Yussallia Tsaverra Callisto selalu memimpikan kehidupan pernikahan yang indah di masa depan. Yussallia masih berharap bahwa kehidupan pernikahannya bersama Rionegro akan berjalan semulus yang ia harapkan, meskipun pernikahan mereka didasari oleh sebuah kesalahan satu malam yang mereka lakukan pada di masa lalu.
Rionegro Raymond Kalendra tidak pernah menyangka bahwa menolong seorang gadis yang terjebak dalam badai hujan akan berujung pada pernikahan yang tidak pernah ia inginkan. Rionegro tahu ia tak bisa menghindar dari kewajibannya untuk menikahi Yussallia, gadis yang pernah ia bantu, meskipun mereka memiliki seorang anak bersama akibat kesalahan satu malam yang mereka buat di masa lalu.
Dan dengan segala harapan dan keraguan yang menggantung di atas pernikahan mereka, apakah Yussallia mampu mewujudkan mimpinya tentang pernikahan yang bahagia? Atau akankah pernikahan itu berakhir dengan kegagalan, seperti yang ditakuti Rionegro?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RaeathaZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21
Lift apartemen berhenti dengan bunyi pelan yang hampir tidak terdengar.
Rionegro berdiri sedikit lebih tegak ketika pintu terbuka, memastikan Yusallia masih cukup stabil untuk berjalan. Cahaya lampu koridor apartemen yang lebih terang dibanding area parkir tadi membuat wajah Yusallia terlihat semakin jelas—pipi yang sedikit memerah, mata yang setengah terbuka, dan ekspresi yang tampak berusaha tetap fokus meskipun pikirannya jelas tidak sepenuhnya berada di tempat yang sama.
“Kita sudah sampai,” kata Rionegro dengan nada tenang.
Yusallia mengangguk kecil, meskipun reaksinya sedikit terlambat.
Langkahnya pelan ketika ia keluar dari lift, satu tangannya sempat menyentuh dinding koridor untuk menjaga keseimbangan. Rionegro berjalan di sampingnya, tidak terlalu dekat, namun cukup untuk memastikan ia tidak kehilangan keseimbangan lagi.
Koridor apartemen terasa sunyi.
Hanya suara langkah mereka yang terdengar pelan di lantai yang bersih dan rapi.
Ketika mereka berhenti di depan pintu unit, Rionegro membuka kunci dengan gerakan yang tetap terkontrol. Ia membuka pintu lebih dulu, lalu menyalakan lampu.
Interior apartemen itu terlihat sederhana namun elegan.
Warna-warna netral mendominasi ruangan, dengan pencahayaan hangat yang langsung memberi kesan tenang. Tidak terlalu banyak dekorasi, tapi setiap benda terlihat tertata rapi, mencerminkan kepribadian pemiliknya yang teratur dan tidak menyukai kekacauan.
Yusallia berdiri beberapa detik di ambang pintu, seolah mencoba menyesuaikan diri dengan perubahan suasana yang tiba-tiba jauh lebih sunyi dibanding club tadi.
“Kamu bisa duduk dulu,” kata Rionegro pelan sambil menunjuk sofa di ruang tengah.
Yusallia mengangguk pelan.
Langkahnya sedikit goyah ketika ia berjalan ke arah sofa, lalu duduk perlahan seolah tubuhnya baru menyadari betapa lelahnya ia malam itu.
Rionegro meletakkan payung di dekat pintu, kemudian berjalan ke dapur kecil yang menyatu dengan ruang tengah.
Ia menuangkan air hangat ke dalam gelas, lalu kembali ke ruang tengah.
“Minum ini dulu,” katanya pelan sambil menyerahkan gelas itu.
Yusallia menerima gelas itu dengan kedua tangan.
“Terima kasih…”
Suaranya terdengar lembut, hampir seperti bisikan.
Ia menyesap sedikit.
Uap hangat dari air itu terasa menenangkan tenggorokannya yang sedikit kering.
Beberapa detik berlalu tanpa percakapan.
Suasana terasa canggung, tapi tidak tidak nyaman.
Lebih seperti dua orang yang belum benar-benar saling mengenal, namun entah bagaimana sudah berada dalam situasi yang terlalu dekat.
“Kamu biasanya tidak minum sebanyak ini?” tanya Rionegro dengan nada hati-hati.
Yusallia tersenyum kecil.
“Jarang…”
Ia menunduk sedikit, seolah merasa sedikit bersalah pada dirinya sendiri.
“Tadi… pertanyaannya aneh-aneh…”
Nada bicaranya terdengar jujur tanpa dibuat-buat.
Rionegro mengangguk pelan.
“Saya mengerti.”
Hening kembali jatuh beberapa detik.
Suara hujan yang masih turun di luar terdengar samar dari balik jendela besar di sisi ruangan.
Lampu kota terlihat berpendar lembut di kejauhan.
Yusallia menatap ke arah jendela beberapa saat, lalu kembali menunduk.
“Aku merepotkan ya…” katanya pelan.
Rionegro menggeleng ringan.
“Tidak.”
Jawabannya singkat, tapi tulus.
“Kamu tidak merepotkan.”
Yusallia tersenyum kecil.
Ia mencoba berdiri, mungkin berniat berjalan sendiri, namun keseimbangannya kembali sedikit terganggu.
Refleks, Rionegro berdiri lebih dulu, menahan lengannya dengan hati-hati.
“Pelan-pelan.”
Yusallia menatapnya beberapa detik.
Jarak mereka tidak terlalu jauh sekarang.
Lebih dekat dibanding sebelumnya.
Untuk pertama kalinya sejak mereka saling mengenal, tidak ada hujan yang memisahkan mereka, tidak ada mobil, tidak ada percakapan singkat yang terputus oleh situasi.
Hanya ruangan yang sunyi.
Dan dua orang yang sama-sama tidak sepenuhnya siap dengan perasaan yang perlahan muncul tanpa permisi.
“Maaf…” gumam Yusallia pelan.
“Untuk apa?” tanya Rionegro.
“Untuk… semua ini.”
Nada bicaranya terdengar jujur, meskipun sedikit tidak jelas.
Rionegro menatapnya beberapa detik.
Ekspresinya tetap tenang, namun matanya menunjukkan sesuatu yang sedikit berbeda dari biasanya.
Lebih lembut.
Lebih terbuka.
“Kamu tidak perlu minta maaf.”
Suasana kembali hening.
Namun kali ini heningnya terasa berbeda.
Bukan canggung.
Lebih seperti jeda yang tidak ingin dipercepat.
Yusallia menatap wajah Rionegro beberapa detik lebih lama dari biasanya.
Mungkin karena pikirannya tidak lagi terlalu sibuk menahan jarak.
Mungkin karena kelelahan membuatnya tidak lagi menyaring setiap respon seperti biasanya.
"Atau mungkin karena… sejak awal… ada sesuatu yang terasa berbeda," gumamanya pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Rionegro tidak langsung menjawab.
Namun jarak di antara mereka terasa semakin tipis.
Yusallia sedikit kehilangan keseimbangan lagi.
Refleks, tangannya bertumpu ringan di bahu Rionegro.
Gerakan kecil yang sederhana.
Namun cukup untuk membuat suasana berubah tanpa perlu kata-kata.
Tatapan mereka bertemu lebih dekat dari sebelumnya.
Waktu terasa melambat.
Seperti memberi kesempatan bagi perasaan yang sejak tadi tertahan untuk akhirnya muncul ke permukaan.
Ciuman itu terjadi perlahan.
Tidak tergesa.
Tidak direncanakan.
Hanya sebuah reaksi spontan dari jarak yang terlalu dekat dan perasaan yang terlalu lama disangkal keberadaannya.
Rionegro sempat berhenti sejenak, memastikan.
Memberi ruang bagi Yusallia untuk mundur jika ia ingin.
Namun Yusallia tidak menjauh.
Sebaliknya, ia tetap berada di sana.
Dekat.
Terlalu dekat.
Dan malam yang awalnya hanya terasa panjang perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar kebetulan.
Lampu ruang tengah tetap menyala redup.
Hujan masih turun di luar.
Waktu berjalan tanpa terasa.
Percakapan yang awalnya singkat berubah menjadi kalimat-kalimat pelan yang hanya dimengerti oleh mereka berdua.
Kedekatan yang awalnya terasa canggung perlahan berubah menjadi kehangatan yang sulit dijelaskan dengan logika.
Segala sesuatu setelah itu terjadi seperti potongan-potongan momen yang tidak sepenuhnya jelas batasnya.
Bisikan yang lebih terasa daripada terdengar.
Dan jarak yang perlahan menghilang tanpa benar-benar disadari kapan tepatnya itu terjadi.
Malam itu tidak dipenuhi banyak kata.
Namun justru karena itu, setiap detik terasa lebih berarti dari yang seharusnya.
Di luar, hujan perlahan mulai mereda.
Namun di dalam ruangan, suasana tetap hangat.
Seolah waktu memilih berjalan lebih pelan hanya untuk malam itu saja.
Tanpa mereka sadari, keputusan-keputusan kecil yang terjadi dalam diam malam itu akan membawa perubahan besar dalam hidup mereka.
Sebuah awal yang tidak pernah mereka rencanakan.
Sebuah titik balik yang baru akan mereka pahami sepenuhnya… jauh setelah malam itu berlalu.