Wan Chen tidak ingin menyelamatkan dunia.
Ia hanya ingin kaya.
Untungnya, saat berada di ambang kematian, ia memperoleh Sistem dengan kemampuan Duplikasi dan Penyimpanan Dimensional.
Dan di dunia yang kekurangan segalanya, tidak ada kemampuan yang lebih menakutkan dari itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 - Memahami Batasan Sistem
Cahaya biru berkedip konstan. Kata 'Duplikasi' berdenyut monoton tepat di tengah retina matanya.
Ia masih duduk kaku di tepi kasur. Matanya mengawasi panel virtual itu layaknya mengawasi anomali berbahaya. Hening turun menyergap. Ruangan sempit berbau apak ini seolah menahan napas bersamanya.
Besi pengunci pintu di belakangnya masih tertahan kuat. Ganjalan kursi kayu reyot tidak bergeser sedikit pun. Privasi absolut. Di dunia yang isinya penuh parasit jalanan, empat sisi tembok tertutup adalah bentuk pertahanan primer.
'Mari kita lihat jebakan apa yang kau sembunyikan,' batin Wan Chen.
Tangannya terulur santai ke depan. Jari telunjuknya menyentuh teks bercahaya itu. Panel bereaksi seketika. Layar utama melebar perlahan, menyisakan sebuah kotak kosong tiga dimensi bergaris putih yang menanti objek sasaran.
Ia mengedarkan pandangan. Ia butuh sampel pengujian tingkat bawah. Benda tanpa harga.
Sebuah gelas kaca kusam peninggalan penyewa kamar sebelumnya tergeletak di ujung meja. Wan Chen bangkit dan meraupnya. Benda berkerak bekas air itu ia sodorkan persis ke dalam batas proyeksi cahaya antarmuka.
Sistem tidak memberikan jeda ragu. Garis laser virtual berwarna perak memindai dari atas bibir gelas lurus ke dasarnya.
Dalam hitungan tiga detik, debu biru berkumpul di udara. Mengendap dan memadat persis di sebelah gelas asli. Cahayanya berpendar tipis sebelum hilang tak berbekas.
Dua gelas kusam kini berdiri sejajar. Persis sama. Sampai ke pola retakan cacat di bagian lengkung permukaannya.
Wan Chen menghembuskan napas pelan. "Benar-benar salinan sempurna."
Ia mengetuk gelas baru itu dengan kuku jarinya. Bunyinya padat. Materialnya riil. Sama dinginnya dengan yang asli.
Ia kembali duduk ke tepian kasur. Tatapannya kini beralih pada lengan kirinya sendiri. Sisa perban medis kotor dari pasar gelap membebat kasar goresan lukanya.
Jemarinya menarik ujung kain murah itu, merobek paksa bagian yang longgar dan menyisakan sedikit noda darah kering muda. Potongan itu ia lemparkan ke atas meja, masuk ke dalam sangkar proyeksi sistem.
'Lagi,' perintahnya di dalam kepala.
Mekanisme yang sama berulang otomatis. Ritmenya konstan dan senyap.
Dua sobekan kain kumal seketika tergeletak berdampingan. Warnanya kusam. Pola bercak merah kecokelatannya akurat tanpa deviasi milimeter pun.
Wan Chen menekan telapak tangan ke dadanya. Merasakan denyut organ internalnya.
Tidak ada kelainan. Ritme jantungnya teratur. Tenaga dari kalori porsi daging panggang mahal barusan tidak terkuras sepersen pun.
Ia memutar lehernya, membunyikan persendian kaku.
"Barang sampah ternyata tidak menuntut tarif," gumam Wan Chen, suaranya sangat datar. "Cukup masuk akal."
Eksperimen fase pertama membuktikan satu premis mutlak. Menggandakan materi sederhana tidak membawa risiko.
Waktunya menaikkan kelas pengujian.
Tangannya merogoh saku dalam jaket tebalnya. Ia menarik segepok tipis uang kertas prabencana, sisa kredit fisik transaksinya di meja Paman Zhao siang tadi.
Ini bukan barang buangan. Ini uang sungguhan. Lembarannya terbuat dari material khusus berbalut serat mikro padat yang tidak bisa direplikasi oleh mesin cetak pasar kumuh mana pun.
Satu lembar ia pisahkan perlahan. Ia menaruh pelat tipis bernilai tinggi itu di hadapan antarmuka dengan hati-hati.
'Eksekusi.'
Reaksi pemindai langsung berubah drastis. Cahaya proyeksi menyala terang benderang hingga menyilaukan sudut kamar. Garis peraknya bergerak sangat lambat, seakan harus mengunyah molekul padat yang membangkang.
Kemudian hal itu terjadi tanpa peringatan sama sekali.
Sakit yang sungguh luar biasa menghantam langsung saraf pangkal kepalanya. Sensasinya persis seperti paku baja berkarat yang dipukul paksa masuk menembus tulang tengkoraknya dari dalam.
Wan Chen tersentak hebat. Tubuhnya terpelanting ke belakang.
Bahu kanannya berdebam menghantam dinding beton. Paru-parunya langsung mengosongkan udara.
"Ukh... Sialan!" erangnya tersendat.
Tangannya sontak mencengkeram kasar rambutnya sendiri. Kuku jarinya menekan kulit kepala, mati-matian berusaha mengimbangi denyut liar di pelipis.
Pandangannya terbelah menjadi bayangan ganda yang memusingkan. Suara statis merobek pendengarannya sesaat.
Ia tersungkur setengah berlutut menahan kasur tipis di bawahnya. Tarikan napasnya menjadi kasar.
Oksigen di dalam kamar pengap ini seolah mendadak dikosongkan. Jaringan ototnya meronta, merespons seperti mesin tua yang baru saja diperas daya baterainya jauh melampaui kapasitas wajar.
Di depan sana, pendaran sistem perlahan padam. Tugasnya selesai.
Dua lembar uang prabencana kini tergeletak berdampingan. Seratnya kembar tak terbedakan.
Sistem segera menyorongkan notifikasi pop-up. Teks merah menyala menyerbu visinya, menutupi sebagian pandangan yang masih kabur.
Peringatan Ekstraksi Vitalitas. Ambang batas tubuh tercapai. Kompleksitas struktural, kepadatan partikel, dan esensi intrinsik objek akan menguras stamina fisik secara absolut berbanding lurus dengan nilai aslinya.
Wan Chen membaca runtutan aksara dingin itu dengan kelopak mata yang masih menyipit nyeri. Rasa mual pahit menendang pangkal tenggorokannya perlahan.
Ia melepaskan cengkeraman dari kepalanya. Menarik napas dalam berulang kali.
Otot lehernya diregangkan secara manual. Langkah kakinya diseret berat mendekati kasur lantai.
Tubuhnya dijatuhkan begitu saja. Duduk menyandar pada tembok dingin di belakangnya.
Keringat dingin membasahi penuh punggung dan garis lehernya. Jasmaninya serasa disedot habis. Sensasi fisiknya mirip seperti rutinitas kabur dari kejaran monster korupsi tiga blok tanpa jeda napas. Lelah ekstrem.
Namun, tidak ada umpatan panik yang keluar. Tidak ada amarah.
Ujung bibir Wan Chen perlahan tertarik. Ia tersenyum sangat tipis. Sangat murni dan kalkulatif.
'Bagus. Keajaiban gratisan memang selamanya hanya ilusi orang tolol.'
Sistem semesta punya aturan main yang rigid. Harga duplikasi sebuah keajaiban ternyata ditukar langsung dengan energi biologisnya sendiri.
Otaknya menyusun potongan-potongan deduksi dengan gesit.
Materi tanpa kompleksitas dan tanpa harga jual seperti gelas bekas dan kain perban bisa digandakan sepuasnya. Benda dengan densitas padat dan nilai tukar riil seperti uang kredit langsung merampas vitalitasnya.
Kalkulasi logis ini membuat jalur pikirannya terang benderang.
"Sungguh praktis," tuturnya pada dinding kotor di seberang sana.
Jika ia bersikap bodoh dan berani menduplikasi senjata mutakhir militer siang tadi. Atau jika ia mencoba menggandakan Core elemen kelas A hari ini juga. Tidak akan ada peringatan rasa sakit. Tubuhnya dipastikan akan langsung mengering seperti mayat mumi, mati terisap hingga sel terakhir.
Fisiknya saat ini jelas tergolong kategori gembel jalanan. Kekurangan gizi akut, lemah, dan nyaris hancur digerogoti lingkungan radiasi. Terlalu rapuh untuk menanggung beban ilahi.
Namun batas ini bukan jalan buntu bagi ambisinya. Ini sama sekali bukan cacat sistem.
'Ini hanya target numerik yang harus kulewati,' gumam logikanya tajam.
Tujuannya menjadi terang dan pasti. Ia kini wajib berfokus penuh mencari sarana, suplemen, atau pemicu apa pun yang bisa menaikkan kekuatan jasmani dan daya vitalitas dasar tubuhnya secara gila-gilaan.
Bila kelak ia berhasil memiliki badan sekeras baja mutan tingkat tinggi, fasilitas ini resmi menjelma menjadi pabrik pasokan tempur paling mematikan di distrik ini. Tanpa batas.
Napasnya mulai kembali berirama wajar, meski otot bahunya masih meninggalkan jejak gemetar samar.
Wan Chen paham betul batas badannya. Uji coba manipulasi materi dihentikan detik ini juga. Jatah duplikasi hariannya sudah masuk zona merah.
Tangannya bergerak perlahan menepis kotak opsi di udara. Menu 'Duplikasi' memudar tertelan layar antarmuka.
Tatapan analitisnya kini turun mendaki deretan fitur yang belum tersentuh di bawah sana.
Pandangannya tertahan pada opsi kedua dari sistem suplainya.
Panel pasif bertuliskan 'Penyimpanan Dimensional'.
Teks itu mulai berpendar redup menyambut atensinya yang terkunci rapat. Wan Chen menopang dagunya pelan, bersiap membedah fungsi brankas tak kasat mata miliknya ini.