NovelToon NovelToon
Aku, Kamu,Dan Duniamu Yang Lain

Aku, Kamu,Dan Duniamu Yang Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:375
Nilai: 5
Nama Author: firsty aulia

Sora Kalani menghabiskan hidupnya di antara detak mesin jam, menunggu satu detik di mana Ezrael Vance akan menoleh ke arahnya. Namun bagi Ezra, Sora hanyalah pelabuhan tenang tempatnya bersandar sebelum ia kembali berlayar mengejar Liora—balerina yang menjadi pusat dunianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon firsty aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: Pengadilan di Aliran Waktu ​

​Gedung Pengadilan Pusat berdiri angkuh dengan pilar-pilar betonnya yang menjulang, seolah-olah ingin menelan siapa pun yang mencari keadilan di dalamnya. Pagi itu, area pelataran penuh sesak oleh kerumunan jurnalis dan pengamat horologi dari seluruh penjuru negeri. Kasus Ezra Vance bukan lagi sekadar skandal asmara atau pencurian biasa; ini adalah kasus kriminal paling kompleks dalam satu dekade terakhir yang melibatkan pembunuhan berencana dan pencurian kekayaan intelektual bernilai triliunan rupiah.

​Sora Kalani melangkah turun dari jip Hael dengan balutan setelan blazer berwarna biru tua yang tajam. Rambutnya diikat kuda dengan rapi, menampakkan garis rahangnya yang tegas. Di lehernya, ia mengenakan kalung kunci pemberian Hael, dan di pergelangan tangannya melingkar jam tangan murni karyanya sendiri yang kini menyimpan frekuensi The Infinite Spring.

​"Siap?" tanya Hael, yang berjalan di sampingnya dengan tatapan waspada pada setiap pergerakan di sekitar mereka.

​"Aku sudah menunggu sepuluh tahun untuk hari ini, Hael," jawab Sora tanpa keraguan. "Aku tidak hanya siap. Aku merasa utuh."

​Saat mereka memasuki ruang sidang, suasana seketika hening. Di kursi terdakwa, Ezra Vance duduk dengan pakaian tahanan yang tampak asing di tubuhnya yang biasanya dibalut kain sutra. Wajahnya tampak jauh lebih tua, lingkaran hitam di bawah matanya menunjukkan bahwa ia tidak tidur selama berhari-hari. Namun, saat Sora lewat, Ezra mendongak dan memberikan tatapan penuh kebencian—sebuah upaya terakhir untuk menunjukkan kekuasaan yang sebenarnya sudah runtuh.

​Di samping Ezra, duduk seorang pria paruh baya dengan kacamata bingkai emas dan senyum yang menjijikkan. Markus Thorne, pengacara paling licik yang pernah disewa keluarga Vance untuk "membersihkan" noda-noda sejarah mereka.

​Sidang dimulai dengan pembacaan dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum. Bukti-bukti yang dikumpulkan Hael dan Detektif Januar dibentangkan satu per satu: rekaman CCTV lama yang dipulihkan, dokumen transfer bank ke akun Cayman, hingga hasil pemindaian frekuensi The Chronos Heart yang sangat identik dengan cetak biru Aris Kalani.

​Namun, Markus Thorne tidak tinggal diam. Ia berdiri dengan sikap meremehkan, menyesuaikan dasinya sebelum mulai berbicara dengan nada suara yang memikat.

​"Yang Mulia, bukti-bukti teknis ini memang menarik, namun sifatnya spekulatif. Klien saya, Tuan Ezra Vance, adalah seorang jenius musik. Ia tidak memiliki motif untuk membunuh seorang ahli jam yang bangkrut seperti Aris Kalani. Bukankah lebih masuk akal jika Aris sendiri yang memberikan mesin itu kepada Ezra sebagai jaminan hutang sebelum kecelakaan kebakaran yang tragis itu terjadi? Nona Sora Kalani mungkin hanya merasa pahit karena ia tidak mendapatkan bagian dari transaksi rahasia ayahnya sendiri."

​Sora merasakan kemarahan memuncak di dadanya, namun ia tetap diam, mengikuti instruksi Hael untuk tidak terpancing emosi.

​"Dan mengenai frekuensi jam itu," lanjut Thorne sambil menatap para hakim. "Horologi adalah ilmu yang luas. Dua mekanik bisa saja menemukan solusi yang sama secara kebetulan. Tanpa saksi mata yang kuat dari malam kebakaran sepuluh tahun lalu, semua ini hanyalah asumsi berdasar dendam pribadi seorang mantan kekasih yang dicampakkan."

​Suasana di ruang sidang mulai bergumam. Beberapa pendukung keluarga Vance mulai berbisik-bisik, membenarkan narasi "cinta yang berubah jadi benci" yang dilemparkan Thorne.

​Namun, tepat saat Hakim Ketua hendak mengetuk palu untuk jeda siang, pintu besar di belakang ruang sidang terbuka dengan dentuman pelan.

​Semua mata menoleh. Seorang wanita melangkah masuk dengan anggun, meski ia bertumpu pada sebuah tongkat kayu hitam yang diukir dengan motif ombak. Ia mengenakan gaun sutra berwarna zamrud dan kerudung transparan yang menutupi sebagian wajahnya. Saat ia melepas kacamatanya, napas Ezra tercekat.

​"Liora Thalassa," desis Ezra, suaranya gemetar karena ketakutan yang nyata.

​Liora berjalan menuju kursi saksi tanpa melihat ke arah Ezra sedikit pun. Ia menoleh ke arah Sora, memberikan anggukan kecil yang sarat dengan rahasia.

​"Yang Mulia," suara Liora terdengar jernih dan berwibawa di tengah keheningan. "Saya di sini bukan hanya untuk bersaksi atas pencurian jam itu. Saya di sini untuk memberikan bukti yang Ezra pikir telah ia hancurkan di Paris sebulan yang lalu."

​Liora mengeluarkan sebuah perekam suara kecil dari tasnya. "Ezra Vance memiliki kebiasaan buruk berbicara saat ia mengira saya sedang tertidur karena pengaruh obat penenang. Di Paris, saat ia merasa berada di puncak kesuksesan, ia pernah membisikkan sesuatu di telinga saya—sebuah pengakuan yang ia anggap sebagai dongeng pengantar tidur tentang bagaimana ia mengunci pintu bengkel dari luar sebelum menyulut api, hanya agar ia bisa menjadi 'pahlawan' bagi putri sang maestro."

​Thorne mencoba menyela dengan keras, "Ini ilegal! Rekaman tanpa izin tidak bisa diterima di pengadilan!"

​"Ini bukan sekadar rekaman, Yang Mulia," Liora menatap Ezra dengan dingin yang mematikan. "Ini adalah kebenaran yang tidak bisa lagi dipendam oleh sungai mana pun. Saya melompat ke sungai itu untuk melarikan diri dari pria ini, bukan karena saya gila, tapi karena saya tahu bahwa setelah dia merasa memiliki jam itu sepenuhnya, giliran saya yang akan 'mengalami kecelakaan' agar rahasianya tetap terkubur."

​Liora menyerahkan sebuah dokumen lain—sebuah foto lama yang ia ambil secara sembunyi-sembunyi dari brankas pribadi Ezra. Foto itu menunjukkan Ezra berdiri di depan bengkel Aris Kalani yang terbakar, memegang sebuah kotak kayu yang sangat dikenal Sora, dengan jam tangan di pergelangan tangannya yang menunjukkan waktu tepat saat api mulai membesar. Foto itu diambil oleh kamera otomatis sistem keamanan jalan yang salinannya berhasil dicuri Ezra bertahun-tahun lalu.

​Wajah Ezra kini berubah menjadi abu-abu. Ia jatuh terduduk, tangannya gemetar hebat. Kebohongan yang ia bangun selama sepuluh tahun runtuh berkeping-keping di depan matanya sendiri.

​Sora berdiri dari kursinya. Ia berjalan mendekati pagar pembatas saksi. "Waktu adalah saksi yang paling jujur, Ezra. Kamu bisa memutar jarum jamnya sesukamu, tapi kamu tidak bisa menghapus detak yang sudah terjadi."

​Hakim Ketua mengetuk palu dengan keras. "Berdasarkan bukti baru dan kesaksian saksi kunci, pengadilan memerintahkan penahanan tanpa jaminan bagi Ezra Vance dan penyelidikan lebih lanjut terhadap firma hukum Thorne atas dugaan penghilangan barang bukti."

​Saat petugas memborgol Ezra kembali, pria itu mencoba berteriak, "Sora! Aku melakukannya untuk kita! Aku ingin kita memiliki kehidupan yang layak!"

​Sora menatapnya dengan rasa iba yang terakhir. "Kamu melakukannya untuk dirimu sendiri, Ezra. Aku hanyalah perhiasan lain yang ingin kamu koleksi. Tapi perhiasan ini... dia punya detak jantungnya sendiri."

​Setelah sidang ditutup, Sora dan Liora berdiri di lorong gedung pengadilan yang sunyi.

​"Terima kasih, Liora," ucap Sora tulus. "Kamu mempertaruhkan nyawamu untuk datang ke sini."

​Liora tersenyum tipis, matanya menatap kaki Sora yang berdiri tegak. "Kita berdua adalah tawanan di ruang tunggu yang sama selama bertahun-tahun, Sora. Kamu melepaskan jangkarnya, dan aku memilih untuk berenang. Aku hanya memastikan bahwa kapal yang membawa kita pergi tidak akan pernah kembali ke dermaga yang beracun itu."

​Liora kemudian berbisik di telinga Sora, "Di dalam brankas digital ayahmu, ada bagian yang menyebutkan tentang 'mesin ketiga'. Ayahmu tidak hanya membuat dua. Cari mesin itu, Sora. Itu adalah kunci untuk sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar jam tangan."

​Sebelum Sora sempat bertanya lebih lanjut, Liora sudah berjalan pergi, menghilang di balik kerumunan pengawal yang menjaganya.

​Hael mendekati Sora, merangkul pinggangnya. "Dia benar, Sora. Ini belum berakhir. Kemenangan atas Ezra hanyalah pintu pembuka. Sekarang, duniamu yang sebenarnya baru saja dimulai."

​Sora menatap langit dari jendela besar gedung pengadilan. Hujan telah berhenti, menyisakan pelangi tipis di cakrawala. Ia menggenggam kalung kuncinya, merasakan detak The Infinite Spring di pergelangan tangannya yang kini seolah memandu langkahnya menuju rahasia ayahnya yang berikutnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!