Lin Xiu returned to civilization confident and proud after training with a master who cannot be named on a celestial island cut off from the real world. In his quest to uphold justice, he courageously picks fights with elites in the community wreaking havoc among the rich and the powerful. Be it ghosts, spirits, or seniors of the daoist association, he is fearless. Will the little girl Xiao Tong stay a little girl as she accompanies him on his journey to track down the rest of his friends from the orphanage they once shared?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EAGLE EZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23.perjalanan menuju lembah maut
Gemuruh guntur membelah langit pinggiran utara Ibukota Imperial saat matahari mulai tenggelam di balik cakrawala, menyisakan semburat warna merah darah yang seolah melambangkan badai pembantaian yang akan segera terjadi. Angin malam bertiup kencang, menggoyang pohon-pohon pinus tua yang tumbuh subur di sepanjang lereng menuju **Lembah Kematian Naga Hitam**. Tempat ini adalah wilayah terlarang yang dihapus dari seluruh peta sipil negeri; sebuah ngarai curam yang diselimuti kabut beracun abadi, tempat markas besar dan tungku-tungku alkemi rahasia milik **Klan Alkemis Naga Hitam** bertumpu selama ribuan tahun.
Di bawah guyuran hujan yang mulai turun satu-satu, sesosok pemuda berjalan sendirian menembus jalan setapak berlumpur yang mendaki.
Lin Xiu tidak lagi membawa payung hitamnya. Dia membiarkan tetesan air hujan membasahi rambut hitamnya, mengalir melewati pelipis dan pipinya yang kaku. Kemeja hitam yang dikenakannya melekat erat pada tubuhnya yang tegap, dan tas kain usangnya tersampir miring di punggung. Setiap langkah kaki Lin Xiu tidak lagi meninggalkan jejak santai; setiap entakan sepatunya di atas tanah basah memicu getaran frekuensi rendah yang membuat hewan-hewan malam di dalam hutan lari berhamburan ketakutan.
Sepasang mata emas murninya bersinar terang di tengah kegelapan, memancarkan pendaran cahaya suci yang begitu pekat dan penuh dengan niat membunuh mutlak.
Sejak panggilan telepon dari Jiangnan terputus kemarin malam, Lin Xiu tidak tidur semenit pun. Dia menolak seluruh tawaran pengawalan dari Divisi Serigala Hitam milik Jenderal Ye. Baginya, ini bukan lagi sekadar urusan pembalasan utang darah masa lalu, melainkan pembersihan total terhadap hama-hama dunia mistis yang telah berani menyentuh adik perempuannya, Xiao Mei.
*WUSH! WUSH! WUSH!*
Tepat saat Lin Xiu mencapai bibir tebing yang membatasi jalan masuk lembah, belasan bayangan hitam mendadak melompat turun dari atas pepohonan. Mereka adalah para penjaga gerbang faksi dalam Klan Naga Hitam, masing-masing mengenakan jubah hitam dengan topeng perak berbentuk wajah monster, memegang tombak panjang yang dialiri uap racun hijau pekat.
"Berhenti! Siapa yang berani lancang mendekati Lembah Kematian?!" bentak salah satu penjaga dengan suara parau.
Lin Xiu bahkan tidak menghentikan langkah kakinya. Pandangannya tetap lurus menatap jembatan gantung kuno yang membentang di atas jurang menuju benteng klan di seberang ngarai.
"Aku Lin Xiu," suara pemuda itu terdengar sangat rendah, namun frekuensi energinya meledak di dalam gendang telinga para penjaga seperti hantaman godam raksasa. "Aku datang untuk menjemput adikku, dan mengubur klan kalian di bawah batu-batu lembah ini."
Mendengar nama Lin Xiu, belasan penjaga itu langsung tersentak. "Dia bocah dari Jiangnan itu! Bunuh dia!"
Tanpa menunggu komando kedua, belasan tombak beracun itu serempak melesat ke arah titik-titik fatal di tubuh Lin Xiu dengan kecepatan yang luar biasa. Namun, sebelum ujung tombak mereka mampu mendekati radius satu meter di sekitar tubuh Lin Xiu, energi *Zhenqi* Sembilan Matahari murni yang tertahan di dalam dantian Lin Xiu mendadak meledak keluar secara otomatis sebagai pelindung absolut.
*BOOOM!!!*
Gelombang kejut berwarna emas murni menyapu ke segala arah dengan kekuatan dahsyat. Belasan tombak besi itu langsung hancur berkeping-keping menjadi debu logam, sementara tubuh belasan penjaga bertopeng perak tersebut terpental ke belakang seperti layang-layang putus, menghantam dinding tebing batu hingga hancur berantakan sebelum akhirnya jatuh ke dalam jurang terdalam tanpa sempat mengeluarkan suara teriakan.
Lin Xiu terus melangkah, melewati sisa-sisa debu logam yang berserakan, lalu menapakkan kakinya di atas jembatan gantung kuno. Di ujung jembatan, gerbang batu raksasa setinggi sepuluh meter yang dijaga oleh barisan formasi tempur klan telah menantinya.