Wang Chan hanyalah pemuda biasa dari Desa Hitam. Berkali-kali ditolak oleh sekte karena bakat rendah dan kekuatan lemah.
Namun saat desa mereka dihancurkan oleh monster iblis, ia tak punya pilihan selain melarikan diri sambil membawa seorang teman wanitanya.
Di tengah dunia kultivasi yang kejam, Wang Chan harus bertahan hidup dengan kekuatan yang nyaris tak berarti. Dari pelarian putus asa itulah, takdirnya mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Bagaimana cara untuk kita bertahan hidup
Kota Jiang, sebuah kota yang cukup besar. Gerbangnya menjulang dari batu hitam yang dipahat dengan ukiran naga dan awan, dijaga oleh dua penjaga berotot dengan seragam biru tua.
Dari luar saja sudah terlihat hiruk-pikuk kehidupan, begitu banyak penduduk lalu lalang pada pagi hari, beberapa kultivator juga beterbangan di udara dengan pedang mereka, melintasi langit biru meninggalkan jejak cahaya samar.
Anak-anak berlarian mengejar layang-layang dari kertas sutra, sementara orang tua duduk di kursi goyang di depan toko-toko mereka sambil mengipasi diri.
Wang Chan dan Qing Yi baru saja tiba di kota itu. Mereka memasuki kota dengan santai, tidak menarik perhatian.
Pakaian mereka sedikit kusam dan lusuh dibandingkan penduduk kota yang kebanyakan mengenakan kain berkualitas baik, tapi tidak ada yang menoleh dua kali.
Dua anak muda dari desa bukanlah pemandangan yang aneh di kota sebesar ini.
Keduanya berjalan berdampingan memperhatikan kota yang terlihat sangat berbeda dengan desa mereka. Di desa, paling tinggi hanya ada rumah panggung dua lantai.
Di sini, toko-toko menjulang sampai tiga atau empat tingkat, beberapa bahkan memiliki lentera-lentera besar bergambar ramuan dan senjata.
Aroma kue jahe, dupa, dan ramuan herbal bercampur jadi satu di udara pagi.
Qing Yi menguap pelan.
Matanya masih sedikit sembab karena kurang tidur semalaman.
"Kota ini sungguh besar dan indah," ucapnya sembari melihat ke berbagai arah, lehernya sedikit terjulur seperti anak kecil yang baru pertama kali ke pasar.
Sementara itu Wang Chan mengeluarkan beberapa batu sumber dari pakaian dalamnya, kantong kecil yang ia jahit sendiri di bagian pinggang, tersembunyi di balik ikat pinggang kain.
Batu-batu itu berwarna hijau pucat hingga biru keabu-abuan, kebanyakan berukuran sebesar ruas jari.
Ia menghitungnya satu per satu dengan gerakan tangan yang terlatih.
"Untung saja aku selalu membawa ini," gumamnya.
Qing Yi menoleh pada Wang Chan. Alisnya naik.
"Apa yang kau lakukan?"
"Menghitung batu sumber yang kumiliki. Harga barang di kota ini harusnya berbeda dengan desa kecil kita, jadi tidak bisa sembarangan membeli sesuatu."
Qing Yi mengangguk. Matanya mengikuti jari-jari Wang Chan yang lincah memilah batu-batu kecil itu.
Delapan belas batu sumber tingkat rendah, tiga batu tingkat menengah. Cukup untuk bertahan beberapa minggu jika mereka sangat hemat.
Qing Yi kemudian mendekat, memeluk erat tangan Wang Chan hingga puncak kembarnya menekan tangan Wang Chan.
Rasanya lembut, kenyal, seperti bantal sutra yang diisi kapas berkualitas tinggi. Dari sela lengan bajunya yang longgar, terlihat sedikit lekuk dadanya yang putih dan lembut.
Qing Yi tidak pernah sungkan menunjukkan kasih sayang secara fisik, dan ia juga tahu bahwa Wang Chan tidak akan pernah mengambil keuntungan darinya.
Wang Chan hanya mengalihkan pandangannya seolah tidak terjadi apa-apa. Matanya tetap lurus ke depan, wajahnya datar.
Mungkin sedikit ada rona merah di ujung telinganya, tapi itu bisa jadi karena sinar matahari.
"Untuk sekarang, cari penginapan kecil yang murah terlebih dahulu."
Wang Chan melepaskan pelukan Qing Yi dengan lembut tapi tegas, tangannya menyentuh pergelangan Qing Yi dan mengangkatnya perlahan.
"Kau pandai bicara, harusnya mudah untukmu bernegosiasi dengan orang lain, kan?"
Qing Yi membusungkan dadanya. Puncak kembarnya yang tertutup kain tipis itu naik ke depan dengan penuh percaya diri.
Kedua tangannya memegang pinggang dengan postur seorang pebisnis ulung.
"Serahkan padaku!"
Suaranya lantang, membuat beberapa orang di sekitar menoleh sebentar.
Beberapa jam kemudian~
Mereka berhasil menemukan penginapan dengan harga murah, berkat usaha Qing Yi.
Penginapan itu bernama "Penginapan Sekuntum Anggrek", sebuah bangunan kayu dua lantai di gang sempit di belakang pasar ikan.
Tempatnya tidak mewah, tapi bersih. Dindingnya terbuat dari papan kayu jati yang sudah menggelap karena usia, tapi tidak ada lubang atau retak. Lantainya dari bambu anyam yang terawat baik.
Qing Yi berdiri di depan meja pemilik, seorang wanita paruh baya dengan sanggul tinggi dan senyum yang tidak bisa dibilang hangat tapi juga tidak dingin.
Dengan gaya tawarnya yang genit dan lidahnya yang licin, Qing Yi berhasil menekan harga dari lima batu sumber tingkat rendah per malam menjadi hanya tiga batu, plus sarapan gratis.
Bahkan pemilik itu akhirnya tertawa dan menggeleng-gelengkan kepala.
Tujuan mencari penginapan sebenarnya adalah untuk beristirahat sejenak.
Setelah perjalanan yang begitu panjang, berlari semalaman, melewati hutan, bukit-bukit kecil, dan dua sungai, rasanya Wang Chan kehilangan seluruh kekuatannya.
Kaki seperti terbuat dari timah, bahunya terasa berat, dan pusat Qi di dadanya terasa kering seperti sumur di musim kemarau.
Ia terus menahan.
Lalu setelah membayar ke pemilik penginapan, ia dan Qing Yi langsung masuk ke dalam kamar mereka.
Kamar itu berada di ujung lorong lantai dua. Pintu gesernya terbuat dari kayu pinus dengan ukiran bunga yang sudah pudar.
Begitu masuk, wangi kemenyan samar menyapa hidung.
Ruangannya tidak besar, sekitar tiga meter kali empat meter, dengan satu ranjang kayu di sudut, satu lemari pakaian kecil, satu meja rendah dengan bantal duduk, dan satu jendela yang menghadap ke gang belakang.
Hanya satu kamar yang mampu mereka beli, karena hanya memiliki sedikit batu sumber. Mereka harus berhemat.
Qing Yi juga tidak keberatan.
Ia bahkan sudah melepas sepatunya di depan pintu dan berjalan tanpa suara ke tengah ruangan sambil memutar-mutar pergelangan tangannya yang pegal.
Wang Chan langsung membaringkan tubuhnya ke ranjang.
Ranjang itu empuk, mungkin tidak empuk menurut standar orang kota, tapi bagi Wang Chan yang hanya terbiasa tidur di tikar anyaman di atas lantai tanah, ini seperti berbaring di atas awan.
Sprei putih tipis tercium wangi sabun akar wangi. Dibandingkan rumah lamanya yang lembab dan pengap, ini sungguh layak.
Qing Yi berbaring di sampingnya.
Tubuhnya yang lentur berguling pelan hingga menghadap Wang Chan. Wajahnya hanya berjarak setengah lengan dari Wang Chan.
Matanya yang bening menatap wajah Wang Chan yang lelah, garis rahangnya yang tegas, kantung matanya yang menghitam, bulu matanya yang panjang dan sedikit bergetar setiap kali dia berkedip.
"Jangan melihatku seperti itu." Wang Chan menyadari tatapan Qing Yi meskipun matanya tertutup. "Aku masih berpikir bagaimana cara untuk kita bertahan hidup."
Qing Yi hanya tersenyum. Kemudian berdiri dan membuka lemari kayu di sudut ruangan.
Di dalamnya tergantung beberapa helai pakaian tidur sederhana dari katun tipis, persediaan dari penginapan untuk tamu yang tidak membawa pakaian ganti.
Ia mengambil dua helai, satu warna krem untuknya dan satu warna abu-abu untuk Wang Chan.
Qing Yi perlahan menarik pakaiannya. Sepanjang perjalanan semalaman, tubuhnya memang agak lengket karena keringat.
Kain luarnya yang berwarna biru pudar terlepas dari bahu ke pinggang, lalu jatuh ke lantai dengan suara desir lembut.
Kain dalamnya yang tipis menyisakan sedikit di tubuhnya, cukup untuk menutupi bagian-bagian penting, tapi tidak cukup untuk menyembunyikan lekuk-lekuk tubuhnya yang montok.
Punggungnya yang putih bersih terekspos, dua tulang belikat yang lembut, lekuk pinggang yang ramping, dan sedikit rambut hitam yang terjuntai ke bawah.
Kulitnya mulus seperti porselen, tanpa cacat sedikit pun, karena meskipun bukan orang kaya, ia selalu merawat dirinya dengan mandi air hangat dan lotion bunga melati yang ia buat sendiri.
Wang Chan melihatnya.
"Wang Chan, sudah seperti ini kau masih belum berbalik?"
Qing Yi terlihat kesal dengan ketidakpekaan Wang Chan.
Matanya menyipit, bibirnya sedikit cemberut, tapi bukan cemberut marah, lebih seperti cemberut anak kecil yang tidak mendapat perhatian.
Wajahnya sedikit memerah, bukan karena malu, tapi karena jengkel.
"Kau sendiri yang tiba-tiba hendak berganti pakaian di depanku."
"Berbalik!"
Suaranya sedikit tinggi, disertai dengan gerakan tangannya yang melempar bantal kecil ke arah Wang Chan.
Bantal itu mengenai wajah Wang Chan dengan bunyi 'puk' yang tidak menyakitkan.
Wang Chan hanya menghela napas pelan.
Ia kemudian berbalik, bukan karena dia takut, tapi karena dia tahu Qing Yi memang keras kepala dan tidak akan berganti pakaian selama dia masih melihat.
Punggungnya kini menghadap Qing Yi, matanya menatap dinding kayu yang retak-retak tua.
Baginya, Qing Yi itu teman yang sangat dekat. Bahkan rasa malu di antara mereka sangat jarang.
Ciuman? Sudah biasa, walau hanya di pipi.
Berkumpul berdua di malam hari? Juga sudah biasa.
Qing Yi adalah satu-satunya orang di desa itu yang tidak pernah mengejeknya, satu-satunya yang duduk di sampingnya ketika semua orang lain menjauh.
Tapi ganti pakaian di depan matanya? Itu sedikit terlalu jauh. Meskipun begitu, Wang Chan tidak bisa marah. Qing Yi tetaplah Qing Yi.
Wang Chan melihat ke tangannya sendiri, telapak tangan yang kasar, penuh kapalan, dan bekas luka-luka kecil dari latihan.
Energi Qi di dalam tubuhnya terasa berdenyut pelan, seperti sungai kecil yang mencoba mengalir melewati bebatuan.
'Sedikit lagi menerobos ranah... jika berhasil maka...'
Jika berhasil menerobos, ia akan menjadi kultivator sejati. Bukan lagi sekadar perintis Qi yang diolok-olok.
Bukan lagi sampah desa yang tidak bisa masuk sekte.
Maka ia tidak perlu lagi lari dari binatang iblis seperti tadi malam. Maka ia bisa—
"Sudah."
Suara Qing Yi di belakangnya memotong lamunan.
Wang Chan mendengar suara kain yang ditaruh di lantai, lalu suara langkah kaki telanjang di atas anyaman bambu.
"Sekarang giliranmu. Mandi dulu, Wang Chan. Kau bau sekali."
Wang Chan tersenyum kecil, senyum pertamanya sejak desa mereka hancur.
"Kau juga tidak wangi."
Tapi ia tetap berdiri, mengambil pakaian abu-abu itu, dan berjalan ke kamar mandi di luar tanpa membalikkan badan.
Pintu geser kamar tertutup di belakangnya dengan suara 'krek' pelan.
Qing Yi duduk di tepi ranjang, mengenakan pakaian tidur krem longgar yang membuatnya terlihat seperti kuncup bunga yang baru mekar.
Ia merapikan rambutnya yang panjang sambil tersenyum kecil.
"Bodoh," bisiknya pelan, padahal tidak ada yang mendengar. "Tunggu saja sampai kau sadar."
Di luar jendela, mentari pagi Kota Jiang mulai meninggi, menerangi atap-atap genteng merah dan menara pengawas di kejauhan.
Hari baru dimulai.
Dan dua anak muda dari desa yang hancur itu, satu dengan mimpi, satu dengan kesetiaan yang tak pernah diucapkan, masih harus mencari jalan untuk bertahan hidup di kota yang tidak mengenal mereka.