Di dunia nyata, Aira adalah gadis pemalu yang sangat menyukai film kultus berjudul "The Velvet Manor". Film tersebut terkenal karena adegan-adegannya yang sensual dan karakter Nyonya Isabella von Raven yang kejam namun memikat, yang dikelilingi oleh empat pelayan pribadi yang setia sekaligus berbahaya.
Suatu malam, sebuah insiden di tangga membuat Aira kehilangan kesadaran. Saat terbangun, ia mendapati dirinya berada di dalam kamar mewah yang persis seperti lokasi syuting "The Velvet Manor". Ia kini menempati tubuh Isabella von Raven, sang nyonya rumah yang dikenal kejam. Di hadapannya, berdiri empat pelayan pribadi yang memiliki reputasi berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30. Perjamuan di atas bara api
Aula perjamuan The Velvet Manor mendadak terasa seperti sebuah makam yang luas dan megah.
Suara tawa Pangeran Valerius yang tadinya melengking sombong perlahan-lahan berubah menjadi serak dan berat, sebuah efek samping dari racun halusinasi yang diracik Julian dengan penuh kebencian.
Di bawah cahaya ribuan lilin kristal, bayangan di dinding tampak memanjang secara tidak wajar, seolah-olah mereka memiliki kehendak sendiri untuk merangkak mendekati meja makan.
Aira merasakan jantungnya seolah diremas oleh tangan es yang tak terlihat. Udara di sekitarnya mendadak merosot drastis hingga ia bisa melihat uap tipis keluar dari bibirnya yang kemerahan.
Sensasi dingin itu bukan berasal dari jendela yang terbuka, melainkan dari kedalaman jiwanya sendiri.
Clink.
Suara denting perak terdengar sangat nyaring di telinganya. Aira melirik ke arah sendok perak di samping piringnya. Di permukaan logam yang melengkung itu, ia tidak melihat pantulan wajahnya sendiri. Ia melihat Isabella asli.
Wajahnya pucat pasi, matanya hijau zamrud namun berpendar dengan cahaya merah yang jahat, dan lehernya tampak memiliki bekas luka melingkar yang hitam pekat.
"Berhenti bersikap bodoh, Aira..." suara itu bukan berasal dari luar, melainkan bisikan yang merambat langsung di sumsum tulang belakangnya.
"Pangeran ini tidak hanya membawa anjing pemburu rendahan itu. Dia membawa 'Cermin Pencabut Nyawa' (Soul-Severing Mirror) di balik jubah bulu cerpelainya."
Aira membeku. Jemarinya yang ramping mencengkeram pinggiran meja mahoni begitu kuat hingga buku jarinya memutih dan kukunya yang tajam hampir merobek taplak meja sutra.
"Dengarkan aku baik-baik, Penipu..." bisik Isabella lagi, suaranya kini mendesing seperti angin badai.
"Cermin itu ditempa dari perak terkutuk. Jika Valerius berhasil menyentuh kulit telanjang lehermu dengan permukaan cermin itu, frekuensi jiwamu yang asing akan terdeteksi. Jiwamu akan tersedot keluar dari raga ini dalam sekejap, dan aku... aku akan hancur bersamamu sebelum aku bisa mengambil kembali takhtaku. Lindungi lehermu, atau sandiwaramu berakhir malam ini sebagai mayat yang membusuk."
Aira menelan ludah dengan susah payah. Ia perlahan mengangkat pandangannya dari sendok perak itu.
Di hadapannya, Valerius sudah berdiri. Pangeran itu tampak goyah, matanya yang kuning serigala mulai kehilangan fokus akibat ramuan Julian, namun tangan kanannya tetap berada di dalam jubahnya, mencengkeram sesuatu yang berbentuk bulat dan pipih.
"Isabella... kenapa kau menatapku seolah aku adalah hantu?" Valerius melangkah maju, langkahnya berat namun penuh ancaman.
"Kau tampak sangat pucat di bawah cahaya ini. Mari kita berdansa satu putaran terakhir di tengah aula ini. Aku ingin merasakan detak jantungmu... untuk memastikan apakah kau benar-benar masih bernapas, atau kau hanyalah boneka yang digerakkan oleh sihir hitam para pelayanmu."
Dante dan Zane bergerak secara serentak, seolah-olah pikiran mereka telah menyatu dalam satu insting protektif.
Dante menghalangi jalan Valerius dengan postur tubuhnya yang dominan, sementara Zane sudah berdiri di samping Aira, tangannya berada di gagang pedang dengan posisi siap mencabut nyawa dalam hitungan detik.
"Pangeran, Nyonya kami sedang tidak enak badan," suara Dante sedingin es kutub.
"Ramuan Julian mungkin sedikit terlalu kuat untuk suasana hati Anda. Saya sarankan Anda kembali ke kursi Anda sebelum saya harus memanggil pengawal istana Anda untuk menjemput Anda dalam keadaan... tidak terhormat."
Valerius tertawa terbahak-bahak, suara tawanya kini terdengar seperti lolongan binatang.
"Budak berani mengatur Tuannya? Minggir, Dante! Aku tidak punya urusan dengan anjing penjaga. Aku ingin Nyonya-mu!"
Aira teringat peringatan Isabella. Ia tidak boleh terlihat takut. Jika ia lari, Valerius akan tahu dia punya kelemahan. Satu-satunya cara adalah menyerang balik dengan kekejaman yang lebih besar.
Aira berdiri perlahan dari singgasananya. Ia memberikan smirk yang paling tajam dan meremehkan yang pernah ia tunjukkan.
Ia menepis tangan Dante yang mencoba melindunginya, melangkah maju hingga ia berdiri tepat di depan Valerius—namun ia memastikan jaraknya cukup jauh agar tangan pria itu tidak bisa menjangkau lehernya secara mendadak.
"Kau ingin berdansa, Valerius? Di rumahku? Di hadapan para serigalaku yang lapar?" suara Aira melengking penuh otoritas yang membekukan darah.
"Kau sangat berani, atau kau sudah benar-benar kehilangan kewarasanmu karena anggur Julian."
Aira tiba-tiba melangkah maju satu langkah besar, ia meraih kerah jubah mewah Valerius dan menariknya dengan satu sentakan kasar, memaksa Pangeran itu membungkuk ke arahnya. Ia menatap mata Valerius yang mulai merah karena halusinasi.
"Aku tahu apa yang kau sembunyikan di balik jubahmu, Valerius," bisik Aira tepat di depan hidung Pangeran. Hawa napasnya yang dingin membuat Valerius merinding.
"Cermin perak itu... kau pikir aku tidak tahu dari mana kau mendapatkannya? Jika kau berani mengeluarkan benda itu satu inci saja, aku akan memastikan Kael merobek tenggorokanmu dan Zane mencabik jantungmu sebelum kau sempat melihat pantulanmu sendiri di neraka."
Di belakang Aira, Kael benar-benar menghunus pedang besarnya sedikit—SRING!—bunyi logam yang haus darah itu bergema di aula yang sunyi. Julian juga melangkah maju, memutar-mutar sebuah pisau kecil yang ujungnya telah dibasahi racun saraf.
"Bagus, Aira... buat dia merasa kerdil," bisik Isabella lagi di dalam kepala Aira. Bayangannya kini merayap di lantai marmer, tampak seperti sepasang tangan hitam yang membelit kaki Valerius.
"Jangan biarkan dia menyentuh kulitmu. Sedikit saja sentuhan logam itu, dan jiwa 'Aira' milikmu akan menjadi santapan bagi Cermin Pencabut Nyawa."
Valerius membeku. Tangannya yang berada di balik jubah gemetar hebat. Efek ramuan Julian membuatnya sulit membedakan mana realita dan mana ancaman. Ia merasa seolah-olah Aira bukan lagi manusia, melainkan entitas kuno yang sangat kuat.
"Kau... kau benar-benar bukan Isabella yang kulecehkan setahun lalu," gumam Valerius parau.
"Isabella yang dulu akan menangis dan memohon padaku agar aku tidak memberitahu Ayahandaku tentang skandalnya."
"Isabella yang lemah itu sudah kau bunuh malam itu di hutan, bukan?" Aira menembakkan pertanyaan itu seperti peluru perak.
Ia menggunakan potongan memori gelap yang baru saja dibisikkan Isabella asli padanya. "Kau yang membunuhnya, Valerius. Dan sekarang... apa kau takut melihat apa yang bangkit dari kuburnya?".
Dante, Kael, dan Zane tertegun mendengar kalimat itu. Mereka semua tahu ada rahasia gelap antara Isabella dan Pangeran, tapi mereka tidak pernah menyangka akan mendengar pengakuan langsung seperti ini.
Valerius mundur selangkah, wajahnya pucat pasi. Halusinasinya mulai memperlihatkan wajah Isabella yang asli yang penuh luka berdiri di belakang Aira.
Ia tersandung kakinya sendiri dan jatuh terduduk di kursinya kembali.
"Cukup!" teriak Valerius panik. "Bawa aku ke kamarku! Aku... aku butuh istirahat!"
Aira menatap Valerius dengan smirk kemenangan yang sangat dingin. Ia menoleh ke arah Dante dan Zane.
"Dante, antarkan Pangeran kita yang 'terhormat' ke kamar paling ujung di sayap barat. Kunci pintunya dari luar. Zane... kau yang memegang kuncinya. Jika dia mencoba keluar sebelum matahari terbit, kau tahu apa yang harus kau lakukan pada kakinya."
"Sesuai perintah Anda, Nyonya," jawab Dante dan Zane serempak dengan nada yang penuh pemujaan.
Aira berbalik dan melangkah meninggalkan aula dengan keanggunan seorang ratu yang baru saja memenangkan perang besar.
Di dalam hati, ia terengah-engah, jiwanya bergetar hebat karena hampir saja terbongkar.
Namun, di dalam cermin besar di koridor, ia melihat Isabella asli tersenyum puas.
"Pekerjaan yang bagus, Penipu," bisik Isabella.
"Kau baru saja menjadikan Pangeran itu tawananmu. Sekarang, mari kita lihat bagaimana kau akan menggunakan 'Cermin Pencabut Nyawa' miliknya untuk menjatuhkan Dante di Bab selanjutnya."
Aira mengepalkan tangannya. Ia telah bertahan hidup malam ini, namun ia tahu, hasrat yang tersiksa dan rahasia berdarah di mansion ini akan semakin menuntut tumbal di bab-bab berikutnya.
btw udah lama Kael tidak menampakkan diri Thor...
Lanjuutt