NovelToon NovelToon
Tak Setara

Tak Setara

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lasti Handayani

Aluna hanya ingin bekerja.
Sebagai istri yang terdesak ekonomi, ia tak pernah menyangka dunia kerja akan memberinya lebih dari sekadar gaji—ia menemukan rasa dihargai.
Sampai ia bertemu atasannya.
Pria dingin yang terlalu sering mengkritiknya.
Terlalu sering memanggil namanya dengan nada rendah.
Terlalu sering berdiri lebih dekat dari yang seharusnya.
Aluna sudah menikah.
Dan pria itu telah dijodohkan.
Seharusnya tidak ada yang tumbuh di antara mereka.
Namun setiap sindiran terasa seperti perhatian.
Setiap jarak terasa seperti godaan.
Dan setiap konflik… justru memperdalam sesuatu yang tak boleh ada.
Ketika rumah tak lagi menjadi tempat pulang,
dan kantor menjadi pelarian yang berbahaya—
Aluna harus memilih:
bertahan pada ikatan yang retak,
atau tenggelam dalam cinta yang tak pernah dimaksudkan untuk terjadi.
Karena beberapa pernikahan dimulai bukan dari restu…
melainkan dari keberanian menanggung dosa bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dunia Baru

Senin pagi selalu sama—jalanan padat, udara penuh asap, klakson bersahut-sahutan tanpa ampun. Orang-orang berjalan cepat dengan wajah tegang, seolah sedang mengejar sesuatu. Harapan di ujung jalan… atau sekadar rupiah yang membuat hidup tetap bertahan.

Di antara kerumunan itu, Aluna berjalan dengan map cokelat di tangannya. Sudah setengah lusuh, sudutnya tertekuk, warnanya memudar. Entah sudah berapa banyak gedung yang ia datangi bersama map itu.

Kemeja putih dan celana hitamnya rapi, meski keringat mulai membasahi pelipisnya. Tali sepatu yang sedikit menjuntai membuatnya beberapa kali hampir tersandung.

Aluna melirik jam ditangannya, "ternyata sudah hampir siang." Ia menghela nafas panjang.

Sudah waktunya untuk kembali pulang dengan hasil yang mengecewakan.

"Hari ini pun masih sama. Membawa kembali map lusuh ini," gumamnya kesal.

Ia menendang kaleng soda yang menghalangi langkahnya.

Bug.

Kaleng soda itu tidak sengaja mengenai salah seorang pria paruh baya.

Aluna yang begitu sadar langsung menghampiri dan meminta maaf, "aduh Pak, maafin saya. Saya tidak sengaja." Tubuhnya setengah membungkuk.

"Lain kali lihat-lihat dulu. Untung kena lengan, gimana kalau kepala saya yang kena." Pria itu mengusap-usap lengannya yang terasa nyeri.

"Iya Pak, maaf."

Merasa bersalah dan malu.

"Lagi cari kerja?" tanyanya.

"Iya." jawabnya singkat.

"Sudah dapat?"

"Alhamdulillah, dapet capeknya." tersenyum malu.

Pria itu tertawa kecil, "sebenarnya di perusahaan saya sedang ada lowongan. Coba saja, siapa tahu rejeki."

Sebuah kartu nama berpindah tangan.

Aluna membolak-baliknya, membaca cepat.

"Terima kasih, Pak. Besok saya coba datang."

"Semoga berhasil ya." Pria itu berlalu meninggalkan perempuan itu.

***

Aluna menghela nafas panjang sebelum membuka pintu rumahnya.

"Aku pulang."

"Sayang, kamu udah pulang? Gimana hari ini?"

"Masih samaaa." Mereka menjawab bersamaan lalu saling tertawa.

Gavin seolah sudah hafal dengan nasib istrinya yang selalu gagal dalam mencari pekerjaan.

"Udah-udah. Nggak usah dipikirin. Mungkin ini bukan hari keberuntungan kamu."

Gavin mengacak rambut Aluna.

Aluna cemberut sebentar, lalu masuk ke dapur. Wajan, sayur, suara minyak mendesis. Rutinitas seorang ibu rumah tangga terasa makin berat ketika angka-angka pengeluaran menari di kepalanya.

Sewa rumah, cicilan motor, tagihan listrik.

Dan rencana menunda momongan, meski usia pernikahan mereka sudah empat tahun.

***

Empat tahun sejak senja itu.

“Aluna.”

Gavin berlutut di bawah langit jingga. Kotak merah kecil terbuka di tangannya.

“Kamu mau menikah denganku?”

Aluna menutup mulutnya, mata berkaca-kaca.

“Iya. Aku mau.”

Senja menjadi saksi indah penuh janji.

Mereka berdua berpelukan diantara hangatnya senja. Gavin sudah mempersiapkan momen indah itu. Melamar wanita impiannya dibawah langit senja.

***

"Kali ini aku harus berhasil membawa kabar gembira untuk Gavin."

Kakinya mulai melangkah masuk ke sebuah gedung yang tampak berkilauan dari luar. Nafasnya tidak beraturan, matanya mencari dimana ruangan yang akan ia tuju.

"Maaf, ada yang bisa saya bantu?"

Seorang satpam mendatangi Aluna yang tengah celingak-celinguk.

"Maaf, Pak. Saya mau melamar pekerjaan disini. Karena saya dapat informasi bahwa perusahaan ini sedang membutuhkan karyawan."

Nadanya terdengar sangat sopan.

"Oh, mau melamar, ya. Ikuti saya."

Aluna berjalan mengikuti langkah satpam dari belakang. Mereka memasuki sebuah kantor, disana Aluna diarahkan, berbincang dengan HRD, membaca berkas, menandatangani, lalu berakhir dengan sebuah jabatan tangan.

"Selamat bergabung."

Prosesnya singkat. Terlalu singkat untuk sebuah interview. Tetapi akhirnya Aluna bisa bernafas lega karena diterima bekerja. Ia pulang dengan wajah sumringah, mengetuk pintu, memeluk suaminya, mengabarkan tentang hari ini. Mereka merayakan dengan sebotol bir.

***

Hari pertama kerja.

Lemari pakaian berantakan seperti habis diguncang gempa. Kemeja putih? Terlalu biasa. Blus biru? Terlalu mencolok.

Pilihan akhirnya jatuh pada kemeja hitam dan rok span putih. Pantofel hitam melengkapi. Rambut panjangnya tergerai rapi.

Aluna siap untuk berangkat setalah memesan taksi online.

Gavin sudah lebih dulu pergi bekerja pagi-pagi sekali. Pelukan hangat dari suaminya menjadikan semangat yang berkobar di dalam diri Aluna, walaupun sebenarnya keraguan dan ketidakpercayaan dirinya lebih besar.

Kantor Aethera modern dan elegan. Training hari pertama berjalan lancar. Beberapa karyawan baru duduk berderet mendengarkan penjelasan visi dan misi perusahaan.

"Loh itu kan Bapak yang enggak sengaja aku lempar kemarin." gumam Aluna.

***

Hari-hari berikutnya berjalan lebih baik dari yang ia bayangkan.

Profilnya bahkan muncul di intranet perusahaan.

...Profil Karyawan – Aethera Creative Lab...

...Nama: Aluna Pramesti...

...Posisi: Content Writer – Marketing Division...

...Bergabung sejak: 2024...

Aluna Pramesti bergabung dengan Aethera Creative Lab sebagai Content Writer di divisi Marketing. Dengan ketertarikan mendalam pada dunia sastra dan perangkai kata, Aluna dikenal mampu mengubah konsep strategis menjadi narasi yang hangat, relevan, dan memiliki daya emosional yang kuat.

Baginya, setiap brand memiliki cerita, dan setiap cerita berhak disampaikan dengan cara yang manusiawi. Ketelitian, kepekaan rasa, serta kemampuannya memahami sudut pandang audiens menjadi kekuatan utama dalam setiap campaign yang ia tangani.

Di lingkungan kerja, Aluna dikenal ramah dan profesional. Ia mampu bekerja dalam tekanan, terbuka terhadap revisi, serta konsisten menjaga kualitas tulisannya. Ketekunannya dalam menyempurnakan detail menjadikannya salah satu penulis yang diandalkan dalam proyek-proyek strategis perusahaan.

Bagi Aluna, menulis bukan sekadar pekerjaan—melainkan cara untuk memberi makna pada hal-hal yang sering luput diperhatikan.

***

Aluna dipandang sebagai karyawan yang teladan, gigih serta memiliki sopan santun yang baik.

Tidak membutuhkan waktu lama untuknya berbaur dengan rekan kerjanya.

Helena—Junior Writer.

Posisinya yang berada dibawah Aluna, membuat Helena mengidolakan seniornya itu. Ia ingin menjadi karyawan profesional seperti Aluna. Ia merasa Aluna adalah pembimbing yang baik, sabar dan ramah.

"Draf pertama itu mentah. Jangan ragu mengubah, menyusun ulang, membuang kata. Kadang, menulis bagus itu bukan soal menambah, tapi mengurangi."

Helena mengangguk kagum.

Kedekatan mereka semakin intens, melakukan semuanya bersama, makan siang, istirahat, saling sharing hal apapun.

Bahkan kedekatan itu tidak hanya didalam kantor. Di luar kantor mereka bukan hanya rekan kerja tetapi sahabat yang saling peduli satu sama lain.

Suatu hari di jam makan siang.

"Aluna."

Sahut seorang pria yang melambaikan tangannya pada Aluna, "makan siang bareng, yuk."

"Kak Revan, kemana-mana ngintilin aku mulu."

Alena meneruskan langkahnya.

"Habisnya wajah mu itu, wajah-wajah orang kesepian. Makanya aku ikutin kemana-mana."

"Dih, sembarangan," merasa kesal.

Revan Anggara—Creative Lead.

Merasa nyaman saat bersama Aluna.

Karena kepribadiannya yang introvert, Revan lebih memilih siapa yang cocok menjadi temannya. Karena tidak semua orang bisa membuatnya merasa nyaman.

Revan merasa, jika Aluna adalah teman yang cocok. Tidak banyak berbicara, obrolan yang berkualitas, dan Aluna adalah orang yang baik dan lembut dimatanya.

Karena Revan adalah atasan Aluna.

Aluna tidak merasa keberatan jika Revan berteman dengannya, hitung-hitung bisa menambah wawasannya jika bisa akrab dengan atasannya, pikirnya.

Namun pria berbadan tinggi ramping itu, bahkan tidak terlihat seperti seorang atasan. Karakternya yang humoris dan polos justru membuat Aluna merasa setara.

Aluna selalu tertawa selama berada didekatnya.

Rasa lelah seharian bekerja, hilang saat mendengar lelucon Revan.

“Aluna… kamu sadar nggak?”

Aluna masih mengetik, “Sadar apa, Kak?”

“Setiap kali Pak Arka revisi tulisan kamu, jumlah coretan merahnya lebih banyak dari laporan keuangan perusahaan.”

“Itu artinya aku harus lebih teliti, kan?”

“Enggak. Itu artinya beliau punya hobi baru: menguji kesabaran manusia.”

Aluna menahan senyum.

“Kak Revan jangan begitu. Nanti aku ikut ketawa.”

“Lah memang harus ketawa. Kalau nggak, kita bisa resign berjamaah.”

“Berjamaah? Kak Revan duluan aja. Aku masih butuh gaji.”

“Pengkhianatan di divisi marketing! Saya dikhianati Content Writer andalan!”

Aluna tertawa kecil.

Revan menyipitkan mata.

“Tapi serius deh, kamu tuh santai banget ya tiap direvisi. Kalau aku jadi kamu, aku sudah bikin puisi patah hati.”

“Aku memang suka nulis puisi, Kak.”

“Judulnya apa? ‘CEO dan 1000 Coretan Merah’?”

Aluna akhirnya tertawa lepas.

Tiba-tiba suasana hening ketika bayangan seseorang berdiri di belakang mereka.

“Kalau sudah selesai diskusinya, Aluna bisa ke ruangan saya.”

Revan pelan-pelan menoleh.

“…Nah, tokoh utama puisi kamu datang.”

Ia berbisik.

Aluna menahan tawa sambil berdiri gugup.

***

1
Gira Hurary
sukaaaa alurnya... author ini berani beda, tetep semangat ya thor
Lass96: Terima kasih atas dukungannya 🤍
total 1 replies
Gira Hurary
semangaaaat
Rini
Lanjut thor🤭
Rini
Baru diawal bagus bgt, setiap kata-katanya tersusun rapi mudah dipahami😍 semangat thor💪
Lass96: Terima kasih atas dukungannya 🤍
total 1 replies
Annida Annida
lanjut tor
Dian
lumayan bagus
Lass96: Terima kasih sudah membaca dan berkomentar. Senang sekali kalau ceritanya bisa kamu nikmati.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!