Bram bekerja sebagai marketing di perusahaan retail di Jakarta. Hidupnya hanya kerja, gym, dan cari wanita lewat app atau club. Dia ahli di ranjang tapi takut komitmen. Cerita mengikuti perjalanan Bram yang terus berganti pasangan, menghadapi konflik dari mantan, keluarga, kantor, dan masalah kesehatan. Dia ingin tetap bebas, tapi tekanan semakin besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iskak M, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Laras Oh Laras
Gue lagi di apartemen, pagi yang biasa setelah malam yang cukup melelahkan bareng Marita. Badan masih pegel, tapi pikiran gue udah melayang ke kantor. Rinda makin deket, Vera muncul kayak angin segar yang bikin semuanya lebih panas, dan Poppy di Yogya masih nunggu kabar. Tapi hari ini, ada yang beda. Chat dari Laras masuk.
Laras: Gue lagi di kafe deket kantor lu. Mau ketemu bentar? Ada yang mau gue ceritain.
Gue angkat alis. Laras biasanya nggak suka ngajak ketemu dadakan gini. Dulu dia yang nyusul ke Yogya ditolak gue, tapi akhir-akhir ini dia keliatan lebih mandiri. Gue bales cepet, Gue: Oke, jam 12 siang ya.
Siang harinya gue ke kafe itu. Laras udah duduk di pojok, pake blouse putih yang agak longgar dan jeans ketat yang nunjukin kakinya yang jenjang. Rambutnya tergerai, makeupnya natural. Dia keliatan lebih glowing dari biasanya.
“Eh, lu keliatan sehat banget,” puji gue sambil duduk di depannya.
Laras senyum, tapi senyumnya agak beda. Ada sesuatu yang disembunyiin. “Iya, lagi banyak pikiran sih. Kerjaan lancar. Lu sendiri gimana di Yogya? Sama… Rinda?”
Gue nyengir kecil. “Biasa aja. Lu tahu dari mana soal Rinda?”
“Info kali,” katanya sambil ketawa pelan. Kami ngobrol ringan dulu soal kantor, Yogya, sama rencana distribusi karyawan. Tapi gue ngerasa Laras ada yang ditahan. Matanya sering melirik ke pintu kafe, kayak nunggu seseorang.
Belum lama, cowok tinggi tegap masuk. Rambutnya rapi, pakai kemeja polo hitam, senyumnya ramah. Dia langsung nyamperin meja kami. “Lar, udah lama nunggu?”
Laras berdiri, peluk cowok itu sebentar. “Baru aja. Kenalin, ini Mas Andi. Andi, ini… temen gue dari kantor.”
Andi jabat tangan gue erat. “Senang ketemu. Laras sering cerita soal lu.”
Gue cuma ngangguk, tapi dalam hati ada sedikit panas. Andi keliatan tipe yang stabil kerja di perusahaan properti, umur sekitar 32, punya mobil bagus, dan cara ngomongnya halus. Mereka keliatan deket. Andi pesen minum buat Laras yang favoritnya, bahkan inget pesenan kecilnya.
Sepanjang obrolan, Laras sering senyum ke Andi. Tangan mereka sesekali nyentuh di atas meja. Gue liat Laras yang dulu selalu agresif ke gue, sekarang lebih lembut dan feminine di depan cowok ini. Andi cerita soal proyek barunya, Laras dengerin sambil sesekali nyender ke bahunya pelan.
“Gue sama Andi ketemu di gym dua minggu lalu,” cerita Laras pas Andi ke toilet sebentar. “Dia trainer part time. Sabar banget ngajarin gue. Beda sama… yang lain.”
Gue ngangguk pelan. “Bagus deh. Lu keliatan bahagia.”
Laras natap gue lama. “Iya, gue lagi belajar move on. Lu sibuk banget sama urusan lu sendiri. Rinda, Poppy, Marita… gue capek nunggu yang nggak jelas.”
Kata-katanya ngena. Gue ngerasa ada yang nyeri di dada, tapi gue tahan. Andi balik, dan mereka berdua keliatan cocok. Andi peluk pinggang Laras pelan pas pamit, cium keningnya di depan gue tanpa sungkan. Laras merah tapi seneng.
“Gue duluan ya,” kata gue sambil berdiri. “Have fun.”
Pulang ke kantor, pikiran gue campur aduk. Laras yang dulu selalu chat tiap malam, sekarang mulai deket sama pria lain. Andi keliatan tipe yang bisa kasih kestabilan yang gue nggak bisa kasih. Di meja gue , Nada nyamperin. “Mas, Rinda nunggu di ruangannya.”
Rinda duduk di balik meja, rambut pendeknya rapi, mata sipitnya manis pas liat gue masuk. “Mas… ada yang mau gue omongin.”
Gue dekatin, peluk dia dari belakang pelan. Rinda mendesah kecil, badannya meleleh ke pelukan gue. Gue cium lehernya lembut, tangan gue naik pelan ke dada kencangnya yang berbalut kemeja. Remasan lembut, sensual, penuh kasih. Rinda gemetar, tangannya pegang lengan gue.
“Mas… di kantor,” bisiknya, tapi nggak nolak.
Gue terus cium bibirnya dalam, lidah kami saling menyapa pelan. Tangan gue mainin payudaranya dengan gerakan lambat yang bikin dia napasnya berat. Kehangatan tubuh Rinda bikin gue lupa sebentar soal Laras. Tapi pas kami berpisah, pikiran gue balik lagi.
Sore harinya gue ke apartemen. Marita lagi keringkan rambut. Dia peluk gue erat, rambut keritingnya wangi. Malamnya kami habiskan waktu berdua dengan sentuhan yang hangat dan penuh kangen. Tapi gue nggak bisa full konsentrasi. Laras.
Besok paginya, gue liat story Laras di WA. Dia lagi jalan pagi bareng Andi di taman. Foto mereka berdua, Laras senyum lebar, Andi peluk bahunya dari belakang. Captionnya: “Mulai hari dengan yang bikin hati tenang ❤️”
Gue scroll lama. Ada rasa cemburu yang nggak gue sangka. Laras yang dulu sering nunggu gue di apartemen, sekarang punya orang baru. Gue chat dia.
Gue: Lu serius sama Andi?
Laras: Iya. Dia beda. Nggak bikin gue nunggu terus. Kenapa? Lu cemburu?
Gue nggak bales langsung. Siangnya di kantor, Rinda ajak gue lunch bareng. Kami ke resto Jepang deket kantor. Rinda lebih terbuka sekarang. Dia cerita masa lalunya yang trauma, tapi bilang gue bikin dia berani lagi. Di mobil pulang, kami ciuman lagi. Tangan gue merayap lembut ke dadanya, remas dengan penuh perasaan. Rinda mendesah manja, badannya menempel erat. Suasana erotis dan romantis, napas kami bercampur di ruang sempit mobil.
“Mas… gue suka ini,” bisiknya di sela ciuman.
Gue senyum, tapi hati gue masih terganggu Laras.
Malam harinya, gue nekat dateng ke gym tempat Laras biasa latihan. Dari jauh gue liat dia lagi latihan bareng Andi. Andi bantu koreksi pose Laras, tangannya sentuh pinggang dan punggung Laras dengan profesional tapi intim. Laras ketawa, sentuh dada Andi pelan. Mereka keliatan nyaman banget.
Gue nggak masuk. Cuma ngeliat dari mobil. Rasa yang gue rasain campur aduk lega karena Laras bahagia, tapi juga kehilangan. Laras yang energik, yang selalu siap nemenin gue di saat susah, sekarang punya dunia sendiri.
Pulang ke apartemen, Marita nanya kenapa gue diem. Gue cerita sedikit. Marita peluk gue. “Lu emang nggak bisa pegang semuanya, Sayang. Laras juga butuh yang serius.”
Gue ngangguk. Malam itu gue chat Laras lagi.
Gue: Gue seneng lu bahagia. Tapi hati-hati ya.
Laras: Makasih. Lu juga jaga diri. Kita masih temen kan?
Besoknya di kantor, suasana rame. Pak Krismono panggil gue lagi soal Yogya. SK percobaan gue diperpanjang. Rinda ikut meeting, duduk di sebelah gue. Di bawah meja, tangannya sentuh paha gue pelan. Setelah meeting, di ruangannya kami lanjutkan kedekatan. Ciuman yang dalam, sentuhan lembut di dada Rinda yang bikin dia mendesah pelan. Tubuhnya hangat, responsif, dan semakin terbuka.
Sore harinya gue telpon Poppy di Yogya. Pipit yang angkat, “Om! Kapan balik? Mama nunggu loh.”
Poppy ambil HP. “Gue sama Pipit kangen. Gym-nya udah mulai dibangun. Lu kapan kesini lagi?”
Gue janji secepatnya. Tapi pikiran gue balik ke Laras. Gue liat story lagi . Laras dan Andi lagi makan malam romantis. Andi kasih bunga kecil. Laras senyum bahagia.
Gue duduk di balkon apartemen, mikirin semuanya. Hidup gue penuh godaan dan pilihan. Rinda yang pelan tapi pasti, Vera yang liar, Marita yang setia, Poppy dan Pipit yang nunggu, Sinta yang hamil, dan sekarang Laras yang mulai lepas.
Laras mulai deket sama pria lain ternyata bikin gue sadar. Gue nggak bisa egois terus. Tapi di saat yang sama, gue juga nggak siap lepas semuanya.
Malam itu Marita peluk gue dari belakang. “Apapun keputusan lu, gue dukung.”
Gue balik peluk dia, cium bibirnya lembut. Tangan gue merayap ke tubuhnya dengan sensual, menikmati kehangatan yang selalu ada. Tapi di pikiran gue, bayangan Laras sama Andi masih nongol.
Hari berikutnya, Laras chat lagi.
Laras: Andi mau kenalin gue ke orang tuanya akhir pekan ini. Doain ya.
Gue bales singkat.
Gue: Semoga bahagia, Lar.
Gue tutup HP, tarik napas panjang. Bab baru buat Laras, dan gue harus lanjut dengan pilihan gue sendiri. Rinda nunggu di kantor, Nada senyum-senyum liat kedekatan kami, Bu Sita masih kasih tatapan penuh arti, dan Yogya panggil.
Laras mulai deket sama pria lain. Mungkin ini yang terbaik buat dia. Gue? Gue masih di tengah-tengah badai yang gue ciptain sendiri.
btw, sy juga baru mula menulis novel. kalau ada masa terluang bole lah singgah profile saya. terima kasih 😄😍