NovelToon NovelToon
Gamer And Flower

Gamer And Flower

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Identitas Tersembunyi / Wanita Karir / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:233
Nilai: 5
Nama Author: Ira Herawati

Jasmine, penembak jitu Tim Aether, terkunci dalam sangkar emas Axel, kapten posesif yang mengendalikan hidupnya demi obsesi kemenangan. Di tengah tekanan, hadir Liam, barista hangat di seberang jalan yang menawarkan kebebasan tanpa syarat. Pulang sebagai juara dunia, Jasmine kini harus memilih benteng kaku Axel atau kehangatan sejati Liam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ira Herawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Hari yang menegangkan itu akhirnya tiba juga. Pagi hari di London Copper Box Arena langsung disambut oleh atmosfer yang luar biasa megah sekaligus mengintimidasi. Gemuruh suara dari ribuan penonton yang sudah memadati kursi tribun terdengar bagaikan guntur yang saling bersahutan, menggetarkan dinding-dinding beton kompleks olahraga tersebut. Efek lampu sorot teatrikal berwarna biru dan merah menyala megah, membelah kegelapan arena dan menciptakan siluet futuristik yang memukau. Di dalam ruang tunggu atau backstage khusus Tim Aether, suasananya justru berbanding terbalik. Ruangan persegi dengan dinding kedap suara itu terasa sangat dingin, sunyi, dan dipenuhi oleh ketegangan yang pekat. Babak penyisihan grup melawan juara bertahan dari Amerika Utara akan dimulai dalam waktu kurang dari tiga puluh menit.

Bryan tampak berjalan mondar-mandir di dekat sofa dengan gelisah. Tangannya yang biasanya lincah menari di atas keyboard kini berkali-kali diremasnya kuat-kuat untuk mengusir rasa dingin dan keringat yang bercucuran. "Ya ampun, ini deg-degannya beda level sama turnamen nasional kemarin. Jantung gue kayak lagi ikut lomba lari maraton," gumamnya dengan nada suara yang bergetar.

Di sudut lain, Kenzie dan Ilias duduk berdampingan di depan meja panjang, fokus melakukan pemanasan jari menggunakan laptop latihan. Gerakan tangan mereka sangat berirama, mencoba mempertahankan memori otot di tengah kepungan rasa gugup yang perlahan mulai merayap naik. Jasmine sendiri memilih untuk memisahkan diri. Ia duduk terdiam di kursi sudut ruangan yang sedikit remang-remang, menyandarkan kepalanya ke dinding. Ia mengenakan jersi resmi Tim Aether yang berwarna hitam beraksen emas dengan nama 'Jasmine' tercetak tegas di bagian punggung. Matanya terpejam rapat-rapat, sementara kedua tangannya mendekap erat tas kecil di pangkuannya. Di dalam sana, jemarinya terus meremas kantung aromaterapi dari Liam, mencoba menyedot sisa-sisa wangi mint yang menenangkan demi mengusir rasa sesak yang mulai mencengkeram dadanya. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia bisa mendengar detaknya sendiri di dalam kepala.

Sreeek.

Suara langkah kaki yang mantap mendekat perlahan memecah konsentrasi Jasmine. Sebelum ia sempat membuka mata, ia merasakan embusan hawa hangat mendekat, disusul oleh sepasang tangan yang besar, kokoh, dan hangat tiba-tiba menggenggam erat kedua jemarinya yang sedingin es. Jasmine tersentak kaget. Matanya langsung terbuka lebar, dan detak jantungnya seolah berhenti berputar selama satu detik ketika mendapati sosok Axel sudah berlutut tepat di hadapannya. Sang kapten melepaskan pandangannya dari papan strategi, menurunkan egonya yang tinggi, dan memposisikan dirinya sejajar dengan tempat duduk Jasmine.

"Jasmine, lihat aku," ucap Axel dengan nada suara yang sangat rendah, berat, dan dalam. Suaranya yang berwibawa seketika mengunci seluruh kebisingan luar yang sempat menyusup masuk ke dalam ruang tunggu.

Jasmine terpaku, tidak mampu bergerak ataupun menarik tangannya yang berada di dalam genggaman erat Axel. Kedua mata elang milik sang kapten menatap lurus ke dalam netra mata Jasmine dengan tingkat intensitas yang sangat tinggi, memancarkan binar emosi yang belum pernah ia perlihatkan selama lima tahun mereka bersama. Di bawah temaram lampu backstage, wajah tampan Axel tampak begitu serius, penuh dengan tekad yang tidak tergoyahkan.

"Kamu gak perlu mendengarkan riuh penonton yang berteriak di luar sana. Kamu juga gak perlu takut sama nama besar juara bertahan yang menjadi lawan kita hari ini," lanjut Axel, jemarinya meremas tangan Jasmine sedikit lebih erat, menyalurkan kehangatan fisik dan keyakinan mutlak langsung ke dalam tubuh gadis itu. "Selama aku masih berdiri tegak di depan kamu di dalam arena pertandingan nanti, sebagai kapten kamu, aku bersumpah gak akan biarin satu pun peluru virtual atau strategi musuh nyentuh karakter kamu. Aku akan jadi perisai pertama kamu, Jasmine."

Jasmine merasakan tenggorokannya mendadak kering. Perhatian intens yang diberikan Axel hari ini terasa sangat berbeda. Ini bukan lagi sekadar instruksi taktis dari seorang pemimpin tim yang haus akan trofi juara. Ini adalah sebuah pernyataan perasaan yang sangat dalam, sebuah pengakuan tidak langsung dari seorang pria bernama Axel yang sedang mempertaruhkan seluruh jiwa, raga, dan egonya demi melindungi gadis yang dicintainya.

"Aku bawa kamu terbang ribuan kilometer ke London ini bukan cuma untuk sekadar mengangkat trofi juara dunia bersama Tim Aether, Jasmine," ucap Axel lagi, suaranya melembut namun terdengar sangat posesif dan intim. Matanya tidak berkedip sedikit pun, mengunci seluruh fokus Jasmine hanya pada dirinya. "Aku ngelakuin semua ini untuk membuktikan kepada dunia... dan membuktikannya ke kamu, bahwa aku adalah satu-satunya orang yang paling bisa diandalkan untuk melindungi kamu di panggung mana pun di dunia ini. Aku bisa kasih masa depan yang paling bersinar untuk kamu. Kamu paham, kan?"

Kalimat itu bagai sebuah hantaman ombak besar yang langsung memporak-porandakan dinding pertahanan mental Jasmine. Pertanyaan emosional yang tersirat di dalam ucapan Axel membuat Jasmine merasa sangat dihargai sebagai seorang wanita, namun di saat yang bersamaan, rasa sesak yang luar biasa kembali menghimpit dadanya. Perhatian dan perlindungan Axel terasa begitu besar, begitu kokoh, namun juga terasa seperti sebuah komitmen berat yang mengikat kebebasan jiwanya. Axel seolah-olah sedang menawarkan sebuah istana emas yang megah, namun dengan syarat Jasmine harus tetap berada di dalam jangkauan pengawasannya seumur hidup. Di tengah tatapan intens yang menuntut jawaban itu, sebuah memori kilas balik mendadak melintas begitu saja di dalam kepala Jasmine. Ia teringat akan seulas senyuman miring yang sangat bebas dari Liam sore itu di tepi danau. Ia teringat akan suara tawa renyah sang barista yang berkata bahwa menang atau kalah tidaklah penting, karena yang paling berharga adalah keselamatan diri Jasmine sendiri. Kontras yang luar biasa tajam antara ambisi perlindungan kaku milik Axel dan kebebasan hangat tanpa syarat milik Liam membuat hati Jasmine kembali terbelah dengan sangat menyakitkan di ambang pertempuran besarnya.

"Tim Aether, waktu kalian lima menit lagi. Silahkan bersiap menuju panggung utama," suara petugas panitia turnamen yang mengetuk pintu backstage mendadak memutus ketegangan intim di antara mereka.

Axel terdiam sejenak, menatap Jasmine yang masih membisu dengan mata yang berkaca-kaca. Perlahan, ia melepaskan genggaman tangannya, berdiri tegak dengan postur tubuhnya yang kembali kaku dan berwibawa. Ia membalikkan badannya, meraih headset gaming miliknya di atas meja. "Pakai peralatan kamu, Jasmine. Ayo kita tunjukkin sama mereka siapa pemilik panggung ini yang sesungguhnya," ucap Axel tegas, kembali mengenakan topeng sang kapten tanpa cela.

Jasmine menarik napas panjang, mencoba mengusir pergolakan emosional yang berkecamuk di dalam dadanya. Ia berdiri, memasang headset hitamnya, dan melangkah beriringan bersama Ilias, Kenzie, dan Bryan keluar dari ruang tunggu menuju lorong panjang yang dipenuhi cahaya benderang. Saat melangkah keluar menuju panggung utama London Copper Box Arena, di bawah sorakan gemuruh ribuan penonton yang memanggil nama tim mereka, Jasmine meraba kantung aromaterapi di sakunya untuk terakhir kali sebelum fokusnya sepenuhnya terkunci pada layar monitor pertandingan. Perang besar di panggung dunia telah resmi dimulai, namun di dalam hatinya, pertempuran emosional itu baru saja memasuki babak yang paling rumit.

1
Dhatu Lukita
semangat up teruss yaaa, niihhh ku kasih ⭐5, biar tambah semangat 😍
Dhatu Lukita
halo kak berkarya terus yaa semangaatt💪💪💪,
mampir juga d karyaku ya 🤭😍 "dukunganmu semangatku"
Fadillah Ahmad: Kalau ingin membacs Karya ini, baca sampai Bab 20 Kak! atau sampai Bab akhir! kalau hanya sampai Bab 5 terus berhenti, sama saja kakak, merusak retensi novel ini! Baca sampai Bab 20 Kak! jangan berhenti di tengah jalan!
total 1 replies
Dhatu Lukita
keinget mobil lejen🤭😄
Fadillah Ahmad
Mohon maaf sebelumnya, ya! Sinopsisnya kurang Menarik! Mohon di Ubah dulu.

Maaf, jangan tersinggung ya! 🙏🙏🙏 Karena... Novel Kakak Maauk ke Beranda-ku! Di Promosikan Oleh Pihak NovelToon. Jadi, mohon untuk di ubah dulu Kak! 'Kalau Bisa' Karena, aku melihat, Sinopsisnya Kurang mengigit! alias Kurang memunculkan Rasa Penasaran Pembaca! 🙏🙏🙏

Maaf ya Kak! Jangan Tersinggung. 🙏🙏🙏😁

Terima Kasih 🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!