Rendra tidak pernah menyangka, kedekatannya dengan Cila dan keluarganya akan membuatnya merasa seperti menemukan tempatnya sendiri.
Semua terasa nyata. Terasa spesial.
Sampai suatu hari, ia melihat sendiri sesuatu yang mengubah semuanya.
Di saat itulah Rendra mulai memahami, bahwa tidak semua perasaan memiliki arti yang sama bagi setiap orang.
Dan dalam hidup, ada hal-hal yang harus dihadapi sendirian—meski itu berarti merelakan sesuatu yang dulu ia anggap bagian dari dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha Aprila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kafe dan Sore yang Berbeda
Langit sore mulai berubah warna.
Jingga di ujung langit perlahan memudar, digantikan lampu-lampu jalan yang satu per satu menyala. Mobil melaju tenang di antara jalanan yang mulai ramai, ditemani suara mesin yang halus dan angin dari jendela yang sedikit terbuka.
Aku duduk di sampingnya, sesekali melirik ke arah Cila yang tetap fokus ke depan.
Beberapa saat kami hanya diam.
Entah kenapa… suasananya tidak terasa canggung.
Aku menghela napas pelan, lalu akhirnya membuka suara.
“Ngomong-ngomong… kita mau ke mana, Cil?” tanyaku.
Cila tidak langsung menjawab. Matanya masih fokus ke jalan.
“Mmm… gimana kalau kita ke kafe?” katanya santai.
Aku mengangguk. “Boleh. Di mana?”
“Udah, ikut aja. Aku tahu tempat yang bagus.”
Aku hanya mengangguk kecil, lalu kembali melihat ke depan.
Mobil terus melaju.
Beberapa menit berlalu…
Mobil akhirnya melambat.
Cila membelokkan setir, masuk ke sebuah area yang cukup ramai.
Aku sedikit mencondongkan badan, mencoba melihat ke depan.
Sebuah kafe.
Lampu-lampu hangat menggantung di bagian luar, menyinari area dengan cahaya kekuningan yang lembut. Tidak terlalu terang, tapi cukup untuk membuat suasana terasa… nyaman.
Tidak berisik. Tapi juga tidak sepi.
Suara obrolan orang-orang bercampur pelan dengan musik yang mengalun dari dalam.
Mataku bergerak ke atas.
Plang kafe itu terlihat jelas.
“Marissa…”
Aku mengernyit sedikit.
Entah kenapa… terasa familiar.
Tapi aku tidak terlalu memikirkannya. Nama itu… bukan nama yang langka juga.
Mobil berhenti.
Kami turun.
Begitu masuk, salah satu pelayan langsung menoleh ke arah kami. Tatapannya sempat berhenti di Cila, lalu tersenyum.
“Seperti biasa?” tanyanya ramah.
Cila mengangguk kecil. “Iya.”
Aku melirik ke arahnya sebentar.
Hmm.
Kami berjalan ke bagian luar.
Cila memilih meja di area outdoor.
Tempatnya cukup luas. Ada beberapa meja kayu dengan jarak yang tidak terlalu rapat. Tanaman-tanaman kecil di sudut membuat suasana terasa lebih adem.
Angin malam mulai terasa pelan.
Aku duduk, lalu menyandarkan badan sedikit.
“Enak juga tempatnya,” gumamku.
Cila hanya tersenyum tipis.
Tak lama, kami memesan.
Aku memilih makanan yang cukup berat—yang penting kenyang.
Sementara Cila memesan dengan santai, seperti sudah tahu apa yang dia mau.
Setelah pelayan pergi, suasana kembali tenang.
Beberapa detik kami sama-sama diam.
Aku melihat ke sekeliling lagi.
Tempat ini… terasa nyaman.
“Sering ke sini?” tanyaku akhirnya.
Cila mengangguk kecil. “Dulu sering. Sekarang… sesekali aja.”
Aku menatapnya. “Sendiri?”
Dia sedikit mengangkat bahu.
“Ya… kadang sendiri.”
Tak lama, pesanan kami datang.
Piring-piring hangat mulai memenuhi meja. Aroma makanan langsung menyebar pelan, bercampur dengan udara malam yang sejuk.
Kami mulai makan.
Beberapa saat hanya terdengar suara sendok dan garpu.
Cila melirik ke arahku.
“Gimana?” tanyanya singkat.
Aku masih mengunyah, lalu mengangguk beberapa kali.
“Enak,” jawabku sambil menunjuk sedikit ke makananku.
Cila tersenyum tipis melihat reaksiku.
Kami lanjut makan tanpa banyak bicara.
Aneh… tapi tidak canggung.
Justru terasa santai.
Beberapa menit kemudian, makananku habis.
Aku menyandarkan badan ke kursi, menghela napas pelan.
Kenyang.
Tanganku meraih minuman, lalu menyeruputnya perlahan.
Mataku kembali melihat ke sekeliling.
Lampu-lampu hangat, susunan meja yang rapi, tanaman kecil di sudut… semuanya terasa pas.
“Di lihat-lihat… tempatnya bagus juga ya,” gumamku.
Aku sedikit menoleh ke arah dalam.
“Interiornya rapi. Cocok buat foto-foto juga… kayak dipikirin gitu.”
Cila mengangguk kecil.
“Iyalah.”
Aku tersenyum tipis, masih melihat sekitar.
“Yang punya tempat ini ngerti suasana sih…”
“TUMBEN ke sini.”
Suara itu tiba-tiba muncul dari samping.
Aku langsung menoleh.
Dan dalam satu detik—
badanku langsung refleks menegang sedikit.
Kak Marisa.
Dia berdiri tidak jauh dari meja kami, menatap ke arahku dengan ekspresi yang… sudah jelas.
Senyum tipis yang mencurigakan.
Aku langsung meluruskan posisi duduk.
“Hehe… iya, lagi nyobain aja,” jawabku cepat, berusaha terdengar santai.
Kak Marisa melangkah mendekat.
Matanya sempat melirik ke Cila, lalu kembali ke aku.
“Gimana?” tanyanya ringan. “Enak makanannya?”
Aku mengangguk.
“Enak kok. Tempatnya juga bagus.”
Dia mengangguk pelan, seolah puas.
“Bagus ya?”
Aku mengangguk lagi. “Iya. Kakak sering ke sini juga?”
Sepersekian detik hening.
Lalu—
“Ini kafe kakak, tau Ren.”
Aku langsung diam.
Menoleh pelan ke arahnya.
“Hah?”
Refleks, aku menoleh ke Cila.
“Emang?”
Cila sudah menahan senyum dari tadi.
Begitu aku menoleh, dia langsung tertawa kecil sambil mengangguk.
Aku menatap mereka berdua bergantian.
“…Serius?”
Kak Marisa menyilangkan tangan, masih dengan senyum santainya.
“Iya. Masa kamu nggak tau?”
Aku langsung menggaruk belakang kepala, sedikit salah tingkah.
“Ya mana aku tau…”
Cila masih terlihat geli di sampingku.
Aku menghela napas kecil, lalu bersandar lagi.
“…Pantesan.”
Kak Marisa tertawa pelan.
Suasana meja itu langsung berubah.
Lebih hidup.
Lebih… ramai.
Kak Marisa pun menyimpan tasnya di meja, lalu duduk dengan santai seolah tidak ada yang aneh.
“Aduh, mau ngapain lagi nih…” pikirku dalam hati, langsung waspada.
“Perasaan tadi katanya mau ngadem di belakang rumah,” kata Kak Marisa sambil menatapku dengan senyum tipis yang… jelas nggak bisa dipercaya.
Aku mengangkat bahu, berusaha terlihat santai. “Ya nggak tau… semua terjadi begitu saja.”
Sekilas aku melirik ke arah Cila.
Cila hanya tersenyum kecil, sama sekali nggak membantu.
“Dih,” sahut Kak Marisa singkat, tapi nadanya penuh arti.
Cila langsung tertawa pelan di sampingku.
Aku cuma bisa menghela napas, pasrah.
Beberapa detik suasana jadi ringan, diisi tawa kecil yang nggak terlalu keras, tapi cukup bikin suasana meja terasa hangat.
Lalu Kak Marisa melirik ke arah jam di ponselnya.
Ekspresinya langsung berubah sedikit serius.
“Ah, iya…” gumamnya pelan.
Dia berdiri lagi, mengambil tasnya.
“Udah, Kakak masuk dulu ya. Ada yang harus diurus,” katanya cepat.
Aku mengangguk. “Oh… iya, kak.”
Kak Marisa lalu menoleh ke Cila, senyumnya kembali muncul.
“Dadah, Cila.”
Cila mengangkat tangan kecil. “Iya, Kak.”
Setelah itu, Kak Marisa berjalan masuk ke dalam kafe, langkahnya cukup cepat seperti benar-benar sedang dikejar sesuatu.
Aku memperhatikannya sampai sosoknya hilang di balik pintu.
Beberapa detik… aku masih diam.
Lalu perlahan aku menoleh ke arah Cila.
“…Jadi,” kataku pelan.
Cila menatapku, masih dengan senyum tipisnya.
“Kamu udah tau dari awal ya… ini tempat Kak Marisa?”
Cila tidak langsung menjawab.
Dia mengambil minumannya, menyeruput sedikit, lalu meletakkannya kembali dengan tenang.
Baru setelah itu dia menatapku lagi.
“Iya,” jawabnya santai.
Aku langsung menghela napas panjang.
“Pantesan kamu bilang ‘tempat yang bagus’…”
Cila tersenyum, sedikit menahan tawa.
“Emang bagus, kan?”
Aku mengangguk pelan, lalu ikut tersenyum.
“Iya sih… bagus.”
Angin malam kembali berhembus pelan.
Suasana kembali tenang, tapi sekarang rasanya beda.
Lebih… ringan.
Aku menyandarkan badan ke kursi, menatap langit malam sebentar.
“Cil…”
“Hm?”
“Makasih ya.”
Cila sedikit mengernyit. “Buat apa?”
Aku berpikir sebentar, lalu tersenyum kecil.
“Ya… buat hari ini.”
Cila tidak langsung menjawab.
Dia hanya menatapku beberapa detik.
Lalu—
“Ya,” katanya singkat.
Tapi kali ini, senyumnya sedikit berbeda.
Lebih hangat.
Dan entah kenapa…
aku jadi ikut tersenyum lebih lebar.
Tak lama setelah itu, aku melirik jam di tanganku.
Waktu berlalu lebih cepat dari yang aku kira.
Besok sudah mulai sekolah seperti biasa setelah tiga hari MOS.
Aku menghela napas kecil.
“Cil,” panggilku.
“Hm?” jawabnya sambil sedikit mengangkat alis.
“Pulang yuk. Besok sekolah.”
Cila mengangguk sambil menyeruput minumannya yang hampir habis.
“Iya.”
Aku berdiri lebih dulu.
“Tunggu ya, aku bayar,” kataku.
“Bentar,” potong Cila cepat.
Aku menoleh.
“Kali ini aku yang bayar. Pertama, aku yang ngajak. Kedua… sebelumnya kamu terus yang bayar.”
Nadanya santai, tapi ekspresinya cukup serius.
Aku menghela napas, lalu mengangkat bahu.
“Ya udah.”
Cila berdiri dan berjalan ke arah kasir.
Aku mengikuti dari belakang.
Begitu sampai di kasir, Cila langsung menanyakan totalnya.
“Sudah dibayar, Kak,” kata penjaga kasir dengan senyum ramah.
Aku dan Cila langsung saling menoleh.
“Lho… kok udah dibayar?” kataku hampir bersamaan dengan Cila.
Tiba-tiba—
“Udah, itu promo buat pelanggan baru.”
Suara itu muncul dari samping.
Kami langsung menoleh.
Kak Marisa berdiri di sana, bersandar santai dengan senyum kecil di wajahnya.
Aku menatapnya beberapa detik.
Promo?
Yang bener aja…
Tapi melihat ekspresinya, aku langsung paham.
Aku menghela napas pendek, lalu tersenyum kecil.
“Oh… ya udah. Makasih ya, Kak.”
“Iya, makasih, Kak,” sambung Cila.
Kak Marisa mengangguk kecil, terlihat puas.
“Ya udah, kalian pulang sana. Udah malam. Besok sekolah, kan?”
“Iya, Kak.”
Kami pun keluar dari kafe.
Udara malam langsung terasa lebih dingin saat pintu terbuka.
Angin pelan menyapu wajah, membawa sisa aroma makanan dan kopi yang masih tertinggal di dalam.
Aku berjalan di samping Cila menuju mobil.
Langkah kami santai.
Tidak terburu-buru.
Dan entah kenapa… tidak ingin terlalu cepat sampai.
Hari ini terasa sederhana.
Tidak ada hal besar.
Tidak ada momen dramatis.
Tapi justru itu…
yang membuatnya berkesan.
Kami masuk ke mobil, dan tak lama kemudian perjalanan pulang dimulai.
Mesin menyala pelan.
Lampu depan menyorot jalan di hadapan.
Sepanjang jalan, suasana tidak banyak berubah.
Tenang.
Nyaman.
Bukan lagi diam yang canggung.
Tapi diam yang… cukup.
Aku menyandarkan badan ke kursi, menatap ke luar jendela.
Lampu-lampu jalan berderet, memanjang mengikuti arah jalan yang kami lewati.
Sesekali aku melirik ke arah Cila.
Dia tetap fokus menyetir, ekspresinya tenang seperti biasa.
Tapi sekarang…
aku mulai terbiasa dengan itu.
“Besok kamu berangkat bareng aku, kan?” tanyaku.
“Iya,” jawabnya singkat sambil mengangguk, matanya tetap ke jalan.
Jawabannya sederhana.
Tapi cukup bikin sudut bibirku naik sedikit.
Aku tersenyum kecil.
Mobil melambat saat memasuki kompleks rumah kami.
Deretan rumah besar dengan halaman luas mulai terlihat, lampu taman menyala redup di beberapa sudut.
Rumahku dan rumah Cila berdampingan—dipisahkan pagar, tapi tetap terasa dekat.
Sejak dulu.
Dan sampai sekarang…
kedekatan itu seperti tidak pernah benar-benar hilang.
Cila menepikan mobil tepat di depan gerbang rumahku.
Aku membuka sabuk pengaman, lalu menoleh ke arahnya.
“Makasih ya… buat hari ini,” kataku pelan.
Cila menoleh sedikit.
“Iya, tadi kamu udah bilang lho waktu di kafe,” jawabnya.
Aku terkekeh kecil, lalu menggaruk belakang kepala.
“Hehe…”
Cila ikut tertawa pelan melihat reaksiku.
Suasana kecil yang… entah kenapa terasa hangat.
Aku membuka pintu, lalu turun dari mobil.
“Awas besok jangan sampai kesiangan. Jemput aku,” ucap Cila.
“Siip,” jawabku singkat.
Aku berdiri di depan gerbang rumah, sementara mobil Cila perlahan bergerak maju.
Tidak jauh.
Hanya beberapa meter ke depan—menuju rumahnya sendiri.
Dia membunyikan klakson kecil.
Tak lama, Pak Bejo keluar dan membukakan gerbang rumah Cila.
Mobil itu masuk dengan pelan, lalu gerbang kembali tertutup.
Aku masih berdiri sebentar, memperhatikan.
Dekat.
Sangat dekat.
Bahkan mungkin terlalu dekat untuk sekadar disebut kebetulan.
Aku menghela napas kecil.
Lalu berbalik masuk ke rumahku.
Suasana di dalam sudah sepi.
Lampu ruang tengah redup, tidak ada suara TV, tidak ada suara orang berbicara.
Aku langsung menuju kamar.
Melepas sepatu, lalu ke kamar mandi.
Sikat gigi, cuci muka…
rutinitas sederhana yang entah kenapa terasa lebih ringan dari biasanya.
Setelah itu aku menjatuhkan diri ke tempat tidur.
Menatap langit-langit kamar.
Pikiranku kembali ke tadi.
Perjalanan tanpa tujuan jelas.
Kafe yang ternyata milik Kak Marisa.
Tawa kecil yang muncul tanpa dipaksa.
Dan… Cila.
Aku tersenyum kecil.
Besok kami berangkat bareng.
Dan untuk pertama kalinya setelah beberapa waktu…
aku tidak merasa hari esok itu biasa saja.
Aku menutup mata perlahan.
Dengan satu pikiran sederhana—
aku tidak sabar menunggunya datang.