NovelToon NovelToon
Say, Love You Too

Say, Love You Too

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Ketos / Perjodohan
Popularitas:161.1k
Nilai: 5
Nama Author: sinta amalia

Dijodohkan dan bertunangan sejak putih abu membuat Naka dan Shanum menyembunyikan hubungan keduanya dari orang lain termasuk teman-temannya. Terlebih, baik Naka ataupun Shanum tak pernah ada di daftar putih masing-masing.

Tapi siapa menyangka, diantara usaha keduanya, perasaan cinta justru hadir mengisi setiap ruang hati satu sama lain. Siapakah yang akan duluan menyatakan cintanya?

Say, love you too....
Katakan, aku juga cinta kamu...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 Sini gue pangku...

Jarak antara tempat percetakan dan apartemen lebih jauh apartemen.

Maka Naka mengambil option tempat kerja, selain alasan lebih dekat---disana, ia menaruh baju ganti juga.

Benar, selain apartemen, tempat kerja sudah seperti rumahnya juga. Layaknya manusia purba, yang hidup nomaden, jika sedang musim tahun ajaran baru atau event tertentu, percetakan selalu kebanjiran pesanan, terkadang Naka juga ikut turun tangan dan sibuk di percetakan, bukan hanya pintar memerintah saja...melainkan ia ikut terjun dan ambil andil di bagian produksi atau depan konter.

Seorang pemimpin sejati memang sudah seharusnya begitu, kan?

Pernah di satu semester nilainya menurun, membuat mama Anye memintanya mengikuti les tambahan dan mengurangi jam sibuk di percetakan.

Shanum melihat jaket Naka yang benar-benar sudah ikut meneteskan air tanda jika ia begitu kuyup. Ada perasaan kasihan, tak enak hati dan bersalah.

"Ka," bisiknya dengan nada memelas. Kedua tangannya memeluk lebih erat meski tak menekan dan membuat Naka sesak. Dapat Shanum rasakan--dingin dan basah dari balik jas hujan dan pakaian kering yang membalutnya. Wajahnya yang diterpa dan dijatuhi air hujan cukup terasa kebas selain dari kerasnya kecepatan terpaan tapi rasa dinginnya juga turut membuat wajah Shanum berulang kali menunduk.

"Bentar lagi sampe." Lirih Naka.

Cipratan air membentuk ekor ayam menyebar ke samping kanan dan kiri motor Naka ketika ban motornya melewati air yang menggenang.

Crattt!

Tidak semata-mata Naka berani melakukan itu, sebab jalanan yang dilewatinya sedang tak ada pengguna jalan lain yang berada dalam jarak dekat dengannya.

Sementara pelukan Shanum semakin mengerat, hingga akhirnya mereka menyatu kembali dengan kondisi ramai kemudian sampai di tempat tujuan.

...**Bright Star Printing**...

Signage atau signboard dengan neon box terpampang di atas bangunan permanen, area parkir yang cukup untuk 3 buah mobil dan 5 motor berjejer itu setengah penuh.

Motor langsung melaju masuk ke dalam, tidak parkir bersama motor pelanggan melainkan ke arah samping, dimana ada gang sempit yang dipasangi pagar dan langsung terhubung ke bagian belakang kantor plus rumah produksi ini.

"Mas Naka..." seorang dengan rompi hijau stabilo membantu Naka membukakan pagar sebesar pintu itu.

Motor berhenti tepat di belakang dua buah motor matic yang berjajar, Shanum akhirnya turun, begitupun Naka yang langsung membuka helmnya.

Sebadan-badannya begitu basah sampai meneteskan air. Shanum dibuat nyengir getir, sementara Naka tak bisa untuk langsung masuk ke dalam dengan jaket, baju dan celana mengucurkan air begitu.

"Ambilin baju gantiku di dalem ruangan kantor." Pintanya pada Shanum, Naka terlihat sedikit menggigil membuat Shanum bergegas setelah sempat memanggil terlebih dahulu bang Handi untuk ijin sambil menenteng kunci ruangan Naka ke dalam.

Sempat dua kali Shanum datang kesini, jadi ia sangat tau dimana letaknya. Sepatu Shanum turut basah, meski tak separah Naka.

Ia menaruh sejenak tasnya di sofa sesampainya di dalam ruang kantor, matanya masih dapat menyapu pemandangan makanan di meja yang belum habis, bukti jika Naka sedang makan saat memutuskan untuk menjemputnya.

Ia lebih dulu menyasar ke arah gantungan baju yang disana tergantung sebuah jaket bersih nan wangi masih dikemas plastik, lalu dua buah kaos berwarna putih dan hitam, serta celana kargo selutut dan training.

Shanum mengambil itu. Kaos putih dan celana training. Lalu keluar kembali untuk menyerahkannya pada Naka.

Masih berada di gang sempit itu, Naka sudah membuka jaket kuyupnya itu dan menggantung di luar bersama jas hujan milik Arjuna.

"Kamar mandinya di dalem kan?" Shanum menyerahkan itu tapi menerima jam tangan, dompet, ponsel terbungkus dan lembaran uang yang basah, Naka menyugar rambutnya yang sedikit basah, "aku ganti baju di kamar mandi karyawan. Bawa ke kantor, tunggu disana aja." Lagi, titahnya dituruti Shanum.

Ada seruan, "weyy mas! Ujan-ujanan lah."

"Mas Naka, ngga bisa dibilangin sih..."

Naka hanya tersenyum dan menyetujui, "iya nih, hujannya gede banget lah.."

"Demi pacar ya, mas...aweuuu!"

Shanum ikut tersenyum merasa wajahnya kembali panas.

"Mau dong jadi mbak Shanum..." itu mbak Fitri yang berjalan dengan sendal jepitnya dari area depan ke belakang dengan santainya menggoda muda-mudi atasannya itu.

"Mau dibikinin teh atau kopi ngga?" tanya nya begitu baik.

Ingin sekali Shanum berkata iya, tapi Naka justru, "biar dia bikin sendiri, mbak." Jawabnya masuk ke dalam kamar mandi.

Tatapan itu----tatapan-tatapan geli para karyawan BS printing jika melihat interaksi Naka dan Shanum. Seperti----ealahhh bocah udah main ibu-ibuan, bapak-bapak-an, omah-omahan.

Tapi kalaupun betulan, tak jadi soal sebab Naka sudah mampu menafkahi, bahkan 7 turunan.

Shanum segera masuk terlebih dahulu ke dalam kantor Naka, melepaskan sejenak sepatu dan kaos kaki basahnya dan menaruh itu di pojokan ruangan. Ruangan bercat biru pastel dan cream memberikan kesan luas di ruang minimalis ini.

Rapi, dengan barang yang tak begitu banyak.

Ada sebuah sofa panjang berukuran 160 cm yang menempel di tembok tanpa sandaran tapi dilengkapi dengan bantal-bantal sofa kecil sebanyak 4, dimana tasnya tadi ia lempar disana. Rak kabinet 5 tahap di sudut kanan belakang meja Naka dengan kursi gamingnya yang oh...tersampir jas OSIS di sandarannya, dan sisi kiri gantungan baju. Vas bunga dengan isian tanaman lidah mertua di samping sofa tepatnya di pojokan.

Ceklek...

Shanum menoleh ke arah pintu terbuka, menampakan ketos SMA Budi Pekerti X yang telah berganti pakaian itu.

"Gue pikir bikin teh manis anget di belakang."

Shanum mendelik, "tadi ditawarin mbak Fitri ngga mau."

"Mbak Fitri punya kerjaan lebih penting dari sekedar bikin teh manis. Disini yang ngga ada kerjaan, Lo...Sha. Gih bikin..."

Shanum meringis, "gulanya segimana, gue ngga tau Ka..." merengek.

"Ngga usah banyak-banyak lah...satu atau dua sendok aja cukup. Udah sering dibilangin juga..." Naka melengos ke arah kursinya mencoba mencari kehangatan dengan menggosok kedua tangannya yang sempat mati rasa tadi.

Mau tak mau Shanum menyeret kakinya keluar ruangan ke arah belakang mencari mbak Fitri yang nyatanya sudah kembali ke depan.

Ia juga tak mengenal semua karyawan disini membuatnya canggung melintas, meski kemudian ia memberanikan diri masuk begitu saja ke bagian dapur, mengedarkan pandangan mencari gelas lalu teh celup dan gula. Ia tak bodoh untuk membedakan gula, kopi, krimer dan garam.

Untung saja tidak harus merebus terlebih dahulu airnya, karena dispenser disini sudah nyala saban waktu.

Shanum hanya tinggal mengikuti instruksi Naka tadi. Ia juga tak terlalu bodoh untuk tak mengetahui caranya membuat teh manis, yang tadi itu----hanya basa-basi saja, yang sebenarnya ia malas. Tapi melihat Naka yang sampe kedinginan menjemputnya ia jadi tak enak.

/

"Naka..." Shanum mengetuk pintu ruangan Naka dengan dengkulnya sebab kedua tangannya memegang gelas teh manis.

Pintu terbuka dan Shanum masuk begitu saja, "ngga ada kental manis atau susu uht ya? Padahal gue pengen bikin teh tarik."

Naka menggeleng, "ngga ada kayanya. Tadi bukannya ngomong, jadi mampir ke minimarket dulu buat beli..."

Shanum menaruh itu di meja Naka dan satu lagi ia dekap meski sejurus kemudian ia menaruh gelasnya di meja karena panas.

"Naka gue pengen duduk disini ih! Disana kejauhan ngobrolnya." tunjuknya ke arah depan meja Naka lalu ke arah sofa di sudut sana, sementara Naka sudah duduk kembali di kursinya.

"Ya udah duduk, sini...gue pangku." Wajahnya itu datar tak seperti sedang bercanda tapi kok rasanya Shanum ingin sekali menjebleskan wajah Naka ke tembok!

.

.

.

.

1
bunga citra
darah muda😍😍
Septi
wkwkwkwkwk nggak ada yang percaya 🤣
Septi
wooowww 😅
Septi
bisa aja 🤣🤣🤣🤣
Bulan-⁶
berdua dengan posisi begitu ya bahaya lah ka
El aisya
apa shanum semacam banteng? bisa nyruduk ternyata 😅😆
El aisya
ampun dah num, semvak gak tuhhh🤣
El aisya
ealah bocil mau pangkuan juga
mommyanis
pokok e seru....best lah teh Shin 👍👍👍👍👍🤭
Elmaz
🤣🤣🤣🤣
mommyanis
apakah penampakkannya Naka sama dg penampakkan yg sekarang Num 🤔🤔🤔🤭🤭🤭
El aisya
wes pokoknya shanum kalo beli coklat fix ingatnya langsung sosoran Naka🤣🤣
mommyanis
nah kannnnn setannya ternyata ngumpet di dalam kolornya Naka 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Elmaz
iya ya apa kabar desti tuh.... bikinin crita dong teh ttg dia atau kita jodohin aja sama yahya.. 🤣🤣🤣
El aisya
eh eh eh ehhhh,,,, udah mulai nakal ya
mommyanis
kita bacain ayat kursi ato apa nich,takut setannya pada ngintip 😱😁
mommyanis
diarak pake sound horeg aja lah y,biar sampai pojokan dunia tau juga 😂😂😂
mommyanis
entah mengapa klo nyuci pake mesin cuci malah lebih lama selesainya dibandingkan dg nyuci manual alias ngucek pake tangan 🤔😁
deeRa
Astogeh, jujur sekali🤣🤣🤣🤣🤣
Anis Jmb
senyam senyum baca kisah mereka,,,🤭sweet ny naka😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!