NovelToon NovelToon
YOU (Obsessive Love Disorder)

YOU (Obsessive Love Disorder)

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:11.2k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Eleanor Lichtenzell adalah pewaris takhta bisnis raksasa kedua di Inggris, namun baginya, kemewahan adalah penjara. Setelah merusak sepuluh kencan buta dengan lidahnya yang tajam, ia memilih melepaskan marga dan kekayaannya demi sebuah kebebasan. Namun, dunia luar lebih kejam dari yang ia duga. Di bawah bayang-bayang pengaruh ayahnya yang mencoba memutus jalannya, Eleanor berakhir menjadi pelayan di sebuah kafe eksklusif pinggir laut.

Disana, ia bertemu dengan Edward Zollern, sang penguasa ekonomi Inggris yang dingin, perfeksionis, dan memiliki segalanya. Ketertarikan Edward yang awalnya hanya karena rasa penasaran berubah menjadi obsesi yang gelap saat ia menyadari bahwa Eleanor adalah teka-teki yang tak bisa ia pecahkan. Edward tidak tahu bahwa gadis tanpa asal-usul yang ingin ia tundukkan itu sebenarnya adalah putri dari pebisnis yang setara dengannya. Sebuah permainan kekuasaan dimulai, di mana cinta bukanlah tentang kasih sayang, melainkan tentang siapa yang lebih dulu berlutut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gaun, Pelarian, dan Pujian Si Kecil

Semua bermula saat sebuah kotak beludru hitam mendarat di apartemen Eleanor pagi itu. Di dalamnya terdapat sebuah gaun sutra berwarna biru safir yang sangat elegan untuk acara siang hari. Ada nota pendek di sana:

"Siang ini, jam satu. Makan siang amal di Royal Hall. Ini adalah pembayaran untuk hutang waktumu yang pertama. Jangan terlambat. — E.Z"

Eleanor terpaksa memakainya. Namun, begitu mobil Edward tiba di depan lobi Royal Hall yang megah pada pukul satu siang, jantung Eleanor hampir copot. Di bawah terik matahari, ia melihat Bentley hitam milik ayahnya baru saja berhenti di depan pintu utama.

"Sial! Ayah ada di sini!" Batin Eleanor panik. Ia langsung menarik lengan jas Edward sebelum pria itu sempat turun. "Tuan Zollern, putar balik! Sekarang!"

"Ada apa? Kau takut bertemu dengan kemegahan?" Tanya Edward bingung.

"Bukan itu! Pokoknya kita tidak boleh masuk! Tuan Zollern, ayo pergi dari sini! Kalau tidak, aku akan melompat keluar dari mobil ini sekarang juga!" Ancam Eleanor dengan mata menyala.

Edward, yang melihat kepanikan nyata di wajah Eleanor, akhirnya mengalah. Ia memberi kode pada sopirnya untuk segera pergi dari sana sebelum Tuan Lichtenzell menoleh. "Baiklah. Kita pergi. Tapi ke mana?"

"Ke mana saja yang tidak ada orang memakai dasi!"

Taman Kota Hyde Park – Pukul Empat Sore. Edward Zollern, pria yang biasanya hanya menghirup udara berfilter di kantornya, kini duduk di sebuah bangku taman kayu di bawah rindangnya pohon ek. Jas mahalnya sudah ia lepas dan diletakkan di sampingnya, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung rapi. Di tangannya, ia memegang sebuah es krim vanilla.

"Kau... benar-benar mengajakku makan es krim di taman saat aku seharusnya sedang menandatangani draf lelang?" Tanya Edward, menatap es krim itu dengan ragu.

"Diam dan makan saja, Tuan Zollern. Ini jauh lebih sehat untuk kewarasanmu," balas Eleanor yang asyik menikmati es krim cokelatnya sambil menggoyangkan kakinya pelan.

Sore itu taman sangat hidup. Sinar matahari yang mulai miring menciptakan bayangan panjang yang cantik. Edward memperhatikan Eleanor, gadis itu tampak jauh lebih tenang di sini daripada saat di kafe.

Pukk!

Sebuah bola plastik merah mendarat tepat di kaki Edward. Edward dengan refleks cepat menangkapnya. Seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun berlari menghampiri, diikuti ibunya yang tampak was-was melihat penampilan Edward yang tetap terlihat sangat berwibawa.

"Maafkan saya Tuan, Nyonya! Tolong maafkan tindakan putraku," ucap sang ibu dengan nada tidak enak.

Edward terdiam, menatap bola di tangannya lalu menatap anak itu. "Tidak apa-apa," ucap Edward pendek, menyerahkan bola itu kembali.

Namun, anak kecil itu diam. Ia berdiri mematung, menatap wajah Eleanor dengan mata bulat yang sangat jujur. Eleanor yang dilihati sebegitunya mulai merasa gelaban. Ia meraba wajahnya, berpikir mungkin ada noda es krim di sana.

"Apa ada sesuatu di wajahku?" Tanya Eleanor pada Edward dengan suara berbisik, wajahnya mulai merona.

Edward tidak menjawab, ia justru ikut memperhatikan wajah Eleanor yang terkena cahaya sore.

"Sayang, ayo pulang. Jangan ganggu Tuan dan Nyonya ini," ucap ibunya, sudah tidak enak karena anaknya suka mengomentari penampilan orang.

"Tidak Ibu, lihat wajah wanita itu," tunjuk si anak kecil dengan polosnya. Sedangkan ibunya mulai panik karena anaknya itu suka sekali mengomentari apa yang ia lihat.

"Kenapa dia sangat cantik? Dia seperti putri di buku dongengku yang kabur dari istana," lanjut si kecil dengan suara yang bisa didengar orang di sekitar bangku mereka.

Wajah Eleanor seketika merah padam. Ia bersembunyi di balik rambut hitamnya yang panjang, sementara Edward yang mendengar itu langsung tertegun.

"Kau benar sekali," ucap Edward tiba-tiba, suaranya terdengar sangat tulus namun tetap tenang. "Dia memang putri yang kabur. Dan kau punya pengamatan yang sangat bagus."

"Edward!" Protes Eleanor sambil menyikut lengan Edward dengan keras, mencoba menyembunyikan rasa malunya.

Setelah ibu dan anak itu pergi, suasana menjadi canggung. Eleanor masih menutupi wajahnya yang panas. "Anak kecil zaman sekarang... lidahnya manis sekali," gumam Eleanor pelan.

Edward tidak tertawa, ia hanya menatap profil samping Eleanor. "Dia tidak bohong, Nona Eleanor. Kau memang sangat cantik saat tidak sedang memakiku."

"Dan Anda, Tuan Zollern, tetap saja pria paling menyebalkan karena menyetujui kata-kata anak kecil itu," balas Eleanor, meski kali ini ada senyum tipis yang tak bisa ia sembunyikan.

Esok Harinya. Hari ini Edward sudah akan bersiap ke kantornya, namun tertahan oleh wanita paruh baya yang sedang menghampirinya.

Tiba-tiba, pintu ruang kerjanya terbuka. Nenek Agatha masuk dengan langkah anggun. Di tangannya, Agatha membawa sebuah map mewah berisi foto-foto.

"Edward, berhentilah memikirkan proyek pelabuhan itu sejenak," ucap Agatha sambil meletakkan sebuah foto di atas meja kerja Edward. "Nenek baru saja mendapatkan foto terbaru dari putri Lewis Lichtenzell yang hilang itu. Nenek ingin kau melihatnya baik-baik. Kalau kau menemukannya, kau harus membawanya pulang untuk menjadi tunanganmu. Lihat wajahnya, bukankah dia sangat berkelas?"

Edward menatap foto itu dengan malas, namun sedetik kemudian, matanya melebar. Di foto itu, seorang gadis mengenakan gaun pesta mewah di sebuah acara dansa tahun lalu. Rambutnya disanggul, wajahnya tampak angkuh namun cerdas.

Itu adalah wajah yang sama dengan gadis yang kemarin makan es krim bersamanya di taman.

"Namanya Eleanor Lichtenzell," ucap Agatha. "Cantik, bukan?"

Edward terdiam seribu bahasa. Pena di tangannya hampir patah. Jadi... mangsa yang selama ini ia buru di kafe pinggiran sebenarnya adalah putri mahkota yang selama ini dicari oleh seluruh kalangan atas London? Namun, pikirannya kembali terlempar ke momen di taman kemarin. Fokusnya pecah.

Sebuah seringai gelap muncul di bibir Edward. "Ya, Nek. Dia sangat cantik. Dan sepertinya... aku tidak perlu mencarinya terlalu jauh."

1
Hana Nisa Nisa
tarik nafas dulu
Hana Nisa Nisa
🤣🤣🤣🤣
Hana Nisa Nisa
🙈🙈🙈🙈
Hana Nisa Nisa
🤣🤣🤣🤣🤣
Hana Nisa Nisa
nahhh
Hana Nisa Nisa
suka tata bahasanya bagus
Hana Nisa Nisa
😄😄😄😄
Hana Nisa Nisa
baper euyy
Hana Nisa Nisa
😍😍😍😍😍
Hana Nisa Nisa
🤣🤣🤣🤣
Hana Nisa Nisa
🥰🥰🥰🥰🥰
W.s • Bae: makasih ya kak 😍
total 1 replies
Hana Nisa Nisa
👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!