Rela menunggu kepulangan seorang lelaki selama 5 tahun. Alisa harus dihadapkan dengan kenyataan pahit bahwa gadis yang akan Gus Hafidz nikahi, bukanlah dirinya.
Sebagai salam perpisahan terakhir, Alisa rela menjadi bridesmaid pengantin wanita sebelum ia memilih untuk pergi dari pesantren.
Namun ternyata, kakaknya, Zefano. Pria yang baru pulang dari luar negeri itu jatuh cinta pada Alisa pada pandangan pertama. Dan berusaha menjerat Alisa agar menjadi miliknya. Hingga melakukan hal diluar nalar demi menjadikan Alisa istri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mur Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lora terpojok
Alisa pulang dari rumah sakit dengan perasaan berkecamuk, tangisnya tak ada berhenti sedari tadi. Ia tidak menyangka, sesingkat ini hubungan mereka. Tidak ada satu bulan Zefano mendekatinya, dan meluluhkan hatinya. Disitu juga ia menyampakan dirinya seolah yang lalu hanyalah permainan semata.
Alisa duduk di halte bus dengan perasaan masih dipenuhi sesak, menatap jalanan kosong. Sekarang bukan saatnya memikirkan sakit hati. Ia—harus mencari tempat tinggal.
Alisa rogoh tas miliknya, membuka dompetnya perlahan.
"ATM Mas Zefano." lirihnya, tanpa ekspresi berlebih.
Ia hanya masih tidak percaya dunia sebercanda ini. Setelah apa yang ia perjuangkan semuanya sia-sia. Seolah Tuhan mengajarkan, "Aku tidak boleh terpuruk hanya karena dicampakan laki-laki."
Ia tarik ATM BCA Prioritas dari dalam dompet. Menggenggamnya erat.
"Aku tau kamu tidak ingin menerima uang ini, Alisa. Tapi terimalah, aku tidak menjamin diriku akan tetap sehat dan bisa terus menjagamu, kau harus memakai ini disaat genting. Kau tidak perlu izin dariku untuk memakainya. Anggap saja itu mahar tertunda dariku."
"Sejujurnya, aku tidak terlalu menyalahkan Mas Zefano atas hilangnya ingatannya. Namun tetap saja, dia jahat!" ketusnya, memanyun sebal sebelum bangkit karena bus dari sebrang sudah mendekat.
Menuju Bank BCA terdekat.
"Sisa tabungan dalam BCA Prioritas anda, 5 milyar 537 juta, Nona."
Alisa terperanjat setengah mati, bahunya terjingkit, tubuhnya membeku. Keringat dingin mengucur deras di pelipisnya. Menatap sang petugas dan ATM yang tergeletak di meja bergantian.
Ia tatap kosong ATM pemberian Zefano di atas meja, tubuhnya gemetar hingga ke ujung kaki.
"Li-lima milyar?" cicit Alisa gemetar, menatap sang petugas bank itu pucat pasi.
Sang petugas tersenyum mengangguk, "Benar, Nona. Jadi, anda mau menarik uang berapa?" tanya sang petugas.
Bulu kuduk Alisa terangkat semua, menunjukkan satu jari telunjuknya pada sang petugas ragu-ragu.
"Ah...satu milyar."
"Satu juta!" final Alisa melotot.
Bisa-bisanya sang petugas menyebutkan angka sebesar itu dengan mudahnya. Mana mungkin ia berani menggunakan uang milik Zefano sebanyak itu!
Kening sang petugas mengerut kecil, sebelum akhirnya tersenyum tipis, "Maaf mba, limit penarikan nasabah BCA Prioritas via ATM itu 15 juta, kurang dari itu tidak bisa."
Makin gemetar lah bulu kuduk Alisa. Mana mungkin dia berani memakai uang sebanyak itu!
Namun karena tak punya pilihan lain, akhirnya Alisa pun menyetujuinya dengan sisa keberanian yang ada.
Alisa keluar dari bank BCA dengan perasaan dongkol, dahinya keringat dingin. Ia lirik tas miliknya begitu berat, dan—menakutkan.
"Yasudahlah, toh dia sudah jahat sama aku! Jadi akan ku habiskan semua uangnya!" seru Alisa, masih diselimuti rasa kesal dan marah.
Bercanda!!
Mana mungkin ia berani menggunakan uang itu semuanya. Meski itu mahar pernikahan mereka. Tetap saja, setiap mengingat saldo 5 milyar itu, dalam sekejap saraf tubuhnya pasti mati rasa.
"Bismillahirrahmanirrahim, Ya Allah....Lancarkanlah usaha hambamu ini, Ya Allah." lirih Alisa gusar, meremat panel tas di dadanya kuat. Sebelum akhirnya ia memberanikan diri melangkah maju.
***
Sesampainya di apartement. Lora melongo syok. Menatap sekeliling tanpa berkedip. Sementara Zefano memilih duduk di sofa.
"M-Mas, ini apartement mu?" tanya Lora gemetar.
Seumur-umur ia pacaran dengan Zefano, jangankan masuk ke apartement pria itu, bisa bertemu dengannya seminggu sekali saja belum tentu!
Zefano menoleh, mengulum senyum tipis. Ia tarik tangan Lora untuk duduk di sampingnya dengan lembut.
"Assisten ku bilang begitu." jelasnya. meletakkan handphone miliknya di atas meja.
Ia tegakkan kembali punggungnya, menatap kosong ke depan. Netranya tanpa sengaja melihat ke arah foto yang berdiri di meja hias di pojok ruangan, keningnya mengerut liar. Refleks berdiri perlahan.
Lora yang sedari tadi tersenyum memandangi Zefano, melihat Zefano fokus ke arah lain ia pun mengikuti arah pandang lelaki itu.
Netranya melotot saat melihat foto pernikahan Zefano dan Alisa di bingkai kecil. Berdiri di meja hiasan di pojok ruangan. Refleks berdiri cepat. Berlari ke arah bingkai lalu meraihnya, menyembunyikannya ke belakang tubuh. Nyengir tipis ke arah Zefano yang mengerutkan keningnya penuh tanya.
"Lora, aku ingin melihat foto itu."
Wajah Lora langsung pucat, netranya bersilat kesana kemari sebelum kembali menatap ke arah Zefano.
"A-anu ini foto rusak, Mas. Aku lupa belum ganti. Takutnya bikin kamu ngga nyaman. Biar kubuang aja." balas Lora dengan wajah yang kentara sekali gadis itu sedang tegang sekarang.
Zefano semakin mengerut kecil. Hendak berjalan mendekat. Namun Lora buru-buru membawa foto itu lari ke belakang. Membuat langkah Zefano terhenti.
Sementara Lora yang ketakutan itu langsung melempar foto itu begitu saja keluar dari jendela. Dengan ketinggian lantai apartement mencapai 30 lantai. Ia yakin sekali foto itu sudah hancur saat membentur tanah.
"Sial! Hampir saja ketahuan!" decaknya, mengelus dadanya yang jantungan.
"Aku harus mencari barang bukti lain, wanita itu pasti menyembunyikannya di tempat lain juga." lirihnya celingak-celinguk ke sekeliling.
"Lora?"
Tubuh Lora terjingkit saat suara Zefano begitu dekat dengannya, refleks berbalik. Terlihat Zefano berdiri di ambang pintu dapur, menatap ke arahnya.
Pria itu berjalan mendekat dengan langkah tenang, beranjak duduk di meja makan.
Sebisa mungkin Lora bersikap tidak terjadi apa-apa. Berjalan mendekat sembari sepasang matanya meneliti sekeliling.
"Ahh...gapapa kok, Mas. Kenapa?" tanya Lora gagap.
Zefano menatapnya dengan bibir tersenyum, "Aku ingin soto buatanmu."
Zefano tertegun setelah mengucapkan kata itu tanpa sengaja, "Ahh...soto, apa aku pernah makan soto sebelumnya?" celetuknya lagi, menggaruk tengkuk lehernya bingung.
"M-Mas, selama ini kamu kan di luar negeri. Kamu tidak pernah memakan seperti itu." balas Lora semakin pucat pasi, "Pasti soto bikinan wanita itu! Sial, kenapa Mas Zefano masih ingat sih?!" batinnya kesal sendiri.
Zefano tatap Lora tertegun, dahinya melebar, "Ahh...mungkin aku lupa."
Meski begitu, entah mengapa dalam fikirannya terus berputar dengan rasa soto yang ia yakin pernah memakannya.
Lora beranjak mendekat, duduk di samping Zefano sembari mengelus lengannya lembut, "Aku akan membuatkan chicken katsu untukmu, mas pasti lapar bukan?" hibur Lora tersenyum.
Zefano masih bengong, seolah ia sedang berkecamuk dengan fikirannya sendiri. Sebelum beralih menoleh ke arah Lora di sampingnya.
"Aku ingat kamu pernah memasakkanku soto, Lora. Aku ingin soto, bisakah kamu membuatkannya lagi untukku?"
SKAKMAT!!!
Wajah Lora langsung pucat, senyumnya memudar, berganti dengan kekehan canggung dan keringat dingin yang semakin memenuhi dahinya, melirik ke arah lain.
"Kampret! Kenapa jadi seperti ini sih?! Aku mana pernah bikin soto! Terlebih, aku saja tidak tau rasa soto itu seperti apa!" batin Lora semakin gelagapan sendiri.
Namun saat melihat tatapan Zefano yang memelas penuh harapan itu, mau tak mau ia harus membuatkannya bukan?
Akhirnya, dengan berat hati, Lora mengangguk lemah. Bangkit perlahan dari dirinya, "Akan aku buatkan."
Senyum Zefano langsung merekah lebar. Yah, setidaknya senyuman itu bisa sedikit membuatku lega. Yah—sedikit.
Lora tatap aneka sayur da rempah yang ada di dapur itu. Wajahnya makin pucat saja, ia mencimit daun bawang itu ragu, lalu melemparnya ke depan saat bau daun bawang itu begitu menusuk di hidungnya.
"Sialan! Aku bisa mati kalo kaya gini!"