NovelToon NovelToon
Rumah Yang Terbagi

Rumah Yang Terbagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:413
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Garis ini adalah batas antara hakmu dan dosamu. Melangkah satu senti saja, kau kehilangan segalanya."

Sepuluh tahun lalu, Sasmita Janardana diusir dalam keadaan hancur. Fitnah keji dari Rena, sang ibu tiri, membuatnya kehilangan kasih sayang ayah dan haknya sebagai putri tunggal. Ia dibuang ke luar negeri, sementara Rena dan putranya, Vano, berpesta di atas penderitaan mendiang ibu Sasmita.

Kini, Sasmita kembali setelah kematian misterius ayahnya. Ia tidak datang untuk menangis. Ia datang dengan sebuah wasiat kuno yang sah secara hukum: Rumah mewah Janardana harus dibagi dua secara mutlak.

Sasmita tidak mengusir mereka. Ia justru melakukan penyiksaan yang lebih lambat: Memaksa musuh-musuhnya hidup di bawah atap yang sama, namun terpisah oleh garis merah yang tidak boleh dilintasi.

Di sisi kiri, Rena mulai kehilangan kewarasannya. Di sisi kanan, Sasmita mulai membongkar brankas rahasia yang menyimpan bukti pembunuhan ibunya. Di tengah persaingan panas itu, muncul Bramasta, pengacar

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: PENYUSUP DI WILAYAH SENDIRI

Kegelapan di dalam mansion Janardana terasa lebih pekat dari biasanya. Listrik yang padam bukan sekadar gangguan teknis; Sasmita tahu ini adalah pesan. Rena sedang mencoba menunjukkan siapa yang sebenarnya memegang kendali atas fasilitas rumah ini. Namun, Rena lupa satu hal: Sasmita telah terbiasa hidup dalam kegelapan dan kedinginan selama sepuluh tahun di jalanan London yang kejam.

Di ruang kerja yang sunyi, Sasmita masih menggenggam pembuka surat yang dingin. Napasnya memburu pelan. Bramasta Aditya—pria misterius yang mengaku sebagai pengacara asli ayahnya—telah menghilang ke dalam koridor, meninggalkan aroma cendana yang samar.

"Kunci di bawah patung malaikat," bisik Sasmita pada dirinya sendiri.

Ia melirik jam tangannya yang berpendar. Pukul 02.00 dini hari. Ini adalah waktu di mana kewaspadaan manusia berada di titik terendah. Ia harus bergerak sekarang. Jika ia menunggu sampai pagi, Rena pasti akan menyuruh tukang kebun atau Vano untuk membersihkan taman, dan kunci itu bisa saja hilang selamanya.

Sasmita melepas sepatu hak tingginya. Ia berjalan bertelanjang kaki agar langkahnya tidak menimbulkan suara di atas lantai marmer. Ia membawa senter kecil yang ia temukan di laci meja ayahnya dan menyelipkan buku harian ibunya ke dalam balik pakaiannya.

Ia keluar dari ruang kerja, melewati garis merah yang membelah koridor lantai dua. Saat kakinya melintasi garis itu, ia merasakan sensasi aneh—seolah-olah ia sedang melangkah ke wilayah musuh yang penuh ranjau. Sisi kiri rumah, wilayah Rena, terasa berbeda. Aroma melati yang kuat kembali menyergap, bercampur dengan bau pengap dari ruangan yang jarang dibuka.

Sasmita menuruni tangga samping yang biasanya digunakan oleh para pelayan. Tangga ini lebih gelap dan sempit, namun langsung terhubung ke pintu belakang yang menuju taman. Setiap anak tangga yang dipijaknya seolah berderit, memprotes kehadirannya.

Begitu sampai di pintu belakang, ia mengintip melalui celah kaca. Taman belakang yang luas itu kini tampak seperti hutan belantara yang menyeramkan di bawah guyuran hujan gerimis. Di sudut terjauh, di bawah pohon beringin tua yang rimbun, berdiri sebuah patung malaikat marmer setinggi satu meter. Sayapnya yang patah sebelah membuat patung itu tampak seperti malaikat yang jatuh dari surga.

Sasmita membuka pintu perlahan. Angin dingin langsung menerpa wajahnya, membuat bulu kuduknya berdiri. Ia berlari kecil melintasi rumput yang basah, berusaha tetap berada di balik bayang-bayang pepohonan.

Sesampainya di depan patung malaikat, Sasmita segera berlutut. Tanah di bawah patung itu becek dan berlumpur. Dengan tangan kosong, ia mulai menggali di bawah alas patung yang terbuat dari semen. Kuku-kukunya yang terawat kini kotor oleh tanah hitam, tapi ia tidak peduli. Rasa jijik kalah oleh rasa haus akan kebenaran.

Krak.

Jarinya menyentuh sesuatu yang keras dan dingin. Bukan batu, tapi logam.

Sasmita menarik sebuah kotak besi kecil yang sudah berkarat. Di dalamnya, terdapat sebuah kunci perak tua dengan ukiran kepala singa—lambang kuno keluarga ibunya, Pratiwi. Inilah kunci yang dimaksud ibunya dalam buku harian itu. Kunci menuju ruang bawah tanah yang selama ini dianggap hanya mitos di rumah ini.

"Sedang mencari sesuatu, Kakak tersayang?"

Suara berat dan penuh ejekan itu membuat Sasmita tersentak. Ia menoleh dengan cepat dan mendapati Vano berdiri hanya beberapa meter darinya. Vano memegang sebuah tongkat bisbol logam, memukulkannya pelan ke telapak tangannya sendiri. Di belakangnya, Rena berdiri sambil memegang payung besar, wajahnya terlihat mengerikan di bawah cahaya senter yang dipegang Vano.

"Melanggar aturanmu sendiri, Sasmita?" Rena melangkah maju, sepatu hak tingginya menancap di tanah becek. "Kamu bilang, siapa pun yang melintasi garis akan kehilangan haknya. Sekarang kamu berada di taman wilayahku. Di tengah malam. Menggali tanah seperti anjing kelaparan."

Sasmita berdiri, menyembunyikan kotak besi itu di balik punggungnya. Ia berusaha tetap tenang meski jantungnya berdegup kencang. "Taman ini adalah bagian dari tanah Janardana. Dan menurut sertifikat aslinya, seluruh tanah ini adalah milikku. Garis merah itu hanya untuk di dalam rumah, Rena. Jangan mencoba memutarbalikkan logika."

"Logika?" Rena tertawa nyaring, suara tawanya memantul di antara pepohonan. "Di rumah ini, logikanya adalah siapa yang kuat, dia yang menang. Vano, ambil apa yang dia pegang di belakang punggungnya."

Vano menyeringai. Ia melangkah maju dengan angkuh. "Kasih kemari, atau aku harus menggunakan kekerasan sedikit?"

Sasmita mundur selangkah. "Jangan coba-coba, Vano. Kamu tahu apa konsekuensi hukumnya jika menyentuhku."

"Hukum tidak berlaku jika tidak ada saksi, Kak," balas Vano cepat. Ia mengayunkan tongkat bisbolnya ke arah samping, menghantam batang pohon hingga menimbulkan suara dentuman keras. "Listrik mati, CCTV mati. Siapa yang akan membantumu? Pengacara bayaranmu itu sedang sibuk mencari saklar listrik di bawah."

Vano menerjang maju. Sasmita mencoba menghindar, namun tanah yang licin membuatnya terpeleset. Ia jatuh terduduk di atas lumpur. Vano menjambak rambut Sasmita, memaksanya untuk mendongak.

"Mana barangnya?!" bentak Vano.

Sasmita meronta, ia mencoba menendang tulang kering Vano, namun pemuda itu lebih kuat. Saat Vano hendak merogoh saku mantel Sasmita, sebuah bayangan hitam meluncur dari balik pohon beringin.

Bugh!

Sebuah tendangan keras mendarat tepat di lambung Vano, membuatnya terpelanting beberapa meter hingga menghantam patung malaikat. Tongkat bisbolnya terlepas, berdenting di atas batu taman.

Bramasta Aditya muncul dari kegelapan. Ia tidak memakai jas lagi, hanya kaos hitam ketat yang memperlihatkan otot lengannya yang kuat. Wajahnya terlihat sangat dingin, lebih menyeramkan dari malam itu sendiri.

"Sentuh dia lagi, dan aku pastikan tanganmu tidak akan bisa memegang tongkat itu selamanya," suara Bramasta rendah, namun mengandung ancaman yang nyata.

Rena menjerit kecil melihat putranya tersungkur. "Vano! Kamu siapa?! Penjaga! Tolong!"

Bramasta tidak menghiraukan teriakan Rena. Ia membantu Sasmita berdiri, membersihkan lumpur dari bahu wanita itu dengan gerakan yang hampir terlihat lembut. "Kamu tidak apa-apa?"

Sasmita mengangguk, napasnya tersengal. "Aku mendapatkannya, Bram. Kuncinya."

Bramasta Aditya melirik Vano yang mulai merangkak bangun dengan bantuan ibunya. "Ayo pergi dari sini. Wilayah ini sudah tidak aman untukmu malam ini."

"Jangan harap kalian bisa pergi begitu saja!" teriak Rena, wajahnya berubah menjadi topeng kebencian yang murni. "Sasmita, aku tahu apa yang kamu cari! Kamu tidak akan pernah menemukannya! Kamu akan mati di rumah ini sama seperti ibumu yang malang itu!"

Sasmita menghentikan langkahnya. Ia berbalik, menatap Rena dengan tatapan yang membuat wanita paruh baya itu terdiam seketika. "Kamu baru saja mengakui sesuatu, Rena. 'Mati sama seperti ibuku'. Ibuku tidak mati karena sakit, kan? Kamu yang membunuhnya."

Rena tersadar akan ucapannya yang keceplosan. Ia menutup mulutnya dengan tangan, matanya membelalak ketakutan. "Aku... aku tidak bilang begitu! Maksudku..."

"Simpan pembelaanmu untuk di pengadilan nanti," ujar Sasmita dingin.

Bramasta menuntun Sasmita kembali menuju pintu belakang. Begitu mereka masuk ke dalam rumah dan kembali melintasi garis merah menuju wilayah sisi kanan, Bramasta segera mengunci pintu dan memasang palang besi tambahan yang sudah ia siapkan.

Mereka kembali ke ruang kerja. Listrik tiba-tiba menyala kembali, menyinari ruangan dengan cahaya yang menyilaukan. Sasmita jatuh terduduk di kursi kerja ayahnya. Ia meletakkan kotak besi berkarat itu di atas meja. Tangannya yang kotor oleh lumpur gemetar saat mencoba membuka kotak tersebut dengan kunci perak yang ia temukan.

Klik.

Kotak itu terbuka. Di dalamnya bukan hanya ada kunci lain, tapi juga sebuah flashdisk kecil yang dibungkus plastik kedap air dan sebuah botol obat kecil yang sudah kosong.

Sasmita mengambil botol obat itu. Labelnya sudah setengah terkelupas, tapi ia masih bisa membaca nama obatnya: Arsenic Trioxide.

"Racun," bisik Sasmita. Air mata mulai mengalir di pipinya. "Mereka meracuni Ibu sedikit demi sedikit setiap hari."

Bramasta Aditya berdiri di sampingnya, meletakkan tangannya di bahu Sasmita. "Sekarang kita punya buktinya. Tapi flashdisk ini... ini yang paling penting. Ayahmu bilang ini berisi rekaman CCTV tersembunyi dari sepuluh tahun yang lalu."

Sasmita menatap flashdisk itu. Ia tahu, jika ia memasukkan flashdisk ini ke komputernya, ia akan melihat wajah orang yang paling ia benci sedang melakukan kejahatan yang tak termaafkan. Namun, ia juga sadar, Rena dan Vano tidak akan tinggal diam setelah kejadian di taman tadi.

"Bram," Sasmita menatap pria itu. "Kenapa kamu membantuku sejauh ini? Ayahku pasti membayarmu sangat mahal."

Bramasta Aditya terdiam sejenak. Ia menatap ke luar jendela, ke arah taman yang gelap. "Ayahmu tidak membayarku dengan uang, Sasmita. Dia menjanjikan sesuatu yang lebih berharga."

"Apa itu?"

Bramasta menoleh kembali ke arah Sasmita, tatapannya kini terlihat lebih manusiawi, namun juga penuh teka-teki. "Kesempatan untuk menebus kesalahanku di masa lalu. Kesalahan yang membuat ibumu kehilangan nyawanya."

Sasmita tertegun. "Maksudmu... kamu mengenal ibuku?"

Sebelum Bramasta bisa menjawab, suara alarm rumah berbunyi dengan sangat nyaring. Bukan alarm pencuri, melainkan alarm kebakaran. Asap mulai masuk dari celah bawah pintu ruang kerja.

"Mereka membakar rumah ini!" teriak Bramasta. "Sisi kiri... mereka membakar wilayah mereka sendiri untuk memancing kita keluar!"

Sasmita bangkit berdiri, menyambar flashdisk dan buku harian ibunya. "Mereka gila! Mereka akan menghancurkan bukti-bukti ini!"

"Tidak," Bramasta menarik tangan Sasmita menuju sebuah rak buku besar di sudut ruangan. "Ada jalan keluar lain. Ayahmu sudah menyiapkannya. Ikuti aku!"

Di tengah kepulan asap yang mulai menyesakkan, Sasmita menyadari bahwa rumah yang terbagi ini bukan lagi sebuah tempat tinggal. Ini adalah sebuah jebakan maut, dan garis merah yang ia buat kini menjadi satu-satunya pembatas antara keselamatan dan abu kematian.

1
Dania
semangat tor
@RearthaZ
awal cerita yang bagus thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!