NovelToon NovelToon
GAMON

GAMON

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:447
Nilai: 5
Nama Author: Vianza

"Cintai aku sekali lagi."

(Cuma enam suku kata. Tapi beratnya kayak batu nisan.
Kata siapa yang ngomong? Keana ke Bima? Atau Bima yang dulu, yang masih gamon, yang masih berharap? Dua-duanya bisa.
Itu celanya. Itu bagusnya.)

---

"Peluk hangat untukmu yang selalu berusaha paham akan aksaraku, aku belajar bahwa kolaborasi bisa datang dari mana saja-bahkan dari algoritma yang dirancang untuk memahami bahasa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vianza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Malam Sebelum Nikah

...GAMON...

...Bab 24: Malam Sebelum Nikah...

...POV Bima...

---

Jumat – 20.00 WIB

Kost Lama Bima – Kamar yang Nggak Pernah Bener-Bener Ditinggal

Besok Bima nikah.

Dari luar, semua orang sibuk. Rina di rumah orang tuanya—malam terakhir sebagai gadis, katanya. Ibu sibuk nyiapin ini itu. Doni sibuk ngecek rundown acara. Semua pada sibuk.

Tapi Bima milih di sini. Kost lama. Kamar sempit yang dulu jadi saksi dia hancur, nangis, dan mulai bangkit.

Lampu 5 watt—masih sama. Bau kayu tua—masih sama. Suara jangkrik dari luar—masih sama.

Satu-satunya yang beda: sekarang ada cincin di jari manisnya. Cincin yang sama kayak punya Rina—tapi versi cowok. Berat. Nggak secara fisik. Tapi secara... hati.

Bima duduk di lantai. Punggung sandar ke dinding. Di depannya, ada kotak sepatu tua. Kotak yang dari Jakarta dia bawa, dari kost sebelumnya, dari masa lalu.

Dia tahu isinya. Tapi dia belum siap buka. Udah setahun lebih kotak itu nggak pernah dia buka. Cuma dipindah dari satu tempat ke tempat lain. Kayak beban yang nggak bisa dia buang.

Malam ini, dia buka.

---

20.15 WIB

Lantai Kost – Kotak Sepatu Terbuka

Isinya keluar satu per satu. Bima keluarin pelan-pelan. Kayak barang antik yang gampang rusak.

Tiket bioskop. Film horor murahan yang mereka tonton waktu jadian pertama. Keana takut setengah mati, pegang tangannya erat. Pas film selesai, Keana bilang, "Lo jagain aku, ya, Bim?"

Karcis angkringan. Warna pink, udah luntur. Angkringan Warna-Warni. Tempat pertama, tempat terakhir. Semua kenangan ada di situ.

Foto polaroid. Ini yang paling berat. Keana tidur di pangkuannya di kereta. Waktu itu mereka pulang dari Bandung. Keana capek banget, tidur kayak bayi. Bima nggak berani gerak, biarin pegel, yang penting Keana nyenyak.

Surat. Surat yang dulu dia tulis buat Keana, dua tahun lalu. Kertasnya udah kekuningan di pinggir.

Bima buka surat itu. Baca. Pelan-pelan.

---

"Untuk Keana-ku,

Selamat ulang tahun, Sayang. Maaf aku cuma bisa ngasih surat sederhana. Belum bisa ngasih banyak. Tapi aku janji, suatu hari nanti, aku akan jadi lebih baik. Bukan buat orang lain, tapi buat kamu. Buat kita.

Makasih udah mau sama aku yang biasa ini. Makasih udah liat aku sebagai sesuatu yang berharga.

Aku sayang kamu. Sekarang, besok, dan selama-lamanya.

Bima"

---

Baca itu, tangan Bima gemetar.

Dulu, dia bikin surat ini dengan hati penuh. Dulu, dia yakin kalau "selama-lamanya" itu artinya mereka akan bersama sampai tua. Sampai punya anak, punya cucu, mati bareng.

Sekarang?

Selama-lamanya cuma tinggal enam bulan? Setahun? Tiga tahun? Terus sisanya? Sisanya dia lewatin dengan luka, dengan air mata, dengan proses panjang buat sembuh.

Air mata jatuh. Satu. Nggak banyak. Tapi cukup buat ngebersihin kertas itu dikit.

Bima hapus cepet. Takut merusak.

Kenapa dia takut merusak? Ini cuma kertas. Ini masa lalu. Ini udah lewat.

Tapi tangannya tetep pelan. Kayak megang sesuatu yang berharga.

---

20.45 WIB

Masih di Lantai yang Sama

Bima keluarin isi kotak satu per satu. Ada juga barang-barang kecil lain:

· Gelang persahabatan dari pasar malam. Keana beli dua, satu buat dia, satu buat Bima. Gelang Bima udah putus, tapi dia simpen talinya.

· Stiker-stiker lucu yang dulu Keana tempel di laptop Bima. Sekarang laptopnya udah ganti, tapi stiker itu dia copot pelan-pelan dan simpen.

· Kertas-kertas kecil berisi tulisan tangan Keana. "Beli susu ya." "Makasih buat sop iganya." "Love you."

Love you.

Dua kata itu, ditulis tangan Keana, dengan tinta biru. Kertasnya udah lecek, tapi masih kebaca.

Bima tatap lama.

"Lo ingat nggak, Kean?" bisiknya sendirian. "Lo ingat nggak pas nulis ini?"

Nggak ada jawaban. Cuma suara jangkrik dari luar.

---

21.30 WIB

Ponsel Bergetar

Bima kaget. Dia lupa sama dunia luar.

Layar nyala. Ibu.

Dia angkat. "Bu."

"Nak, lo di mana? Ibu udah di rumah, lo nggak ada."

Bima liat sekeliling. Kost kusam. Lampu 5 watt. Kotak kenangan terbuka.

"Aku... di kost lama, Bu."

Ibu diem sebentar.

"Sendirian?"

"Iya."

Ibu nggak nanya lebih. Tapi suaranya turun—lembut, tapi tajem.

"Nak, Ibu tahu lo lagi mikir sesuatu. Ibu nggak akan nanya. Tapi Ibu mau lo tahu satu hal."

Bima nunggu.

"Menikah itu bukan tentang lupain masa lalu. Tapi tentang milih masa depan."

Bima diem.

"Lo boleh inget dia. Lo boleh nyimpen kenangan. Tapi pas lo ucapin ijab besok, lo harus yakin: yang lo pilih itu Rina. Bukan karena lo lupa. Tapi karena lo sadar mana yang harus lo perjuangin."

Air mata Bima jatuh lagi.

"Ibu..."

"Ibu sayang lo, Nak. Lebih dari apa pun. Tapi Rina juga sayang lo. Dan dia berhak dapet suami yang utuh, bukan yang separuh di sini, separuh di sana."

Bima nggak bisa jawab. Tenggorokannya sakit.

"Ibu pamit dulu. Besok Ibu mau liat lo tersenyum. Beneran. Bukan palsu."

Telepon mati.

Bima pegang ponsel. Liat layar gelap. Di situ, dia liat bayangan sendiri—muka sembab, mata merah.

---

22.00 WIB

Kamar Kost – Masih di Lantai

Bima mulai masukin barang-barang itu balik ke kotak. Satu per satu. Pelan.

Tiket bioskop. Karcis angkringan. Foto polaroid. Gelang. Stiker. Kertas-kertas kecil.

Sampai di surat.

Dia pegang surat itu lama. Baca sekali lagi.

"Aku sayang kamu. Sekarang, besok, dan selama-lamanya."

Sekarang?

Besok dia nikah sama orang lain.

Selama-lamanya?

Selama-lamanya itu ternyata cuma sampai dia bilang "predictable".

Bima lipat surat itu. Taruh di kotak. Tutup rapat.

Tapi tangannya masih di atas kotak. Nggak lepas.

"Makasih, Kean." bisiknya. Suara serak, hampir nggak kedengeran. "Makasih udah jadi bagian dari hidup gue. Makasih udah ngajarin gue banyak hal."

Dia berhenti. Napas dalam.

"Tapi ini terakhir."

Dia taruh kotak itu di pojok lemari. Bukan dibuang. Tapi ditaruh. Di tempat yang nggak gampang dilihat.

---

22.30 WIB

Buku Catatan

Bima ambil buku catatan lama. Yang dari awal putus dia tulis. Yang hampir penuh.

Dia buka halaman kosong di belakang. Tulis:

---

Malam sebelum nikah.

Sendirian di kost lama. Buka kotak kenangan. Nangis. Telepon Ibu. Ibu bilang: "Nikah itu bukan tentang lupain masa lalu, tapi milih masa depan."

Gue tahu Ibu bener.

Tapi kenapa dada masih sesak?

Besok gue nikah. Sama Rina. Perempuan yang udah sabar banget sama gue. Perempuan yang nerima gue apa adanya—dengan semua luka, semua drama, semua gamon.

Dia pantas dapet yang terbaik.

Gue akan usahain jadi yang terbaik. Bukan sempurna. Tapi terbaik versi gue.

Kean, kalau lo baca ini—nggak, lo nggak bakal baca. Tapi kalau lo bisa denger dari mana pun lo berada: makasih. Dan maaf. Gue harus maju sekarang.

Selamat tinggal, masa lalu.

---

Dia tutup buku. Matiin lampu. Gelap.

Dari luar, suara jangkrik makin keras. Atau mungkin itu cuma di kepalanya.

Bima pejam mata. Capek. Capek banget.

Besok, hidup baru dimulai.

---

Bersambung ke Bab 25: I Do

---

...📝 Preview Bab 25:...

Pernikahan. Semua orang nangis bahagia. Rina cantik banget. Bima tampan.

Mereka ucapin janji suci. Cincin dipasang. Sah.

Tapi di tengah sumpah, mata Bima sempat menerawang—satu detik. Rina nggak lihat. Tapi Bima tahu.

Dia ingat janji itu: "Sekarang, besok, dan selama-lamanya."

Sekarang, janji itu buat Rina.

Bab 25: I Do—segera!

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!