"sebuah kontrak yang menyelamatkan namun siksaan dari profesor untuk mahasiswinya..."
Akankah yang awalnya siksaan itu menjadi sebuah kenikmatan atau kebahagiaan, bisa jadi penyesalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Perlindungan Mutlak Sang Profesor
BAB 21: Perlindungan Mutlak Sang Profesor
Koridor lantai tiga gedung pascasarjana yang tadinya sunyi senyap, mendadak terasa seperti sebuah arena persidangan yang mencekam. Cengkeraman tangan kekar Profesor Adrian pada pergelangan tangan dr. Clarissa tidak mengendur sedikit pun. Sebaliknya, buku-buku jari sang profesor yang memutih menunjukkan betapa besarnya tenaga dan kemarahan yang sedang ia salurkan di sana.
"Adrian! Lepas! Kamu menyakitiku!" jerit Clarissa dengan suara yang melengking menahan sakit. Wajah cantiknya yang tadinya dipenuhi keangkuhan kini memerah, separuh karena rasa sakit di pergelangan tangannya, separuh lagi karena rasa malu yang luar biasa akibat tertangkap basah bertindak kasar oleh pria yang dipujanya.
Adrian tidak langsung melepaskan cengkeramannya. Pasokan udara di koridor itu seolah membeku di bawah tatapan mata elangnya yang menghunus tajam. Rahang tegas sang profesor mengunci rapat, menciptakan garis otot yang kaku dan sarat akan ancaman mematikan.
"Kutegaskan sekali lagi padamu, Clarissa," bisik Adrian. Suara baritonnya yang berat bergema rendah, menggetarkan dinding-dinding koridor sepi itu dengan intimidasi mutlak yang membuat bulu kuduk meremang. "Siapa pun kamu, apa pun status keluargamu, jangan pernah berani menumpahkan kegilaanmu di lingkungan kampusku. Terutama... di depan mahasiswaku."
Dengan satu sentakan yang tegas namun dingin, Adrian menghempaskan tangan Clarissa ke udara. Clarissa terhuyung mundur dua langkah, memegangi pergelangan tangannya yang kini tercetak guratan merah akibat cengkeraman Adrian. Matanya berkaca-kaca menatap Adrian dengan kombinasi rasa tidak percaya dan kemarahan yang membara.
"Kamu... kamu membelanya, Adrian?" cicit Clarissa dengan suara bergetar, menunjuk Kiara yang berdiri mematung di belakang tubuh tegap Adrian. "Kamu memperlakukan aku seperti ini hanya demi melindungi seorang mahasiswi miskin yang tidak tahu diri ini?! Apa kamu sudah kehilangan akal sehatmu, Profesor?!"
Tepat pada saat itu, beberapa pintu ruang laboratorium di sepanjang koridor perlahan terbuka. Beberapa mahasiswa tingkat akhir dan staf administrasi mulai melongokkan kepala mereka keluar, terusik oleh keributan yang terjadi. Kasak-kusuk halus mulai terdengar, dan mata semua orang tertuju pada drama segitiga yang melibatkan dosen idola mereka.
Adrian menyadari situasi sekitar yang mulai ramai, namun ia sama sekali tidak menunjukkan raut panik. Sebaliknya, ia justru mengambil satu langkah maju, memosisikan tubuh tegapnya yang tinggi besar tepat di depan Kiara, menyembunyikan tubuh mungil gadis itu sepenuhnya dari tatapan menghakimi orang-orang di koridor. Tindakan pasang badan yang teramat protektif itu mempertegas dominasi dan kekuasaannya yang mutlak di tempat itu.
"Selesaikan urusan dokumen dari ibuku di ruang administrasi bawah, Clarissa. Setelah itu, angkat kakimu dari kampus ini," perintah Adrian dengan nada dingin yang mutlak dan tidak menerima bantahan apa pun. "Jika kudengar kamu mengganggu Kiara lagi... kupastikan hubungan kerja sama bisnis antara Alkatiri Group dan rumah sakit keluargamu akan berakhir di mejaku sebelum matahari terbenam hari ini."
Clarissa tersentak hebat. Ancaman Adrian bukan sekadar gertakan sambal. Pria itu memiliki kuasa penuh atas sebagian besar saham lini bisnis Alkatiri Group. Dengan wajah yang pucat pasi menahan malu dan amarah yang mendidih di dada, Clarissa memakai kembali kacamata hitamnya dengan sentakan kasar, berbalik, dan melangkah pergi dengan hentakan sepatu hak tingginya yang menggema marah di sepanjang selasar.
Setelah bayangan Clarissa menghilang di belokan lift, Adrian memutar tubuhnya. Ia menatap Kiara yang masih berdiri kaku bersandarkan dinding marmer koridor. Buku-buku kuliah di pelukan Kiara bergetar hebat. Meskipun wajah gadis itu terkesan datar dan mati rasa, Adrian bisa melihat dengan jelas ada gejolak luka, harga diri yang terkoyak, dan air mata yang mati-matian ditahan di balik pelupuk mata indahnya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun di depan kerumunan mahasiswa yang mulai berbisik-bisik, Adrian langsung menyambar pergelangan tangan Kiara. Ia menarik gadis itu dengan langkah lebar yang tegas, menuruni tangga darurat menuju lantai dasar, langsung menuju ke arah area koridor privat tempat ruang kerja pribadinya berada.
BRAK!
Pintu kayu jati ruang kerja Adrian ditutup dengan hentakan yang cukup keras, disusul oleh suara kunci yang diputar dua kali dari dalam.
Klik.
Suasana di dalam ruangan luas bernuansa maskulin itu seketika menjadi kedap suara. Adrian melempar map dokumen yang dipegangnya ke atas sofa kulit dengan gusar. Ia berbalik, bersiap untuk mengonfrontasi Kiara, namun langkahnya langsung terhenti saat melihat tubuh mungil Kiara yang mendadak melorot berlutut di atas lantai marmer tepat di depan pintu yang tertutup.
Buku-buku tebal di pelukan Kiara terlepas begitu saja, berserakan di atas lantai. Kedua tangan mungil gadis itu menutupi wajahnya sendiri, dan detik berikutnya, suara isakan tangis yang sejak tadi ditahannya pecah seketika di dalam keheningan ruangan itu. Tubuh Kiara bergetar hebat karena hantaman emosi batin yang teramat dahsyat. Rasa cemburu pada Clarissa, rasa terhina karena dilabrak di tempat umum, dan rasa serba salah atas status pernikahan kontraknya meledak menjadi satu gumpalan air mata.
Melihat kehancuran Kiara di depan matanya, ada sesuatu yang terasa patah di dalam dada Adrian. Ego tinggi sang profesor, kesombongannya sebagai pria dominan, dan sifat tengilnya runtuh tak berbekas dalam sekejap.
Adrian melangkah cepat, ikut berlutut di atas lantai dingin di hadapan Kiara. Tanpa memedulikan penolakan apa pun, kedua lengan kekar Adrian langsung merengkuh tubuh mungil Kiara ke dalam dekapan posesifnya yang teramat erat. Pria itu menarik kepala Kiara untuk bersandar di dada bidangnya yang berdetak dengan ritme menggila karena panik terselubung.
"Lepas... lepaskan aku, Adrian! Biarkan aku pergi!" jerit Kiara di sela tangisnya, kedua tangan mungilnya memukul-mukul dada keras Adrian dengan sisa-sisa kekuatannya yang kian melemah. "Untuk apa kamu membawaku ke sini?! Untuk melihatku ditertawakan oleh semua orang di kampus ini?! Aku membencimu, Adrian! Aku membenci kontrak sialan ini!"
Adrian tidak melepaskan pelukannya sedikit pun. Semakin Kiara memberontak, cengkeraman tangan Adrian di punggung dan pinggang Kiara justru semakin mengerat, mengunci gadis itu dalam dekapan proteksi mutlak yang seolah tidak akan membiarkan badai mana pun menyentuh tubuh rapuh istrinya.
"Aku tidak akan melepaskanmu, Kiara. Menangislah, marahlah padaku, tapi jangan pernah memintaku untuk melepaskanmu," bisik Adrian dengan suara bariton yang teramat rendah, serak, dan sarat akan emosi yang mendalam tepat di pucuk kepala Kiara.
Pria itu menundukkan kepalanya, mengecup dahi Kiara yang hangat dengan kecupan yang sangat lama, dalam, dan intens. Sentuhan bibir Adrian di dahinya mengirimkan gelombang kehangatan yang perlahan namun pasti mulai menenangkan saraf-saraf Kiara yang tegang akibat ketakutan dan emosi yang meluap sejak tadi.
Adrian menjauhkan wajahnya sedikit, menangkup kedua sisi wajah Kiara dengan kedua tangan besarnya yang hangat. Ia memaksa Kiara yang matanya sudah sembap dan basah oleh air mata untuk menatap langsung ke dalam manik mata elangnya yang kini tidak lagi memancarkan kedinginan, melainkan sebuah kilat obsesi kepemilikan yang teramat dalam dan tulus.
"Lihat aku, Mahasiswaku. Tatap mataku sekarang," bisik Adrian seksi namun sarat akan penekanan yang mutlak. Ibu jarinya bergerak lembut menyapu sisa-sisa air mata di pipi Kiara yang merona merah akibat emosi.
"Hari ini, di depan Clarissa, di depan semua orang di koridor itu... aku sudah menegaskan posisiku. Aku tidak menyembunyikanmu lagi, Kiara. Aku tidak membiarkan wanita mana pun menginjak-injak harga dirimu. Kamu adalah prioritasku di apartemen maupun di kampus ini. Kunci pintu ini adalah buktinya... tidak akan ada yang bisa menyentuhmu atau menyakitimu lagi selama kamu berada di dalam kuasaku," lanjut Adrian, suaranya kian merendah menjadi bisikan sensual tepat di depan bibir ranum Kiara yang bergetar.
Mendengar pengakuan intens dari sang profesor, detak jantung Kiara kian berdentum tak karuan. Rasa marah dan benci yang membakarnya perlahan meleleh di bawah tatapan hangat nan posesif milik Adrian. Sifat protektif pria itu malam ini benar-benar meruntuhkan sisa-sisa benteng pertahanan es di hati Kiara, menyisakan sebuah debaran asing yang mulai menegaskan bahwa ia tidak lagi bisa lepas dari cengkeraman sang profesor.
Keheningan yang tersisa di dalam ruang kerja itu terasa begitu magis. Detik jam dinding yang berdetak konstan seolah menjadi latar belakang dari dua raga yang baru saja melewati badai ego masing-masing. Kiara masih bisa merasakan sisa-sisa getaran di tubuhnya, namun kehangatan dari pelukan Adrian perlahan-lahan bekerja seperti obat penenang yang merayap ke dalam aliran darahnya.
Adrian menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan di puncak kepala Kiara sebelum perlahan-lahan mengurai pelukannya. Ia tidak langsung menjauh. Pria itu menatap kedua telapak tangan Kiara yang memerah karena sejak tadi meremas rok dan buku-buku kuliahnya dengan terlalu kencang. Dengan gerakan yang teramat lembut—sangat kontras dengan citra dosen kejam yang melekat padanya—Adrian meraih jemari mungil Kiara, mengusap punggung tangannya dengan ibu jari besarnya.
"Tanganmu sampai memerah seperti ini, Kiara," gumam Adrian rendah, matanya menatap intens ke arah jemari gadis itu. "Kenapa kamu selalu menyiksa dirimu sendiri setiap kali menahan amarah? Jika kamu ingin meluapkannya, pukul saja aku. Jangan sakiti dirimu sendiri."
Kiara mendongak, matanya yang sembap menatap wajah Adrian yang kini tampak begitu dekat. Sisa-sisa air mata masih menggantung di bulu mata lentiknya. "Aku tidak sedang menyiksa diriku. Aku hanya... aku hanya tidak tahu harus berbuat apa, Adrian. Berada di sekitarmu membuatku selalu merasa berada di posisi yang salah," lirih Kiara, suaranya terdengar begitu tipis dan serak.
Adrian terdiam sejenak. Kalimat jujur dari Kiara seolah menyentil sudut hatinya yang paling dalam. Pria itu bangkit berdiri, membuat Kiara sempat merasa kehilangan kehangatan sesaat. Namun, Adrian hanya berjalan menuju meja kerjanya, membuka laci bawah, dan mengambil sebuah kotak kecil berisi perlengkapan medis darurat serta sebotol air mineral yang masih segel.
Adrian kembali berlutut di depan Kiara. Ia membuka botol air mineral itu, lalu menuangkannya sedikit ke atas saputangan bersih miliknya. Dengan sangat hati-hati, Adrian meraih wajah Kiara, menyeka sisa-sisa air mata yang mengering di pipi mulus gadis itu, lalu beralih membersihkan noda debu samar yang sempat menempel di dagu Kiara akibat bersandar di dinding koridor tadi.
Sentuhan saputangan basah yang dingin bercampur dengan hangatnya jemari Adrian menciptakan sensasi desir aneh yang membuat bulu kuduk Kiara meremang. Kiara hanya bisa terpaku, membiarkan suaminya di atas kertas itu memperlakukannya dengan kelembutan yang teramat memabukkan.
"Clarissa tidak akan pernah datang lagi ke tempat ini. Aku sudah memastikan hal itu," ucap Adrian memecah kesunyian, suaranya terdengar begitu mutlak tanpa keraguan sedikit pun. Ia meletakkan saputangan, lalu membuka tutup botol salep antiseptik. Ia mengoleskan sedikit salep itu ke pergelangan tangan Kiara yang sempat memerah akibat tarikan kasarnya saat membawanya kabur dari koridor tadi. "Dan soal ibuku... aku yang akan menghadapi wanita itu. Kamu tidak perlu memikirkan apa pun lagi. Tugasmu hanyalah belajar, menyelesaikan kuliahmu, dan berada di sisiku."
"Kenapa kamu melakukan semua ini, Adrian?" tanya Kiara tiba-tiba, menahan tangan Adrian yang sedang mengoleskan salep. Matanya menuntut jawaban yang melandasi perubahan sikap pria itu. "Kamu tidak perlu bersikap seolah-olah kamu peduli padaku sejauh ini. Kontrak kita hanya mengatakan aku harus melayanimu di apartemen, bukan menjadi seseorang yang harus kamu bela di depan masa depanmu sendiri."
Adrian menghentikan gerakannya. Ia mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata Kiara yang berkaca-kaca. Sebuah senyuman tipis—senyuman seksi yang khas, namun kali ini tanpa nada meremehkan—terukir di sudut bibirnya. Adrian memajukan wajahnya, mengikis jarak hingga ujung hidung mereka kembali bersentuhan.
"Apakah kamu benar-benar sebodoh itu, Mahasiswaku? Atau kamu hanya berpura-pura tidak tahu?" bisik Adrian, suaranya berubah menjadi sengatan bariton yang teramat sensual dan berat. Tangan besarnya beralih merayap ke belakang tengkuk Kiara, meremasnya perlahan, mengunci pandangan gadis itu sepenuhnya.
"Sejak malam pertama kita, sejak aku melihatmu menangis di bawah kuasaku, aturan kontrak itu sudah tidak berlaku lagi di kepalaku, Kiara. Kamu mungkin menganggap ini hanya pernikahan di atas kertas berharga tiga ratus lima puluh juta. Tapi bagiku... kamu adalah kepemilikan mutlak yang tidak akan pernah kubiarkan lepas ke tangan siapa pun. Aku egois, dan aku tidak suka barang milikku diusik, apalagi sampai menangis karena orang lain."
Adrian mendekatkan bibirnya ke telinga Kiara, membisikkan kalimat yang membuat seluruh pertahanan batin Kiara runtuh total dan menyalakan kembali api gairah yang sempat padam. "Malam ini, kita pulang ke apartemen. Dan kupastikan, aku akan menghapus seluruh sisa rasa sakitmu hari ini di atas ranjang kita. Bersiaplah, karena aku tidak akan memberikan celah bagimu untuk tidur di kamar tamu lagi, Sayang."
Setelah membisikkan kalimat posesif yang membakar itu, Adrian mengecup bibir ranum Kiara sekilas—sebuah kecupan basah yang menuntut yang membuat Kiara mendesah pelan. Adrian bangkit berdiri, lalu mengulurkan tangan kekarnya untuk membantu Kiara berdiri dari lantai marmer. Pria itu merapikan kembali rambut Kiara yang sedikit berantakan, mengambil buku-buku kuliah Kiara yang berserakan, lalu merangkul pinggang ramping gadis itu dengan erat, membawanya keluar dari ruang kerja privat menuju mobil untuk pulang ke apartemen, siap menyambut malam panjang yang dipenuhi gejolak penyatuan mereka yang sesungguhnya.