NovelToon NovelToon
MANISNYA SI BOS NARSIS

MANISNYA SI BOS NARSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nina Sani

Kalau kamu butuh novel yang ceritanya manis, menggemaskan, dan ringan, untuk menemani waktu istirahat dan mengusir penat, kisah tentang Anaya dan Bos narsisnya adalah pilihan terbaik.


Setelah lima tahun bertahan menghadapi Bima—CEO muda genius, tajir melintir, dan narsisnya selangit—Anaya sang sekretaris kompeten memutuskan resign demi mengejar mimpi membuka toko kue dan toko buku kecil.

Beban finansialnya tuntas sejak adiknya sukses menjadi atlet nasional.

Namun, rencana resign itu buyar saat Mama Bima justru menjebaknya untuk menjadi menantu. Bagaimana kelanjutan nasib Anaya?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: KOLEKSI KEBUN BINATANG DI KEPALA ANAYA

Jika ada orang yang paling ahli dalam melakukan visualisasi anatomi hewan mamalia, reptil, hingga aves tanpa perlu berkunjung ke Ragunan, orang itu adalah Anaya.

Saat ini, di dalam tempurung kepalanya yang cantik, sekelompok simpanse sedang salto, tiga ekor kangguru sedang melakukan kickboxing, dan seekor komodo raksasa sedang menguap malas tepat di atas wajah tampan Bimantara. Saking gemasnya, Anaya bersumpah ia bisa mendengar suara riuh rendah habitat liar tersebut bersahut-sahutan di dalam otaknya.

Namun, di dunia nyata? Wajah Anaya adalah definisi dari ketenangan paripurna. Kulit wajahnya tidak berkedut sedikit pun.

Meskipun saat ini tubuhnya terkunci rapat di antara pinggiran meja marmer yang dingin dan dekapan dada bidang Bima—yang wangi sandalwood-nya mulai mengacaukan pasokan oksigen ke otak—Anaya tetap mampu memamerkan senyum paling estetik miliknya. Sebuah senyuman manis berkadar gula tinggi yang siap membuat dokter gigi mana pun menjerit ngeri.

"Pak Bima yang baik, yang ketampanannya diakui hingga ke palung laut terdalam," suara Anaya keluar dengan nada selembut puding sutra, kontras dengan jeritan batinnya yang ingin sekali menendang tulang kering pria itu. "Saya benar-benar tidak sedang bermain trik psikologis korporat. Saya murni ingin mengunduran diri karena ingin mengejar mimpi saya. Saya ingin membuat kue, Pak. Bikin pastry, memanggang croissant, mencium aroma mentega setiap pagi. Indah, bukan?"

Bima tidak langsung menjawab. Pria itu menurunkan sedikit pandangannya, menatap bagaimana bibir Anaya bergerak dengan pelafalan yang baik saat mengucapkan kata 'croissant'. Jarak yang hanya tersisa beberapa sentimeter ini membuat Bima bisa melihat dengan jelas bulu mata lentik Anaya yang bergetar halus.

Sialan, sejak kapan sekretarisnya yang dulu mirip talas bogor ini punya bulu mata selentik ini? Dan aroma vanilla dari tubuh Anaya... kenapa mendadak terasa begitu memabukkan di indra penciumannya?

Menyadari fokusnya mulai bergeser ke arah yang tidak logis, Bima buru-buru menarik kembali jiwanya yang sempat keluyuran. Dia mendengus, menaikkan sudut bibirnya ke atas, menampilkan senyum meremehkan andalannya yang sanggup meruntuhkan kepercayaan diri delapan puluh persen umat manusia.

"Mimpi?" Bima terkekeh rendah. Getaran dari dada bidangnya yang terekspos karena tiga kancing kemeja yang terbuka itu terasa menyengat permukaan kulit Anaya. "Mimpi, kamu bilang? Anaya, bangun. Kamu bahkan tidak bisa membedakan mana 'masa depan', mana 'masa bodoh'."

Di kepala Anaya, muncul gambaran satu ekor jerapah yang baru saja menendang pimpinan jajaran direksi di depannya.

"Maksud Bapak?" Anaya masih mencoba bertahan dengan mode malaikatnya, walau senyumnya kini sudah bergetar seperti jembatan gantung tertiup angin puting beliung.

Bima menarik satu tangannya dari meja marmer, lalu menggunakannya untuk mengetuk dahi geniusnya sendiri dengan gaya super narsis.

"Masa depan itu adalah tetap berada di ruangan ini, menjadi tangan kanan dari seorang CEO yang akan membawa PT Bimantara Food Internasional melakukan IPO terbesar dekade ini. Masa depan itu adalah bonus tahunan yang bisa membelikanmu satu toko kue beserta tanah-tanahnya tanpa kamu harus repot-repot menguleni adonan sampai tanganmu kapalan," ujar Bima dengan nada diktator setebal kamus hukum. "Sementara keputusanmu untuk keluar demi memanggang roti? Itu bukan mimpi, Anaya. Itu namanya masa bodoh terhadap realita hidup."

Bima memajukan wajahnya satu senti lebih dekat. "Kamu pikir dunia kuliner itu ramah? Kamu pikir oven tidak panas? Baru terkena percikan minyak dari wajan sampel mi instan baru kita saja kamu sudah menjerit seperti melihat hantu."

Anaya menarik napas dalam-dalam. Cukup. Batas kesabarannya selama lima tahun yang setebal tembok Berlin mendadak runtuh menjadi serpihan debu.

Persetan dengan pesona visual dada bidang Bima. Persetan dengan aroma parfum mahalnya. Di mata Anaya saat ini, Bima hanyalah seekor merak jantan narsis yang ekornya perlu dicabuti satu per satu.

Anaya menurunkan senyum palsunya. Matanya melebar, menatap lurus-lurus ke dalam manik mata hitam Bima yang pekat.

"Pak Bima," kata Anaya, suaranya kini turun beberapa oktav, dingin dan menusuk. "Bapak tahu kenapa saya bertahan lima tahun di sini?"

Bima mengangkat sebelah alisnya yang tebal, sedikit terkejut dengan perubahan atmosfer yang drastis dari wanita di depannya. "Karena saya bos yang hebat dan gajimu besar?"

"Anda salah pak," Anaya mendengus sinis, tawa pendeknya terdengar sangat meremehkan*—sebuah ekspresi yang selama lima tahun ini dilarang keras ia tunjukkan*. "Karena selama lima tahun ini, saya harus membiayai keperluan rumah tangga ibu saya dan membayar biaya sekolah adik saya dan segala tetek bengek kebutuhan pengembangan dirinay sebagai calon atlet, yang tentu saja banyaknya minta ampun. Saya bertahan dari segala kalimat sarkasme Bapak yang tidak berperikemanusiaan itu demi uang. Murni. Demi. Uang."

Anaya menekankan setiap katanya tepat di depan wajah Bima.

"Tapi sekarang? Kondisinya sudah berbeda. Adik saya sudah kaya mendadak. Uang bukan lagi masalah bagi keluarga saya. Jadi, kenapa saya harus tetap tinggal di ruangan ini, mendengarkan kritik Bapak tentang sudut klip kertas yang miring satu derajat, sementara saya bisa hidup bahagia dikelilingi aroma kayu manis dan tepung?"

Mendengar penuturan yang begitu blak-blakan, cengkeraman tangan Bima di sisi meja marmer perlahan melonggar. Otak geniusnya yang biasanya bisa memproses data algoritma penjualan dalam hitungan detik, mendadak stuck seperti komputer tua yang terserang virus.

Ada rasa tidak percaya yang besar di dalam dada Bima. Jadi... selama ini senyum manis Anaya, kepatuhan Anaya, dan segala perhatian detail Anaya terhadap kopi paginya yang harus bersuhu 85 derajat Celcius itu... semuanya hanya karena uang? Bukan karena Anaya mengagumi dedikasi kerjanya? Bukan karena Anaya... terpesona olehnya?.

Gengsi seorang Bima Bimantara yang setinggi langit mendadak dihantam meteor. Ada rasa perih dan tidak rela yang aneh yang merayap di sudut hatinya.

"Jadi..." Bima berbisik, suaranya mendadak berubah menjadi lebih serak. Ia menatap Anaya dengan pandangan yang sulit diartikan. "Selama lima tahun ini, kamu menganggap bekerja dengan saya sebagai sebuah siksaan?"

Anaya tertegun sejenak melihat perubahan ekspresi Bima. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat binar arogan di mata bosnya itu. Ada kilatan rapuh yang tersembunyi dengan sangat rapi di sana. Namun, Anaya segera menggelengkan kepalanya dalam hati. Jangan tertipu, Nay! Ini pasti taktik manipulasi psikologis baru dari si narsis!

"Bukan siksaan, Pak," jawab Anaya, mencoba mengembalikan nada bicaranya ke ranah profesional, meski kini posisinya masih sangat intim dan berbahaya karena Bima belum juga menjauhkan tubuhnya. "Lebih tepatnya... sebuah latihan mental yang sangat ekstrem. Dan saya rasa, masa pelatihan saya sudah selesai. Saya berharap segera lulus."

Bima menatap bibir Anaya yang kini mengatup rapat dengan raut tegas. Jarak mereka yang begitu dekat membuat Bima bisa merasakan kehangatan napas Anaya yang memburu di permukaan kulit lehernya. Letupan gairah asing yang sejak tadi tertahan di perut Bima kini semakin bergejolak hebat. Sial, dia benar-benar tidak rela melepaskan wanita ini. Tidak akan pernah rela.

"Bagaimana kalau saya naikkan gajimu? Lima kali lipat?" Bima menawarkan, suaranya terdengar posesif, menolak untuk kalah.

Anaya tersenyum, kali ini sebuah senyuman tulus yang terlihat sangat cantik namun mematikan bagi harapan Bima. "Uang tidak bisa lagi membeli kebebasan saya, Pak."

Bima menyipitkan matanya. Dia tidak terbiasa ditolak, dan dia paling benci kekalahan. Perlahan, Bima memajukan wajahnya lagi, hingga jarak di antara ujung hidung mereka benar-benar terkikis habis. Kulit mereka hampir bersentuhan, dan atmosfer di dalam ruangan itu mendadak berubah menjadi sangat padat oleh ketegangan emosi yang lambat laun membakar pertahanan diri masing-masing.

"Kalau begitu," Bima berbisik tepat di depan bibir Anaya, membuat bulu kuduk sekretarisnya itu meremang hebat. "Saya tidak akan menandatangani surat ini, Anaya. Kamu tidak bisa pergi ke mana pun sebelum saya mengizinkannya."

Napas Anaya tercekat di tenggorokan. Saraf-saraf di tubuhnya kembali berteriak histeris, bukan lagi karena kesal, melainkan karena getaran hebat yang mendadak melumpuhkan seluruh sendi-sendinya akibat kedekatan yang teramat sangat ini. Situasi slow burn yang selama lima tahun ini ia redam dengan susah payah di bawah sadar, mendadak meledak dalam satu kedipan mata.

*

*

1
English Lesson
semangat 💪🏻
English Lesson
Bagus👍🏻
Mar lina
Kirain mau kiss
ternyata pada masih
malu" kucing...
lanjut Thor ceritanya
di tunggu updatenya
Mar lina
Di tunggu
cerita kelanjutannya, Thor
mungkin Anya belum merasakan benih" cinta pak...
pak Bima juga seperti itu
kerjaan melulu yg di fikirkan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!