Wira Wisanggeni, akibat kekejaman prajurit kerajaan, itu membuatnya menjadi seorang anak kecil tanpa orang tua, dan diselamatkan dari amukan massa oleh seorang wanita misterius bernama Dewi Shinta Aruna.
Di bawah bimbingan sang Dewi di Hutan Terlarang, Wira tumbuh menjadi pemuda yang mewarisi kanuragan tingkat tinggi dengan senjata tongkat kayu lusuh.
Perjalanannya membalas dendam berubah menjadi misi suci membersihkan ketidakadilan di dunia, hingga namanya diabadikan dalam bentuk patung di berbagai penjuru negeri.
Namun, kebaikan Wira mengusik
keseimbangan takdir, menyeretnya ke dalam perang antara dewa dan iblis, dan memaksanya menembus batas kemanusiaan untuk mencapai ranah Kanuragan Dewa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Cermin Langit
Oksigen di puncak Gunung Arcapada terasa tipis dan menusuk, seolah-olah udara itu sendiri telah berubah menjadi jarum-jarum es yang siap menjahit paru-paru siapa pun yang berani mendaki setinggi ini.
Wira terlihat sedang melangkah dengan berat, setiap jejak kakinya tenggelam dalam salju abadi yang belum pernah tersentuh manusia selama ribuan tahun.
Di punggungnya, Siwa terikat kuat, sementara di jarinya, Cincin Cakrawala Ruang memancarkan denyut hangat, satu-satunya pengingat bahwa Sekar masih ada di sana, menunggunya di balik dimensi ruang.
Wira berhenti tepat di depan sebuah gerbang raksasa yang terbuat dari kristal bening. Di balik gerbang itu, terdapat sebuah pelataran luas yang mengambang di atas samudera awan.
Sedangkan di tengah pelataran, terlihat ada yang melayang, sebuah bongkahan cahaya biru yang sangat pekat, itu adalah Jantung Kristal Es.
Namun, sebelum Wira bisa melangkah lebih jauh, suhu di sekitarnya mendadak turun hingga ke titik yang tidak masuk akal.
Bahkan batu Penahan Suhu miliknya bergetar hebat, bekerja melampaui batas hanya untuk menjaga agar jantung Wira tidak berhenti berdetak.
"Langkahmu cukup berani untuk ukuran makhluk fana yang rapuh, Anak Muda," suara itu tidak datang dari telinga, melainkan bergema dari setiap butiran salju di udara.
Cahaya biru di tengah pelataran memadat, membentuk sosok wanita yang luar biasa agung.
Ia mengenakan jubah yang terbuat dari jalinan cahaya bintang dan uap beku.
Rambutnya panjang menjuntai, transparan seperti aliran air yang membeku. Matanya adalah dua buah galaksi kecil yang dingin namun berwibawa.
Inilah Dewi Himawati, sang penguasa es yang namanya telah hilang dari catatan sejarah manusia.
"Waspadalah, Bocah!. Wanita di depanmu ini bukan dewa rendahan. Auranya... ini adalah aura dari Langit Ketiga" suara Siwa terdengar bergetar, itu adalah sesuatu yang jarang terjadi.
Wira menatap sosok itu tanpa rasa takut, meskipun tekanan energinya membuat lututnya hampir goyah.
"Perkenalkan, aku adalah Wira, Dewi..?" ucap Wira memperkenalkan diri.
"Menarik juga, Aku biasa di panggil dengan nama Dewi Himawati, Anak Muda" jawab Dewi Himawati dengan tenang.
"Aku tidak datang untuk menantangmu, Dewi. Aku datang untuk meminta Jantung Kristal Es demi memulihkan seseorang yang telah mengorbankan segalanya untukku." ucap Wira dengan tetap tenang menahan tekanan dinginnya tempat itu.
Dewi Himawati pun hanya tersenyum, namun senyumnya lebih dingin dari badai di luar sana.
"Meminta? Banyak yang datang dengan kata-kata manis seperti itu. Namun, apakah kau siap melihat kebenaran dari beban yang kau pikul?" ucapnya bertanya dengan nada yang terdengar meremehkan.
Tiba-tiba, pandangan Wira memudar, dan membuat dunianya berputar.
Wira mendapati dirinya berdiri di tengah reruntuhan sebuah kota besar. Ia mengenali arsitekturnya, itu adalah perpaduan antara Majapatih dan Ayodya Pala. Namun, langit di atasnya tidak lagi biru. Langit itu terbelah menjadi sembilan retakan besar yang memancarkan api hitam.
Di kejauhan, ia melihat sosok manusia yang dikenalnya. Prabu Yudhistira, Adiwangsa, Jenderal Sabrang, semuanya terkulai tak bernyawa di atas tumpukan debu.
Bumi telah menjadi ladang pembantaian.
Lalu, matanya menangkap sosok yang paling ia cintai. Sekar berdiri di tengah kehancuran, namun tubuhnya transparan, perlahan-lahan memudar menjadi serpihan cahaya kelabu.
"Wira... kenapa kau terlambat?" bisik bayangan Sekar. Suaranya penuh dengan kepedihan yang menyayat.
"Energi yang kau kumpulkan, pusaka yang kau cari... semuanya sia-sia. Kau tidak cukup kuat untuk menahan mereka." lanjut ucap bayangan Sekar.
Sedangkan di belakang Sekar, sebuah bayangan raksasa yang menutupi separuh langit mulai tertawa.
Tawa yang sanggup meruntuhkan gunung. Itulah entitas kuno dalam wujud aslinya, sebuah kekosongan yang melahap segalanya.
"Lihatlah, Anak muda," suara Himawati bergema di dalam ilusi itu.
"Ini adalah masa depan yang pasti terjadi. Kau hanyalah butiran debu di bawah kaki raksasa. Langit Ketujuh adalah tempat yang tidak akan pernah kau sentuh. Kau akan gagal menyelamatkan kekasihmu, dan kau akan menonton dunia ini menjadi debu." gema suara Dewi Himawati berputar di kepala Wira.
Wira pun langsung jatuh berlutut dengan rasa sakit di dadanya lebih hebat daripada saat ia bertarung melawan Gurita Purba.
Air matanya menetes, membeku sebelum menyentuh tanah. Selama sesaat, keputusasaan hampir melahap inti energinya.
Namun, di tengah kegelapan itu, Wira merasakan sebuah getaran di dalam hatinya.
Bukan energi dewa, bukan energi alam, melainkan sebuah ingatan sederhana, yaitu rasa ubi bakar yang hangat di desanya, tawa konyolnya saat menggoda Sekar, dan janji yang ia buat untuk tidak pernah menyerah.
"Ilusi ini... sangat buruk, Dewi," ucap Wira pelan.
Ia pun mulai berdiri secara perlahan. Kepedihannya masih ada, namun kedewasaan yang lahir dari penderitaan mulai mengambil alih.
Tatapan matanya yang tadi goyah kini menjadi setajam mata elang.
"Mungkin aku memang lemah sekarang. Mungkin aku memang debu. Tapi debu inilah yang akan masuk ke mata entitas itu dan membuatnya buta," ucap Wira dengan senyum tipis yang getir namun penuh tekad.
"Dan soal Sekar... jika takdir berkata aku akan gagal, maka aku akan menghancurkan takdir itu dan menulis takdir yang baru dengan tanganku sendiri!" lanjutnya dengan tekad kuat dan penuh keyakinan.
Setelah itu, Wira menghentakkan Siwa ke tanah ilusi tersebut.
Seketika, sebuah energi suci biru langitnya meledak, menghancurkan cermin masa depan palsu itu hingga berkeping-keping.
Wira kembali berdiri di pelataran puncak Arcapada. Dewi Himawati menatapnya dengan sedikit rasa terkejut yang tertutup oleh keanggunannya.
"Kau memiliki jiwa yang keras, anak muda," ucap Dewi Himawati.
"Ketahuilah, aku bukan sekadar bayangan. Puluhan ribu tahun yang lalu, sebelum gurumu, Dewi Shinta Aruna jatuh ke bumi, aku sudah lebih dulu berada di sini. Shinta berasal dari Langit Pertama, perbatasan yang masih bersentuhan dengan nafas manusia. Tapi aku... aku berasal dari Langit Ketiga." ucap Dewi Himawati dengan tiba-tiba menjelaskan apa yang terjadi.
Wira yang mendengarnya pun seketika tertegun.
Ia mulai memahami skala kekuatan semesta yang sebenarnya. Jika satu langit saja memiliki sembilan semesta, dan ada tujuh langit yang berlapis-lapis, maka posisinya saat ini benar-benar berada di dasar piramida.
"Aku jatuh karena peperangan besar di Langit Atas," lanjut Himawati.
"Setelah memulihkan tubuhku, aku kembali ke atas, namun aku meninggalkan bayangan ini dan Jantung Kristal Es untuk menjaga sesuatu yang lebih berbahaya. Barang yang tidak bisa dibawa ke alam atas karena akan memicu perang semesta kembali." lanjut Dewi Himawati yang kini menunjukkan nada dan tatapan yang lebih serius.
Dewi Himawati melambaikan tangannya, dan cahaya di sekeliling Jantung Kristal Es meredup, memperlihatkan sebuah segel kuno yang sangat rumit.
"Entitas kuno yang kau lawan... dia bukan sekadar iblis," ucap Dewi Himawati dengan nada rendah.
"Aku pernah mendengar bisikan di Langit Ketiga. Dia adalah satu-satunya makhluk yang konon pernah mencapai ranah Nirwana Abadi. Namun, alih-alih menjadi pelindung, ia termakan oleh ketamakan. Ia ingin menjadi Sang Pencipta, menguasai seluruh tujuh langit dan enam puluh tiga semesta. Ia memecah dirinya menjadi ribuan bayangan untuk menghisap energi kehidupan dari dunia-dunia bawah agar kekuatannya pulih sepenuhnya." lanjut Dewi Himawati menjelaskan singkat.
Mendengar itu membuat Wira menarik napas panjang.
"Jadi, yang kuhadapi selama ini hanyalah serpihan kecil dari kekuatannya?" tanya Wira dengan lemas.
"Benar. Dan kekuatanmu saat ini? Di mataku, kau masih sangat lemah. Kau seperti semut yang mencoba menghentikan longsoran gunung es," ucap Dewi Himawati jujur tanpa bermaksud menghina.
Wira pun langsung terdiam, lalu tiba-tiba ia terkekeh. Sebuah tawa pendek yang membuat Siwa dan Dewi Himawati terheran.
"Yah, kalau dipikir-pikir, setidaknya aku semut yang punya selera makan bagus," ucap Wira sambil mengusap hidungnya.
"Dengar, Dewi. Aku tahu aku lemah. Tapi bukankah itu asyiknya menjadi manusia? Kami tidak tahu batas kami sampai kami benar-benar hancur." ucap Wira dengan pertanyaan yang membuat Dewi Himawati sedikit tertegun.
Wira menatap Dewi Himawati dengan binar humor yang kembali muncul di matanya, meski dibalut keseriusan.
"Lagipula, kalau aku langsung kuat, perjalanan ini akan membosankan, bukan? Siwa di belakangku ini juga butuh hiburan agar dia tidak terus-menerus mengeluh seperti kakek-kakek yang kehilangan gigi." ucap Wira memecah ketegangan.
"Bocah! Jaga bicaramu di depan dewi tingkat tinggi!" protes Siwa, meskipun ia merasa lega melihat semangat Wira kembali.
Dewi Himawati menatap Wira cukup lama, lalu ia tertawa kecil, sebuah suara yang terdengar seperti denting lonceng kristal.
"Menarik. Kau jauh lebih dewasa daripada saat kau mendaki tadi, namun jiwamu tetap tidak terkekang. Baiklah, Wira! Jantung Kristal Es ini kuberikan padamu. Namun ingat, meleburnya ke dalam tubuhmu akan terasa seperti darahmu berubah menjadi pecahan kaca cair. Jika kau bertahan, wadah energimu akan meluas sepuluh kali lipat." ucap Dewi Himawati.
Ia kemudian mengulurkan tangannya, dan Jantung Kristal Es itu melayang menuju Wira.
"Terima kasih, Dewi Himawati," ucap Wira dengan hormat yang tulus.
"Satu hal lagi," tambah Himawati saat sosoknya mulai memudar kembali menjadi cahaya.
"Setelah Kristal es ini, kau harus mengambil pusaka di pusat bumi, di bawah kawah gunung yang paling dalam. Carilah pusaka Lava Jati. Tanpa pusaka api itu untuk menyeimbangkan es di tubuhmu, kau akan membeku dari dalam sebelum mencapai Langit Pertama." lanjutnya memperingatkan Wira dengan tulus.
Sosok Dewi Himawati pun sepenuhnya menghilang, meninggalkan keheningan di puncak Arcapada.
Kini, Wira duduk bersila di tengah badai salju. Ia memegang Jantung Kristal Es yang dinginnya luar biasa di depan dadanya lalu memejamkan mata, memikirkan Sekar, Ratnawati, dan Arum Sari, serta orang tuanya di masalalu.
"Siwa, bersiaplah. Katanya ini akan sakit," ucap Wira.
"Lakukalah, Bocah. Aku akan menjaga intimu agar tidak pecah," sahut Siwa serius.
Wira kemudian menarik Jantung Kristal Es itu masuk ke dalam ulu hatinya.
Seketika, jeritan kesakitan tertahan keluar dari mulutnya dan seluruh tubuh Wira membeku dalam sekejap.
Bukan hanya kulitnya, tapi pembuluh darah, syaraf, hingga setiap helai rambutnya berubah menjadi es. Namun, di dalam pusat intinya, api tekad Wira tetap menyala, bertarung untuk menyatukan pusaka itu dengan jiwanya.
Di Langit Atas, entitas kuno itu mungkin sedang tertawa. Namun di puncak gunung yang sunyi ini, sebuah benih kekuatan yang akan mengguncang tujuh langit baru saja ditanam.
Mulai dari sini, Wira, Sang Penyeimbang, kini mulai merayap keluar dari cangkang kemanusiaannya menuju ranah yang tak terbayangkan.
......................
Terimakasih untuk teman-teman yang setia mengikuti kisah Wira, semoga sehat selalu.
Jangan lupa selalu meninggalkan jejak kalian ya, like, komen atau bisa kasih rating agar si author ini makin semangat 😁
......................
tinggalin komentar dan likenya juga teman-teman 🙏😁