Ternyata di belahan dunia ini masih tersisa seorang pria berhati malaikat. Meski semua orang tak mempercayai itu. Sebab yang mencintaiku itu adalah seorang mafia jahat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Sakit
"Laila!" Zayn berseru, suaranya parau karena kaget dan marah.
Vas bunga itu hancur berkeping-keping, air dan kelopak bunga lili putih berhamburan di lantai yang dipoles. Laila terhuyung-huyung, tangannya gemetar menangkis pukulan itu, matanya terbelalak kaget. Jasmine berdiri di atasnya, dadanya kembang kempis karena kemarahan yang meluap-luap.
Oleh karena kemarahannya, seluruh ruang balroom menjadi ricuh.
"Kau jalang! Kau pikir kau bisa merebutnya dariku? Kau bukan siapa-siapa! Kau hanya mainan sementara baginya!" Jasmine berteriak, suaranya bergema di ballroom yang sunyi.
Zayn segera berlari ke sisi Laila, matanya dipenuhi kekhawatiran yang mendalam. "Laila, kau baik-baik saja? Bicaralah padaku," katanya, suaranya lembut tapi tegang.
Laila hanya menggelengkan kepalanya, matanya masih terbelalak kaget. Dia tampaknya tidak terluka secara fisik, tapi kejutan dari serangan Jasmine membuatnya terguncang.
Zayn kemudian berbalik menatap Jasmine, matanya menyipit marah. "Apa yang kau lakukan, Jasmine? Kau gila?!"
Jasmine hanya tertawa, tawa yang terdengar histeris dan gila. "Gila? Aku tidak gila! Akulah yang seharusnya bersamamu, Zayn! Akulah yang mencintaimu, bukan jalang ini!"
Pak Surya, yang tadinya diam, akhirnya angkat bicara. "Jasmine, kau harus tenang. Kau membuat kegaduhan."
Jasmine melirik Pak Surya, matanya dipenuhi kebencian. "Diam kau! Kau tidak mengerti! Tidak ada yang mengerti!"
Dia kemudian menunjuk ke arah Laila. "Kau, jalang! Kau pikir kau bisa menang? Kau pikir kau bisa mengambil segalanya dariku? Kau salah! Aku akan menghancurkanmu!"
Gion, yang tadinya hanya menonton, akhirnya memutuskan untuk ikut campur. Dia melangkah maju, mencoba menenangkan Jasmine. "Jasmine, kau harus tenang. Kita tidak ingin membuat keributan di sini."
Jasmine menatap Gion, matanya dipenuhi jijik. "Kau? Kau ingin menenangkanku? Kau hanya seorang pecundang! Kau tidak ada apa-apanya!"
Mama Ratih, yang tadinya sibuk mengambil foto selfie, akhirnya menyadari apa yang sedang terjadi. Dia meletakkan ponselnya, wajahnya dipenuhi kekhawatiran. "Gion, apa yang kau lakukan? Jangan ikut campur!"
Gion mengabaikan Mama Ratih. Dia terus mencoba menenangkan Jasmine, tapi Jasmine terus berteriak dan memaki Laila.
Zayn, yang melihat situasi semakin tidak terkendali, akhirnya memutuskan untuk mengambil tindakan. Dia mengangkat Laila ke dalam pelukannya, matanya dipenuhi tekad. "Kita harus pergi dari sini, Laila. Aku akan membawamu ke rumah sakit."
Dia kemudian menatap Jasmine, matanya penuh ancaman. "Jika kau berani menyentuhnya lagi, Jasmine, aku akan menghancurkanmu. Mengerti?"
Jasmine hanya tertawa, tawa yang terdengar histeris dan gila. "Hancurkan aku? Kau tidak bisa menghancurkanku, Zayn! Akulah yang akan menghancurkanmu! Akulah yang akan menghancurkan kalian berdua!"
Zayn mengabaikan Jasmine. Dia membawa Laila keluar dari ballroom, meninggalkan Jasmine yang masih berteriak dan memaki.
"Jasmine, kau harus tenang. Kita tidak ingin membuat keributan di sini," kata Sarah, mencoba menenangkan Jasmine.
Jasmine menatap Sarah, matanya dipenuhi kebencian. "Kau! Kau juga! Kau pikir kau bisa lari? Kau pikir kau bisa bersembunyi? Tidak! Aku akan menemukanmu! Aku akan membalas dendam!"
Pak Surya, yang tadinya hanya diam, akhirnya angkat bicara. "Sarah, kau harus pergi. Kau tidak aman di sini."
Sarah melirik Pak Surya, matanya dipenuhi ketakutan. "Tapi, Pa..."
Pak Surya memotong kata-kata Sarah. "Pergi sekarang, Sarah! Jangan biarkan Jasmine menemukanmu."
Sarah mengangguk, dia kemudian berbalik dan berlari keluar dari ballroom. Jasmine hanya menatap Sarah, matanya dipenuhi kebencian.
"Kau! Kau pikir kau bisa lari? Kau pikir kau bisa bersembunyi? Tidak! Aku akan menemukanmu! Aku akan membalas dendam!" Jasmine berteriak, suaranya bergema di ballroom yang sunyi.
Pak Surya melirik Jasmine, matanya dipenuhi penyesalan. "Jasmine, kau harus tenang. Kau membuat kegaduhan."
Jasmine melirik Pak Surya, matanya dipenuhi kebencian. "Diam kau! Kau tidak mengerti! Tidak ada yang mengerti!"
Zayn, yang telah tiba di rumah sakit, segera membawa Laila ke unit gawat darurat. Dia menjelaskan apa yang terjadi kepada dokter, dan Laila segera diperiksa. Dokter mengatakan bahwa Laila hanya menderita luka ringan, tapi dia harus tetap di rumah sakit untuk observasi.
Zayn mengepalkan tinjunya hingga buku-bukunya memutih saat ia menatap punggung Laila yang sedang diperiksa dokter di balik tirai IGD. Amarahnya bukan lagi sekadar api yang memercik, melainkan lahar dingin yang siap membekukan siapa pun yang berani menyentuh miliknya. Jasmine telah melewati batas yang tidak bisa dimaafkan.
"Jaga dia. Jangan biarkan siapapun mendekat tanpa izinku," geram Zayn kepada pengawal pribadinya yang berjaga di depan pintu.
Zayn melangkah ke lorong rumah sakit yang sepi, mengeluarkan ponsel dari saku jasnya yang kini kusut. Matanya menyala penuh tekad penghancuran. Ia mendial sebuah nomor yang tersimpan di daftar kontak yang paling jarang ia hubungi—nomor yang hanya digunakan saat ia ingin melenyapkan eksistensi seseorang dari dunia bisnis dan sosial.
"Hancurkan keluarga Jasmine Baskoro malam ini juga," ucap Zayn tanpa basa-basi begitu panggilan tersambung. Suaranya rendah, parau, dan mengandung ancaman yang nyata.
"Tuan Zayn? Maksud Anda... semuanya?" suara di seberang telepon terdengar ragu.
"Semuanya! Cabut seluruh investasi kita di perusahaan ayahnya. Bekukan aset Jasmine atas nama pencemaran nama baik dan penyerangan fisik. Aku ingin besok pagi dia bangun tidak memiliki apa-apa lagi selain baju yang melekat di badannya. Pastikan dia tahu bahwa menyerang Laila adalah tiket satu arah menuju kehancuran."
Zayn memutus sambungan telepon dengan kasar. Napasnya masih menderu. Pikirannya kembali ke ballroom tadi; bayangan vas bunga yang hancur dan tatapan ketakutan Laila terus menghantui benaknya. Baginya, Jasmine bukan lagi sekadar mantan tunangan yang obsesif, melainkan hama yang harus segera dibasmi.
Ia kemudian mengirimkan satu pesan singkat kepada Pak Surya: "Amankan putrimu di rumah sakit jiwa atau biarkan hukumanku yang menyeretnya ke penjara bawah tanah. Pilih dengan bijak sebelum matahari terbit."
Kemarahan Zayn perlahan berubah menjadi perlindungan yang posesif. Ia kembali ke dalam ruangan, duduk di samping tempat tidur Laila, dan menggenggam tangan wanita itu yang masih terasa dingin.
"Tidak akan ada lagi yang bisa menyentuhmu, Laila," bisiknya dengan nada yang mematikan. "Jasmine akan segera memohon untuk sekadar bisa menghirup udara yang sama denganmu."