Arkan Pemimpin organisasi mafia "The Void". Dingin, efisien, dan tidak mempercayai cinta karena masa lalunya yang kelam. Baginya, wanita adalah kelemahan yang tidak perlu ada di dunianya.
Liana Seorang gadis dari keluarga sederhana yang hangat. Hidupnya hancur saat keluarganya tewas dalam sebuah insiden berdarah. Ia lembut namun memiliki tekad baja untuk membalas dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan di Sektor Selatan
Liana tahu ini gila. Menyelinap ke dalam bagasi salah satu mobil SUV hitam milik pengawal Arkan adalah tiket sekali jalan menuju maut jika ia ketahuan. Namun, rasa ingin tahunya lebih besar daripada rasa takutnya. Ia harus melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana "monster" ini bekerja di lapangan.
Setelah tiga puluh menit perjalanan yang berguncang, mobil berhenti. Liana menunggu hingga suara pintu-pintu mobil tertutup dan langkah kaki menjauh. Dengan hati-hati, ia mendorong tuas darurat bagasi dan mengintip keluar.
Mereka berada di sebuah kawasan kumuh di Sektor Selatan—daerah yang kini tinggal puing-puing. Bau debu semen dan besi tua menyengat hidung. Di depan sebuah bangunan setengah hancur, Arkan berdiri dikelilingi oleh belasan pria bersenjata.
Namun, perhatian Liana teralihkan oleh sosok pria tua yang duduk di kursi roda elektrik di hadapan Arkan. Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu mahal, wajahnya penuh kerutan kebencian, dan matanya memancarkan aura kegelapan yang jauh lebih pekat daripada Arkan.
Itu adalah Baskoro, ayah Arkan—pria yang secara resmi dinyatakan "mati" dalam catatan publik sepuluh tahun lalu.
"Kenapa alat beratnya berhenti, Arkan?" suara Baskoro parau namun menggelegar. "Aku menyuruhmu meratakan tempat ini dalam semalam. Masih ada tiga keluarga yang menolak pindah di ujung jalan sana."
Arkan berdiri tegak, rahangnya mengeras. "Mereka tidak punya tempat tinggal lain, Ayah. Berikan mereka waktu dua hari lagi untuk mengemas barang. Aku sudah menyiapkan kompensasi dari dana pribadiku."
PANG!
Suara tamparan keras bergema di area sunyi itu. Liana terkesiap di balik tumpukan kayu, menutup mulutnya dengan tangan agar tidak berteriak. Baskoro baru saja menampar wajah putra satu-satunya dengan tongkat kayunya.
"Dana pribadi? Sejak kapan seorang pemangsa peduli pada mangsanya?" desis Baskoro. "Kau lupa bagaimana cara kita membangun The Void? Kita membakar apa pun yang menghalangi jalan kita. Termasuk rumah-rumah sialan di jalan ini sepuluh tahun lalu. Kau ingat kan, Arkan? Kau yang memegang obornya saat itu!"
Arkan mematung. Kepalanya tertunduk, membiarkan darah merembes dari sudut bibirnya. "Aku dipaksa, Ayah. Aku masih remaja saat itu."
"Dan sekarang kau adalah pria dewasa yang memegang kendali!" teriak Baskoro. "Pergi ke sana sekarang. Bakar gubuk terakhir itu, atau aku akan menyuruh Baron menembak salah satu anak di sana di depan matamu. Pilih, Arkan. Menjadi pembakar, atau menjadi saksi eksekusi."
Liana merasa dunianya berputar. Dia yang memegang obornya? Kalimat Baskoro menghujam jantung Liana seperti pisau berkarat. Jadi benar, Arkan-lah yang menyulut api di rumahnya malam itu. Kebencian yang sempat sedikit memudar kini kembali berkobar dua kali lipat.
Arkan perlahan mengambil sebuah jeriken bensin dari tangan salah satu anak buahnya. Langkah kakinya berat, seolah setiap inci langkah adalah beban ribuan ton. Ia berjalan menuju sebuah gubuk reyot di mana terdengar tangisan anak kecil dari dalamnya.
Liana sudah merogoh pisau lipat di saku celananya. Jika dia menyulut api itu, aku akan keluar dan menikam punggungnya sekarang juga, batin Liana kalap.
Arkan berdiri di depan pintu gubuk itu. Ia membuka tutup jeriken, lalu menyiramkan cairannya ke dinding kayu. Bau bensin menyeruak. Arkan meraba sakunya, mengeluarkan sebuah pemantik perak. Tangannya gemetar hebat—gemetar yang sama yang dilihat Liana saat di balkon tadi pagi.
"Lakukan, Arkan!" teriak Baskoro dari kejauhan.
Arkan menyalakan pemantik itu. Api kecil menari-nari di ujung tangannya. Ia menatap api itu dengan tatapan kosong, bayangan masa lalu seolah berputar di matanya. Namun, tiba-tiba, Arkan mematikan pemantik itu dan membuang jerikennya ke tanah.
Tidak," ucap Arkan pelan namun tegas. Ia berbalik menatap ayahnya. "Cukup. Aku tidak akan melakukannya lagi. Tidak untukmu, tidak untuk siapa pun."
Baskoro tertawa sinis, lalu memberi kode pada Baron. Baron segera menodongkan senjata ke arah gubuk tersebut. "Kalau begitu, biarkan peluru yang bicara."
DOR!
Tembakan dilepaskan, tapi bukan ke arah gubuk. Arkan dengan cepat menerjang Baron, merebut senjatanya, dan menembakkannya ke udara sebagai peringatan.
"Siapa pun yang berani menyentuh warga di sini, akan berhadapan denganku langsung!" teriak Arkan lantang. Suaranya penuh amarah yang terpendam selama bertahun-tahun.
Liana terpaku. Ia melihat Arkan berdiri melindungi orang-orang lemah itu, memunggungi ayahnya sendiri. Ada peperangan besar di dalam hati Liana. Pria ini adalah orang yang membakar rumahnya, tapi pria ini juga yang sekarang mempertaruhkan nyawanya demi orang lain.
Baskoro mendesis, "Kau akan menyesali pembangkangan ini, Arkan. Kau pikir wanita pelayan barumu itu aman di mansion saat kau bermain pahlawan di sini?"
Jantung Liana mencelos.
Dia tahu tentang aku?
Arkan tersentak. Ekspresinya berubah menjadi kepanikan murni. "Apa yang kau lakukan padanya?!"
"Pulanglah, dan lihat sendiri," ucap Baskoro dengan senyum kemenangan sebelum memerintahkan anak buahnya untuk memutar kursi rodanya kembali ke mobil.
Tanpa membuang waktu, Arkan berlari menuju mobilnya. Liana segera merangkak kembali ke bagasi secepat mungkin sebelum mobil itu melesat membelah jalanan dengan kecepatan gila.