Shanum gadis desa yang harus bekerja keras untuk kebutuhan hidupnya dan juga keluarganya. Di tengah kesulitan ekonominya, ia terus menjadi perbincangan orang-orang disekitarnya karena di usianya yang akan menginjak 30 tahun, ia belum saja menikah.
Karena merasa malu, Ibunya meminta tolong salah satu orang yang dikenal sebagai mak comblang di desanya agar mencarikan laki-laki untuk Shanum, hingga akhirnya mak comblang tersebut memperkenalkan Shanum dengan seorang pria yang merupakan cucu dari salah satu warga desa yang terpandang di desa.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Shanum akan menerima pria tersebut? Siapakah pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sudah Siap Semuanya?
Sepeda motor yang dikendarai Abi melaju perlahan membelah jalanan desa yang mulai temaram, angin sore Klaten yang membawa aroma tanah persawahan menerpa wajah Shanum, namun kali ini rasanya tidak lagi menyesakkan. Di depannya, punggung tegap Abi menjadi tameng dari tatapan-tatapan tajam yang masih saja menghujam dari teras-teras rumah warga.
Saat melewati pos ronda dekat balai desa, kerumunan pria dan ibu-ibu seketika menghentikan pembicaraan mereka, mata mereka membelalak dan mengikuti pergerakan motor yang dikendarai Abi.
"Lihat itu, si Shanum. Benar-benar jadi Nyonya ya sekarang," bisik Bu Febby dengan nada yang kental akan rasa iri, tangannya yang sedang memegang keresek sayuran sampai tertahan di udara.
"Iya, ya. Padahal kemarin-kemarin dibilang nggak laku. Kok bisa dapat yang ganteng, gagah dan kaya begitu? Pakai pelet apa ya?" timpal Bu Vita sambil mencibir, meski matanya tak lepas menatap jaket mahal yang dikenakan Abi.
Shanum mendengar sayup-sayup bisikan itu refleks ia menundukkan kepala dan mencoba bersembunyi di balik pundak suaminya hingga menjauh dari kerumunan tersebut.
Beberapa saat kemudian, Abi dan Shanum sampai di rumah Mbah Wira. Shanum turun dari motor dengan gerakan yang masih kaku, ia memegang tas kain berisi pakaiannya seolah itu adalah satu-satunya pegangan hidup yang tersisa. Di teras rumah joglo, lampu-lampu gantung antik mulai menyala dan memberikan kesan agung yang selalu sukses membuat nyali Shanum menciut.
"Masuklah, simpan barang-barangmu. Saya mau mengembalikan motor Om Panji sebentar ke garasi belakang," ucap Abi datar.
Suaranya tidak kasar, tapi cara bicaranya seringkali membuat Shanum bingung harus merespons seperti apa selain mengangguk.
"Iya, Mas," jawab Shanum lirih.
Shanum melangkah masuk ke dalam rumah, keadaan di dalam cukup sibuk, di mana Manda sedang asyik menutup koper besarnya di ruang tengah sambil bersenandung kecil, dan begitu melihat Shanum, Manda mendongak lalu tersenyum manis.
"Eh, Mbak Shanum! Sudah selesai pamitannya? Duh, Mbak, siap-siap ya, Bandung itu dingin, tapi nggak sedingin kulkas kok. Nanti kalau sudah di sana, kita jalan-jalan ke mall ya!" seru Manda ceria.
Shanum tersenyum canggung. "I-iya," jawab Shanum.
Di sudut lain, Bunda Rina terlihat sedang mengawasi asisten rumah tangga yang sedang membungkus oleh-oleh berupa beras merah dan emping melinjo pesanan teman-temannya di Bandung.
Begitu matanya bertemu dengan mata Shanum, senyum ramah yang tadi ditujukan pada asisten rumah tangga itu mendadak memudar dan digantikan tatapan kaku pada menantunya itu.
"Sudah bawa semua bajumu, Shanum? Pastikan tidak ada yang tertinggal. Di Bandung nanti, kamu tidak akan punya waktu untuk bolak-balik ke sini hanya untuk mengambil baju lama," ucap Bunda Rina.
"Sudah, Bunda. Hanya satu tas ini," jawab Shanum sambil menunjukkan tas kainnya.
Bunda Rina menatap tas kain yang nampak kusam itu dengan alis yang bertaut sedikit, "Hanya itu? Ya sudah, nanti Abi yang urus sisanya," ucap Bunda Rina.
Shanum merasa seperti duri di tengah hamparan sutra, ia segera naik ke kamar atas untuk menghindari tatapan menghakimi yang ia rasakan dari Ibu mertuanya. Di dalam kamar, Shanum duduk di pinggir ranjang, menatap tas kainnya yang diletakkan di lantai jati yang mengkilap.
.
Pagi harinya, Abi sekeluarga sudah bersiap-siap untuk berangkat, di mana ia mukai bersiap setelah salat subuh.
"Sudah siap semuanya?" tanya Abi yang muncul dari kamar mandi dengan wajah segar setelah berwudhu.
"Sudah, Mas," jawab Shanum pelan.
Di bawah, suasana perpisahan terasa mengharukan, Mbah Dyah memeluk Shanum sangat erat, matanya berkaca-kaca. "Nduk, jaga dirimu baik-baik di sana. Sabar sama Abi, ya. Sering-sering telepon Mbah," bisik Mbah Dyah.
Shanum hanya bisa mengangguk, tenggorokannya tercekat oleh rasa haru yang luar biasa. Baginya, Mbah Dyah adalah malaikat yang menariknya dari jurang kehinaan di desanya sendiri.
Pukul 5 pagi tepat, mobil SUV hitam milik Ayah Aris sudah terparkir di halaman depan dengan bagasi yang penuh sesak. Dengan barang-barang bawaan, mulai dari koper pakaian hingga kardus berisi oleh-oleh khas Klaten, memenuhi hampir setiap sudut kendaraan.
"Ayo, semuanya masuk. Perjalanan jauh, kita harus ngejar waktu supaya nggak terjebak macet di jalanan nanti," ucap Ayah Aris sambil mengecek kunci pintu rumah.
Sesuai pembagian posisi, Abi mengambil alih kemudi, Ayah Aris duduk di kursi penumpang depan. Sementara itu, di baris belakang, keadaan nampak sangat padat, Bunda Rina duduk di sisi kiri, Manda di tengah dan Shanum di sisi kanan, mepet dengan pintu.
Di sela-sela kaki mereka dan di sisi kosong kursi belakang, terjepit beberapa tas jinjing dan plastik berisi makanan ringan untuk di jalan.
"Duh, sempit banget ya, Mbak Shanum? Maaf ya, barang bawaan Bunda banyak banget, soalnya pesanan temen arisannya harus dibawa semua," celetuk Manda sambil mencoba menggeser tas punggungnya agar tidak menekan paha Shanum.
"Nggak apa-apa, Manda," jawab Shanum dengan senyum tulus, meski bahunya sudah bersentuhan langsung dengan tumpukan barang.
Mobil mulai bergerak perlahan meninggalkan halaman luas rumah Mbah Wira. Dari kaca spion, Shanum melihat Mbah Wira dan Mbah Dyah melambai hingga sosok mereka hilang ditelan tikungan jalan desa.
Sepanjang perjalanan keluar dari wilayah Klaten, suasana di dalam mobil cukup tenang. Abi fokus menyetir dengan tangan yang stabil di lingkar kemudi, Ayah Aris sesekali berbincang ringan dengan Abi tentang rute tol yang akan diambil. Namun, di baris belakang, ketegangan kecil mulai terasa.
Bunda Rina tampak sibuk dengan ponselnya da sesekali beliau membetulkan posisi duduknya yang terasa sempit, setiap kali kakinya tak sengaja menyentuh tas kain milik Shanum yang diletakkan di bawah, ia akan mendengus pelan dan menggesernya dengan ujung sepatu hak rendahnya.
"Abi, nanti kita berhenti di rest area ya. Bunda mau beli kopi, kepala Bunda agak pusing karena desak-desakan begini," ucap Bunda Rina dengan nada yang sengaja dikeraskan.
"Iya, Bun. Nanti di kilometer depan kita berhenti sebentar," jawab Abi tanpa menoleh.
Shanum hanya bisa diam, ia merasa bersalah karena kehadirannya membuat ruang di mobil itu semakin sesak, ia mencoba mengecilkan tubuhnya dan menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin.
Begitu mobil memasuki area parkir rest area yang luas, Abi mematikan mesin. Ayah Aris langsung turun untuk meregangkan otot-ototnya dan disusul Manda yang tampak sangat bersemangat.
"Ayo, Mbak Shanum turun! Biar kakinya nggak kaku," ajak Manda ceria, di mana ia sudah turun melalui pintu sebelah kiri.
.
.
.
Bersambung.....
pasti keduanya akan merasa kecanduan setelah merasakan nikmatnya Sorga Dunia😊