Davino Narendra seorang polisi yang trauma akan masa lalunya justru terikat dengan sebuah perjanjian perjodohan dimasa yang akan datang. Perjodohan itu mempertemukan Davino Narendra dengan seorang Dokter, yakni Alisa Widanata.
Kehidupan rumah tangga mereka tentu sangat teruji, karena di balik pernikahan tanpa didasari cinta serta dua bangsal yang berbeda harus menyatukan dua insan tersebut.
bagaimana kelanjutannya??? ikuti kisahnya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaludd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Malam semakin larut, namun udara di markas Satgas masih terasa berat oleh sisa-sisa ketegangan. Davino berdiri di depan peta digital, sementara Alvin sibuk mengoordinasikan pemindahan Maura dan Alisa ke safe house. Namun, di sudut ruangan, Alisa tampak terdiam dengan pandangan kosong. Pikirannya tidak berada di rumah aman milik polisi, melainkan pada sebuah rumah asri di pinggiran kota tempat ibunya tinggal.
"Mas Davino," panggil Alisa pelan, memecah kesibukan di ruangan itu.
Davino menoleh, alisnya bertaut. "Ya? Persiapan sudah hampir selesai. Kita berangkat sepuluh menit lagi."
Alisa menggeleng perlahan. "Aku tidak mau ke safe house."
Langkah kaki Alvin terhenti. Davino mendekat, menatap Alisa dengan intensitas yang biasa ia gunakan saat menghadapi situasi kritis. "Alisa, ini bukan saatnya untuk keras kepala. Rumah itu sudah tidak aman. Safe house adalah satu-satunya tempat dengan protokol keamanan berlapis."
"Aku memikirkan Bunda, Mas," suara Alisa sedikit bergetar. "Bunda cuma berdua dengan Bi Ijah di rumah. Kalau mereka tahu aku tidak pulang ke rumah kita, dan mereka tahu Mas sedang menangani kasus ini, mereka bisa saja mengincar Bunda untuk memancing kita keluar. Bukankah itu pola mereka? Mengincar orang-orang terdekat?"
Davino terdiam. Logika Alisa masuk akal, namun sebagai seorang perwira, ia tahu bahwa membawa 'target' ke rumah sipil adalah pelanggaran protokol yang berisiko tinggi.
"Bunda tidak tahu apa-apa soal penculikan Maura. Aku tidak mau dia jantungan jika tiba-tiba aku menelepon dan menyuruhnya pindah ke rumah aman polisi. Dia pasti akan curiga dan ketakutan," lanjut Alisa, matanya memohon. "Bagaimana kalau kita semua ke sana? Rumah Bunda punya pagar tinggi, dan lokasinya berada di dalam cluster satu pintu. Mas bisa menempatkan orang-orang Mas di sana secara menyamar."
Davino melirik Alvin. Alvin mengangkat bahu, memberikan isyarat bahwa secara teknis itu memungkinkan, meski akan jauh lebih sulit untuk dijaga.
"Vin, rumah Bunda Alisa memang lebih 'tersembunyi' daripada safe house kita yang polanya mungkin sudah terbaca oleh informan mereka," bisik Alvin. "Kita bisa memasang jamming sinyal dan menempatkan personel di rumah-rumah kosong sekitarnya."
Davino menghela napas panjang. Ia menatap Alisa, lalu beralih pada Maura yang baru saja bangun dan masih tampak pucat di brankar. Maura mengangguk pelan, seolah setuju dengan ide kakak iparnya. Ia merasa lebih aman berada di lingkungan yang ia kenal daripada di gedung beton milik kepolisian.
"Baiklah," putus Davino akhirnya. "Kita ke rumah Bunda. Tapi dengan satu syarat: tidak ada yang boleh keluar dari pagar rumah tanpa seizinku. Bahkan untuk ke supermarket sekalipun."
Alisa mengangguk lega. "Terima kasih, Mas."
Perjalanan menuju rumah Bunda dilakukan dengan pengawalan yang sangat rahasia. Mereka tidak menggunakan mobil jip Davino yang mencolok, melainkan tiga mobil MPV hitam dengan kaca film gelap yang tidak tembus pandang. Davino duduk di kursi kemudi salah satu mobil, dengan Alisa di sampingnya dan Maura yang tertidur di kursi belakang karena pengaruh obat penenang.
Sepanjang jalan, tangan Alisa tidak berhenti meremas ujung bajunya. Davino menyadarinya. Tanpa melepaskan pandangan dari jalanan, ia mengulurkan tangan kirinya dan meletakkannya di atas tangan Alisa yang saling bertaut.
"Tenanglah. Aku sudah mengatur semuanya," ucap Davino rendah.
Alisa tersentak kecil karena sentuhan itu, namun ia tidak menarik tangannya. Kehangatan telapak tangan Davino seolah menyalurkan kekuatan yang ia butuhkan. "Aku cuma takut Bunda curiga, Mas. Bunda sangat peka."
"Serahkan padaku. Kita katakan saja ada perbaikan pipa gas besar-besaran di kompleks kita yang berbahaya jika kita tetap di sana, atau katakan rumah kita sedang direnovasi total sebagai kejutan untuknya. Cari alasan yang paling masuk akal bagi seorang ibu," saran Davino.
Sesampainya di rumah Bunda, suasana sangat tenang. Bunda Alisa, wanita paruh baya yang masih tampak anggun, menyambut mereka dengan wajah kaget sekaligus gembira di depan pintu.
"Alisa? Davino? Maura? Kok malam-malam begini bawa koper?" tanya Bunda heran.
Davino turun lebih dulu, ia langsung mencium tangan ibu mertuanya dengan takzim. "Malam, Bunda. Maaf mengganggu jam istirahatnya. Ada sedikit masalah teknis di rumah kami, renovasi atap yang ternyata strukturnya rapuh dan harus dibongkar total malam ini juga demi keamanan. Jadi, kami pikir lebih baik kami mengungsi ke sini beberapa hari."
Bunda menatap Davino, lalu menatap Alisa yang turun dengan wajah lelah. "Atap? Sampai harus pindah malam-malam?"
"Iya, Bun. Tukangnya bilang kalau tidak segera dikosongkan, risikonya besar," sahut Alisa berusaha meyakinkan, meski hatinya mencelos karena harus berbohong.
Bunda melihat Maura yang turun dengan dipapah oleh salah satu 'asisten' Davino (yang sebenarnya adalah anggota Satgas berpakaian sipil). "Loh, Maura kenapa? Kok kakinya pincang dan wajahnya..."
"Maura jatuh di kampus tadi, Bun. Tergelincir di tangga," Alisa segera memotong. "Makanya dia agak syok dan butuh istirahat total."
Bunda, dengan naluri keibuannya, langsung merasa iba. "Ya ampun, kasihan sekali. Ayo masuk, masuk! Bi Ijah, siapkan kamar tamu untuk Maura! Alisa, kamu tidur di kamarmu yang dulu ya dengan Davino."
Kamar lama Alisa adalah ruangan yang didominasi warna krem dan putih, dengan aroma lavender yang menenangkan. Davino meletakkan kopernya di sudut ruangan. Ini adalah pertama kalinya ia benar-benar masuk ke ruang pribadi Alisa sebelum mereka menikah. Ia melihat rak buku yang penuh dengan literatur kedokteran, foto-foto Alisa saat wisuda, dan sebuah meja rias kayu kecil.
"Maaf, Mas. Kamarnya tidak seluas kamar di rumah kita," ucap Alisa canggung.
Davino melepas jaket taktisnya, menampakkan kaus hitam yang menonjolkan otot lengannya. "Tidak masalah. Yang penting kamu dan Maura aman."
Davino kemudian berjalan menuju jendela, ia menyingkap sedikit gorden dan memperhatikan halaman luar. Di bawah lampu jalan yang temaram, ia bisa melihat dua pria duduk di bangku taman di seberang jalan—anggotanya yang sedang menyamar.
"Alisa, tidurlah lebih dulu. Aku harus memastikan koordinasi di luar," kata Davino.
"Mas tidak tidur? Mas juga terluka, ingat?" Alisa menunjuk lengan Davino yang tadi sempat terserempet peluru.
Davino menoleh. "Aku sudah biasa dengan luka seperti ini."
"Tapi aku dokter, dan aku tidak biasa membiarkan pasienku mengabaikan luka," balas Alisa tegas. Ia mengambil kotak P3K yang selalu ada di laci mejanya. "Duduk, Mas."
Davino akhirnya menyerah. Ia duduk di tepi ranjang sementara Alisa berlutut di depannya untuk membersihkan luka di lengannya. Suasana menjadi sunyi, hanya suara gesekan kapas dan cairan antiseptik yang terdengar. Jarak mereka sangat dekat. Davino bisa mencium aroma sampo Alisa yang bercampur dengan sisa-suara ketegangan hari ini.
Saat Alisa fokus membalut perban, Davino menatap wajah istrinya. Ia melihat ada guratan kelelahan yang sangat dalam di bawah mata Alisa. Tiba-tiba, Davino merasa sebuah dorongan yang aneh—keinginan untuk melindungi wanita ini bukan hanya sebagai tugas, tapi sebagai sesuatu yang lebih mendalam.
"Alisa," panggil Davino pelan.
"Ya?" Alisa mendongak, matanya bertemu dengan mata tajam Davino.
"Terima kasih sudah memikirkan Bunda. Kamu benar, keselamatannya juga prioritasku sekarang."
Alisa tersenyum tipis, sebuah senyum yang tulus tanpa beban sandiwara. "Kita ini keluarga, kan? Mas yang bilang begitu di markas tadi."
Davino terdiam. Kata-kata itu berputar kembali di kepalanya. Keluarga.
Setelah selesai mengobati, Alisa membereskan peralatannya. Mereka kemudian berbagi ranjang yang lebih sempit dari biasanya. Tidak ada guling pembatas di sini, karena Bunda Alisa hanya menyediakan bantal kepala biasa. Mereka tidur dengan jarak yang sangat dekat.
"Mas..." bisik Alisa di tengah kegelapan.
"Hmm?"
"Apa mereka akan menyerang ke sini?"
Davino memiringkan tubuhnya, menatap siluet Alisa. "Selama aku masih bernapas, tidak akan ada satu pun dari mereka yang bisa menyentuh pintu depan rumah ini. Tidurlah."
Alisa memejamkan matanya, merasa aman meskipun ancaman masih mengintai di luar sana. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia menyadari bahwa kepindahannya ke rumah Bunda bukan hanya soal keamanan, tapi soal membawa Davino masuk lebih dalam ke dunianya.
Di luar, hujan mulai turun membasahi bumi Jakarta. Di dalam mobil hitam yang terparkir dua blok dari rumah Bunda, seseorang dengan teropong malam sedang mencatat posisi mereka. "Mereka pindah ke rumah ibunya. Strategi berubah. Tunggu instruksi selanjutnya."
Malam itu, di rumah Bunda, sebuah babak baru dimulai. Sandiwara itu kini melibatkan orang tua Alisa, dan garis antara apa yang nyata dan apa yang pura-pura mulai menjadi semakin kabur bagi sang Kapten dan sang Dokter.
Bersambung