NovelToon NovelToon
Talak Tiga Di Malam Pertama

Talak Tiga Di Malam Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Salwa Azzahra, gadis berusia 22 tahun, menikah dengan orang yang sangat dia cintai , dan berharap Salwa bisa keluar dari rumah yang membuathya terluka . namun harapannya hancur seketika di malam pertama pernikahan .

Baru saja akad dilaksanakan, Yogie, suaminya, langsung menjatuhkan talak tiga tepat di malam itu juga, tanpa penjelasan yang masuk akal. Ia mengembalikan Salwa ke rumah orang tuanya seolah gadis itu barang yang tidak berguna. Salwa hancur, merasa harga dirinya diinjak-injak, dan kini harus menanggung malu serta fitnah masyarakat yang menuduhnya bersalah hingga diceraikan secepat itu.

Di balik sikap dingin Yogie, ternyata ada rahasia besar dan alasan tersembunyi yang membuatnya terpaksa melakukan hal menyakitkan itu, meski sebenarnya ia menyimpan rasa peduli. Takdir mempertemukan mereka kembali bertahun-tahun kemudian, saat luka keduanya belum sembuh , apakah Salwa akan kembali pada Yogie?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Hari-hari berlalu dengan sangat cepat, seolah waktu pun ikut berpacu menuju momen besar yang telah dinanti-nanti oleh dua kubu besar dengan perasaan yang sangat berbeda. Tinggal sehari lagi, acara ulang tahun ke-21 Perusahaan Laksana Group akan digelar. Seluruh kota sedang membicarakan acara itu, kabar tentang kemegahan dan keistimewaan acara itu menyebar ke mana-mana, membuat siapa saja yang diundang merasa sangat beruntung dan terhormat.

Di kediaman mewah keluarga Pratama, suasana terasa sangat heboh dan penuh kegembiraan. Rumah itu dipenuhi oleh riuh rendah obrolan, tawa, dan persiapan terakhir. Yogie terlihat sangat bersemangat, penampilannya selalu rapi dan penuh percaya diri. Ia sudah membayangkan betapa hebatnya dirinya nanti saat berjalan masuk ke ruang pesta beriringan dengan Sania, di depan ratusan orang penting. Baginya, malam besok adalah malam di mana nama keluarga Pratama akan terangkat derajatnya menjadi yang tertinggi.

Sania dan kedua orang tuanya pun tak kalah sibuk. Gaun-gaun mewah yang mereka beli kemarin sudah digantung rapi di lemari khusus, dibungkus plastik bening agar tidak ada sedikit pun debu yang menempel. Sepatu, perhiasan, tas tangan, hingga aksesori terkecil pun sudah dipersiapkan dengan teliti. Sania duduk di depan cermin besar di kamarnya, memutar-mutar kalung berlian yang rencananya akan ia pakai besok malam. Senyum kemenangan tak pernah lepas dari bibirnya.

"Ibu, Ayah... Besok malam kita akan menjadi pusat perhatian," ucap Sania dengan nada penuh mimpi indah. "Besok, semua orang akan tahu siapa kami. Tidak ada lagi yang berani meremehkan pabrik Ayah. Tidak ada yang berani menganggap kami keluarga biasa saja. Kami akan sejajar dengan yang tertinggi."

Pak Joko tertawa puas sambil mengelus janggutnya. "Benar, Nak. Ayah sudah atur segalanya. Besok, saat kau diperkenalkan sebagai calon istri Yogie, Ayah akan memanfaatkan momen itu sebaik mungkin. Ayah akan berkenalan dengan semua pengusaha besar yang ada di sana. Siapa tahu ada yang mau bekerja sama, pabrik kita bisa diperbesar menjadi perusahaan besar sungguhan. Kita akan jadi orang paling kaya dan paling disegani di kota ini."

Bu Ratna hanya mengangguk-angguk, namun di sudut hatinya rasa gusar itu semakin kuat. Semakin dekat hari itu, semakin ia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Ada perasaan cemas yang samar, seolah ada mata yang mengawasi mereka dari kejauhan. Namun, melihat suami dan putrinya begitu bersemangat dan bahagia, ia kembali menekan rasa itu ke dasar hati. Ia pikir mungkin itu hanya rasa bersalahnya terhadap Salwa, anak yang telah mereka buang dan lupakan begitu saja.

Di sisi lain, di kediaman megah milik Ardiansyah Laksana, suasana terasa jauh lebih tenang, hening, namun penuh dengan ketegangan yang terarah. Di sini tidak ada tawa riuh atau kegembiraan berlebihan. Yang ada hanyalah keseriusan, persiapan matang, dan tekad yang membara namun terkendali. Semuanya sudah disiapkan sejak lama, hingga ke detail terkecil. Tidak ada yang dibiarkan kebetulan.

Salwa duduk di kamarnya, menatap gaun putih tulang yang sederhana namun mempesona itu yang tergantung anggun di depan lemari kacanya. Ia berdiri di depan cermin besar, memandangi pantulan dirinya sendiri. Gadis yang dulu kurus, pucat, dan penuh ketakutan kini telah berubah total. Kulitnya bersih dan bercahaya, wajahnya cantik alami dengan sorot mata yang tajam, cerdas, dan penuh wibawa. Tubuhnya yang tinggi langsing kini berdiri tegak penuh percaya diri, tidak lagi menunduk takut seperti dulu.

Pintu kamar terbuka perlahan, dan masuklah Ardiansyah serta Bunga. Ayah dan calon ibu barunya itu menatap Salwa dengan mata yang berbinar bangga dan penuh kasih sayang. Ardiansyah berjalan mendekat, lalu meletakkan kedua tangannya di bahu putri tunggalnya.

"Besok malam, Nak... Besok malam adalah malam pembuktian," ucap Ardiansyah dengan suara berat dan penuh makna. "Besok malam, topeng mereka akan lepas, dan kebenaran akan terungkap di hadapan semua orang. Besok malam, kau bukan lagi gadis malang yang mereka injak-injak. Kau adalah pemilik sah dari segalanya. Kau adalah nyonya besar yang memegang kendali atas nasib mereka semua."

Salwa menatap mata ayahnya dalam-dalam, lalu mengangguk mantap. "Saya siap, Ayah. Hati saya sudah tenang. Saya tidak lagi marah atau dendam membabi buta. Sekarang, yang saya rasakan hanyalah kewajiban untuk mengembalikan apa yang telah mereka lakukan. Mereka bermain kotor, mereka menyakiti, mereka mengambil hak orang lain... besok, mereka harus membayarnya lunas."

Bunga mendekat, membenarkan sedikit kerah baju Salwa, lalu tersenyum lembut namun tegas.

"Tante sudah atur semuanya, Nak. Daftar tamu, urutan acara, tempat duduk, hingga saat pengumuman... semuanya sudah diatur agar pukulan itu jatuh tepat di hati mereka. Mereka akan duduk di barisan depan, tempat paling terhormat, tepat di bawah sorotan lampu, agar mereka bisa melihat segalanya dengan sangat jelas, dan agar semua orang juga bisa melihat mereka dengan jelas saat momen itu tiba."

Ardiansyah berjalan ke arah meja kerja, mengambil sebuah kotak perhiasan kecil yang elegan, lalu membawanya kembali ke hadapan Salwa. Ia membuka kotak itu, dan terlihatlah sebuah kalung berlian yang sangat indah, berkilauan namun simpel, dengan liontin berbentuk bunga teratai putih yang anggun dan murni.

"Ini adalah milik Ibumu kandung... wanita yang melahirkan mu, kalung ini dulu diberikan oleh ibu ayah untuk ibu kamu , tapi sekarang ini menjadi milik kamu ," ucap Ardiansyah pelan, suaranya sedikit bergetar namun tegas. "Ini satu-satunya barang yang tersisa darinya, yang berhasil Ayah selamatkan dari masa lalu yang kelam. Besok malam, kau harus memakai ini. Agar dia, ibumu yang malang itu, bisa melihat dari atas sana bahwa anaknya telah bangkit, telah menang, dan telah mengembalikan nama baiknya."

Salwa meneteskan air mata haru, perlahan ia mengambil kalung itu dan membiarkan ayahnya memakaikannya di lehernya. Sentuhan dingin namun indah dari berlian itu terasa menyatu dengan kulitnya, seolah ada kekuatan baru yang mengalir masuk ke dalam dirinya.

"Terima kasih, Ayah... Besok malam, saya akan membuat kalian semua bangga. Saya akan pastikan, mereka yang meremehkan kita akan menyesal seumur hidupnya," janji Salwa dengan suara lantang.

 " ayah percaya pada kamu , nak . anak ayah akan menjadi perempuan paling cantik di malam nanti ." ucap Ardiansyah sambil mengelus lembut rambut Salwa.

" ayah kamu benar Salwa . Tante Bunga yakin , orang yang dulu menyakiti kamu pasti akan menerima akibatnya ." tambah bunga dengan senyum tulusnya .

Salwa lalu memeluk tubuh langsing bunga ." terima kasih Tante Bunga , sudah mengajarkan Salwa banyak hal. Saya ingin setelah acara ini Tante Bunga dan ayah bisa melangsungkan pernikahan. agar saya bisa mempunyai keluarga yang utuh. " pinta bunga

Tante Bunga dan ayah Ardiansyah saling tatap lalu mereka mengangguk secara bersamaan .

Malam itu berlalu dengan cepat, dan tibalah hari yang paling ditunggu. Hari di mana takdir akan berputar 180 derajat. Hari di mana keadilan akan ditegakkan dengan cara yang paling indah dan menyakitkan bagi para pengkhianat.

Bersambung,,,

1
Alit Liet
ceritanya bagus tidak berbelit2
Alit Liet
bab 23 nya mana
Jetva
Yogie..kamu sayang tp kamu talak 3...jelas kamu tak bisa lagi kembali padanya...lelaki koq otaknya kecil..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!