeran Haoran pun menurunkan kewaspadaannya. Acara dilanjutkan kembali hingga selesai dengan lancar. Permaisuri menyerahkan hadiah pernikahan kepada kedua pasangan itu sambil memberkati mereka, "Semoga rumah tangga kalian selalu dipenuhi kedamaian, kasih sayang, dan kebahagiaan abadi."
Kaisar juga memberikan restunya, "Aku merestui kalian. Jadilah suami istri yang saling menyayangi dan membahagiakan satu sama lain."
Setelah acara selesai, Kaisar dan Permaisuri berniat mengajak mereka untuk tinggal sementara di istana. Namun, Pangeran Haoran menyampaikan pendiriannya dengan sopan namun tegas.
"Mohon maaf, Ayah, Ibu. Kali ini aku tidak bisa membawa Luna tinggal di istana. Kondisinya belum sepenuhnya pulih, dan lingkungan di sini terasa lebih tenang dan nyaman baginya. Kami berharap dapat memulai hidup baru secara perlahan di kediamanku sendiri."
Melihat keteguhan hati putranya, akhirnya Kaisar dan Permaisuri mengalah. "Baiklah, kami mengerti. Lakukanlah apa yang menurutmu terbaik untuk kebahagiaan kalian berdua."
Saat saat berpamitan tiba, Lili memeluk Luna erat-erat sambil menahan tangis.
"Ning, jaga dirimu baik-baik di sana. Ingat, kakak akan selalu ada untukmu, kapan pun kau membutuhkan," ucap Lili dengan suara bergetar.
Luna membalas pelukan itu sambil tersenyum lembut. "Jangan khawatir, Kak. Aku akan baik-baik saja. Kakak juga harus selalu bahagia."
Setelah berpamitan, Pangeran Haoran membawa rombongan pengantinnya kembali menuju kediamannya. Tak lama kemudian, Kaisar dan Permaisuri pun berangkat kembali menuju istana.
Flashback...
Beberapa hari sebelumnya...
Mendengar rencana pernikahan putranya, Permaisuri segera menemui Kaisar di ruang kerjanya. Ia memohon dengan lembut namun tegas.
"Yang Mulia, izinkanlah Haoran menikah dengan wanita pilihannya kali ini. Berikan dia kesempatan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Lagipula, wanita itu bukan orang sembarangan, dia adalah putri dari Mendiang Menteri Pangan kerajaan ini, seorang Tuan Putri yang terhormat."
Kaisar terdiam sejenak, lalu menggeleng. "Tidak semudah itu. Sebagai Pangeran, dia harus memikirkan kepentingan kerajaan."
Perdebatan pun terjadi cukup lama. Namun, melihat keteguhan hati Permaisuri yang terus memohon, akhirnya Kaisar luluh.
"Baiklah, baiklah. Aku setuju. Kita akan datang dan memberikan restu kepada mereka," ucap Kaisar mengalah.
Namun, sebelum benar-benar menyetujuinya, Permaisuri sempat marah dan membawakan kembali kue yang hendak dihidangkan untuk Kaisar sebagai tanda protes. Kaisar hanya menggeleng sambil tersenyum melihat tingkah istrinya.
Di Kediaman Menteri Pangan
Setelah seluruh rangkaian acara selesai, Dafi menggendong tubuh Lili dengan lembut dan membawanya menuju kamar pengantin mereka. Begitu tiba di dalam dan pintu tertutup, suasana menjadi hening. Lili duduk di tepi tempat tidur, jantungnya berdebar kencang, ia sadar, malam ini adalah hari pertama mereka hidup bersama sebagai suami istri.
Dafi berjalan mendekat, lalu berjongkok di hadapannya. Ia mengusap lembut pipi Lili dengan tatapan penuh kasih sayang, perlahan mendekatkan wajahnya seolah ingin menciumnya. Namun, Lili dengan cepat menunduk dan sedikit memalingkan wajah.
"Kak Dafi..." panggilnya pelan. "Mungkin kau masih punya banyak tugas yang harus diselesaikan. Apalagi sekarang kau dipercaya menggantikan posisi Ayah untuk mengurus sumber daya pangan kerajaan. Banyak hal penting yang harus dipikirkan, bukan?"
Dafi tersenyum tipis, lalu menggenggam kedua tangan Lili dan menatap matanya dalam-dalam.
"Tenanglah, istriku. Mereka tahu betul bahwa ini adalah hari pernikahanku. Tidak ada seorang pun yang akan memberiku tugas atau mengganggu kita malam ini. Jadi, kau tidak perlu memikirkan hal-hal itu," jawabnya lembut namun meyakinkan.
Ia kembali mendekatkan wajahnya, namun Lili kembali menahan diri, wajahnya memerah karena rasa malu.
"Tapi... apakah ini tidak terlalu cepat bagi kita?" tanyanya dengan suara hampir berbisik.
Mendengar hal itu, Dafi menggenggam tangan Lili sedikit lebih erat, namun tetap dengan kelembutan. Ia menatapnya dengan pandangan yang tulus dan mantap.
"Tidak," jawabnya singkat namun tegas. "Cinta kita telah tumbuh lama sebelum hari ini. Jadi, ini bukanlah hal yang terburu-buru."
Tanpa menunggu jawaban lagi, Dafi perlahan mendekat dan mencium kening, lalu bibir Lili dengan lembut sebagai tanda pengikat janji cinta mereka yang telah lama terjalin.
Di Kediaman Pangeran
Sementara itu, di kediaman megah milik Pangeran Haoran, rombongan pengantin baru saja tiba. Pangeran Haoran turun dari kuda, lalu berjalan menuju tandu pengantin tempat Luna berada. Ia membuka tirai nya dan mengulurkan tangannya dengan senyum lembut.
"Ayo, turunlah," ucapnya pelan.
Begitu Luna meletakkan tangannya dan turun, tiba-tiba Pangeran Haoran mengangkat tubuhnya dan menggendongnya dalam pelukan.
"Eh! Apa yang kau lakukan? Turunkan aku, orang-orang melihat!" seru Luna dengan wajah yang seketika memerah karena malu. Ia bisa merasakan tatapan para pengawal dan pelayan yang berdiri di sepanjang jalan masuk.
Namun, Pangeran Haoran hanya tertawa pelan dan terus berjalan tanpa menurunkan istrinya itu.
"Biarkan mereka melihat. Kau adalah istriku, dan tidak ada yang salah dengan hal ini," jawabnya santai namun penuh keyakinan.
Ia terus menggendong Luna melewati halaman dan lorong kediaman, hingga akhirnya tiba di depan pintu kamar pengantin mereka.
Saat tiba di depan pintu kamar pengantin, Pangeran Haoran membawa Luna masuk dengan hati-hati, lalu menidurkannya perlahan di atas tempat tidur yang sudah diselimuti kain sutra lembut. Ia menoleh ke arah pelayan yang menunggu di depan pintu.
"Tutup pintunya dan jangan ada yang mengganggu kami malam ini," perintahnya dengan nada tenang.
Setelah pintu tertutup rapat dan hanya tinggal mereka berdua di dalam kamar, Pangeran Haoran mulai melepaskan perlengkapan pakaiannya satu per satu. Mulai dari jubah pengantin, hiasan, ikat pinggang, hingga yang tersisa hanyalah pakaian dalam berwarna putih.
Melihat itu, Luna segera memejamkan matanya dan menutupi seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangan. Jantungnya berdebar kencang, dipenuhi rasa malu dan kegelisahan yang bercampur aduk.
Pangeran Haoran berjalan mendekat, lalu duduk di sisi tempat tidur. Ia perlahan menggenggam kedua tangan Luna yang menutupi wajahnya, lalu menurunkannya dengan lembut. Tanpa berkata apa-apa, ia mulai mendekatkan wajahnya, jarak di antara mereka semakin dekat. Saat bibirnya hampir menyentuh kening Luna, tiba-tiba ia menghentikan gerakannya.
Pangeran Haoran menarik napas panjang, lalu pergi ke sisi lain dan berbaring di samping Luna. Ia menarik selimut hingga menutupi sebagian tubuhnya.
"Aku... sangat lelah hari ini. Kita beristirahat saja malam ini," ucapnya dengan suara yang terdengar datar, seolah tidak ada apa-apa.
Luna tertegun di tempatnya. Ia mengira akan terjadi hal lain, namun justru mendapatkan sikap yang tak terduga. Ia menatap Haoran yang terlihat tenang, lalu perlahan menarik napas lega sekaligus bingung. Beberapa saat kemudian, saat ia yakin Pangeran Haoran sudah tidur, Luna bangkit perlahan. Ia berjalan menuju jendela yang sedikit terbuka, lalu bersandar di sana sambil menatap bulan yang bersinar terang di langit malam. Pikirannya melayang entah ke mana. Ia memikirkan bagaimana masa lalunya, pertemuan dengan Pangeran Haoran, hingga kenyataan bahwa ia kini telah menjadi istri seorang Pangeran.
Namun, Pangeran Haoran sebenarnya tidak tidur, ia hanya berpura-pura memejamkan mata. Melalui celah matanya yang sedikit terbuka, ia diam-diam memperhatikan Luna yang berdiri memandang ke luar jendela. Hatinya sedikit kecewa, namun ia tidak ingin memaksakan apa pun pada wanita yang masih menyimpan luka dan ketakutan itu. Ia memilih menahan keinginannya sendiri demi menghormati perasaan Luna. Dan tanpa sadar, setetes air mata jatuh membasahi pipinya.