NovelToon NovelToon
Fajar Kedua Sang Lady

Fajar Kedua Sang Lady

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Wanita perkasa
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

tiba-tiba terbangun di tubuh Lady Genevieve, seorang bangsawan wanita yang sedang diasingkan di sebuah kastil tua karena fitnah kejam di ibukota. Suaminya sendiri, Duke of Blackwood, mengabaikannya. Saat dia bangun, sebuah "Sistem" muncul dan memberitahunya bahwa ada pelayan di kastil ini yang pelan-pelan meracuninya setiap malam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 16

Ketakutan purba bereaksi di dalam benaknya, insting dasar manusia yang berteriak untuk berlari. Namun, Genevieve yang cerdas segera menekan insting tersebut dengan rasionalitas baja. Berlari dengan pergelangan kaki yang terkilir dan tulang rusuk retak sama saja dengan menyajikan dirinya sendiri ke rahang mereka. Bersembunyi tanpa perlawanan juga percuma; penciuman tajam binatang buas itu akan menemukan kepompong kayunya dalam hitungan menit.

Ia hanya memiliki satu keuntungan: predator selalu menganggap mangsa yang terluka sebagai makanan yang tidak akan melawan. Ia harus memutarbalikkan logika alam liar itu.

"Empat puluh menit sebelum mati kedinginan," gumam Genevieve pada dirinya sendiri. Matanya yang berwarna kristal biru kini menyala dengan kekejaman yang tak terduga. "Mari kita lihat apakah aku bisa mencuri mantel berbulu malam ini."

Genevieve segera bergerak, mengabaikan protes menyakitkan dari tulang rusuknya. Ia mengambil salah satu serpihan kayu terkecil yang memiliki dua buah paku besi berkarat mencuat di ujungnya. Dengan menggunakan batu di sekitarnya, ia memukul paku itu berulang kali dengan sisa tenaganya, membengkokkan arah paku tersebut hingga menyilang dan menyerupai kail raksasa yang tajam.

Selanjutnya, ia mengeluarkan botol racun Silvershade dari sakunya. Ia membuka sumbatnya dengan gigi, lalu menuangkan setengah dari cairan pekat berwarna kecokelatan itu perlahan-lahan ke atas permukaan kedua paku berkarat tersebut. Ia memastikan setiap milimeter logam tajam itu terlapisi oleh racun konsentrat tinggi yang bahkan bisa membunuh seorang tabib dalam hitungan menit.

Perangkapnya belum selesai. Sebuah kail beracun tidak akan berguna jika tidak ada umpan yang ditelan utuh.

Genevieve menatap lengan kirinya yang pucat. Tanpa sedikit pun keraguan di matanya, ia menggunakan ujung tajam dari serpihan kayu yang ia pegang untuk mengiris telapak tangannya sendiri.

Rasa perih menyengat, dan darah segar berwarna merah pekat seketika mengalir, menetes pelan menodai salju putih di sekitarnya. Aroma besi dari darah yang hangat langsung menguar kuat ke udara, menembus celah papan persembunyiannya, mengundang sang predator dengan cara yang paling provokatif. Ia mengoleskan banyak darahnya di sekitar paku beracun itu, menutupi aroma tanah dan racun herbal dengan aroma kematian yang segar.

Ia memosisikan kepingan kayu berpaku itu tepat di depan celah perlindungannya, menancapkan bagian bawah kayunya dalam-dalam ke tanah beku agar tidak mudah bergeser, sementara ujung paku yang dilapisi darah dan racun menghadap lurus ke arah luar, tersembunyi sebagian oleh tumpukan salju.

Kini, panggung telah diatur. Sang Lady yang terbuang kembali berdiam diri dalam bayang-bayang, tangannya yang berdarah menekan luka untuk memperlambat pendarahan, menanti tamunya tiba.

Waktu merangkak dengan sangat lambat. Detak jantung Genevieve terkendali, ritmenya disesuaikan dengan hembusan angin agar tidak ada getaran panik yang terpancar.

Lalu, suara langkah itu terdengar.

*Kres... Kres... Kres...* Suara bantalan kaki berat yang menginjak salju dengan sangat terukur. Ini bukan kawanan penuh; ini adalah sang pengintai (scout), serigala pertama yang dikirim atau yang paling cepat berlari mengikuti aroma darah.

Melalui celah sempit antara papan kayu yang menutupi rongga akar, Genevieve bisa melihat sepasang mata bercahaya kuning keemasan muncul dari balik kegelapan badai. Makhluk itu sangat besar, jauh lebih besar dari serigala mana pun yang pernah ia lihat di kehidupan modernnya. Bulunya seputih salju, tebal dan mengembang, memberikannya ilusi ukuran raksasa. Napas monster itu mengepulkan uap tebal dari moncongnya yang memperlihatkan deretan taring setajam pedang melengkung.

Serigala itu berhenti sekitar dua meter dari celah akar tempat Genevieve bersembunyi. Hidungnya berkedut liar, mengendus udara. Matanya yang buas terkunci langsung ke arah celah perlindungan itu. Ia tahu mangsanya ada di dalam. Ia mencium bau darah yang sangat kental.

Genevieve menahan napasnya secara absolut. Tubuhnya membeku bagaikan patung batu, matanya tak berkedip menatap predator yang kini menggeram rendah, sebuah suara getaran yang membuat tanah di sekitarnya seolah ikut bergetar.

Melihat mangsanya tidak melarikan diri, serigala salju itu melangkah maju. Tidak ada keraguan dalam gerakannya, hanya keangkuhan predator puncak yang hendak mengambil haknya. Ia mendekati celah kayu tersebut. Kepalanya yang besar menunduk, moncongnya mendekat ke arah tumpukan salju tempat bau darah Genevieve paling pekat berkumpul. Tepat di mana paku beracun itu bersembunyi.

Serigala itu membuka rahangnya, berniat untuk menggigit dan mencungkil papan kayu yang menghalangi jalan masuknya, sekaligus melahap bongkahan salju berdarah yang menggoda selera makannya.

*Trek!*

Terdengar bunyi nyaring saat rahang kuat monster itu menutup dengan kasar, menghantam kepingan kayu umpan yang ditanam kokoh di tanah bersalju. Bersamaan dengan itu, sepasang paku berkarat yang menyilang dengan kejam menusuk dalam-dalam menembus langit-langit mulut dan lidah serigala tersebut.

Monster putih itu langsung melepaskan raungan rasa sakit yang memekakkan telinga. Ia menyentak kepalanya ke belakang dengan brutal, mencabut paku berkarat itu secara paksa dari mulutnya, merobek dagingnya sendiri. Darah segar berwarna merah gelap seketika menyembur dari moncongnya, menodai salju murni di depannya.

Serigala itu mundur beberapa langkah, menggeram liar, bersiap untuk menerjang dan menghancurkan papan persembunyian Genevieve karena amarah yang memuncak.

Namun, terjangan itu tidak pernah terjadi.

Racun Silvershade dirancang untuk meresap secara perlahan jika dicampurkan dalam teh, masuk ke dalam pencernaan. Tetapi, ketika racun berkonsentrasi murni itu masuk langsung ke aliran darah melalui luka menganga di area mulut yang dipenuhi pembuluh kapiler besar, efeknya sama sekali tidak berjalan lambat. Racun itu meledak seperti api di dalam pembuluh nadi sang binatang buas.

Baru saja serigala itu mengangkat kaki depannya untuk melompat, tubuh raksasanya tiba-tiba mengejang hebat. Mata kuning keemasannya membelalak penuh teror dan kebingungan. Otot-otot kakinya yang sekuat baja seketika kehilangan fungsi, lumpuh total oleh penekanan saraf pusat yang ekstrem.

Monster seberat ratusan pon itu jatuh berdebum di atas salju, menggelepar liar tanpa bisa mengendalikan gerakannya. Napasnya berubah menjadi suara cekikikan basah yang mengerikan saat racun itu menghentikan fungsi paru-parunya dengan kecepatan yang tak masuk akal. Serigala itu meronta selama sepuluh detik yang terasa sangat panjang, memuntahkan busa bercampur darah dari rahangnya, sebelum akhirnya tubuh besar itu ambruk sepenuhnya, terdiam, dan tak bernyawa lagi.

Keheningan kembali menyelimuti dasar Jurang Hitam, hanya dipecahkan oleh suara angin yang terus berembus.

Dari balik celah papan, Lady Genevieve menghela napas panjang yang terputus-putus. Keringat dingin membasahi dahinya, mengalahkan hawa beku yang membungkus kulitnya. Taktik mempertaruhkan nyawanya berhasil. Ia telah membunuh salah satu monster paling mematikan di Aethelgard hanya dengan dua buah paku berkarat, sisa racun tehnya, dan akal sehatnya.

Perlahan, ia menyingkirkan papan penutup rongga itu. Ia merangkak keluar dengan susah payah, mendekati bangkai serigala salju raksasa yang masih hangat itu. Tubuh binatang buas itu memancarkan panas biologis yang melimpah, sebuah tungku alami di tengah padang es yang mematikan.

Genevieve tidak membuang waktu. Dengan sisa tenaga terakhirnya, ia menyeret tubuhnya merapat ke perut besar serigala yang berbulu tebal tersebut. Ia menyelusupkan tubuh kurusnya yang kedinginan ke bawah kaki depan binatang mati itu, menyembunyikan dirinya dari hembusan angin beku, menyerap seluruh panas tubuh sang predator layaknya selimut termewah yang pernah ia rasakan.

Malam pertama di Jurang Hitam tidak berhasil membunuhnya. Sebaliknya, Jurang Hitam baru saja mengajarkan sebuah hukum alam yang akan Genevieve bawa hingga ia kembali ke permukaan nanti: *Dalam kegelapan yang absolut, mangsa yang cerdas selalu bisa memakan predatornya hidup-hidup.*

1
Bambang Widono
🙏👍💯💯💯💯💯💯👍👍👍🙏🙏🙏🙏
Memyr 67
𝗆𝖾𝗇𝖺𝗋𝗂𝗄
Wahyuningsih
thor sustemnya kok cuman gitu aja gk srulah
Wahyuningsih
thor buat suaminya menyesal d buat segan matipun tk mau biar nyakho dia n buat bbadaz abuz biar mkin keren
Wahyuningsih
q mampir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!