NovelToon NovelToon
Nayara'S Story

Nayara'S Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / Action
Popularitas:510
Nilai: 5
Nama Author: Aini Nuraini

JUDUL: NAYARA'S STORY: TAWANAN DUA MORETTI

Hanya karena salah melihat eksekusi berdarah, hidup Nayara berubah menjadi neraka.

Dia diseret ke Mansion Moretti untuk dilenyapkan. Namun, saat pistol sang penguasa mafia, Lorenzo Moretti, menempel di dahinya, eksekusi itu batal. Wajah Nayara sangat mirip dengan wanita dari masa lalu Lorenzo.

Alih-alih bebas, Nayara justru terjebak menjadi tawanan sekaligus pemuas obsesi gila sang ayah, dan pelampiasan dendam sang anak—Dante Moretti—yang posesif. Diapit dua iblis mafia, Nayara dihancurkan hingga tak tersisa.

Namun mereka lupa, singa yang terluka akan menggigit lebih mematikan.

"Bagi mereka, tubuhku adalah candu yang memabukkan. Namun mereka lupa, candu ini pulalah yang akan menjadi racun paling mematikan bagi akhir hidup mereka."


Genre: Dark Romance, Mafia, Revenge, Toxic Triangle
⚠️ Peringatan: Mengandung konten dewasa dan konflik emosional yang intens.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aini Nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harris

"Halo."

"Iya, halo. Dengan siapa ini?"

"Hardian."

Di seberang telepon, suasana mendadak terdiam untuk beberapa detik. Hanya terdengar deru napas berat yang menandakan ketidaksukaan yang amat sangat begitu mengetahui siapa pemilik suara di balik ponsel tersebut.

"Oh, kau. Ada perlu apa?" ucapnya singkat, terlanjur malas dan dingin.

"Apa kita bisa bertemu?" tanya Hardian, suaranya terdengar parau dan dipenuhi kecemasan yang mendalam.

"Tidak bisa. Aku sedang sibuk," ucap pria di seberang sana dengan nada ketus, berniat langsung mematikan sambungan telepon.

"Tolong, aku mohon. Aku ingin meminta bantuanmu, Har—maksudku, Tuan Harris," potong Hardian cepat, buru-buru meralat panggilannya demi menjaga perasaan pria yang kini posisinya jauh berada di atas angin itu.

"Bantuan? Seorang Hardian yang dulu begitu angkuh, sekarang memohon bantuan pada pria yang pernah kau injak-injak ini? Menarik sekali," cibir Harris, terdengar kekehan sinis dari seberang saluran. "Tapi maaf, waktuku terlalu berharga untuk dihabiskan bersama pria dari masa lalu."

"Harris, kumohon! Dengarkan aku dulu sekali ini saja!" Hardian tidak putus asa. Dia rela menurunkan harga dirinya, meremas ponselnya dengan tangan yang gemetar hebat demi mengais secercah harapan dari kenalan lamanya ini. "Aku benar-benar tidak punya pilihan lain. Aku butuh bantuanmu, Harris. Anakku... putriku satu-satunya, Nayara..."

"Ada apa dengan anakmu? Menikah? Mengingat kondisimu sekarang, kurasa kau bahkan tidak mampu menyewa gedung pernikahan yang layak," potong Harris penuh penghinaan.

"Nayara diculik, Harris!" seru Hardian, dadanya naik turun dengan napas yang memburu. "Dia diculik oleh klan Moretti! Sudah beberapa hari ini aku... aku tidak tahu bagaimana kabarnya. Aku tidak tahu apa dia masih hidup atau..." Suara Hardian seketika tercekat di tenggorokan, tidak sanggup melanjutkan kalimat mengerikan yang membayangi pikirannya. Air matanya menetes meratapi nasib malang sang putri.

Namun, di seberang sana, Harris hanya mendengarkan ratapan itu dengan wajah malas. Dia memutar bola matanya, sama sekali tidak tersentuh oleh penderitaan pria yang dulu pernah menjadi rival sekaligus atasannya itu. Alih-alih merasa iba, Harris justru menyunggingkan senyum kepuasan yang kejam.

"Diculik Moretti? Hahaha!" Harris tertawa lepas, sebuah tawa yang terdengar sangat menyakitkan di telinga Hardian. "Harusnya kau bersyukur, Hardian! Bersyukur karena putri kecilmu yang miskin itu setidaknya masih dilirik oleh klan mafia sebesar Moretti!"

"Apa katamu?!" Hardian terbelalak, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Kenapa? Kata-kataku salah?" cibir Harris berapi-api. "Dengar, Hardian. Anggap saja si Naya itu sebagai bentuk penebusan dosamu di masa lalu! Kau lupa? Dulu kau dengan begitu sombongnya merebut Emily, wanita yang menjadi incaran dan cinta pertama Lorenzo Moretti! Sekarang, takdir hanya sedang menagih utangmu. Anggap saja ini impas."

"Harris! Jaga ucapanmu! Nayara tidak tahu apa-apa tentang masa lalu kami!" bentak Hardian, urat-urat di lehernya menonjol karena amarah yang mendidih.

"Tapi darahmu mengalir di tubuhnya, Hardian! Dan sejujurnya, ini sangat lumayan, bukan?" Harris kembali menghina dengan kalimat yang kian merendahkan martabat keluarga Hardian. "Anak dari pria cacat dan penyakitan sepertimu, ternyata masih ada harganya di mata dunia. Ya, setidaknya dia berguna sebagai pemuas nafsu pria-pria Moretti di dalam kamar mereka. Anggap saja itu pekerjaan yang bagus untuk anakmu daripada menjadi pelayan murahan."

"HARRIS!!! TUTUP MULUTMU, BAJINGAN!!!" Hardian berteriak histeris, menyumpah serapah dengan air mata amarah yang mengalir deras di pipinya yang cekung. Tubuhnya yang ringkih bergetar hebat. "Kau benar-benar manusia tidak tahu diri! Kalau bukan berkat aku, kalau bukan karena bantuan dan investasiku di masa lalu, tidak mungkin perusahaanmu bisa sesukses sekarang! Kau tidak mungkin bisa merangkak naik menjadi orang terpandang seperti sekarang tanpa tanganku, Harris! Dan sekarang kau malah menghinaku dan anakku?!"

Mendengar gertakan itu, emosi Harris ikut tersulut. Suaranya yang semula malas mendadak berubah menjadi bentakan yang menggelegar dan sarat akan ancaman dari seberang telepon.

"Hardian! Jaga bicaramu ya, Tua Bangka!"bentak Harris berapi-api, tidak terima masa lalunya diungkit. "Itu dulu! Sekarang kau itu sudah cacat, miskin, dan tidak punya apa-apa lagi! Jadi jangan belagu di hadapanku! Berkacalah pada dirimu sendiri yang sekarang!"

Hardian terengah-engah, memegangi dadanya yang mendadak terasa sangat sesak dan menyakitkan akibat luapan emosi yang terlalu tinggi. "Kau... kau benar-benar..."

"Dengar, Hardian. Jangan pernah berani bermimpi atau bertindak bodoh untuk mengalahkan klan Moretti!" seru Harris dengan nada meremehkan yang amat sangat. "Kau tahu siapa Moretti? Mereka itu penguasa tunggal yang bahkan tidak bisa disentuh oleh aparat hukum maupun pemerintah negeri ini! Sekali mereka menjentikkan jari, kau dan seluruh sisa hidupmu yang menyedihkan itu bisa lenyap dalam semalam tanpa ada yang peduli!"

"Aku hanya ingin anakku kembali, Harris... Aku hanya ingin Nayara-ku pulang," bisik Hardian, suaranya mendadak melemah, meratap di antara sisa amarahnya yang mulai terkuras habis oleh rasa putus asa.

"Kalau begitu, berdoa saja pada Tuhanmu agar mayat anakmu nanti dikirim dalam kondisi utuh," balas Harris dingin, tanpa secuil pun rasa kemanusiaan yang tersisa di hatinya. "Dan satu hal lagi, jangan pernah berani menelepon nomor ini lagi. Aku tidak sudi namaku dikaitkan dengan pria sial dan pecundang sepertimu. Selamat menikmati sisa kehancuranmu, Hardian."

Pip.

Sambungan telepon diputus secara sepihak oleh Harris.

Suara tut-tut-tut yang monoton dari ponselnya seketika menjatuhkan Hardian ke dalam jurang kegelapan yang paling dalam. Ponsel di tangannya terlepas, jatuh menghantam lantai semen rumahnya yang sepi. Pria paruh baya itu menenggelamkan wajahnya ke kedua telapak tangannya, menangis tergugu sendirian meratapi nasibnya yang malang, dan nasib putri tercintanya yang kini berada di dalam cengkeraman sang iblis Moretti tanpa ada satu orang pun yang bersedia mengulurkan tangan untuk menolong mereka.

1
𝘚𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩𝘢𝘯_𝘧𝘪𝘬𝘴𝘪 🥀
😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!