Melvin Blastorios, merupakan seorang ahli waris dari keluarga bangsawan Blastorios, yang terkenal akan kehebatan dan kejeniusannya. Selain itu, Melvin juga merupakan pemimpin dari sebuah organisasi rahasia di Inggris yaitu Dragon Knight of Archangel.
Arabella Winston, seorang gadis muda, cantik, bijak dan cukup terkenal di kalangan para bangsawan, yang sedang mencari seorang suamin. Walaupun begitu, Bella dikenal sebagai salah seorang gadis bangsawan yang selalu menolak banyak lamaran dari para pemuda bangsawan lain.
Ini hanyalah sebuah kisah cinta romantis antara seorang pemuda dari organisasi rahasia dengan seorang gadis muda penolak lamaran.
.
.
.
.
terinspirasi dari seri pertama novel club Inferno...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RaeathaZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4
.
.
.
Sebenarnya terdapat banyak sekali pertanyaan tentang perempuan itu yang seakan-akan mengelilingi benaknya seperti anak jarum jam yang berputar. Tapi teman wanitanya yang sejak tadi menemani dirinya di kamar itu, mulai meraung-raung seperti seorang anak kecil yang sedang mencari perhatian orang dewasa.
Dan raungan dari wanita penghibur itu mulai mengganggu aktivitasnya dan membuat semua pertanyaan yang sedang ia pikirkan tentang gadis keturunan Winston itu mulai kabur.
"Mengapa kau terus memperhatikan perempuan itu dan mengabaikan ku?" tanya wanita penghibur itu dengan nada ketus.
"Karena... Aku berencana untuk menikahinya." kata Melvin tegas dengan sedikit nada mencemooh kepada wanita itu, sambil terus memfokuskan perhatian-nya kepada Nona Winston yang sedang bermain dengan anak-anak di teras panti asuhan tua itu, ketika matahari yang mulai kembali bersinar.
Mendengar jawaban dari pria yang bersamanya itu, membuat wanita penghibur itu tidak sanggup menghentikan gelak tawa yang menyembur dari mulutnya. Dan kemudian mengangkat bagian bawah gaun seksinya di hadapan pria itu, sampai memperlihatkan dalaman merah miliknya.
"Bukankah lebih baik kau memilih ku, dan bermain dengan ku di kamar ini?" kata wanita itu dengan senyuman dan nada menggoda tepat di telinga Melvin, sambil mengalungkan kedua tangannya ke leher pria itu dari belakang.
"Tidak, tidak perlu. Lagipula aku sedang tak ingin bermain." tolak Melvin dengan santai dan tenang, sambil mendorong wanita penghibur itu menjauh dari tubuhnya. Dan lalu kembali melanjutkan aktivitasnya mengintai calon pengantinnya tersebut.
Sedangkan wanita penghibur itu hanya dapat terkekeh pelan melihat penolakan dari pria itu.
"Well, tapi kalau dilihat-lihat kau ini merupakan seorang pria yang memiliki cara yang cukup aneh dalam merayu seorang gadis ya, tuan." kata wanita itu dengan nada dan senyuman mengejek.
"Mungkin, kau benar. Tapi seperti yang kau tahu, bukankah sebuah kebiasaan buruk itu memang sulit untuk dihilangkan?" Kata Melvin tanpa mempedulikan nada mengejek yang diberikan oleh wanita menghibur itu.
Mendengar jawaban dari pria di sampingnya itu, membuat wanita penghibur itu mendengus. Lalu, wanita penghibur itu pun mulai mencolek bahu lebar milik Melvin, berniat menarik perhatian pria yang sejak tadi mengabaikannya.
"Oke, aku mengerti. Tapi, ayolah tuan. Tak pernah ada seorang pun wanita yang suka dimata-matai oleh calon suaminya sendiri, termasuk perempuan itu." kata wanita penghibur itu sambil menunjuk ke arah Nona Arabella yang berada di bangunan sebrang.
"Tapi, sayangnya, Nona. Aku tak pernah peduli, apakah dia suka atau tidak dengan perbuatan ku sekarang." kata Melvin sambil menatap wanita di sampingnya itu dengan tatapan datar.
"Kau sungguh angkuh dan posesif, tuan." cibir wanita penghibur itu geram.
"Aku tak peduli, lagipula ini juga cukup praktis." balas Melvin sambil mengerlingkan matanya kepada wanita itu dan tersenyum sinis.
"Dan Bukankah setiap orang itu selalu ingin tahu akan urusan orang lain?" kata Melvin yang membuat wanita penghibur hanya mendengus sambil melirik pria di sampingnya itu dan berujar, "Ya, kurasa kau memang benar."
Mendengar jawaban dari wanita penghibur itu, membuat Melvin terkekeh pelan dan berkata, "Santai saja, Nona. Ku pastikan kau akan tetap mendapatkan bayaran mu."
"Sayang sekali, tuan. Dengan memandang mu saja, ku rasa aku lebih memilih untuk menghibur mu, Sayang." kata wanita itu sambil menggoda Melvin dengan duduk di pangkuan pria itu.
"Karena laki-laki seperti mu ini jarang sekali berada di sini." kata wanita itu dengan senyuman menggoda dan mendekatkan dadanya yang besar pada tubuh pria itu.
Sedangkan Melvin langsung mendorong tubuh wanita penghibur itu turun dari pangkuannya, dan menatapnya penuh kecurigaan, bertanya-tanya dalam hati jika saja wanita itu adalah pembunuh bayaran dari sebuah organisasi rahasia yang tak pernah di akui secara resmi, atau seseorang yang berniat mengambil sebuah keuntungan dari seorang bangsawan sepertinya yang merupakan seorang Duke yang cukup terkenal.
"Mungkin seharusnya kau merasa lega dan menjauh dari ku, Nona." kata Melvin sambil menatap wanita itu dengan tatapan dingin dan tajam yang sering ia berikan pada musuh-musuhnya di medan perang.
Membuat Wanita itu terdiam, dan memandang wajah Melvin dengan ketakutan dan bertanya kepada pria itu dengan nada bergetar, "Siapa kau sebenarnya?"
"Ah... kau harusnya lebih tahu banyak hal daripada bertanya pada pelanggan mu ini bukan, Nona?" kata Melvin yang lalu merubah tatapannya menjadi tatapan menggoda kepada wanita itu, setelah melihat raut ketakutan dari wanita penghibur itu.
Sedangkan wanita itu, kembali merasa tenang dan tak ketakutan seperti sebelumnya, setelah melihat tatapan menggoda dari pria itu dan lalu bertanya, "Apa yang kau maksud, tuan?"
"Ku yakin, kau pasti mengetahui siapa perempuan itu?" tanya Melvin sambil mengarahkan pandangannya ke arah luar jendela.
"Maksudmu Nona Winston?" tanya wanita itu balik kepada Melvin yang kemudian di balas dengan anggukan kepala.
"Semua orang disini tentu sangat mengenalnya, dia sering di bicarakan sebagai malaikat para anak-anak yang terlantar itu. Dan ku rasa semua orang disini juga mengetahui, jika perempuan itu selalu berusaha untuk menyelamatkan para jiwa-jiwa yang tersesat di tempat ini, yang ku rasa tak akan ada gunanya." kata wanita penghibur itu menjelaskan tentang Bella dengan tawa dan nada mengejek.
"Dan ku rasa dia tak menyukai wanita-wanita penghibur seperti kami." kata wanita itu lagi sambil mengedipkan matanya kearah Melvin.
"Ya mungkin aku berpikir begitu." kata Melvin sekenanya.
'Ah sial... berapa lama lagi gadis itu akan keluar dari tempat itu.' pikir Melvin, yang sudah mulai tak nyaman berada di tempat ini.
Entah mengapa semakin lama dia berada di daerah ini, membuat dirinya kembali mengingat semua hal yang terjadi di masa lalunya yang penuh kebencian pada saudara-saudaranya, dan perasaan tak berdaya karena tak memiliki seseorang yang mencintai dan mempedulikannya. Perasaan-perasaan gelisah itu semakin menekannya saat ia menunggu Arabella Winston keluar dari panti asuhan itu.
Melvin pun merasa jika sikap sabar dan tenangnya yang sedemikian tinggi, mulai terombang-ambing. tapi dia juga tak bisa untuk pergi meninggalkan tempat ini, hatinya seakan tak rela membiarkan gadis Winston itu sendirian di tempat ini tanpa adanya yang mengawasi.
Melvin pun akhirnya hanya dapat memainkan jemarinya pada kaca jendela kamar tersebut sambil menunggu calon pengantinnya itu keluar dari panti asuhan tersebut.
"Berapa lama biasanya perempuan itu tinggal di panti asuhan tua itu?" tanya Melvin sedikit menggerutu kepada wanita yang menemaninya itu.
"Mana aku tahu? lagipula aku jarang memperhatikan kedatangannya saat berkunjung ke tempat ini." jawab wanita penghibur itu tak peduli sambil mengangkat kedua bahunya.
Lalu dengan lebih berani, wanita itu bergerak mendekat kearah Melvin dan mengelus lengan berotot pria itu, sambil berkata dengan nada menggodanya. "Jika kau bosan, aku bisa menghiburmu selagi kau menunggu Nona Winston keluar dari panti asuhan tua itu."
***
cerita nya keren👍👍👍