NovelToon NovelToon
Kembali Sebelum Penghianatan

Kembali Sebelum Penghianatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Reinkarnasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nurizatul Hasana

Lisa Yang adalah wanita lembut yang percaya pada cinta. Ia menikah dengan pria yang ia cintai sepenuh hati, Arvin Pratama.
Namun pernikahan yang ia kira akan menjadi kebahagiaan justru berubah menjadi neraka.
Suaminya berubah menjadi pria dingin dan kejam. Lebih menyakitkan lagi, sahabatnya sendiri sejak kecil—Clara—ternyata adalah selingkuhan suaminya.
Selama bertahun-tahun Lisa dipermalukan, dimanfaatkan, dan diperlakukan seperti pembantu di rumahnya sendiri.
Pada akhirnya pengkhianatan itu mencapai puncaknya.
Lisa dibunuh oleh suaminya sendiri bersama sahabatnya demi merebut seluruh warisannya.
Saat napas terakhirnya hilang, Lisa bersumpah dalam hatinya.
"Jika aku diberi kesempatan hidup lagi... aku akan menghancurkan kalian berdua."
Namun keajaiban terjadi.
Lisa membuka mata dan menyadari dirinya kembali ke masa tiga tahun sebelum pernikahannya.
Kali ini Lisa tidak akan menjadi wanita bodoh yang sama.
Ia akan membalas semua pengkhianatan.
Dan dalam rencananya, ia mulai mendekati se

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 Permainan Yang Semakin Dekat

Hari mulai beranjak sore ketika Lisa akhirnya menyelesaikan sebagian besar pekerjaannya di perusahaan, dan meskipun ini adalah hari pertamanya benar-benar terjun langsung, ia tidak menunjukkan sedikit pun tanda kelelahan, justru sebaliknya ia terlihat semakin fokus dan tenang seolah-olah dunia seperti ini memang sudah seharusnya menjadi bagiannya sejak lama, lalu saat ia berdiri di dekat jendela ruang kerja sementara yang disiapkan untuknya, ponselnya kembali bergetar dan kali ini ia tidak perlu melihat layar terlalu lama untuk tahu siapa yang menghubunginya karena ritme dan waktunya sudah bisa ia prediksi dengan cukup akurat.

Lisa mengangkat panggilan itu dengan perlahan, suaranya tetap lembut namun tidak lagi sehangat dulu, sebuah keseimbangan yang sengaja ia jaga agar tidak terlihat menjauh tetapi juga tidak terlihat terlalu dekat.

“Ya, Arvin?” ucapnya dengan nada santai.

Di seberang sana terdengar suara Arvin yang sedikit lebih cepat dari biasanya, seolah ia sudah menunggu momen untuk berbicara sejak lama.

“Kamu lagi sibuk?” tanya Arvin, nada suaranya terdengar ringan namun jelas ada maksud di baliknya.

Lisa melirik beberapa dokumen di mejanya sebelum menjawab dengan tenang, “Lumayan, hari ini aku di kantor. Lagi mulai belajar banyak hal.”

Ada jeda singkat di sana, cukup untuk membuat Arvin mencerna kalimat itu sebelum akhirnya ia merespons dengan nada yang sedikit terkejut.

“Kantor? Maksudnya… perusahaan keluargamu?”

Lisa tersenyum kecil meskipun Arvin tidak bisa melihatnya.

“Iya, memangnya kenapa? Aneh ya aku ke sana?” jawabnya dengan nada yang terdengar ringan, namun sebenarnya ia sedang mengamati reaksi Arvin dengan sangat teliti.

“Bukan aneh… cuma tidak biasa,” jawab Arvin jujur, lalu ia tertawa kecil untuk menutupi keanehan yang ia rasakan, “tapi itu bagus sih, aku suka lihat kamu seperti ini.”

Lisa berjalan perlahan menuju kursinya dan duduk dengan santai, menyilangkan kaki dengan anggun sambil memutar pena di tangannya.

“Seperti apa?” tanyanya pelan.

“Lebih serius… lebih dewasa,” jawab Arvin, dan kali ini suaranya terdengar lebih tulus, seolah ia benar-benar tertarik dengan perubahan itu.

Lisa menatap kosong ke depan, lalu berkata dengan nada yang sedikit lebih dalam, “Orang bisa berubah, Arvin.”

Kalimat itu sederhana, tetapi cukup untuk membuat suasana di seberang sana sedikit hening.

Namun Arvin segera mengalihkan pembicaraan, seolah tidak ingin terlalu lama berada di topik itu.

“Kalau begitu… malam ini kamu free?” tanyanya.

Lisa tidak langsung menjawab, ia sengaja membiarkan beberapa detik berlalu agar Arvin merasakan sedikit ketidakpastian.

“Mungkin,” jawabnya akhirnya. “Kenapa?”

“Aku mau ketemu kamu,” kata Arvin dengan nada yang lebih serius dari sebelumnya, “berdua saja.”

Lisa mengangkat alisnya sedikit, meskipun tidak terlihat.

“Berdua?” ulangnya pelan.

“Iya,” jawab Arvin cepat, “aku ingin ngobrol lebih santai. Tanpa orang lain.”

Lisa tersenyum tipis.

Ia tahu ini akan terjadi.

Semakin ia menjauh, semakin Arvin akan mencoba mendekat.

“Baiklah,” jawabnya akhirnya dengan nada yang terdengar tidak terlalu antusias namun juga tidak menolak, “kirim lokasi saja.”

Di sisi lain, Arvin tampak sedikit lega.

“Oke, nanti aku jemput kamu.”

“Tidak perlu,” potong Lisa dengan cepat namun tetap halus, “aku bisa datang sendiri.”

Kalimat itu membuat Arvin terdiam sejenak.

“Kenapa?” tanyanya.

Lisa menjawab dengan tenang, “Aku tidak ingin terlalu merepotkan kamu.”

Padahal alasan sebenarnya jauh lebih dalam.

Ia tidak ingin berada dalam posisi dikendalikan.

“Baiklah,” kata Arvin akhirnya, meskipun terdengar sedikit ragu, “aku tunggu kamu.”

Panggilan itu berakhir, dan Lisa langsung meletakkan ponselnya di meja dengan gerakan perlahan, lalu ia bersandar di kursinya sambil menatap langit-langit, pikirannya mulai menyusun langkah berikutnya dengan lebih jelas karena pertemuan ini akan menjadi momen penting untuk memperdalam kendali atas Arvin.

Namun belum lama ia menikmati keheningan itu, pintu ruangannya diketuk pelan.

“Masuk,” ucap Lisa tanpa mengalihkan pandangannya.

Pintu terbuka, dan seorang wanita masuk dengan senyum ramah.

“Maaf mengganggu, Nona Lisa.”

Lisa langsung mengenali wajah itu, salah satu staf yang tadi sempat ia temui.

“Ada apa?” tanya Lisa dengan nada profesional.

“Ada seseorang di luar yang ingin bertemu dengan Anda,” jawab wanita itu.

Lisa mengerutkan kening sedikit.

“Siapa?”

Wanita itu ragu sejenak sebelum menjawab, “Dia tidak membuat janji… tapi dia bilang Anda pasti mau menemuinya.”

Lisa langsung berdiri.

Sesuatu dalam kalimat itu terasa tidak biasa.

“Ajak dia masuk,” katanya tegas.

Beberapa detik kemudian…

Pintu kembali terbuka.

Dan saat sosok itu masuk…

Lisa langsung mengenalinya.

Devan.

Pria itu berjalan masuk dengan langkah tenang, aura dinginnya langsung memenuhi ruangan tanpa perlu usaha, membuat suasana yang tadinya biasa saja berubah menjadi lebih tegang dalam sekejap, sementara Lisa berdiri diam menatapnya tanpa menunjukkan keterkejutan berlebihan, meskipun di dalam hatinya ia tidak menyangka pria ini akan muncul secepat ini.

Wanita staf itu segera keluar, menutup pintu, meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan.

Beberapa detik hening.

Tidak ada yang berbicara.

Namun tatapan mereka sudah cukup untuk mengisi ruang itu.

Devan adalah orang pertama yang membuka suara.

“Kamu sibuk?”

Nada suaranya datar, tetapi tetap memiliki tekanan yang kuat.

Lisa menyilangkan tangannya dengan santai.

“Sedikit,” jawabnya singkat, “tapi tidak terlalu.”

Devan mengangguk pelan, lalu melangkah lebih dekat tanpa ragu.

“Aku tidak suka menunggu terlalu lama,” katanya.

Lisa mengangkat alisnya.

“Menunggu apa?”

Devan menatapnya langsung.

“Jawaban.”

Lisa tersenyum tipis.

“Sepertinya aku tidak ingat pernah berhutang jawaban pada kamu.”

Kalimat itu membuat sudut bibir Devan sedikit terangkat.

Senyuman yang sangat samar.

“Kamu menarik,” katanya tanpa basa-basi.

Lisa tidak terlihat terkejut.

“Banyak orang bilang begitu,” balasnya santai.

Devan terdiam sejenak, lalu berkata dengan nada yang lebih serius, “Tapi tidak banyak yang bisa membuatku datang langsung seperti ini.”

Lisa melangkah mendekat satu langkah.

Jarak mereka kini tidak terlalu jauh.

“Kalau begitu… mungkin kamu yang aneh,” ucapnya dengan nada ringan namun tajam.

Devan tidak tersinggung.

Justru sebaliknya…

Tatapannya semakin dalam.

“Aku ingin tahu satu hal,” katanya.

“Apa?” tanya Lisa.

Devan menatapnya tanpa berkedip.

“Wanita seperti kamu… sebenarnya sedang merencanakan apa?”

Pertanyaan itu langsung mengarah ke inti.

Namun Lisa tidak goyah.

Ia justru tersenyum.

Senyuman yang sulit ditebak.

“Kalau aku bilang tidak ada apa-apa… kamu akan percaya?” balasnya.

Devan menjawab tanpa ragu, “Tidak.”

Lisa tertawa kecil.

“Bagus,” katanya pelan, “berarti kamu tidak sebodoh yang aku kira.”

Ruangan kembali hening.

Namun kali ini…

Bukan hening yang canggung.

Melainkan hening yang penuh dengan ketegangan.

Dua orang yang sama-sama kuat.

Sama-sama tidak mudah ditebak.

Dan sama-sama tidak ingin kalah.

Tanpa mereka sadari…

Permainan baru telah dimulai.

Dan kali ini…

Lisa tidak hanya berhadapan dengan masa lalunya.

Tetapi juga dengan seseorang yang bisa melihat lebih jauh dari yang ia kira. 🔥

1
Su Darno
blm ada ending nya msh penasaran thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!