Terlahir kembali sebagai pangeran tertua di Kekaisaran Xingluo seharusnya adalah tiket keberuntungan. Namun bagi Dai Xuan, itu adalah hukuman mati. Di bawah hukum rimba keluarga kerajaan Dai yang kejam, kegagalan membangkitkan Martial Soul Harimau Putih berarti satu hal: tersingkir atau binasa.
Dunia mencemoohnya. Saudara-saudaranya memandangnya rendah sebagai "produk gagal". Namun, mereka tidak tahu bahwa di balik tubuh yang dianggap lemah itu, tersimpan kekuatan dari dunia lain.
Bukan Harimau Putih biasa yang ia bawa, melainkan White Tiger Soul-Locking Ability. Kekuatan unik yang mampu mengunci takdir, membelenggu jiwa, dan mematahkan aturan absolut Benua Douluo. Dengan kekuatan jiwa penuh bawaan (Innated Full Soul Power), Dai Xuan memulai langkahnya dari kegelapan.
"Aturan dibuat oleh mereka yang berada di atas. Karena Harimau Putih kalian tidak mengakuiku, maka aku akan menciptakan takdirku sendiri."
Dingin, analitis, dan tanpa ampun kepada musuh. Dai Xuan tidak butuh pengakuan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemenangan Akademi Kerajaan Xing Luo dan Pertemuan dengan Yang Wudi
“Putra Mahkota Xue Qinghe, senang bertemu dengan Anda.”
Suara lembut namun jelas menyapa dari depan. Xue Qinghe—yang kini kita kenal sebagai putra mahkota dari Kekaisaran Surga Dou—berdiri dengan sikap anggun, mengenakan jubah berwarna emas muda yang mencerminkan statusnya yang tinggi. Wajahnya yang tampan dipadukan dengan tatapan yang tajam namun penuh rasa hormat, membuat banyak mata terpaku padanya. Namun saat pandangannya menyentuh Dai Xuan dan Zhu Zhuyun, ada kilatan yang tidak bisa disembunyikan di sudut matanya.
“Kita dari Akademi Kerajaan Star Luo.” Jawab Dai Xuan dengan nada yang tetap tenang, meskipun hati dia sudah mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres. “Jika tidak ada hal lain, kami ingin melanjutkan perjalanan.”
Sebelum Xue Qinghe bisa menjawab, suara keras tiba-tiba menggema dari arah pintu Istana Paus Agung yang semakin terbuka lebar. Semua mata langsung tertuju ke sana—dan muncul sosok seorang wanita yang megah dengan tinggi badannya yang menjulang, mengenakan gaun panjang berwarna ungu keemasan dengan mahkota yang terpancar kilauan misterius. Bibi Dong—Paus Agung Aula Roh—berjalan keluar dengan langkah yang mantap, diikuti oleh dua lelaki tangguh di sisinya: satu dengan rambut putih seperti salju yang mengkilap, dan yang lain dengan sosok kokoh yang membawa aura kesatria yang tak terbendung.
“Salam kepada semua peserta yang telah berkumpul di sini hari ini.” Suara Bibi Dong terdengar jelas dan meresap ke setiap sudut arena, membuat seluruh ruangan menjadi sunyi sejenak. “Turnamen Elit Guru Roh Kontinental tahun ini bukan hanya ajang untuk menunjukkan kekuatan masing-masing akademi, melainkan juga untuk menjalin hubungan dan pemahaman antar sesama Guru Roh di seluruh benua.”
Setelah pidatonya selesai, dia secara perlahan menoleh ke arah Xue Qinghe yang berdiri tidak jauh dari Dai Xuan, dengan ekspresi yang menunjukkan bahwa dia mengetahui rahasia yang tersembunyi di balik wajah pemuda itu.
Beberapa saat kemudian, acara resmi dimulai. Tim dari berbagai akademi mulai menunjukkan kemampuan mereka satu per satu, dan tidak lama kemudian giliran Akademi Kerajaan Star Luo tiba. Para anggota tim dengan percaya diri memasuki arena, dipimpin oleh beberapa siswa terbaik yang telah mencapai tingkat yang cukup tinggi. Namun yang paling menarik perhatian bukanlah mereka—melainkan Dai Xuan yang berdiri di pinggir arena dengan sikap yang tenang, bersama Zhu Zhuyun yang kini sudah menunjukkan kemajuan pesat dalam mengendalikan kekuatan Rohnya.
Setelah melewati babak penyisihan yang ketat selama lebih dari sebulan, akhirnya tahap final tiba. Dan dengan hasil yang mengejutkan banyak orang, Akademi Kerajaan Star Luo berhasil mengalahkan semua lawan mereka dengan dominan—bahkan ketika menghadapi tim terbaik dari Aula Roh yang dipimpin oleh Hu Liena, mereka tetap mampu mengangkat trofi kemenangan dengan bangga.
“Bagaimana mungkin mereka bisa menang?! Ini pasti ada kecurangan!” Teriak seorang peserta dari akademi lain dengan suara penuh kemarahan, namun segera ditahan oleh teman sebaya yang lebih tenang.
“Hush… jangan membuat masalah di tempat seperti ini.” Ucap temannya dengan suara pelan, menyadari bahwa kemarahan itu hanya akan membawa masalah lebih besar.
Pada hari kemenangan, saat seluruh tim Akademi Kerajaan Star Luo sedang merayakan kemenangan mereka di sebuah kedai kecil di pinggiran Kota Roh, suara tiba-tiba menyelinap dari balik pintu yang terbuka sedikit.
“Selamat atas kemenanganmu, Dai Xuan.”
Dai Xuan menoleh dan melihat sosok Hu Liena yang berdiri dengan tenang di pintu, wajahnya menunjukkan ekspresi yang lebih matang daripada sebelumnya. Kali ini aura pesonanya tidak lagi menyebar secara tidak terkendali—dia sudah bisa mengendalikannya dengan baik.
“Terima kasih.” Jawab Dai Xuan dengan senyum yang lebih hangat dibandingkan pertemuan pertama mereka. “Kamu juga menunjukkan kemampuan yang luar biasa di kompetisi.”
“Kita akan bertemu lagi nanti, kan?” Tanya Hu Liena dengan senyum tipis sebelum berjalan pergi meninggalkan kedai itu, tanpa perlu berkata lebih banyak kata.
Setelah dia pergi, Zhu Zhuyun mendekat dengan sedikit ragu sebelum berbicara, “Aku merasa dia sudah tidak sama seperti dulu ya?”
“Semua orang bisa berubah seiring waktu, Zhuyun.” Jawab Dai Xuan dengan lembut menyentuh kepala gadis itu. “Yang penting adalah kita tahu apa yang kita inginkan dan siap untuk berjuang untuknya.”
Beberapa hari kemudian, saat rombongan Akademi Kerajaan Star Luo sedang dalam perjalanan pulang ke kota mereka, kereta tiba-tiba berhenti mendadak di tengah jalan. Suara kekhawatiran dari pengemudi terdengar dengan jelas:
“Yang Mulia, ada banyak mayat yang terbentang di jalan depan, dan sepertinya ada orang yang sedang bertempur!”
“Apa yang terjadi?” Tanya Dai Xuan dengan cepat membuka tirai kereta untuk melihat ke luar. Di kejauhan, dia melihat sekelompok orang berpakaian hitam sedang mengepung seorang pria paruh baya yang tampak terluka parah namun tetap berdiri dengan tegak, memegang tombak panjang yang tampak sangat berat.
“Kita harus melihat lebih dekat.” Kata Dai Xuan dengan tegas sebelum turun dari kereta bersama Zhu Zhuyun. Richard dan beberapa guru segera mengikuti dengan waspada—mereka tahu bahwa jika ada yang mengganggu Dai Xuan, konsekuensinya akan sangat besar.
Di tengah lokasi kejadian, seorang pria dengan tubuh tegap berdiri dengan gagah meskipun tubuhnya penuh dengan luka dan bercak darah. Tombak panjang berwarna gelap yang dia pegang tampak seperti bagian dari dirinya sendiri, dan tujuh cincin Roh dengan warna berbeda melingkar di sekitar tubuhnya—menunjukkan bahwa dia adalah seorang Guru Roh tingkat tinggi yang sangat berpengalaman.
“Yang Wudi! Kamu tidak bisa melarikan diri lagi! Serahkan apa yang kamu bawa dan mungkin kami akan memberikan kematian yang cepat!” Teriak seorang lelaki berjubah hitam yang tampak sebagai pemimpin kelompok tersebut, dengan cincin Roh yang menunjukkan dia telah mencapai tingkat yang cukup tinggi.
“Kalian dari Aula Roh benar-benar tidak tahu batasan ya? Beraninya kamu melakukan pembunuhan di wilayah Kekaisaran Star Luo!” Jawab Yang Wudi dengan suara penuh kemarahan, matanya merah padam karena amarah dan rasa sakit yang menyiksa dirinya.
“Bagaikan kamu bisa menghentikan kami sendirian!” Ucap lelaki berjubah hitam dengan sinis sebelum memberikan tanda untuk menyerang. Namun sebelum mereka bisa bergerak, suara keras tiba-tiba menggema dari belakang mereka:
“Berhenti saja!”
Semua orang menoleh dan melihat Dai Xuan yang sedang mendekat dengan langkah yang mantap, diikuti oleh Zhu Zhuyun dan beberapa guru serta siswa akademi Star Luo. Ekspresi Dai Xuan sangat serius—dia merasa bahwa aksi pembunuhan yang dilakukan oleh kelompok itu adalah penghinaan terhadap hukum di wilayahnya.
“Siapa kamu yang berani menghalangi jalan kami?” Tanya pemimpin kelompok itu dengan tatapan yang menyengat, namun segera berubah menjadi terkejut saat melihat lambang di dada Dai Xuan yang menunjukkan statusnya sebagai anggota keluarga kerajaan.
“Kalian sedang melakukan pembunuhan di wilayah Kekaisaran Star Luo tanpa izin apa pun.” Kata Dai Xuan dengan suara yang dingin namun tegas. “Apakah kamu berpikir bahwa Kaisar akan tinggal diam jika tahu tentang hal ini?”
Ekspresi pemimpin kelompok itu menjadi sangat gelisah—dia tahu bahwa jika Kaisar mengetahui tentang tindakan mereka, konsekuensinya akan sangat mengerikan. Namun sebelum dia bisa berkata apa-apa, suara Richard terdengar dari belakang Dai Xuan:
“Yang Mulia, kami telah menghubungi pasukan kerajaan. Mereka akan segera tiba untuk menangkap kelompok ini yang telah melanggar hukum kekaisaran!”
Mendengar kata itu, wajah para penyerang langsung berubah menjadi pucat. Mereka tahu bahwa mereka telah berada dalam masalah yang sangat besar—tidak hanya karena menyerang seorang Guru Roh tingkat tinggi, namun juga karena melanggar kedaulatan Kekaisaran Star Luo di wilayah mereka sendiri.