NovelToon NovelToon
Dimanfaatkan Mantan, Dirangkul Bad Boy Tampan

Dimanfaatkan Mantan, Dirangkul Bad Boy Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah
Popularitas:965
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Rania keras kepala memilih balikan dengan mantannya, Adrian, meskipun sahabat-sahabatnya sudah memperingatkan bahwa pria itu tidak baik. ia terlalu percaya pada perasaannya sendiri, sampai akhirnya menyadari bahwa Adrian hanya memanfaatkannya. Di saat Rania mulai bangkit dari luka itu, seseorang yang tak terduga justru datang mendekat—Revano, pria dingin yang perlahan mengubah hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hubungan yang berakhir

Brak!

Rania memukul meja dengan sangat keras hingga suara benturannya menggema di dalam kafe. Beberapa pengunjung yang sedang menikmati makanan mereka langsung terkejut. Tatapan mereka serempak pada meja tempat Rania dan teman-temannya duduk.

Bunga yang menyadari situasi itu buru-buru berdiri sedikit dari kursinya dan meminta maaf kepada para pengunjung lain, mencoba meredakan perhatian yang tertuju pada mereka. Ia mewakili Rania yang saat ini jelas sedang diliputi emosi.

"Brengsek!" geram Rania dengan rahang mengeras. Tangannya masih mengepal di atas meja. Ucapan Adrian dalam rekaman itu benar-benar membuat darahnya mendidih. Ternyata Adrian sama sekali tidak berubah.

"Bagaimana? Lo masih percaya sama si brengsek itu?" ucap Freya dengan nada tegas.

Rania tidak langsung menjawab. Dadanya naik turun menahan emosi. Perasaannya saat ini benar-benar campur aduk—kesal, marah, kecewa, dan sakit hati menjadi satu.

"Arghhh!" Rania mengerang frustasi sambil menundukkan kepalanya.

Balqis yang melihat keadaan Rania langsung berdiri dari kursinya lalu memeluk sahabatnya itu dengan erat.

"Sabar, Ran," ucap Balqis lembut sambil mengusap punggungnya.

"Apa salah gue sama dia sampai dia berani nyakitin gue lagi?" ucap Rania dengan suara bergetar. Tangisnya pecah di pelukan Balqis.

"Salah lo terlalu baik, Ran. Cowok lain lo cuekin, si brengsek itu malah lo puja-puja," ucap Bunga dengan nada kesal.

Namun Rania tidak menanggapi ucapan itu. Ia masih tenggelam dalam pelukan Balqis. Air matanya mulai membasahi pipinya, disertai suara sesegukan yang pelan namun menyayat.

Sekali lagi… Rania dikecewakan oleh orang yang sama.

"Sudah, Ran. Lo jangan tangisin si brengsek itu," ujar Balqis berusaha menenangkan.

Beberapa saat berlalu. Tangisan Rania perlahan mereda. Napasnya mulai kembali teratur.

Ia kemudian perlahan melepaskan pelukan Balqis.

"Lo sudah tenang?" tanya Balqis lembut.

Rania mengangguk pelan. Ia lalu menatap sahabat-sahabatnya satu per satu dengan mata yang masih sedikit merah.

"Gue minta maaf..." ucapnya lirih. "Gue gak dengerin ucapan kalian."

Sahabat-sahabatnya saling pandang, lalu tersenyum kecil. Dalam hati mereka merasa lega—rencana mereka akhirnya berhasil.

"Walaupun gue kesal sama lo, gue gak bakal biarin lo disakiti lagi," ucap Freya dengan nada lebih lembut dari biasanya.

Rania terlihat terharu mendengarnya. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berdiri lalu memeluk mereka semua.

"Makasih ya, guys. Kalian selalu ada buat gue… walaupun gue keras kepala," ucap Rania dengan tulus.

"Itu arti dari sahabat, Ran," ucap Balqis sambil tersenyum.

Di sisi lain, Rian yang sejak tadi memperhatikan mereka hanya tersenyum simpul. Selain bekerja untuk Bunga, ia juga sudah menganggap mereka seperti adik sendiri. Keempat gadis itu tidak pernah memandangnya sebagai bawahan, dan itu membuatnya merasa dihargai.

"Terus rencana lo gimana?" tanya Balqis setelah mereka kembali duduk dan melepaskan pelukan.

"Gue akan putus. Gue gak ingin bertahan lagi," jawab Rania dengan nada tegas.

"Bagus, lo akhirnya sadar juga, Ran," ucap Freya dengan senyum puas.

"Yuk, udah. Obrolannya sampai sini aja malam ini. Sekarang kita balik," ucap Bunga sambil merapikan tasnya.

"Hari ini Rania sudah gak sama si brengsek itu lagi. Jadi gue yang bayarin pesanan kalian," ucap Freya dengan nada antusias. Ia terlihat sangat puas karena rencananya berhasil membuat Rania lepas dari Adrian.

"Yeyy!" seru mereka kompak, membuat suasana meja itu yang tadinya tegang kini kembali terasa hangat.

~~

Setelah pulang dari kafe, Rania tidak langsung pulang ke rumah. Ia memilih berhenti sejenak di taman yang tidak jauh dari mansion tempat tinggalnya.

Malam mulai turun. Jalanan di sekitar taman sudah mulai sepi. Langit tampak gelap, hanya diterangi oleh lampu-lampu jalan yang berdiri berjajar di sepanjang trotoar. Suasana terasa sunyi.

Angin malam berhembus pelan, terasa sejuk namun juga menusuk hingga ke kulit. Di taman itu, Rania duduk sendirian di sebuah bangku—bangku yang sering ia duduki setiap kali sedang menghadapi masalah.

Ia menundukkan kepala, lalu meremas rambutnya sendiri dengan frustrasi.

"Arghhh!" teriaknya tiba-tiba memecah kesunyian taman.

"Kenapa gue selalu dimanfaatkan… kenapa kebaikan gue selalu dimanfaatkan orang…"

Rania menggeleng pelan, menertawakan dirinya sendiri dengan getir.

"Kau bodoh, Rania. Sahabat kamu sudah negur lo tapi lo keras kepala."

Rasa malu perlahan memenuhi hatinya. Ia teringat bagaimana ia pernah membanggakan Adrian di depan sahabat-sahabatnya. Tapi kenyataannya? Lagi-lagi ia yang salah menilai.

"Sial… sial… sial…"

Rania menghela napas berat, lalu tiba-tiba teringat sesuatu.

"Duit gue melayang."

Dring! Dring!

Suara ponselnya berdering, memecah lamunannya. Rania merogoh ponsel dari kantong celananya. Saat melihat layar ponsel, ia langsung menghela napas kesal.

Nama Adrian tertera di layar.

Dengan rasa kesal yang masih menguasai dirinya, Rania akhirnya mengangkat panggilan itu.

"Halo, sayang," ucap Adrian dari seberang telepon.

"Hmm," jawab Rania singkat.

"Kamu di mana, sayang?" tanya Adrian.

"Taman," jawab Rania pendek.

Nada suaranya yang dingin langsung membuat Adrian merasa heran. Biasanya Rania tidak pernah menjawab seketus itu.

"Kamu kenapa? Kamu ada masalah?" tanya Adrian lagi.

"Gak."

Sekali lagi Rania menjawab dengan singkat.

"Kamu tidak seperti biasanya. Ada apa, sayang?" tanya Adrian dengan nada yang dibuat lembut.

"Ngapain kamu telepon?" tanya Rania ketus.

"Salah kalau aku telepon pacar aku sendiri?" jawab Adrian dengan nada heran.

"SEKARANG KITA PUTUS!" ucap Rania tiba-tiba.

"Apa! Maksud kamu, sayang? Kamu lagi prank aku ya?" ucap Adrian dengan nada tidak percaya.

"Kamu gak salah dengar. Aku mau kita P.U.T.U.S," ucap Rania dengan penuh penekanan di setiap hurufnya.

"Aku salah apa sama kamu, Ran? Ada yang tidak beres nih. Tunggu aku di sana, kamu jangan ke mana-mana," ucap Adrian cepat sebelum langsung mematikan telepon sepihak.

Beberapa menit kemudian, suara motor Adrian terdengar memasuki taman.

Motor itu berhenti tidak jauh dari bangku tempat Rania duduk. Rania hanya melirik sekilas, lalu kembali menatap lurus ke depan.

Adrian buru-buru turun dari motornya dan langsung menghampiri Rania.

"Sayang… kamu cuma prank aku kan? Kamu mau kasih aku kejutan ya?" ucap Adrian sambil mencoba memegang tangan Rania.

Namun sebelum tangannya menyentuh, Rania sudah lebih dulu menepisnya.

"Jangan sentuh aku!" bentak Rania.

Adrian terkejut. Selama mengenal Rania, ini pertama kalinya ia dibentak seperti itu.

"Rania… kamu kenapa? Aku salah apa sama kamu? Kenapa kamu berubah drastis seperti ini? Perasaan kita gak ada masalah. Tolong jelasin ke aku," ucap Adrian berusaha tetap tenang.

Rania menatapnya datar.

"Kamu tahu kan aku benci dibohongi?"

Adrian mengangguk pelan.

"Tapi kenapa kamu bohongin aku lagi, hah!" bentak Rania.

"Bohong? Maksud kamu apa, Ran? Aku gak paham," ucap Adrian berpura-pura bingung.

Rania menghela napas kasar.

"Kamu bohong. Rumah kamu akan disita oleh dept collector. Tapi apa? Kamu cuma ingin bersenang-senang sama teman kamu pakai uang aku!" teriak Rania.

Adrian kembali terkejut. Tubuhnya terasa kaku.

Dalam pikirannya hanya ada satu pertanyaan: dari mana Rania tahu?

"Kamu tipu aku dengan kata-kata busuk kamu itu. Dan sialnya aku percaya," lanjut Rania dengan suara bergetar karena marah.

"Rania, kamu jangan asal ngomong. Aku tidak bohong sama kamu, sayang. Rumah aku memang mau disita, tapi tidak jadi karena aku sudah bayar," jelas Adrian cepat.

"Oh… kamu gak bohong ya?" ucap Rania dengan senyum sinis.

"Baiklah."

Rania lalu mengutak-atik ponselnya, kemudian memperdengarkan rekaman percakapan Adrian dengan teman-temannya.

Begitu suara rekaman itu terdengar, wajah Adrian langsung berubah panik.

Rahasianya benar-benar terbongkar.

"Sayang, dengarkan aku dulu. Aku minta maaf," ucap Adrian buru-buru sambil mencoba menggenggam tangan Rania.

Namun setiap kali ia mencoba menyentuhnya, Rania selalu menepis tangannya.

"Aku gak mau dengar apa-apa lagi. Sekarang kita P.U.T.U.S," ucap Rania dengan penekanan kuat.

"Dan satu lagi," lanjutnya tajam. "Jangan lupa kamu kembalikan uang yang sudah aku kasih ke kamu. Kalau tidak, aku akan laporin kamu ke polisi. Aku sudah punya buktinya, jadi jangan sampai kamu gak membayarnya."

Setelah mengatakan itu, Rania langsung berdiri dari bangkunya dan berjalan meninggalkan Adrian.

"Rania, tunggu!" teriak Adrian sambil mengejar.

Rania langsung menghentikan langkahnya lalu menoleh dengan tatapan tajam.

"Kalau kamu masih ngikutin aku, aku akan teriak," ancam Rania.

Ia lalu menunjuk ke arah pos satpam yang tidak jauh dari taman itu.

"Kamu lihat di sana ada satpam, kan? Aku bisa saja panggil dia dan nuduh kamu yang enggak-enggak."

Ucapan itu membuat Adrian langsung terdiam. Ia tidak berani bergerak lagi.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Rania kembali berjalan dan meninggalkan Adrian sendirian di taman.

Beberapa saat kemudian, Rania sudah sampai di mansionnya. Ia langsung masuk dan berjalan cepat menuju kamarnya dengan wajah yang masih dipenuhi emosi.

Di ruang tamu, Raisa yang sedang duduk bersama suaminya menatap heran melihat putrinya.

"Dad… Rania kenapa ya?" tanya Raisa pada suaminya.

Radit tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap ke arah pintu kamar Rania yang tertutup rapat, seolah mencoba memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi pada putrinya.

~

Sementara itu, Adrian—setelah pertengkarannya dengan Rania—langsung menuju tempat yang biasa menjadi tongkrongan teman-temannya.

Brum! Suara motor Adrian berhenti di depan sebuah bengkel.

“Dari mana aja lo? Katanya kita mau pergi ke club malam ini,” ucap Roni yang baru saja keluar dari pintu bengkel.

“Kita gak jadi ke club,” jawab Adrian singkat, lalu duduk di salah satu kursi. “Gue minta balik uang yang gue kasih ke kalian.”

“Maksud lo apa minta balik tuh duit lagi?” sahut Azran yang muncul di pintu dengan minuman soda di tangannya.

“Rencana kita gagal,” jelas Adrian dengan helaan napas berat.

“Gagal? Gagal apaan? Kita kan sudah dapat duitnya,” ucap Roni kebingungan.

Dengan berat hati, Adrian menjelaskan apa yang terjadi antara dirinya dan Rania.

“Kenapa bisa dia tahu? Yang tahu kan cuma kita bertiga,” ucap Azran, heran.

“Gue juga gak tahu dia tahu dari siapa. Dia punya bukti rekaman kita bertiga tadi siang,” jawab Adrian, yang sama bingungnya tentang bagaimana Rania bisa mengetahuinya.

“Kita cuma bertiga yang ada di sini, gak ada siapa-siapa lagi,” ucap Azran sambil mengerutkan kening.

“Apa ada hantu?” jawab Roni asal.

“Ya kali ada hantu,” ucap Azran sambil menatap Roni dengan malas.

“Jadi duitnya harus dibalikin nih?” ucap Roni, jelas tak rela kehilangan uang itu.

“Mau bagaimana lagi. Kalau tidak, kita bisa masuk penjara,” jawab Adrian.

“Argh, baru juga kita mau ke club,” kesal Azran.

“Kirim cepat, jadi masalahnya cepat selesai. Kalau tidak, kita benar-benar bisa masuk penjara,” ucap Adrian.

Dengan hati yang berat, mereka berdua akhirnya mengirim kembali uang tersebut.

“Untung gue belum belanja nih duitnya,” ucap Azran kesal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!