Di dunia yang dipenuhi para ahli bela diri dan kultivator kuat, Goo Yoon hanyalah seorang pemuda biasa yang bahkan tidak mampu mengalahkan murid terlemah di sekte.
Namun Goo Yoon memiliki satu hal yang tidak dimiliki orang lain—tekad yang tidak pernah patah.
Setelah terus dipermalukan dan diremehkan, suatu hari ia menemukan sebuah seni bela diri kuno yang telah lama hilang. Seni tersebut dikenal sebagai Teknik Pedang Dewa Gila, sebuah kekuatan yang bahkan para master legendaris tak mampu kuasai.
Dengan latihan yang penuh darah, rasa sakit, dan kegagalan, Goo Yoon perlahan berubah.
Dari seorang pemuda lemah…
Menjadi legenda yang ditakuti seluruh dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jenih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Utusan dari Dunia Persilatan
Angin sore berhembus perlahan melewati pegunungan. Langit mulai berubah warna menjadi jingga ketika matahari perlahan tenggelam di balik puncak-puncak gunung. Goo Yoon berdiri di depan gua latihan sambil membersihkan pedangnya dengan kain sederhana.
Latihan hari itu terasa lebih berat dari biasanya.
Pertarungan melawan murid lama Han Seol membuatnya menyadari bahwa dunia pendekar jauh lebih luas dari yang ia bayangkan.
Han Seol duduk di atas batu besar, menatap hutan dengan wajah tenang.
Namun tiba-tiba matanya sedikit menyipit.
“Goo Yoon.”
“Ya, Guru?”
Han Seol berdiri perlahan.
“Ada tamu.”
Goo Yoon langsung menoleh ke arah jalan setapak yang menuju hutan.
Beberapa detik kemudian terdengar suara langkah kaki.
Dari balik pepohonan muncul tiga orang pria berpakaian pendekar. Mereka mengenakan pakaian perjalanan yang berdebu, seolah telah menempuh perjalanan panjang.
Orang yang berada di depan terlihat paling tua. Rambutnya mulai memutih, namun matanya tajam seperti elang.
Ketika mereka melihat Han Seol, ketiganya langsung berhenti.
Pria tua itu menangkupkan tangannya dengan hormat.
“Salam kepada Tuan Han Seol.”
Goo Yoon sedikit terkejut.
Ia jarang melihat orang luar datang ke tempat terpencil ini.
Han Seol hanya menatap mereka dengan tenang.
“Apa tujuan kalian datang ke sini?”
Pria tua itu menjawab, “Kami datang dari dunia persilatan. Kami membawa pesan penting.”
Han Seol tidak langsung menjawab.
Beberapa saat ia hanya menatap mereka seolah mencoba membaca niat mereka.
Akhirnya ia berkata, “Bicaralah.”
Pria tua itu melangkah maju.
“Beberapa bulan terakhir, dunia persilatan mulai tidak tenang.”
Goo Yoon memperhatikan dengan serius.
Pria itu melanjutkan,
“Beberapa sekte besar melaporkan bahwa seseorang sedang mencari pewaris teknik Pedang Langit.”
Mata Goo Yoon sedikit melebar.
Namun Han Seol tetap terlihat tenang.
“Lalu?”
Pria itu menarik napas pelan.
“Rumor tentang kebangkitan pewaris Pedang Langit telah menyebar.”
Suasana menjadi hening.
Angin yang bertiup terasa lebih dingin.
Pria itu melanjutkan dengan suara serius,
“Banyak sekte ingin menemukan orang itu.”
Goo Yoon menggenggam pedangnya tanpa sadar.
Ia mulai memahami arah pembicaraan ini.
Han Seol berkata dengan datar, “Dan kalian datang untuk memastikan apakah rumor itu benar?”
Pria tua itu tidak menyangkal.
Ia menatap Goo Yoon sejenak.
Aura pendekar muda itu terasa berbeda.
Ada energi yang kuat namun masih belum sepenuhnya matang.
“Apakah dia… pewaris Pedang Langit?” tanya pria itu perlahan.
Han Seol melangkah satu langkah ke depan.
Aura dingin langsung memenuhi udara di sekitar mereka.
“Pertanyaan itu bukan urusan kalian.”
Ketiga pria itu langsung merasakan tekanan besar.
Mereka tahu reputasi Han Seol di dunia persilatan.
Ia adalah pendekar legendaris yang memilih mengasingkan diri dari dunia luar.
Pria tua itu segera menundukkan kepala.
“Kami tidak bermaksud menyinggung.”
Han Seol tetap menatap mereka tajam.
“Jika kalian hanya datang untuk mencari rumor, kalian bisa kembali.”
Suasana kembali sunyi.
Akhirnya pria tua itu berkata,
“Ada satu hal lagi yang harus kami sampaikan.”
Han Seol tidak menjawab.
Pria itu melanjutkan,
“Sekelompok pendekar misterius mulai bergerak di dunia persilatan.”
“Kelompok itu menyebut diri mereka… Bayangan Hitam.”
Goo Yoon belum pernah mendengar nama itu.
Namun Han Seol langsung menyipitkan matanya.
“Bayangan Hitam…”
Pria tua itu mengangguk.
“Mereka menyerang beberapa sekte kecil dan mencari sesuatu.”
“Banyak orang percaya mereka sedang mencari teknik Pedang Langit.”
Suasana menjadi lebih tegang.
Goo Yoon menatap gurunya.
Untuk pertama kalinya ia melihat ekspresi serius di wajah Han Seol.
Han Seol berkata pelan,
“Jadi akhirnya mereka mulai bergerak…”
Goo Yoon bertanya, “Guru, siapa mereka?”
Han Seol tidak langsung menjawab.
Ia menatap ke arah pegunungan yang gelap di kejauhan.
“Musuh lama.”
Angin sore kembali berhembus.
Han Seol melanjutkan,
“Jika mereka benar-benar mulai mencari pewaris Pedang Langit… maka cepat atau lambat mereka akan datang ke sini.”
Goo Yoon menggenggam pedangnya lebih erat.
Alih-alih takut, matanya justru dipenuhi tekad.
Pria tua itu berkata,
“Itulah sebabnya kami datang memperingatkanmu, Tuan Han Seol.”
Han Seol mengangguk pelan.
“Kalian sudah menyampaikan pesan kalian.”
Pria tua itu menangkupkan tangan sekali lagi.
“Kalau begitu kami pamit.”
Ketiga pria itu segera berbalik dan berjalan kembali menuju hutan.
Tidak lama kemudian bayangan mereka menghilang di antara pepohonan.
Tempat itu kembali sunyi.
Goo Yoon menatap gurunya.
“Guru… apakah mereka mengatakan yang sebenarnya?”
Han Seol menjawab dengan tenang,
“Ya.”
Ia menatap Goo Yoon dengan serius.
“Mulai sekarang latihanmu akan berubah.”
Goo Yoon sedikit terkejut.
“Berubah?”
Han Seol mengangguk.
“Waktu kita tidak banyak lagi.”
Langit malam mulai turun perlahan.
Bintang-bintang pertama mulai muncul di langit.
Han Seol berkata dengan suara tegas,
“Jika Bayangan Hitam benar-benar datang…”
Ia berhenti sejenak.
“Kau harus sudah cukup kuat untuk menghadapi mereka.”
Goo Yoon menarik napas panjang.
Ia menatap pedangnya.
Perjalanan untuk menjadi pendekar terkuat kini terasa semakin nyata.
Ancaman dari dunia persilatan mulai mendekat.
Dan Goo Yoon tahu…
Tak lama lagi, pertarungan yang sebenarnya akan dimulai.
yg bner mn nih?
Hubungannya dengan gurunya membuat aku nostalgia sama guruku /Determined/