NovelToon NovelToon
Toko Roti Cinta Sepoi-sepoi

Toko Roti Cinta Sepoi-sepoi

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:568
Nilai: 5
Nama Author: kawaichanopi

📖 Judul: Toko Roti Cinta Sepoi-sepoi

Deskripsi Cerita:

Di sudut jalan tua yang masih menyimpan jejak sejarah, berdiri kokoh sebuah bangunan kayu bergaya klasik Tiongkok. Di sanalah letak Toko Roti Lian Hua, tempat di mana udara selalu beraroma hangat manis—campuran gula, tepung, dan aroma kayu manis yang khas.

Di balik meja kayu yang sudah usang namun bersih, bekerja seorang gadis bernama Mei Lin. Di usianya yang ke-20, ia sudah menjadi pemilik tunggal toko ini, satu-satunya warisan berharga peninggalan orang tuanya yang telah tiada dalam sebuah kecelakaan misterius. Mei Lin gadis yang ceria, berhati lembut, sangat menyayangi anak kecil dan kucing liar. Namun, takdir memberinya satu ujian berat: ia terlahir bisu. Ia tak bisa bersuara, tak bisa berteriak, dan tak bisa membela diri dengan kata-kata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kawaichanopi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aroma Kayu Manis Dan Tamu Angkuh

 

Di ujung Jalan Seribu Bunga, di tengah hiruk-pikuk kota besar yang kian hari kian berubah menjadi gedung-gedung pencakar langit yang megah dan berkilauan, masih berdiri kokoh sebuah bangunan kayu tua yang memancarkan pesona masa lalu. Bangunan itu dibangun dengan gaya arsitektur klasik Tiongkok, berwarna merah marun yang sedikit memudar dimakan usia, dihiasi ukiran naga dan bunga teratai yang sangat halus di setiap sudut tiang dan ambang pintunya. Atapnya melengkung indah ke atas, seolah ingin menyentuh langit, sementara di bagian depan, sebuah papan nama besar berwarna emas tergantung gagah, bertuliskan dua kata yang sudah melegenda di kalangan warga sekitar: Lian Hua.

Itulah Toko Roti Lian Hua. Sejak tiga generasi lalu, tempat ini bukan sekadar toko roti biasa. Bagi warga kota, Lian Hua adalah kenangan, adalah rasa rumah, dan tempat di mana udara selalu berbau hangat dan menggoda. Aroma khas yang menguar dari balik dinding kayunya begitu kuat hingga bisa memikat siapa saja yang melintas: campuran manisnya gula pasir, kelembutan adonan tepung terigu, mentega yang dipanggang sempurna, dan yang paling mendominasi adalah aroma rempah kayu manis yang hangat, sedikit pedas, namun menenangkan hati. Aroma itu berhembus keluar lewat jendela-jendela kaca tua, terbawa angin sepoi-sepoi yang lembut, memanggil siapa saja untuk singgah.

Di balik meja panjang yang permukaannya sudah licin dan berkilau karena telah dipakai puluhan tahun oleh tangan-tangan terampil keluarga pemiliknya, berdiri seorang gadis muda berusia dua puluh tahun. Namanya Mei Lin.

Wajah Mei Lin cantik bersahaja, tidak berlebihan namun memikat hati. Ia memiliki kulit seputih susu yang halus, mata besar berwarna cokelat bening yang selalu berbinar cerah bagai bintang di langit malam, serta alis yang rapi dan indah. Senyum hampir tak pernah lepas dari bibir mungilnya yang kemerahan, seolah kesedihan dan kepahitan hidup tak pernah menyentuh hatinya sedikit pun. Padahal, takdir telah menguji gadis itu berkali-kali lipat lebih berat dibandingkan orang-orang seusianya.

Dua tahun yang lalu, dunianya runtuh seketika. Ayahnya, Chen Wei, dan ibunya, Su Yin, meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan mobil yang mengerikan saat pulang dari pasar pusat untuk membeli bahan baku roti. Saat itu, Mei Lin merasa langit seolah runtuh menimpanya. Ia menangis, meratap, dan merasa hidupnya telah berakhir. Namun, seiring berjalannya waktu, ingatan-ingatan kecil mulai muncul dan menyisakan rasa curiga yang pahit di hatinya. Jalur jalan yang biasa dilewati orang tuanya selalu sepi pada jam itu; mekanik langganan ayahnya pernah mengatakan rem mobil itu baru saja diperbaiki dan diganti baru beberapa hari sebelum kecelakaan; dan yang paling menyakitkan, adalah tatapan mata kerabat dekatnya yang terasa berbeda—bukan tatapan sedih atau iba, melainkan tatapan lega dan serakah.

Perlahan namun pasti, Mei Lin sadar akan satu hal yang sangat pahit dan mengerikan: kecelakaan itu bukan musibah biasa, melainkan sebuah rencana jahat yang dirancang dengan sangat rapi. Di balik semua kegelapan itu ada orang-orang yang seharusnya menjadi pelindung dan keluarga terdekatnya—Paman Chen Hao, adik kandung ayahnya yang selalu iri dengan kesuksesan saudaranya, dan istrinya yang kasar serta bermuka dua, Bibi Mei Feng. Mereka mengincar tanah dan bangunan toko Lian Hua yang nilainya terus meroket tinggi karena letaknya yang strategis di pusat kota. Bagi mereka, kematian kakak kandungnya hanyalah jalan pintas termudah untuk menguasai segalanya.

Namun, takdir seolah belum berhenti menimpakan ujian pada gadis malang ini. Sejak ia terlahir ke dunia, Mei Lin memiliki satu kekurangan besar yang menjadi pembatas antara dirinya dan dunia luar: ia bisu. Mulutnya bisa bergerak dengan sempurna, paru-parunya berfungsi normal, pita suaranya utuh, namun tak ada satu pun suara yang bisa keluar dari tenggorokannya. Ia tak bisa berteriak saat ketakutan, tak bisa menangis bersuara saat hatinya sedang hancur, tak bisa berbicara membela diri saat ia difitnah atau disakiti, dan tak bisa mengungkapkan isi hatinya dengan kata-kata indah. Komunikasinya hanya lewat senyum, gerakan tangan yang sederhana, atau tulisan di atas secarik kertas.

Meski begitu, ketidakmampuannya berbicara tidak membuat hati Mei Lin menjadi gelap, keras, atau penuh dendam. Justru sebaliknya. Mei Lin adalah gadis yang sangat ceria, baik hati, dan lembut. Ia sangat menyayangi anak-anak kecil yang sering bermain di depan tokonya, selalu menyelipkan sepotong roti hangat secara cuma-cuma ke tangan mereka yang kecil. Ia juga adalah ibu kedua bagi belasan kucing liar yang berkeliaran di sekitar jalan itu, menjadikan beranda tokonya sebagai rumah dan tempat tidur yang nyaman. Baginya, kebaikan dan kasih sayang adalah bahasa yang paling bisa dimengerti siapa pun, tak perlu kata-kata, tak perlu suara.

Siang itu, matahari bersinar terik menyelinap lewat celah-celah jendela kaca tua, menerangi debu-debu halus yang menari-nari di udara. Aroma kayu manis terasa lebih kuat dari biasanya karena oven besar di belakang meja baru saja selesai memanggang tumpukan roti gulung yang banyak diminati pelanggan. Mei Lin sedang sibuk merapikan kue-kue itu ke dalam etalase kaca, tangannya bergerak lincah dan cekatan dengan keahlian yang sudah ia warisi sejak kecil.

Seekor kucing berbulu oranye tebal—kesayangannya yang selalu ada di mana pun ia berada—melompat dengan gesit ke atas meja kerja, lalu mendengkur keras sambil menggesekkan badannya ke lengan baju Mei Lin, meminta perhatian dan makanan. Melihat tingkah laku hewan kesayangannya itu, Mei Lin langsung tertawa pelan. Suara tawanya tidak terdengar lantang, hanya desisan halus dan napas pendek yang tertahan di tenggorokannya, namun matanya menyipit bahagia dan wajahnya bersinar indah. Ia segera mengambil sepotong kecil roti lembut, meletakkannya di piring kecil, lalu mengelus kepala kucing itu dengan penuh kasih sayang dan kelembutan yang tak terhingga.

Kling…!

Suara bel kecil yang tergantung di atas bingkai pintu berbunyi nyaring, memecah ketenangan dan kehangatan yang ada di dalam ruangan. Angin hangat dari luar masuk bersamaan dengan sosok tinggi besar yang melangkah masuk dengan langkah yang berat dan berwibawa.

Seketika, udara hangat dan manis di dalam toko seolah berubah menjadi dingin.

Pria itu tampan luar biasa, wajahnya seperti pahatan dewa yang sempurna. Kulitnya bersih dan cerah, rambut hitam legamnya tersisir rapi ke belakang, mempertegas garis rahangnya yang tegas dan tajam. Ia mengenakan setelan jas mahal berwarna hitam pekat dengan kemeja putih bersih yang berkilau, lengkap dengan jam tangan dan aksesori yang menunjukkan betapa tingginya status sosial dan kekayaan orang tersebut. Penampilannya begitu sempurna dan berkelas, namun raut wajahnya begitu masam, bibirnya mengerucut ke bawah seolah seluruh isi toko ini berisi sampah yang menjijikkan baginya.

Itu adalah Jun Jie, dua puluh tujuh tahun, pewaris tunggal Grup Perusahaan Jun—salah satu konglomerat terbesar dan paling berpengaruh di kota ini.

Bagi dunia luar, hidup Jun Jie terlihat begitu sempurna dan membahagiakan. Ia kaya raya, berkuasa, cerdas, berpendidikan tinggi, dan diidam-idamkan oleh ribuan wanita cantik dari keluarga terpandang. Namun, bagi Jun Jie sendiri, hidupnya tidak lebih dari sebuah penjara emas yang menyesakkan. Kedua orang tuanya, Jun Tao dan Li Na, meskipun merupakan sosok yang sangat bijaksana, hangat, dan penyayang, terus-menerus mendesaknya untuk segera menikah demi meneruskan keturunan keluarga dan menjaga kelangsungan bisnis. Setiap hari, di mana pun ia berada, pertanyaan yang sama selalu menghantuinya: "Kapan kamu akan menikah?", "Ada putri teman Ayah yang cantik dan pintar", atau "Jangan sibuk bekerja terus, pikirkan masa depanmu".

Jun Jie muak, lelah, dan sangat benci dengan segala tekanan itu. Baginya, wanita-wanita yang ada di lingkaran elitnya semuanya sama persis: palsu, berisik, cerewet, materialistis, dan hanya mengejar harta serta statusnya sebagai tuan muda. Ia benci keramaian, benci kepura-puraan, dan benci rasa terikat. Siang itu, ia sengaja kabur dari rapat penting di kantor hanya untuk menenangkan diri dan mencari tempat sepi, lalu tanpa sengaja saat mobilnya melintas di Jalan Seribu Bunga, ia mencium aroma kuat yang begitu menggoda, unik, dan asing baginya. Penasaran dan sedikit tergoda, ia pun memerintahkan sopirnya berhenti, lalu masuk ke tempat kuno ini sendirian.

"Kuno sekali tempat ini," ucap Jun Jie dengan suara berat, rendah, dan dingin yang menusuk tulang. Ia berjalan melongok ke sana sini dengan pandangan menghakimi, alisnya terangkat tinggi menatap langit-langit kayu dan perabotan tua yang ada di sana. "Baunya rempah sekali, sampai membuat kepalaku sedikit pusing. Apa tidak ada penghawaan yang lebih modern dan layak di tempat seperti ini? Atau memang begini caramu berdagang?"

Mei Lin berhenti mengelus kucing oranye itu. Ia bangkit berdiri, menyeka debu halus di rok panjang sederhananya, lalu tersenyum sopan dan membungkuk ramah. Ia sama sekali tidak tersinggung dengan kata-kata kasar dan nada bicara pria itu. Sudah sering ia mendengar hal serupa dari pelanggan atau orang asing yang datang, tapi mereka semua pada akhirnya akan kembali lagi karena rasa roti buatan Lian Hua tak tertandingi oleh tempat mewah mana pun di kota ini.

Gadis itu berjalan mendekati etalase kaca, menunjuk satu per satu jenis roti dan kue dengan gerakan tangan yang antusias. Matanya berbinar bangga, seolah bercerita panjang lebar: Lihatlah, semuanya dibuat dengan resep rahasia turun-temurun, dibuat dengan tangan dan cinta, tanpa pengawet, dan bahan-bahan terbaik.

Jun Jie menatap tajam ke arah gadis itu. Ia baru sadar sepenuhnya, sejak tadi ia mengoceh panjang lebar namun gadis di depannya hanya bergerak, tersenyum, dan menatapnya lekat-lekat tanpa mengucapkan satu kata pun. Tidak ada suara, tidak ada jawaban.

"Kau bisu?" tanyanya tiba-tiba, tanpa basa-basi, tanpa rasa sungkan sedikit pun. Pertanyaannya kasar, langsung, dan sangat tumpul, seolah ia sedang bertanya tentang harga barang, bukan tentang kekurangan fisik seseorang.

Senyum Mei Lin sedikit memudar, namun ia tidak marah, tidak sedih, dan tidak merasa rendah diri. Ia hanya mengangguk pelan dengan tatapan tenang, lalu mengangkat tangan kecilnya yang lentik, menunjuk mulutnya yang indah namun sunyi, lalu menggelengkan kepala perlahan. Gerakannya begitu jelas dan lembut, seolah berkata: Maafkan aku, Tuan. Aku tidak bisa bicara. Tapi aku bisa mendengar dan mengerti semua yang kamu katakan dengan sangat baik.

Jun Jie mendengus pelan dari hidungnya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis yang penuh rasa meremehkan. "Pantas saja tenang sekali di sini. Tidak berisik seperti wanita-wanita lain. Cocok sekali untukmu dan tempat reot ini. Tempat ini sunyi, kuno, dan tertinggal zaman... sama persis sepertimu."

Ia berbalik hendak pergi. Baginya, penasaran sesaat ini sudah cukup terpuaskan. Ia lebih baik kembali ke mobilnya yang ber-AC dingin daripada berdiri di tempat yang bau kayu dan penuh debu ini. Namun, saat kakinya baru melangkah satu langkah menjauh, aroma kayu manis yang baru saja dipanggang menguar sangat kuat dari balik meja kerja, langsung menyergap hidung dan indra penciumannya dengan hebat.

Aroma itu... begitu aneh namun begitu akrab. Terasa hangat menyelinap ke dada, terasa seperti pelukan ibu yang lembut, terasa seperti kehangatan rumah yang sudah lama hilang dari hidupnya yang kaku, dingin, dan penuh tekanan kerja. Aroma itu membuat dadanya terasa sesak namun nyaman, membuat langkah kakinya seolah terikat dan berat untuk bergerak pergi.

Jun Jie berhenti. Ia menoleh kembali perlahan, menatap tumpukan roti gulung berwarna kecokelatan yang masih mengepulkan uap putih halus.

"Berikan aku satu," ucapnya ketus dan dingin, menunjuk ke arah roti itu dengan dagunya. "Yang baru keluar dari oven. Jangan berikan sisa atau yang sudah lama ada di etalase."

Seketika, wajah sedih Mei Lin yang sempat muncul kembali bersinar terang seperti matahari pagi. Ia tersenyum lebar sampai matanya menyipit bahagia, wajahnya merona cantik. Dengan gerakan lincah dan penuh semangat, ia mengambil sepotong roti yang paling besar, paling cantik, dan paling berwarna emas sempurna dari tumpukan itu. Ia membungkusnya dengan sangat hati-hati dan rapi menggunakan kertas cokelat tebal yang bermotif bunga teratai—ciri khas toko ini yang tak pernah berubah sejak zaman kakek buyutnya.

Saat ia menyodorkan bungkusan hangat itu ke depan dada Jun Jie, jari-jari mereka bersentuhan sekilas. Kulit Mei Lin terasa begitu hangat, lembut, dan hidup, kontras dengan kulit Jun Jie yang dingin, kaku, dan dingin karena terlalu lama berada di ruangan ber-AC dan tekanan batin. Jantung Jun Jie seolah melompat satu ketukan aneh yang tidak wajar, namun ia segera mengabaikannya, mengira itu hanya efek suhu udara.

Ia merogoh saku dalam jasnya, mengambil dompet kulit mahal, bersiap membayar. Namun, Mei Lin segera menggeleng kuat-kuat berulang kali. Ia menolak uang itu dengan ramah namun tegas, lalu menunjuk roti di tangan Jun Jie, menunjuk wajah pemuda itu, dan mengacungkan jempol kecil ke arahnya dengan senyum tulus. Ini hadiah dariku. Semoga kau menyukainya dan merasa lebih baik.

"Kau pikir aku pengemis yang butuh sedekah dari gadis bisu?" Jun Jie mendengus marah, gengsinya yang tinggi langsung naik lagi menutupi rasa terima kasih yang sedikit muncul. "Aku tidak butuh kasihan atau pemberian cuma-cuma dari siapa pun, apalagi dari pemilik toko kecil seperti ini."

Ia meletakkan selembar uang bernilai sangat besar di atas meja kayu—jumlahnya jauh di atas harga roti itu, bahkan cukup untuk membeli seluruh persediaan bahan baku toko itu selama seminggu—lalu berjalan keluar dengan langkah lebar dan angkuh, meninggalkan Mei Lin yang hanya bisa menatap punggung tegapnya menjauh dengan tatapan sedih namun penuh pengertian.

Di luar toko, di bawah naungan atap kayu yang diukir indah, angin sepoi-sepoi berhembus lembut menerpa wajah Jun Jie. Ia berhenti sejenak, menatap bungkusan kertas cokelat di tangannya yang besar. Ia membukanya perlahan. Aroma manis dan hangat itu langsung menyergap lagi, lebih kuat, lebih memikat, dan lebih menenangkan dari sebelumnya.

Dengan ragu, dan sedikit rasa malu karena merasa konyol, ia menggigit sedikit ujung roti itu.

Rasa itu... meleleh begitu saja di mulutnya. Manisnya pas dan tidak berlebihan, ada sedikit rasa pedas hangat dari kayu manis yang menjalar ke tenggorokan, serta kelembutan adonan yang terasa seperti cinta orang tua yang tulus. Rasanya jauh lebih enak, jauh lebih hidup, dan jauh lebih bermakna daripada kue-kue mahal buatan koki ternama di restoran miliknya sendiri.

Jun Jie menoleh ke belakang, menatap pintu kayu merah yang tertutup itu. Di balik kaca jendela yang sedikit berdebu, ia bisa melihat bayangan Mei Lin yang sedang memungut uang yang ditinggalkannya, lalu gadis itu kembali mengelus kepala kucing oranye di meja sambil tersenyum sedih ke arah jalan kosong. Senyum yang begitu tulus, begitu murni, dan begitu indah—sesuatu yang tak pernah ia temui di wajah wanita mana pun di lingkungan elitnya.

Gadis aneh, batin Jun Jie, tapi kali ini tanpa nada meremehkan atau sinis. Tempat ini kuno, pengap, dan pemiliknya bisu... tapi ada sesuatu di sini. Sesuatu yang membuatku tidak ingin pergi jauh.

Di sudut jalan tua itu, di antara aroma manis dan kenangan masa lalu, benang merah takdir baru saja diikat dengan erat. Pertemuan singkat itu bukan sekadar kebetulan tak berarti. Itu adalah awal dari sebuah kisah cinta yang tak butuh suara, namun bergema lebih keras daripada teriakan apa pun.

Dan di kejauhan, tersembunyi di balik bayang-bayang bangunan tua dan kerumunan orang yang berlalu-lalang, sepasang mata jahat dan serakah sedang mengamati kedatangan tuan muda kaya raya itu. Paman Chen Hao dan Bibi Mei Feng, yang sedang merancang rencana licik untuk merebut toko itu, tersenyum licik penuh rencana. Melihat interaksi Mei Lin dan Jun Jie, sebuah ide jahat baru mulai terbentuk di kepala jahat mereka.

Permainan yang sesungguhnya, baru saja dimulai.

1
listia_putu
❤️
Kawaichan Opi: ,terima kasih
total 1 replies
HiaTus
💪 sukses karyanya kak
Kawaichan Opi: terima kasih kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!