Di dunia bawah tanah yang kejam, seorang bos mafia yang tampan namun terkenal bengis tidak pernah ragu untuk melenyapkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Ketika salah satu anak buah level bawahnya terjerat utang besar yang tak mampu dibayar, nyawa pria tua itu berada di ujung tanduk. Demi menyelamatkan diri dari eksekusi mati, sang bapak nekat menawarkan putri cantiknya sebagai penebus utang. Meski awalnya enggan, sang bos mafia akhirnya menerima kesepakatan tersebut dan menikahi si gadis. Dimulailah kehidupan pernikahan yang dingin, penuh tekanan, dan agak kasar di dalam rumah megah sang mafia. Namun, di balik dinding es yang dibangun sang bos, sebuah dinamika baru perlahan mulai menguji batasan kekejamannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gema Kekejaman
Malam telah larut sepenuhnya, membungkus mansion megah keluarga Sterling dengan keheningan yang mencekam. Jam dinding di kamar utama telah melewati pukul dua dini hari. Di atas ranjang king size yang luas, Chloe tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Jantungnya berdegup dengan ritme yang tidak beraturan, dan peluh tipis membasahi keningnya. Sisa-sisa rasa sakit akibat bentakan dan sikap dingin Asher pagi tadi tampaknya terbawa hingga ke dalam alam bawah sadarnya, memicu mimpi buruk yang samar namun cukup untuk mengusik istirahatnya.
Chloe mengembuskan napas panjang, mencoba menenangkan sirkulasi darahnya. Tenggorokannya terasa sangat kering dan mencekat, seolah-olah dia telah berjalan di tengah gurun pasir yang terik selama berjam-jam. Dia membalikkan tubuhnya ke samping, mengulurkan tangan mungilnya untuk meraih gelas kaca yang biasanya selalu disiapkan oleh Bi Mirna di atas meja nakas.
Kring.
Bunyi gesekan kaca yang hampa terdengar saat Chloe mengangkat gelas tersebut. Kosong. Tidak ada setetes air pun di dalamnya. Tampaknya Bi Mirna lupa mengisi ulang teko air di kamarnya sore tadi karena kesibukan lain.
Chloe mengeluh lirih. Rasa haus yang teramat sangat membuatnya tidak memiliki pilihan lain. Dengan perasaan enggan yang membubung tinggi, dia terpaksa menyibak selimut tebalnya, menurunkan kedua kakinya ke atas lantai marmer yang dingin. Malam ini dia mengenakan gaun tidur katun sederhana berwarna putih polos dengan panjang sebatas betis. Dia melangkah perlahan menuju pintu utama kamar, membukanya dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara mekanis yang bising.
Suasana koridor lantai dua mansion tampak begitu gelap dan sunyi. Hanya ada beberapa lampu dinding temaram yang menyala, memproyeksikan bayangan panjang yang menyeramkan di atas karpet beludru merah tua. Chloe berjalan dengan langkah mengendap-endap, menuruni tangga melingkar menuju lantai dasar, lalu melangkah lurus ke arah dapur utama yang terletak di bagian belakang mansion.
Di dalam dapur yang sepi, Chloe bergegas menuju dispenser pintar bermaterial perak. Dia mengambil sebuah gelas bersih, mengisinya dengan air dingin, dan langsung meminum seteguk air itu dengan rakus. Rasa dingin yang menyegarkan seketika menjalar di tenggorokannya, membasahi kerongkongannya yang kering dan memberikan sedikit rasa nyaman pada tubuhnya yang lelah.
Setelah rasa hausnya terobati, Chloe meletakkan kembali gelasnya di atas meja konter dapur. Dia membalikkan tubuhnya, bersiap untuk segera kembali ke dalam kehangatan kamarnya di lantai atas sebelum ada penjaga malam yang memergokinya berkeliaran.
Namun, baru saja dia melangkah keluar dari area dapur dan melewati koridor panjang yang menghubungkan sayap barat mansion, langkah kaki mungil Chloe mendadak terhenti seutuhnya. Tubuhnya menegang kaku di tempat.
Dari arah ujung koridor—tepat di mana ruang kerja pribadi Asher berada—terdengar sebuah suara keributan yang samar namun sangat intens. Suasana mansion yang teramat sunyi di sepertiga malam membuat suara-suara tersebut merambat dengan sangat jelas melalui celah udara, memecah keheningan malam yang sakral.
Rasa takut yang luar biasa seketika menyergap kesadaran Chloe. Logika di dalam kepalanya berteriak menyuruhnya untuk segera berlari kembali ke kamar dan menutup telinganya rapat-rapat. Namun, ada rasa ingin tahu yang teramat besar dan tidak rasional yang mendadak mengikat kedua kakinya, menolak untuk pergi. Keinginan untuk mengetahui sisi lain dari suaminya yang penuh teka-teki itu mendorong Chloe untuk melangkah maju.
Dengan gerakan yang sangat pelan, nyaris tanpa suara, Chloe mengendap-endap mendekati pintu ganda besar berbahan kayu jati hitam yang menjadi pembatas ruang kerja Asher. Dia merapatkan tubuh mungilnya ke dinding marmer di samping pintu, menahan napasnya dalam-dalam, lalu memiringkan kepalanya sedikit untuk menguping pembicaraan yang sedang berlangsung di dalam.
Dari balik pintu yang tidak tertutup rapat sepenuhnya—menyisakan celah beberapa milimeter—suara bariton Asher yang berat dan dingin terdengar sangat mendominasi.
"Kau pikir kau bisa membodohiku dengan dokumen palsu ini, hah?!" Suara Asher menggelegar rendah, namun sarat akan ancaman kematian yang mutlak. "Dua tahun kau bekerja di bawah bendera Sterling, dan kau mengira aku tidak akan menyadari ke mana perginya sepuluh persen pasokan senjata dari pelabuhan barat?!"
PLAK!
Suara tamparan yang sangat keras dan nyaring seketika terdengar, disusul oleh suara erangan kesakitan yang teramat sangat dari seorang pria paruh baya yang suaranya tidak Chloe kenali.
"Ampun, Tuan Sterling... Saya bersumpah, bukan saya yang melakukannya! Saya hanya menjalankan perintah!" ratap pria itu dengan suara yang bergetar hebat, dipenuhi oleh rasa putus asa yang mendalam.
"Perintah siapa?! Katakan sebelum aku kehilangan sisa kesabaranku!" Kali ini bukan suara Asher yang terdengar, melainkan suara Kenzo, tangan kanan Asher. Nada suara Kenzo yang biasanya tenang dan sopan saat menyapa Chloe, kini berubah menjadi sangat kejam, tajam, dan tanpa amarah yang terkendali.
BUGH! BUGH!
Suara pukulan mentah yang menghantam kedagingan tubuh manusia kembali terdengar bertubi-tubi, diikuti oleh bunyi berdebam saat sebuah tubuh tersungkur dengan keras di atas lantai kayu ruang kerja. Chloe yang mendengarnya dari balik pintu refleks menutup mulutnya dengan kedua tangan, sepasang mata rusanya melebar sempurna dipenuhi rasa ngeri yang luar biasa.
"Kenzo, patahkan tiga jari tangan kanannya jika dia masih memilih untuk membisu," perintah Asher dengan nada suara yang sangat santai, datar, dan tanpa ekspresi, seolah-olah dia sedang memerintahkan bawahannya untuk memotong selembar kertas kontrak bisnis biasa, bukan menyiksa seorang manusia hidup-hidup.
"Baik, Tuan," jawab Kenzo dingin.
Detik berikutnya, sebuah teriakan histeris yang sarat akan rasa sakit yang teramat mengerikan meluncur dari dalam ruangan tersebut. Suara jeritan itu begitu melengking, merobek keheningan malam, dan bergema kejam di dalam gendang telinga Chloe.
Chloe merasakan seluruh sendi di tubuhnya mendadak lemas. Darah di dalam tubuhnya seolah berhenti mengalir, digantikan oleh rasa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulangnya. Dia bergidik ngeri, tubuh mungilnya bergetar hebat di balik gaun tidur putihnya. Di dalam ruangan itu, Asher dan Kenzo sedang menyiksa seseorang dengan sangat kejam, tanpa ampun, dan tanpa peri kemanusiaan sedikit pun.
Inilah realitas dunia bawah tanah yang sebenarnya. Inilah sisi monster dari Asher Sterling yang selama ini coba disembunyikan di balik dinding-dinding mewah mansion ini. Pria yang semalam memeluknya dengan kehangatan yang rapuh di dalam bathtub, kini sedang bertindak sebagai hakim dan algojo yang tidak memiliki hati nurani di dalam ruang kerjanya sendiri.
Sret. Sret.
Suara langkah kaki yang berat dari arah dalam ruangan mendadak terdengar bergerak mendekati arah pintu ganda tempat Chloe menguping. Tampaknya Kenzo atau Asher hendak keluar untuk mengambil sesuatu atau memeriksa keadaan koridor.
Kesadaran Chloe seketika tersentak bangun dari keterpakuannya. Rasa panik yang luar biasa meledak di dalam dadanya. Dia harus pergi! Sekarang juga! Jika dia ketahuan berada di sini, menguping urusan internal organisasi mafia terbesar di kota ini, Asher pasti tidak akan segan-segan untuk menghukumnya atau bahkan melenyapkannya tanpa ragu, mengingat peringatan kejam pria itu pagi tadi mengenai statusnya yang hanya sebatas barang tebusan.
Dengan memaksakan seluruh sisa kekuatan di kakinya, Chloe berbalik dan berlari secepat yang dia bisa. Dia mengabaikan rasa ngilu di kakinya yang tanpa alas saat bergesekan dengan lantai marmer. Dia berlari menaiki undakan tangga dengan sangat cepat, melompati setiap anak tangga dalam keheningan yang mencekam, didorong oleh insting bertahan hidup yang luar biasa tinggi.
Begitu sampai di lantai dua, Chloe membuka pintu kamarnya dengan gerakan kilat, menyelinap masuk, dan langsung menutup pintu tersebut kembali. Dia mengunci pintu dari dalam dengan tangan yang bergetar hebat, hingga bunyi klik kunci otomatis terdengar mengklaim keamanan ruangannya.
Chloe langsung melempar tubuhnya ke atas ranjang, menarik selimut tebalnya hingga menutupi seluruh tubuh dan wajahnya, bersembunyi di balik kegelapan kain selimut seolah tempat itu bisa melindunginya dari monster yang ada di lantai bawah.
Di balik selimut, jantung Chloe berdegup begitu kencang dan nyaring, menciptakan sensasi gemuruh yang menyakitkan di rongga dadanya. Napasnya memburu pendek-pendek, tersengal-sengal karena kelelahan fisik dan rasa takut yang teramat sangat yang menguasai seluruh akal sehatnya. Suara jeritan kesakitan, suara hantaman pukulan, dan tamparan yang dia dengar dari ruang kerja Asher tadi terus terngiang-ngiang di dalam kepalanya seperti kaset rusak yang memutar mimpi buruk yang nyata.
Chloe meringkuk, memeluk kedua lututnya erat-erat di dalam kegelapan selimut. Rasa aman dan nyaman yang sempat diberikan oleh ketiga kakak perempuan Asher beberapa jam lalu seketika hancur berkeping-keping, menguap tanpa bekas di hadapan fakta kekejaman yang baru saja dia saksikan dengan indra pendengarannya sendiri.
Dia menyadari satu hal dengan teramat sangat jelas sekarang: dia tidak sedang tinggal di dalam sebuah istana mewah bersama seorang pangeran yang dingin. Dia sedang terperangkap di dalam sarang monster yang paling berbahaya, dan pernikahan ini adalah awal dari sebuah teror malam yang sesungguhnya di dalam sangkar emas milik Sterling.