NovelToon NovelToon
Dibuat Mandul Oleh Suami Pengkhianat, Aku Pun Bangkit Membalas

Dibuat Mandul Oleh Suami Pengkhianat, Aku Pun Bangkit Membalas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:62k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

BERTAHUN-TAHUN DIANGGAP MANDUL, TERNYATA ITU ADALAH JEBAKAN SUAMI DAN ORANG KETIGA. SETELAH MENGETAHUI KEBENARANNYA, AKU PUN MULAI MEMBALAS DENDAM!

Novel ini misi dari editor, jika ada kesamaan dengan author lain, berarti kita sedang sama-sama mengerjakan tugas misi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Suatu hari, matahari terasa jauh lebih terik dari biasanya. Cahaya menyengat jatuh lurus ke jalanan yang tampak berkilau karena panas. Udara terasa berat, membuat napas sedikit sesak dan tubuh cepat lelah, bahkan untuk sekadar berdiri terlalu lama. Di dalam rumah, suasana tetap hening, tetapi bukan ketenangan yang terasa, melainkan kesunyian yang menekan. 

“Kemuning!” suara Bu Ratih memanggil dari ruang tengah dengan nada tajam seperti biasa.

Kemuning yang sedang merapikan dapur langsung berhenti dan menjawab pelan, “Iya, Bu?” 

Bu Ratih tanpa basa-basi berkata, “Belikan Ibu buah-buahan. Ibu mau rujak. Panas begini enaknya makan yang segar.” Itu bukan permintaan, melainkan perintah. 

“Iya, Bu,” jawab Kemuning singkat tanpa bertanya apa pun. Ia segera mengambil dompetnya, jemarinya bergerak pelan seolah kehilangan tenaga. 

Kemuning merasa langkahnya berat saat keluar rumah, tidak seperti biasanya. Kepala dia masih dipenuhi pikiran, dan dadanya masih sesak oleh perasaan yang belum reda sejak kemarin. Namun, seperti hari-hari sebelumnya dia tetap berjalan, menjalani semuanya aktivitas tanpa suara dan tanpa perlawanan.

Di luar, jalanan cukup ramai. Kendaraan lalu lalang tanpa henti, suara klakson bersahutan, bercampur dengan teriakan pedagang di pinggir jalan. Panas matahari menyengat kulit, membuat keringat mulai muncul di pelipis. Kemuning berdiri di tepi jalan, matanya melihat ke kanan lalu ke kiri, seolah memastikan keadaan aman. 

Sebenarnya pikiran Kemuning tidak berada di sana. Ingatannya kembali ke kejadian kemarin. 

Dalam detik yang terasa begitu lambat, dari arah kanan sebuah motor melaju kencang. Suara mesinnya meraung keras, mendekat dengan cepat.

 

“WOI! AWAS!” teriak seseorang dengan panik.

Kemuning menoleh, matanya langsung melebar. Dia ingin mundur, ingin menghindar, tetapi tubuhnya membeku. Kakinya tidak bergerak, seolah terkunci di tempat. Dan dalam sepersekian detik itu, benturan keras terjadi. 

“BRAK!” 

Suara menggema, tubuh Kemuning terpental dan jatuh menghantam aspal. Rasa sakit langsung menjalar ke seluruh tubuhnya, tajam dan menghantam tanpa ampun. Kepalanya berputar, pandangannya kabur. 

Suara orang-orang di sekitarnya terdengar samar, seperti datang dari tempat yang sangat jauh. Ada yang berteriak, ada yang berlari mendekat, tetapi semuanya perlahan menghilang dari jangkauannya.

Dunia di sekelilingnya seperti berputar tanpa arah. Langit yang tadi begitu terang perlahan memudar di matanya. Dalam detik-detik terakhir sebelum semuanya menjadi gelap, satu pikiran lirih melintas di benak Kemuning yang rapuh dan penuh luka. “Kenapa hidupku seperti ini?” 

Air matanya mengalir tanpa Kemuning sadari. Lalu perlahan, semuanya menghilang dan gelap sepenuhnya. 

Sementara itu, Aryasatya, orang yang menabrak Kemuning, diam mematung dengan tubuh gemetar karena ketakutan. “Tidak! Ku mohon jangan mati,” ucapnya lirih.

“Tolong, bawa korban ke rumah sakit!” pinta seorang pria paruh baya yang kini berjongkok di dekat Kemuning.

“Hey, itu pelakunya!” teriak orang-orang sambil menunjuk pengendara motor yang memakai seragam sekolah.

”Kamu yang sudah menabrak, harus bertanggung jawab," kata pria paruh baya itu kepada Aryasatya.

Di rumah sakit, suasana terasa dingin dan menegangkan. Bau obat-obatan menusuk hidung. Aryasatya mondar-mandir di depan ruang IGD, kakinya tidak bisa diam. Sesekali ia mengacak rambutnya sendiri, wajahnya penuh penyesalan.

“Gimana ini? Gimana kalau dia kenapa-kenapa?” gumam pemuda itu pelan.

Tangan Aryasatya gemetar saat meraih ponsel. Dia langsung menekan nomor yang paling dia percaya. “Kakak.”

Suara di seberang terdengar tenang. “Ya, ada apa Arya? Kenapa kamu belum pulang ke rumah?”

“Kak, a-ku nab-rak orang.” Suara Aryasatya bergetar hebat. “Sekarang lagi di rumah sakit. Aku nggak tahu harus gimana?”

Hening beberapa detik.

“Kamu ada di rumah sakit mana?”

Tidak lama kemudian, seorang pria datang dengan langkah cepat namun terukur. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya tajam. Kemeja yang dikenakan rapi, berbeda jauh dengan Aryasatya yang masih berantakan.

Orang itu adalah Arkatama, kakak dari Aryasatya. Dia langsung menghampiri adiknya. “Kamu nggak apa-apa?”

Aryasatya menggeleng cepat. “Aku nggak kenapa-kenapa, Kak, tapi dia ....” Suara Aryasatya tercekat. “Dia nggak sadar.”

Arkatama menepuk bahu adiknya pelan. “Tenang. Kita akan tanggung jawab.”

Kain gorden pembatas pasien, terbuka. Seorang perawat keluar. “Keluarga pasien?” tanyanya.

Aryasatya langsung menoleh. “Sa-saya ....”

Arkatama maju selangkah. “Kami yang mengantar. Bagaimana kondisinya?”

“Pasien masih tidak sadarkan diri. Ada benturan di kepala dan beberapa luka luar. Kami akan lakukan pemeriksaan lanjutan.”

Arkatama mengangguk. “Lakukan yang terbaik. Semua biaya saya tanggung.”

Perawat itu mengangguk, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.

Aryasatya menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca. “Kak, aku takut dia kenapa-kenapa.”

Arkatama menatap lurus ke depan. “Takut itu wajar. Tapi sekarang bukan waktunya panik. Kita pastikan dia selamat dulu.”

Beberapa jam kemudian, Kemuning akhirnya dipindahkan ke ruang rawat. Tubuhnya terbaring lemah, wajahnya pucat, dengan perban di kepala. Tangannya terpasang infus.

Arkatama berdiri di samping tempat tidur, memperhatikan dengan tenang. Sementara Aryasatya duduk di kursi, menunduk, tidak berani menatap.

“Kak, aku benar-benar nggak sengaja,” ucap pemuda itu lirih.

Arkatama tidak langsung menjawab. Matanya masih tertuju pada Kemuning. “Aku tahu,” akhirnya ia berkata pelan. “Makanya kita tanggung jawab sampai dia pulih.”

Keesokan harinya, dokter datang untuk melakukan pemeriksaan lanjutan. Beberapa perawat ikut serta, membawa berkas dan alat medis. Arkatama berdiri di samping, mendengarkan dengan serius.

“Kami sudah melakukan pemeriksaan menyeluruh,” kata dokter itu sambil membuka hasil laporan. “Untuk kondisi luka akibat kecelakaan, tidak ada yang terlalu fatal. Pasien hanya perlu istirahat dan observasi beberapa hari.”

Aryasatya menghela napas lega.

Rupanya dokter itu belum selesai menjelaskan kondisi Kemuning. “Namun, ada hal lain yang kami temukan.”

Arkatama sedikit mengernyit. “Apa itu, Dok?”

Dokter itu terlihat ragu sejenak, lalu melanjutkan dengan hati-hati. “Dalam hasil pemeriksaan, kami menemukan adanya sisa komponen anti-ovulasi dalam tubuh pasien.”

Ruangan itu mendadak terasa lebih sunyi.

Arkatama menatap tajam. “Maksudnya?”

“Zat ini biasanya digunakan untuk menghambat ovulasi. Dan dari kondisinya, sepertinya sudah berada cukup lama di dalam tubuh pasien.”

Aryasatya mengerutkan kening, tidak begitu mengerti. “Itu artinya ...?”

Dokter menarik napas pelan. “Kemungkinan besar, inilah penyebab pasien kesulitan untuk hamil.”

Saat itu juga, kelopak mata Kemuning bergerak pelan. Dia mulai sadar. Pandangan matanya masih kabur, tetapi suara-suara di sekitarnya mulai masuk sedikit demi sedikit.

Kata-kata dokter barusan seperti pecahan kaca yang jatuh satu per satu ke dalam kesadarannya. Mata Kemuning terbuka perlahan. Yang pertama kali dia lihat adalah langit-langit putih rumah sakit terlihat samar di atasnya. Napasnya terasa berat.

“A-aku di mana?” tanya Kemuning lirih, hampir tidak terdengar.

Arkatama langsung menoleh. “Anda sudah sadar?”

Kemuning tidak langsung menjawab. Matanya bergerak pelan, mencoba memahami keadaan. “Dok,” panggilnya serak. “Apa yang barusan Anda katakan?”

Dokter itu tampak ragu, tetapi akhirnya menjelaskan dengan lebih pelan, “Kami menemukan zat yang menghambat ovulasi di dalam tubuh Anda. Kemungkinan itu sudah lama dan bisa menjadi penyebab Anda belum hamil.”

Dunia Kemuning seakan berhenti. Matanya membelalak dan napasnya tercekat. Semua suara di sekitarnya mendadak menghilang. Yang tersisa hanya satu kalimat yang terus bergema di kepalanya, “Penyebab Anda belum hamil.”

1
Aditya hp/ bunda Lia
Kemuning .. 👍👍👍
Aditya hp/ bunda Lia
LV pasti si Lavanya
Ita rahmawati
tuh Adit wanita yg kmu cintai sampe kamu rela mengkhianati kemuning wanita yg sudah memberikan segalanya utkmu ternyata aslinya tuh udh terbukti dn kmu liat sendirikan kamu ditinggalin saat GK punya apa2 dan dia malah milih jd LC kyk gtu 😏😏
rasain kmu Aditya 🤣
mimief
WKWKWK..lu ninggalin istri Soleha lu buat pel4cvr kaya dia🤣🤣
Ita rahmawati
apa aja gpp fit asal halal dn kmu berubah
Aidil Kenzie Zie
dari jalang berkedok pelakor akhirnya kembali ke jalang 🤣🤣🤣
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
lah si lavanya
Nanik Arifin
tuh kan akhirnya jd rendah pekerjaan & hidupnya, dlu suka ngeremehin & menganggap rendah orang sih... makanya hormati orang lain, biar pekerjaan & hidup kita berharga bagi orang lain
Kasih Bonda
next Thor semangat
Ummee
benar dugaan ku, memang lavanya...
hhmmm lavanya, skrg kamu makin terjerumus
Yuningsih Nining
sukuri penting halal jg paling nggak masih bs nghidupi km sendiri, mngkn masih bnyk orang² keliling nyari kerjaan
Lianty Itha Olivia
akhirnya hidupnya LV malah dijlnan kotor yg penuh dg abu2
ken darsihk
Woouuw pasti Aditya terkejut sangat terkejut , tak di sangka mereka bertemu lagi
ken darsihk
Aq kira Kemuning berhijab
ken darsihk
Hukum tabur tuai ada nyata nya Aditya , dan saat ini lo sedang mengalami
Sugiharti Rusli
entah apa yang akan terjadi saat si Lavanya bertemu kembali sama si Aditya, mantan bos nya yang dia porotin saat kaya dan ditinggal saat jatuh miskin,,,
Sugiharti Rusli
sepertinya si Aditya memang akan bertemu si Lavanya yah, soalnya profesi apa lagi yang harus dilakukan selain modal tubuhnya buat bekerja di kota,,,
Sugiharti Rusli
memang dasar kamunya saja yang lupa diri saat itu terhadap Kemuning, sekarang pekerjaan yang tidak pernah kamu bayang kan harus kamu lakukan demi bertahan hidup,,,
Sugiharti Rusli
yah seperti itu yang namanya roda berputar Dit bagi kamu yang dulu berfoya-foya di atas penderitaan seorang istri yang setia dan bahkan memberikan modal usaha kamu,,,
Sugiharti Rusli
bukannya kalo di ibukota sekarang tranportasi umum seperti bus sudah mulai tertata yah, meski penuh tapi sekarang bagus lha pegangannya🤔🤔🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!