ACT ZERO: Di Atas Malam yang Tinggi
- - -
Pada suatu malam yang dingin, seorang gadis ditemukan tak bernyawa di atap gedung sekolah.
Bunuh diri.
Selama tiga tahun, rumor-rumor dan spekulasi liar bermunculan di mana-mana. Namun tak ada satu pun pihak yang menghentikan karena semua siswi diperbolehkan untuk saling bercerita, memberikan pendapat masing-masing tanpa terkecuali.
Misalnya seperti ... kematian gadis yang diduga merupakan aksi pembunuhan.
Tidak ada yang tahu. Karena mereka yang mengetahuinya menyembunyikannya di dalam Drama.
Drama.
Panggung berisikan lima gadis bergerak melalui cerita yang akan dipertontonkan kepada para audiens. Di balik tirai berwarna merah ... sebelum lampu sorot dinyalakan dan musik dimainkan, ada berbagai macam hal yang perlu dilewati—alasan dari terciptanya sebuah Drama.
Act Zero.
- - -
Endiya Winter
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endiya Winter, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ACT II
Diberi jawaban begitu, justru memperkuat dugaan ia mendapatkan informasi dari polisi—makna dari pertanyaan Villy. Terlebih kemudian ia melanjutkan, “Aku penasaran karena tidak ada bekas apa pun di tanah halaman sekolah. Bahkan darah yang berasal dari pergelangan tangannya pun, tidak ada. Kalau benar dia melompat dan jatuh, seharusnya bekas seperti itu ada di sana, kan? Jadi itu membuatku berpikir kalau yang terjadi sebenarnya adalah dia tidak jatuh.”
“....Mungkin tim forensik sudah membersihkannya?”
“Oi, TKP mana boleh dirusak sebelum penyelidikan selesai.”
Ayaa menjerit, kepalanya ditempeleng Villy sampai badannya nyaris keluar dari dudukan kursi. “Benar juga.” Dia terkekeh, menyadari betapa bodoh dirinya yang langsung bicara tanpa berpikir.
“Karinn, apa kau menyimpan fotonya?” Erica mencolek si pemilik nama, membalikkan topik.
Karinn menggeleng. “Mereka bilang itu adalah barang bukti, tidak boleh disebarluaskan. Namun alih-alih membiarkan aku melihatnya, mereka justru membenarkan dugaanku.”
Di belakang sana, Irene yang sedang melipat kedua tangannya ke dada—merajuk karena Karinn menyingkirkan kursinya, diam mematung. Dia memikirkan perkataannya tentang siswi tersebut yang ditemukan meninggal dunia dalam keadaan menggantung di tepi atap. “Polisi memotretnya?” Dia mengangkat kepalanya, melirik sedikit kepada orang di sebelahnya.
“Jika benar, itu artinya dia meninggal dalam keadaan begitu?” Erica bertanya lagi.
Karinn mengangkat bahu. Walau jawabannya tampak berwarna abu-abu, dia terus terang berkata, “Mereka bilang tubuhnya sudah kaku dan wajahnya pucat saat ditemukan. Diduga dia meninggal dunia karena hipotermia dan pendarahan pada pergelangan tangannya. Tetesan darahnya pun juga ditemukan pada permukaan dinding, yah, walaupun sekarang sudah tidak dapat ditemukan karena pihak sekolah telah menutupinya dengan cat.”
Ketiganya manggut-manggut, menyetujui. Pihak sekolah memang bersepakat dengan wali korban agar kasus tersebut disembunyikan dari khalayak publik. Jadi beberapa barang bukti yang sudah dipotret, ditutupi dengan bahan khusus yang bersifat tidak menghilangkan bukti tersebut. Jika suatu saat penyelidikan kembali dilakukan, maka bisa dengan mudah menemukannya.
“Kalau begitu, bukankah itu artinya seharusnya kasus ini bukan tindakan bunuh diri?” Erica menyeletuk, membuat keempatnya bahkan Irene yang sedang bergelut dengan isi kepalanya sendiri pun lantas terbelalak matanya, bergidik ngeri.
“Kenapa berpikir begitu?” tanya Villy.
“Yah, berdasarkan informasi bagaimana tubuhnya saat ditemukan, kurasa itu sedikit ganjal. Jika dia benar-benar ingin mengakhiri hidupnya, seharusnya dia tidak perlu menahan tubuhnya, kan? Kalau kita melihat dari cara dia berpegangan pada bagian tepi atap sampai kemudian meninggal dunia karena hipotermia, bukankah itu seperti isyarat bahwa dia meminta untuk diselamatkan?”
Pupil mata Irene mengecil, melirik pada Erica. “Benar..”
“Benar juga..” Yang lain berseru serempak, menyetujui.
Karinn beserta kedua senior kompak mengangguk, menyetujui. Namun sesaat kemudian terbesit dalam pikirannya sebuah pertanyaan, “Jika begitu, lalu bagaimana dengan tiga buah luka sayat pada pergelangan tangan kirinya?”
“Siapa pun bisa membuatnya, kan?”
Lagi, Erica memberikan jawaban telak yang sukses membuat hening. Bulu kuduk mereka berdiri tegak, angin dingin meniupnya hingga sensasi menyeramkan sajalah yang masih tertinggal. Kepala mereka sinkron membayangkan, betapa jahatnya si pembunuh yang dengan teganya memanipulasi kematian korban dengan membuatnya seakan adalah peristiwa bunuh diri. Itu jelas adalah caranya untuk lari dari hukum dunia.
“Guys, tunggu sebentar, deh.” Villy menyodorkan telapak tangannya, hendak bergantian bicara. “Pernahkah kalian mempertanyakan tentang bagaimana para polisi datang ke sana?”
“Benar, aku juga memikirkan itu.” Ayaa berseru penuh semangat. “Seingatku, pada pertemuan di gimnasium—delapan hari setelah kasus itu terjadi—Pak Riyan menyampaikan bahwa kematian gadis itu terjadi antara pukul 21:00-22:00. Itu berarti...”
“Tidak ada yang tahu kapan tepatnya. Tapi yang jelas, polisi datang setelah menerima laporan dari saksi mata, yaitu Pak John.”
“Pak John?!” Semua orang memekik, membuat Karinn terkejut dan suapan kari di sendoknya jadi batal masuk ke dalam mulutnya.
“Tidak mungkin.” Irene menarik bahu Karinn, menyela pembicaraan. “Pak John adalah satpam yang bekerja di shift pagi.”
“Itu memang benar. Tapi pada kenyataannya, Pak John-lah yang membukakan pintu gerbang ketika mobil polisi dan ambulans datang.”
“Dari mana kau tahu itu?”
“Aku bertanya pada salah satu tim lapangan yang sedang menyisir area atap. Kesaksiannya pada malam itu juga tercatat. Kau bisa bertanya pada polisi saat wawancara nanti.”
“Tapi bagaimana Pak John bisa ada di sana?”
Karinn mengangkat bahu, bukan karena jawabannya bersifat rahasia, melainkan dia belum menyelidiki hal itu lebih lanjut lagi. Terlebih, di saat bersamaan dia menerima gelombang keanehan yang kemudian berubah menjadi rasa curiga; Irene. “Ada apa dengannya? Kenapa seakan dia ... sedang mencoba memastikanku?” Tak hanya itu kejanggalan yang dirasakannya, kini atensinya menangkap bahasa tubuh Irene yang makin memperkuat kecurigaannya. Ujung-ujung jari tangannya bergetar, mengetuk-ngetuk celana tidurnya dengan pandangan tertunduk. Entah apa yang dipikirkannya, namun Karinn yang duduk tepat di sebelahnya tentu dapat mendengar ia sedang menggumamkam sesuatu.
“Wah, pembicaraan kali ini menarik,” kata Ayaa, wajahnya semringah seolah dibangkitkan oleh semangat. “Aku ingin tahu pendapat dari kalian. Setelah berdiskusi, menurut kalian siswi itu meninggal dunia karena bunuh diri atau dibunuh?”
“Pada hitungan ketiga, ayo angkat tangan bersama.” Villy memberi instruksi. “Satu.. dua.. tiga!”
...• • • • •...
Lampu berkedip setiap tiga menit, tampaknya arus listriknya akan habis dalam waktu dekat. Di bawah temaram cahayanya, seorang pria duduk berhadapan dengan selembar kertas. Setengah jam yang lalu juga begitu, dia mengetuk-ngetukkan bolpoinnya sambil berpikir bagaimana dan dari mana benang merahnya saling terhubung. Objek di dalamnya adalah kuncinya; petunjuk atas kematian Keisha yang disamarkan menjadi kecelakaan lalu lintas.
“Kak Keisha menulis banyak angka secara acak.” Riyan mengarahkan bolpoinnya pada angka-angka yang tertera; sebagian ditulis biasa, sementara sebagian yang lain dilingkari pena berwarna biru dan merah. Anehnya, jumlah angka yang dilingkari pena berwarna merah hanya ada tiga, membuat pandangannya langsung tertuju pada ketiga angka tersebut. “Kamuflase?” pikirnya begitu, karena ketiga angka itu adalah angka nol, lima, dan lima. Sekilas tampak tidak bermakna, namun bila urutannya diubah menjadi lima, nol, lima; maka kode SOS tercipta. “Jika ya, maka coretan ini tidak dibuat di tanggal kecelakaannya.”
Pada kali pertama, tepatnya saat menjelang hari kelahiran bayi ketiganya, Keisha mengirim beberapa bingkisan kepada Riyan yang kala itu masih bekerja di kantor Yayasan Pendidikan—sebelum menjabat sebagai kepala administrasi di SMA Putri Endley. Walau bingkisan itu bermakna tali persaudaraan mereka dari jarak jauh, Keisha memiliki maksud lain agar diberikan doa atas keselamatan bayinya kali ketiga itu.
Riyan paham, kakak perempuannya itu sudah kehilangan dua bayinya yang berjenis kelamin laki-laki sebelumnya. Dan kali ketiga ini, hasil USG menunjukkan hasil yang sama. Pada hari ia menerima bingkisan tersebut, ia juga menerima secarik surat manis dari Keisha. Secara garis besar isinya berupa ungkapan rasa senangnya atas kehamilan bayinya yang berjenis kelamin laki-laki lagi.
‘Begitu surat ini sampai padamu, ketahuilah bahwa tanggal itu sangat cantik. Ramalan cuaca mengatakan perubahan suhu udara menjadi lebih hangat.’
Menurutnya agak aneh sang kakak tiba-tiba membicarakan tentang cuaca. Maka ia pun langsung memeriksa tanggal hari itu; 05 Mei. Ia paham, maksudnya bukan ‘Ada apa dengan tanggal itu?’, melainkan ‘Kenapa sang kakak menyinggung tanggal itu?’
Ia menduga, tanggal 05 Mei yang tertera di layar utama ponselnya bermakna kode; yakni menjelaskan bahwa Keisha tidak dapat menulis sinyal SOS secara terus terang. Maka malam itu pun ia langsung pergi ke pusat kota dengan mobilnya, juga sengaja tidak mengabari lewat telepon agar tampak seperti kunjungan alami.
“Aih, sebaiknya beri kabar jika ingin datang.” Kean tergopoh-gopoh membukakan pintu, menyambut kedatangannya.
“Maaf, tapi ini darurat.” Riyan langsung melesat masuk ke dalam, mencari keberadaan sang kakak.
“Apa yang darurat? Kau menerima pesan dari istriku?”
“Hu? Pesan?” Riyan berlagak tidak tahu, pura-pura membuka ponselnya untuk mengecek aplikasi obrolan. “Tidak ada apa-apa.”
“Lalu kenapa kau datang dengan tergesa-gesa?”
Melihat Keisha datang dari dapur, Riyan langsung menghampirinya. “Kak, kau harus lihat ini.” Dia menunjukkan sebuah foto di ponselnya, foto kuburan yang sudah dalam keadaan berantakan. Karena dulu ayah mereka dimakamkan di gunung dekat kampung halamannya, jadi hewan-hewan liar sering mengacaukannya.
Keisha menutup mulutnya, terperanjat. “Kenapa bisa begini lagi? Aih, sudah kukatakan untuk pindahkan makam ayah. Kau tidak mau dengar.”
“Bukan begitu, tapi Ayah sendiri yang meminta untuk dimakamkan di gunung. Apa boleh buat.”
Berhasil! Sukses! Kata-kata itulah yang rasanya cocok menggambarkan akting mereka berdua. Akhirnya malam itu mereka pergi ke kampung halaman dan membuat alasan lain agar bisa tinggal di sana sementara lebih lama. Karena alasan pekerjaan, Kean tidak bisa mendampingi dan menyerahkan semuanya kepada sang adik iparnya.
Kendati rencananya berhasil, Keisha tetap tidak mau berterus terang tentang apa yang mengganggunya. Dia hanya berkata, “Aku bisa menanganinya.” lalu tersenyum seolah semua akan baik-baik saja selagi adik satu-satunya itu percaya kepadanya.
“Kau bohong.” Riyan menitikkan air mata, satu bulirnya jatuh membasahi kertas yang sedang digenggamnya. “Kau ... Bagaimana bisa kau berkata begitu setelah aku menerima takdir seperti ini? Katakan ... Katakan kenapa kau mengambil jalur berlawanan dan menabrak truk? Ke mana sebenarnya kau akan pergi? Kenapa kau membiarkan Karinn menyaksikan kecelakaan itu? Kenapa ... Kenapa kau meninggalkanku sendiri, kak?”
Sejak hari kelabu itu tiba, beribu pertanyaan di benaknya hanya menggantung tanpa jawaban.
Tok.. Tok.. Seseorang mengetuk pintu ruangannya. Lantas, Riyan pun bergegas menyimpan kertas petunjuk Keisha ke dalam laci. Dia amat tahu siapa orang di luar sana yang datang berkunjung ke ruangannya pada malam hampir larut begini.
“Pertukaran asrama sudah dilakukan, kan?” Kean duduk di kursi.
“Tidak perlu basa basi. Katakan ada perlu apa kau kemari?”
“Kelihatannya kau tidak senang dengan kedatanganku.”
“Ya, maka itu kuharap kau segera pergi jika tidak ada kepentingan.”
“Sial.” Kean mendecak sebal, sembari menyilangkan kakinya dan menyandarkan punggungnya ke sandaran bangku. “Di mana kamar Karinn?”
“Kenapa kau bertanya?”
“Bukan urusanmu.”
“Kalau begitu pergilah sekarang. Tidak ada yang perlu dibahas dari kedatanganmu.” Riyan membuka laptopnya, berniat melanjutkan pekerjaannya. Namun baru saja ia masuk ke halaman utama desktop, sebuah notifikasi muncul di sudut kanan bawah layar. Notifikasi itu berasal dari surel anonim dengan nama pengirim Argent Hush.
'Di bawah langit malam, dia tertidur lelap. Di tempat air mati. Selalu.'
Kean bangkit dari tempat duduknya, menghampiri meja Riyan. “Karena Dramanya sudah dimulai, jadi polisi akan melakukan investigasi dan wawancara lagi kepada para siswi. Pastikan kau lakukan tugasmu dengan benar.”
Riyan mengangkat kepalanya, mempertemukan sepasang mata mereka. “Baik, sekarang pergi.”
Begitulah pertemuan singkat itu berakhir. Kean keluar dari ruangan sementara Riyan kembali berkutat dengan surel anonim.
'Kemarin dia adalah seorang pria, besok juga pria, dan hari berikutnya juga seorang pria.'
...• • • • •...
“Dibunuh!”
“Dibunuh!”
“Dibunuh!”
“Bunuh diri!”
“Bunuh diri!”
“Karinn, Erica dan Irene menjawab dibunuh, sedangkan aku dan kau menjawab bunuh diri.” Mata Villy menelisik sekali lagi, menghitung acungan tangan juga wajah orang yang menjawab.
“Oke, sekarang jadi lebih mudah,” kata Ayaa. Pikirnya dengan dibagi menjadi dua pendapat seperti ini, akan memudahkan dalam memahami setiap detail kedua pendapat yang saling berlawanan, berbeda dengan sebelumnya yang hanya saling bertukar argumen lalu yang lainnya ikut menyetujui. “Kalian bertiga yang berpendapat gadis itu dibunuh, apa alasan kalian?”
Mendadak, hening. Tak ada suara balasan terdengar selain bunyi jangkrik yang bersahut-sahut di bukit belakang. Ketiganya malah saling bertukar pandangan dan membisu di tempatnya masing-masing. Karinn memberi kode pada Irene melalui senggolan kakinya, tapi malah dibalas dengan tatapan melotot. Kemudian Irene melirik pada Erica yang dengan saling bersitatap saja sudah dapat ditebak itu bermakna apa. Akhirnya Erica-lah yang pasrah dijadikan tumbal untuk bicara mewakili pendapat dari kubu junior.
“Yah, alasan paling sederhana adalah kenapa dia tidak menjatuhkan dirinya ke tanah? Hehee,”
Karinn menepuk jidat. Salah besar telah berharap pada Erica yang pikirnya akan menyampaikan kesimpulan dengan hebat. Maka sembari ia menyikut lengannya, dia tersenyum tipis. Aku saja; wajahnya seakan mengatakan itu. “Itu benar. Tetapi, ada alasan lain. Gadis itu ditemukan dalam keadaan menggantung di tepi atap. Kedengarannya aneh, bukan? Jika dia berkeinginan mengakhiri hidupnya, kenapa dia harus repot-repot menahan tubuhnya? Kalau sejak awal dia sungguhan ingin melompat, kenapa dia tidak melakukannya dengan segera? Kenapa dia harus merobek pergelangan tangannya lebih dulu? Jika begitu, bukankah dia bisa melakukannya di tempat lain selain di sekolah?”
Bagai lampu di atas kepalanya menyala, Erica langsung semangat menambahkan argumen Karinn. “Oh, apakah maksudmu melakukannya di sekolah hanyalah untuk memanipulasi kematian korban yang dibunuhnya? Agar ... pihak sekolah yang bertanggung jawab?”
Ayaa terkesiap, lantas menutup mulutnya dengan satu tangan. “Jika kasus itu dinyatakan sebagai bunuh diri, tidak akan ada yang menyelidiki lebih lanjut. Sekolah akan menanggung sebagian besar kesalahan atas kelalaian, keamanan yang buruk dan kurangnya dukungan kesehatan mental. Sementara pembunuh sebenarnya akan lolos tanpa hukuman."
“Ya. Karena dengan begitu, perbuatannya tidak akan dicurigai selama kasusnya berstatus bunuh diri,” sambung Villy.
“Karinn,” panggil Erica. “Jadi maksudmu siapa pun yang melakukannya ingin mengalihkan kecurigaan dengan membuat sekolah tampak bersalah? Jika benar begitu, bukankah itu artinya...”
Karinn mengangkat bahu, menggeleng. “Tidak ada yang tahu. Maka itu kita tidak dapat mengesampingkan siapa pun—bahkan siswa seperti kita.”
Semilir angin berembus pelan, seolah menghentikan aliran waktu sejenak. Jawaban Karinn yang mengudara berubah menjadi gelombang suara yang kemudian ditangkap oleh gendang telinga, dan otak secara otomatis menyimpannya dalam memori.
Sementara menimbang-nimbang, terbesit sebuah pertanyaan di benak Villy. “Tidakkah menurut kalian aneh pelaku membuat tubuhnya menggantung di tepi atap? Bagaimana caranya melakukannya?”
“Menurutku bukan pelaku yang melakukannya, melainkan si korban. Bayangkan saja seperti ini, jika tubuhnya didorong, maka pasti korban akan langsung jatuh, kan?”
“Mungkinkah pelaku menggulingkan tubuhnya agar dia jatuh dengan sendirinya? Jika begitu, ada kemungkinan dia bisa berpegangan pada bagian tepi atap untuk menahan tubuhnya.” sahut Ayaa, bersemangat menambahkan argumen.
Namun bagaimana caranya menjelaskan rentang waktu antara pelaku menggulingkan tubuh korban hingga korban berpegangan pada tepi atap?
“Kalau begitu, kenapa pelaku tidak mendorong tubuh si korban saja agar terjatuh?” Villy mengajukan pertanyaan kritis. Sudut matanya berkerut, merasa ada benarnya perkataan Karinn, tetapi keraguan masih menyelimuti dirinya.
“Mana aku tahu. Itu hanya asumsiku saja. Bagaimanapun juga, tidak ada yang bisa membedakan orang yang sengaja menjatuhkan diri, dengan orang yang didorong hingga jatuh. Keduanya sama-sama berakhir meninggal dunia.”
Di kursi lain, Irene yang menjadi satu-satunya orang yang paling sedikit bergabung dalam obrolan, termenung. Sejak awal dia merasakan gelombang aneh pada Karinn, matanya tidak bisa berhenti meliriknya diam-diam. “Aku setuju dengan deduksinya. Tapi bagaimana bisa dia sangat percaya diri ketika mengatakan sesuatu yang tidak benar? Itu pasti salah satu berita angin yang tersebar dalam rumor.”
Villy bertepuk tangan, memberikan apresiasi pada Karinn. “Wahh, penjelasanmu sungguh keren, Sherlock. Tetapi,” Dia menyilangkan kedua lengannya ke dada, nada suaranya terdengar lebih rendah. “...kau melupakan satu hal. Yaitu bagaimana caranya pelaku dapat memasuki gedung sekolah dengan melewati satpam?”
“Aku tidak tahu.”
“Nah, karena itulah tidak mungkin pelaku dapat memasuki gedung sekolah untuk melancarkan aksi jahatnya. Jika begitu, satu-satunya yang paling masuk akal terjadi pada gadis itu adalah dia memang berencana mengakhiri hidupnya di sekolah. Bisa saja setelah jam pulang sekolah, dia tidak keluar dari gedung ini. Lalu dia naik ke atap untuk melakukannya. Melukai pergelangan tangan kirinya, lalu melompat dari atap. Tetapi, tubuhnya lemah karena dia kehilangan banyak darah, jadi dia tidak memiliki tenaga untuk menjatuhkan tubuhnya. Alhasil, dia membiarkan tubuhnya menggantung hingga dia meninggal dunia kedinginan.”
Karinn menggigit besar waffle-nya, cemberut. Dua pertanyaan Villy tidak berhasil dijawab. Padahal, dia sudah bergaya keren mengeluarkan deduksinya yang cemerlang, tetapi kepercayaan dirinya malah dengan mudahnya dipatahkan oleh dua pertanyaan si senior yang sebelumnya memang tidak pernah terpikir olehnya.
Menyaksikan wajah Karinn cemberut seperti ini, Villy dan Ayaa saling tertawa kikuk. Mereka membatin Karinn tampak mirip dengan ikan buntal lantaran pipinya menggembung dan sudut matanya berkerut, tenggelam oleh kelopak matanya. Sayang sekali yang meledeknya adalah sang senior, dia tidak ada keberanian untuk melayangkan pukulan tinju pada mereka layaknya dia meninju Irene.
“Irene!” Erica memutar tubuhnya menghadap kursi si pemilik nama. “Kau tidak memakan waffle-nya? Aku menyisakan untukmu.” Erica menarik piring putih berisikan waffle keju yang telah dingin oleh angin malam. Itu adalah jatah milik Irene yang masih tersisa. Dia sama sekali tidak menyentuhnya karena sibuk menenggelamkan diri dalam pikirannya.
“Aku tidak tertarik,” katanya.
Di sebelah kursinya, Karinn diam-diam memasang senyum menyeringai. Lalu dengan kecepatan kilat dia menyambar waffle keju tersebut. “Kalau begitu untukku saja!”
Tetapi, aneh. Irene hanya diam. Manik matanya bergerak melirik si pencuri waffle-nya, namun dia tidak merespons apa-apa untuk membalas.
“Karinn mengambil waffle-mu.” Erica mencolek lengan Irene, menunggu balasan. “Kau tidak marah?” Erica bergidik ngeri, dipikir-pikir dia takut juga melihat teman baiknya ini tiba-tiba menjadi sangat diam tanpa sebab.
“Biarkan saja. Toh, dia tidak bisa memakannya.” Irene tersenyum tipis, menyeringai.
Karinn yang paham betul maksud perkataannya, langsung urung niat melanjutkan aksi jahilnya. Dengan senang hati dia kembali meletakkan waffle milik Irene yang telah dicurinya, lalu memasang cengiran sebelum kemudian meninju lengannya. Yah, akhirnya kini dia tahu alasan kenapa si gadis garang itu sangat berambisi mengejarnya pada saat pergulatan sore tadi—ternyata dia tahu soal stiker meme yang dibicarakannya. Sial; batinnya sambil mengacungkan jari tengah.
Kedua senior yang menonton pemandangan tersebut dari kursi seberang, terkekeh. Terlebih Ayaa, dia bahkan sudah lebih dulu menggelakkan tawa, menyaksikan beberapa kali meja makan ini sebentar bergetar, sebentar diam, lalu bergetar lagi. Villy yang duduk tepat di sebelah kursinya hanya geleng-geleng. Dia membatin ingin sekali menjual temannya yang tak waras ini di internet agar suatu saat sadar akan sikap gilanya. Pernah sekali dia melakukannya, tetapi gagal karena kegilaan Ayaa rupanya bersifat menular. Dia seringkali berpikir entah bagaimana bisa orang gila itu menjabat sebagai ketua OSIS setahun lalu dan menjadi sosok yang sangat ditakuti seantero sekolah. Ckck, peribahasa ‘jangan menilai buku dari sampulnya’ ternyata memang benar adanya.
“Ada apa denganmu Irene?” tanya Villy. “Mood-mu sedang buruk? Kau tidak ikut mengobrol, lho. Ada apa?”
Irene menggeleng. Lalu tanpa menatap mata si lawan bicaranya, dia membalas, “Aku bosan.”
Villy mengangguk, mengerti bahwa maksudnya adalah tentang topik pembicaraan yang lagi-lagi membahas soal itu. “Terkadang pun aku merasa bosan. Tapi rasanya berbeda dengan malam ini. Topik yang kita bicarakan perihal kasus itu tampaknya lebih seru ketimbang sebelumnya. Aku jadi bersemangat.”
“Itu benar. Apa kau tidak merasa demikian, Irene?” sambung Ayaa.
“Entahlah, aku hanya...” Kepala Irene terangkat, menatap kedua senior di seberangnya.
Atensi Karinn yang semula juga sedang menatap Irene, dialihkan melihat objek lain. Dia sudah memperkirakan sejak awal bahwa memang ada yang aneh dengan anak itu. Setiap pergerakan tubuhnya, setiap kata-katanya yang keluar, jelas terbaca bahwa keberadaannya di sini sedang terancam. Semburat kegelisahan terpancar dari manik matanya yang sewaktu-waktu bergetar, mencemaskan sesuatu. Dia sama sekali tidak bisa membohongi dirinya sendiri.
Omong-omong, apa kalimat selanjutnya?
...• • • • •...