NovelToon NovelToon
Rian Sang Anomali Sihir

Rian Sang Anomali Sihir

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain
Popularitas:69
Nilai: 5
Nama Author: alghazalibms 19980223

Hidupku sedang berada di titik terendah. Menganggur selama enam bulan dan baru saja ditinggalkan tunanganku membuat masa depan terasa gelap. Namun sebuah pertemuan sederhana dengan penjual kopi di pinggir jalan malam itu sedikit mengubah cara pandangku tentang hidup. Aku pikir masalahku sudah cukup berat—sampai akhirnya sesuatu yang jauh lebih aneh dan mustahil terjadi. Ketika aku terbangun di tempat asing dan secara tak sengaja membangkitkan seorang wanita bangsawan dari kematian, hidupku yang biasa berubah menjadi awal dari perjalanan misterius di dunia yang sama sekali tidak kukenal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alghazalibms 19980223, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. Kekuatan Dari Senjata Buatan

Beberapa hari setelah mimpi buruk itu, tubuh dan pikiranku perlahan pulih. Pelajaran dari Ratri dan pengalaman nyaris terperangkap dalam ilusi mimpiku sendiri akhirnya meresap dalam-dalam. Aku menyadari satu hal: aku harus mengubah pendekatan.

Pagi itu, aku berdiri di depan bengkel primitif kami yang dulu kuhancurkan dalam amarah. Ratri dan Eveline berdiri di belakangku, mungkin mengharapkan ledakan emosi lainnya. Tapi kali ini berbeda.

"Kita mulai lagi," ucapku dengan suara datar, tenang. "Tapi kali ini, pelan-pelan. Satu bagian, satu hari. Tidak terburu-buru."

Aku memutuskan untuk kembali ke dasar. Magazine atau magazen (peluru tempat peluru) untuk MAC-10. Bagian yang relatif sederhana, sebuah kotak logam dengan pegas di dalamnya. Bukan bagian yang paling sulit, tapi juga tidak mudah.

Hari pertama: Gagal. Cetakan tanah liat retak saat logam cair dituang.

Hari kedua: Gagal. Magazen yang terbentuk terlalu tebal dan tidak muat di receiver.

Hari ketiga: Gagal. Pegas sederhana yang kubuat dari kawat besi tidak memiliki tenaga yang cukup.

Tapi kali ini, tidak ada teriakan. Tidak ada palu yang menghajar besi gagalan. Setiap kali gagal, aku hanya menghela napas, menganalisis apa yang salah, dan mencatatnya di buku kulit kayuku. "Pegas perlu kawat yang lebih elastis," atau "Cetakan perlu lebih kering sebelum dituang."

Ratri dan Eveline memperhatikanku dengan heran. Mereka terbiasa dengan Rian yang mudah meledak. Rian yang baru ini, yang menerima kegagalan sebagai bagian dari proses, adalah sesuatu yang asing.

Puncaknya terjadi setelah kegagalan ketujuh atau kedelapan dalam membuat magazen yang sempurna. Kepalaku mulai pening, mata berkunang-kunang. Dulu, ini saatnya aku akan meledak.

Tapi tidak kali ini.

"Aku akan jalan-jalan sebentar," ucapku pada mereka berdua, meletakkan perkakas dengan tenang.

Aku berjalan menyusuri tepi hutan, jauh dari bengkel. Aku tidak punya tujuan, hanya membiarkan kakiku melangkah. Pikiranku melayang, berusaha melepaskan diri dari masalah magazen yang tidak kunjung berhasil. Mataku menelusuri bebatuan, pepohonan, dan tanah di sekitarku tanpa fokus yang jelas.

Lalu, tanpa sengaja, kakiku menyandung sesuatu yang keras. Saat kuambil, itu adalah sepotong kayu yang sangat keras dan tua, mungkin dari pohon yang sudah mati lama. Bentuknya hampir persegi, lurus, dan padat. Entah mengapa, sebuah ide gila muncul.

Bukan... untuk apa? pikirku. Tapi tanpa banyak pertimbangan, dengan pisau kecil di pinggang, aku mulai memahat kayu itu. Bukan untuk senjata, tapi lebih seperti pelampiasan rasa frustrasi yang tertahan. Aku memahatnya menyerupai bentuk magazen MAC-10, lengkap dengan lekukan dan rongganya. Hasilnya kasar, tapi bentuknya cukup akurat.

Saat kembali ke bengkel, kayu itu masih di tanganku. Ratri memandangiku penuh tanya.

"Untuk apa kayu itu, Rian?"

"Aku tidak tahu. Hanya iseng," jawabku, meletakkannya di samping perkakas.

Esok harinya, saat akan mencoba lagi membuat cetakan magazen dari tanah liat, mataku tertuju pada kayu pahatan itu. Sebuah percikan ide menyala di kepalaku.

Bagaimana jika... aku menggunakan kayu ini sebagai model untuk membuat cetakan?

Bukan dengan menyalin bentuknya, tapi dengan mencetak langsung dari model kayu ini ke dalam blok tanah liat yang lebih lembab dan halus. Aku menekan kayu itu ke dalam tanah liat, meninggalkan jejak rongga yang sempurna, jauh lebih rapi daripada hasil ukiran tanganku yang kaku.

Proses pengecoran hari itu terasa berbeda. Ratri dengan cermat melelehkan logam, kali ini dengan campuran yang sedikit aku ubah berdasarkan catatanku. Saat logam cair dituang ke dalam cetakan "baru" itu, aku tidak lagi gemetar penuh harap-harap cemas, hanya diam mengamati.

Setelah dingin, dengan hati-hati kubuka cetakan tanah liat itu.

Di dalamnya, terbaring sebuah magazen besi.

Bentuknya hampir sempurna. Kotak, dengan dinding yang rata, rongga yang bersih, dan lekukan yang presisi. Aku mengambilnya, tangan sedikit bergetar. Ini... ini yang terbaik yang pernah kami hasilkan.

Tapi ujian sebenarnya adalah apakah pegasnya bekerja. Dengan napas tertahan, kumasukkan pegas kawat baru yang sudah kuperbaiki dan beberapa "peluru" dummy dari kayu keras yang kubuat sebagai tester.

KLIK.

Pegas itu bergerak mulus, mendorong "peluru" kayu ke atas dengan sempurna. Itu berfungsi!

"Ratri... Eveline... lihat," ucapku, suara bergetar tapi penuh kemenangan. "Kita berhasil. Bagian pertama."

Ratri mendekat, matanya yang emas berbinar. Sebuah senyum lebar, yang jarang kulihat, merekah di wajahnya. "Kau berhasil, Rian! Dengan caramu sendiri!"

Energi baru mengalir deras. Kegagalan-kegagalan sebelumnya seolah menjadi bahan bakar. Dengan semangat baru, kami melanjutkan bagian berikutnya: Receiver. Prosesnya sama. Trial and error. Gagal, analisis, perbaiki, coba lagi. Kali ini, butuh lebih dari sepuluh percobaan. Tapi atmosfer di bengkel sudah berubah total. Tidak ada lagi ketegangan mematikan, hanya fokus dan tekad yang tenang.

Hingga akhirnya, setelah entah berapa minggu, semua bagian terkumpul: Receiver, bolt, laras (yang berhasil kubuat dengan teknik drilling manual yang sangat lambat dan sabar), magazen, dan grip kayu.

Hari perakitan tiba. Dengan tangan yang hampir gemetar (kali ini karena antisipasi, bukan amarah), aku menyatukan semua bagian. Setiap klik dan kuncian yang pas terasa seperti musik.

Dan akhirnya, di tanganku, terbentuk sebuah Senjata MAC-10 versi primitif. Terbuat dari besi cor kasar berwarna hitam legam, dengan gagang dari kayu keras yang kupoles. Bentuknya angular dan brutal, jauh dari senjata produksi pabrik, tapi memiliki keindahannya sendiri—keindahan sebuah karya yang lahir dari kesabaran dan kegigihan.

Aku mengangkatnya, memutar-mutarnya perlahan di bawah sinar matahari.

"Akhirnya... jadi juga," gumamku, suara penuh rasa bangga yang dalam. "Lihat ini, Ratri. Mahakarya kesabaran kita." Senyumku merekah, kali ini bukan senyum kemenangan atas orang lain, tapi kemenangan atas diriku sendiri.

Ratri hanya tersenyum lembut, matanya berkaca-kaca. Dia tidak perlu berkata apa-apa. Keberhasilan ini bukan hanya tentang sebuah senjata, tapi tentang sebuah pelajaran hidup yang jauh lebih berharga: bahwa hal-hal besar dibangun dari kegagalan-kegagalan kecil, dan kesabaran adalah senjata yang paling ampuh.

 Keberhasilan membuat satu unit MAC-10 memberiku keyakinan yang berbeda. Bukan lagi euforia, tapi ketenangan untuk melanjutkan langkah berikutnya. Aku memandang senjata di tanganku, lalu menatap Ratri dan Eveline.

"Kita akan buat dua lagi. Satu untuk Eveline, satu untuk Ratri," ujarku.

Ratri langsung mengerutkan kening. "Untuk apa? Kekuatanku sudah cukup untuk menghancurkan seluruh pasukan kerajaan tanpa bantuan benda itu."

Aku tersenyum santai, tidak terpancing. "Ratri, dengerin. Ini bukan soal siapa yang paling kuat. Ini tentang pilihan. Jangan sombong. Apa yang terjadi kalau suatu hari nanti kau ketemu musuh yang bisa menetralisir kekuatanmu? Atau kau kelelahan? Atau kau harus melindungi sesuatu tanpa bisa menggunakan kekuatan besarmu? Nangis dan menyesal nanti percuma. Mending kita siapin dari sekarang. Ini bukan cuma untuk perang, tapi untuk perlindungan diri ketika semua opsi lain tidak memungkinkan."

Ratri terdiam sejenak, mempertimbangkan kata-kataku. Aku bisa melihat di matanya yang emas bahwa logikanya masuk akal, meski egonya sebagai dewi sedikit tersentuh. Akhirnya, dia menghela napas. "Baiklah. Jika kau yang mengatakan demikian."

Proyek besar pun dimulai. Berminggu-minggu berikutnya, bengkel kami berubah menjadi semacam pabrik senjata primitif. Aku bertindak sebagai insinyur dan perancang, Ratri sebagai ahli metalurgi dan pengontrol suhu yang tak tertandingi, sementara Eveline dengan kekuatan dan presisi fisiknya yang mutlak membantu proses penempaan, penggilingan, dan perakitan.

Kami memproduksi bagian-bagiannya secara paralel. Dua receiver baru, dua bolt group, dua laras. Aku bahkan melakukan sedikit modifikasi berdasarkan pengalamanku membuat yang pertama. Aku menambahkan rail ekstensi sederhana di atas receiver, berupa potongan besi yang dikikir dan dipasang dengan sekrup kayu keras, untuk kemungkinan memasangkan alat bidik di masa depan jika teknologinya sudah memungkinkan. Aku juga memodifikasi receiver-nya agar sedikit lebih panjang dan kokoh.

Ratri, dengan penasaran, memperhatikan setiap modifikasiku. "Tambahan besi di atas ini untuk apa, Rian?"

"Itu namanya rail. Nanti bisa untuk pasang alat bidik, seperti teleskop yang pernah kugambar. Tapi untuk sekarang, kita pakai besi arahan saja dulu." Aku menunjuk dua potongan besi runcing yang kubuat di ujung laras dan dekat magazen sebagai bidikan kasar.

Yang paling membuatnya bingung adalah fold stock yang kubuat dari kayu keras dan besi. "Dan bagian yang bisa dilipat ini? Bukannya justru membuatnya tidak stabil?"

"Justru ini untuk mobilitas," jelasku sambil mempraktikkan cara melipatnya ke samping receiver. "Bisa disimpan lebih ringkas, dan dalam pertarungan jarak dekat, stock yang dilipat justru lebih praktis. Ini namanya fold stock."

Dia mengangguk-angguk, menyerap informasi baru itu. Sungguh pemandangan yang aneh, seorang dewi abadi belajar tentang teknologi senjata dari seorang manusia biasa.

Sementara dua senjata baru dalam pengerjaan, aku beralih ke tahap paling krusial: pembuatan amunisi.

Aku tahu, peluru modern menggunakan tembaga atau kuningan untuk selongsong karena sifatnya yang lunak, tidak mudah berkarat, dan mampu menahan tekanan ledakan dengan baik. Tapi di sini, aku harus realistis. Tembaga dan kuningan adalah logam langka yang tidak bisa kudapatkan. Satu-satunya pilihan adalah besi.

"Besi biasa akan berkarat, dan karat bisa menyumbat laras atau bahkan menyebabkan ledakan di kamar peluru," gumamku pada diri sendiri, memutar-mutar sepotong besi di tanganku.

Lalu, ide itu datang. "Ratri, bisakah kau... memurnikan besi ini hingga hampir tidak mengandung unsur yang mudah berkarat? Membuatnya menjadi semacam besi anti karat primitif?"

Ratri mendekat, merasakan logam itu dengan indranya yang halus. "Aku bisa mencoba. Menyaring ketidakmurniannya, mengondisikan strukturnya... ya, ini mungkin."

Dengan bantuan kekuatannya, kami bereksperimen. Setelah beberapa kali percobaan, kami berhasil menghasilkan lelehan besi yang lebih murni, berwarna lebih terang, dan yang penting, lebih tahan terhadap oksidasi. Ini bukan stainless steel, tapi setidaknya jauh lebih baik daripada besi biasa.

Aku kemudian membuat sebuah cetakan khusus dari batu tahan panas, terdiri dari puluhan rongga kecil berbentuk selongsong peluru. Satu cetakan bisa memproduksi 50 butir peluru dalam satu pengecoran. Dengan dua cetakan, berarti 100 butir per sesi.

Kami bekerja tanpa lelah. Menuang, mendinginkan, melepas dari cetakan, kemudian mengampelas kasar setiap peluru. Aku merancang ujung proyektil yang tajam, bukan tumpul. Peluru tumpul hanya kusisakan sedikit untuk latihan. Yang ini untuk pertempuran sungguhan, dan ujung yang tajam memberikan daya tembus dan daya rusak yang lebih baik.

Dalam beberapa hari, kami berhasil memproduksi 420 butir peluru siap pakai. Cukup untuk mengisi 12 magazen dengan kapasitas 35 butir per magazen. Hitungannya 12 x 35 = 420 butir. Aku sengaja membuat magazen dengan kapasitas lebih besar dari desain asli MAC-10 (yang biasanya 25-30 butir) dengan memanjangkan magazennya sedikit dan memperbaiki desain pegas di dalamnya.

Akhirnya, dua unit MAC-10 tambahan selesai. Mereka berdiri gagah di atas meja kayu, disamping versi milikku. Tiga saudara besi yang siap menghujankan amarah.

Saatnya latihan tembak.

Kami memilih tebing terpencil yang menghadap ke laut. Sebuah sasaran dari kayu bekas dengan lingkaran-lingkaran arang telah kusiapkan.

"Pertama, yang paling dasar," kataku pada mereka, terutama pada Ratri. "Ini adalah safety atau pengaman. Harus dalam posisi ini saat tidak menembak." Aku menunjukkan tuas pengaman sederhana yang kubuat.

"Lalu, cara memegang. Kokoh, tapi tidak kaku. Letakkan stock di bahu, ratakan pipi dengan receiver, lihat melalui besi arahan ini."

Aku mengangkat senjataku, mengambil posisi, dan menarik pelatuk. DOR! DOR! DOR!

Suaranya menggelegar, memecah kesunyian pantai. Asap mesiu bercampur bau besi panas memenuhi udara. Tiga peluru menghunjam ke sasaran kayu, membentuk kelompok yang cukup rapat untuk jarak 25 meter.

"Giliranmu, Eveline."

Eveline mengambil senjatanya dengan tangan yang pasti. Dia menirukan posisiku dengan sempurna, postur tubuhnya stabil bagai batu. DOR! DOR! DOR! Tiga peluru berikutnya hampir menembus lubang yang sama di sasaran. Akurasi yang menakutkan untuk bidikan pertama.

Lalu giliran Ratri. Awalnya dia terlihat agak canggung, merasa senjata ini di bawah martabatnya. Tapi setelah beberapa kali tembakan, ekspresinya berubah. Ada konsentrasi dan... semacam penghargaan baru di matanya.

DOR! DOR! DOR! Kelompok pelurunya tidak serapat Eveline, tapi masih mengenai sasaran.

"Tidak buruk untuk pertama kali," pujiku. "Sekarang, coba full auto. Tapi hati-hati, recoil-nya kuat."

Aku menggeser tuas fire selector sederhana yang kubuat. BRRRRAP! Semburan pendek lima peluru dari senjataku merobek sasaran kayu. Getarannya terasa mantap di bahu.

Eveline mengikutinya. BRRRRAP! Semburannya lebih terkontrol lagi, hampir seperti senjata yang dipasang di tripod. Ratri mencobanya, dan meski senjatanya sedikit melompat, dia bisa mengendalikannya dengan cepat.

Setelah menghabiskan beberapa magazen untuk latihan, kami berhenti. Senja mulai turun.

"Jadi?" tanyaku pada Ratri, yang sedang memandangi MAC-10 di tangannya dengan ekspresi baru.

Dia mengangguk pelan. "Aku... mengerti maksudmu sekarang, Rian. Ada kepuasan tersendiri. Dan kau benar. Ini adalah alat. Sebuah pilihan. Bukan pengganti, tapi pelengkap." Senyum kecil muncul di bibirnya. "Dan fold stock-nya cukup praktis."

Aku tersenyum lega. Ini bukan lagi tentang membuktikan sesuatu atau melampiaskan frustrasi. Ini tentang mempersiapkan diri, bersama-sama, untuk menghadapi ketidakpastian dunia ini dengan segala alat yang kami miliki. Tiga manusia, satu revenant, satu dewi, dan tiga senjata api besi cor. Sebuah kombinasi yang aneh, tapi terasa tepat.

 Matahari sudah tenggelam, meninggalkan langit berwarna jingga dan ungu. Tapi latihan belum selesai. Cahaya bulan purnama dan beberapa obor yang ditancapkan di tanah menerangi area latihan. Suasana berubah dari latihan siang yang panas menjadi sesi malam yang penuh konsentrasi.

"Lanjutkan," ucapku, suara sedikit serak karena menghirup asap mesiu seharian. "Sekarang latihan pergerakan dan ketangkasan."

Beberapa boneka kasar dari kayu dan karung berisi daun telah disusun menyerupai formasi musuh. Tujuannya sederhana: bergerak dari satu titik ke titik lain sambil menembak sasaran.

Aku dan Eveline memulai. Gerakanku kaku, masih terbiasa dengan langkah manusia biasa. Langkah, berhenti, bidik, DOR! DOR!, lalu bergerak lagi. Eveline, dengan ketaatan dan presisinya, menirukan setiap gerakanku dengan sempurna, seperti cermin yang lebih anggun dan stabil.

Lalu giliran Ratri.

Yang terjadi selanjutnya membuatku tercengang. Begitu memberi isyarat mulai, Ratri meledak dalam gerakan. Bukan berjalan, tapi semacam gliding motion yang cepat dan hampir tak bersuara. Tubuhnya yang dalam wujud dewa dewasa itu bergerak seperti angin, berpindah dari satu posisi ke posisi lain dengan kecepatan yang membuat mataku nyaris tak bisa mengikuti.

Di setiap titik berhenti yang singkat, dia mengangkat MAC-10-nya. DOR-DOR-DOR! Tiga tembakan cepat dan akurat. Tidak ada waktu membidik dengan cermat seperti yang kulakukan. Baginya, mengarahkan senjata dan menembak adalah satu gerakan yang mulus, seperti refleks alami. Dia berputar, membungkuk, dan meluncur di antara boneka-boneka kayu, dengan semburan tembakan pendek yang mematikan di setiap persinggahan. Itu bukan lagi latihan menggunakan senjata api; itu adalah tarian maut yang memadukan kecepatan dewi dengan kekuatan mematikan peluru besi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!