Di Medan tahun 2026, Rania Putri pendiri startup yang membantu UMKM dengan teknologi data terpaksa bekerja sama dengan perusahaan besar dari Jakarta yang dipimpin oleh Reza Aditya, mantan kekasihnya yang menghilang tanpa kabar sepuluh tahun lalu.
Pada awalnya, mereka hanya fokus pada pengembangan aplikasi "UMKM Connect", namun menemukan kode aneh dalam sistem yang menyimpan jejak masa lalunya. Saat menyelidiki asal usul kode tersebut, mereka mengungkap rahasia mengejutkan, perpisahan mereka dulu adalah rencana jahat dari Doni Pratama, mantan sahabat Rania yang mengambil alih bisnis keluarga dia.
Di tengah penyelidikan yang penuh kejadian lucu dan tantangan bisnis, rasa cinta lama mereka kembali muncul. Setelah berhasil membongkar kejahatan Doni dan mendapatkan dukungan pemerintah, mereka tidak hanya menyelesaikan proyek aplikasi yang bermanfaat bagi jutaan UMKM, tapi juga menemukan kesempatan kedua untuk cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 : MASALAH TEKNOLOGI DAN WARUNG YANG KEMBALI
Suara bunyi mesin cetak yang berdenyut merusak keheningan pagi hari di kantor kecil Rania. Dia baru saja selesai memeriksa daftar UMKM yang akan mendapatkan bantuan teknologi dalam waktu dekat, ketika suara mengetuk pintu yang lembut membuatnya menoleh.
“Permisi, Bu Rania,” ucap seorang wanita muda dengan wajah sedikit canggung yang berdiri di pintu. “Saya adalah Dewi dari Warung Makan ‘Semangat Baru’ yang terletak di kawasan Polonia. Saya baru saja mendengar tentang proyek Anda dan ingin tahu apakah masih ada kesempatan untuk bergabung?”
Rania segera berdiri dan mengundangnya masuk. “Tentu saja ya Bu Dewi. Silakan duduk dulu ya, mari kita bicara santai saja.”
Setelah Dewi duduk dan mulai menjelaskan tentang usaha makanannya yang sudah berjalan selama lima tahun, Rania melihat bahwa warung tersebut memiliki potensi besar namun kesulitan dalam memasarkan produknya secara luas. “Kita memang masih menerima peserta baru, Bu Dewi. Namun sebelum bergabung, kita perlu melakukan evaluasi terlebih dahulu ya.”
Dewi mengangguk dengan penuh harapan. “Tentu saja Bu. Kami hanya ingin bisa menjangkau pasar yang lebih luas dan mendapatkan pendapatan yang lebih baik untuk mendukung keluarga.”
Sementara itu, di luar kantor, suara mobil yang datang dari arah Jakarta membuat mereka berhenti sejenak. Rania melihat Reza dan timnya sudah tiba dengan membawa berbagai peralatan teknologi yang akan digunakan untuk membantu UMKM lokal. Mereka langsung masuk dengan wajah yang penuh semangat.
“Selamat pagi, Rania,” sapaan Reza terdengar jelas. “Kita sudah siap untuk memulai kerja sama hari ini. Sudah ada beberapa UMKM yang ingin bergabung dengan proyek kita kan?”
“Ya Pak,” jawab Rania sambil menunjukkan daftar nama yang sudah disiapkan. “Kita akan mulai dengan mengunjungi beberapa usaha yang sudah ada di sekitar sini, kemudian kita bisa melihat bagaimana teknologi bisa membantu mereka.”
Setelah berdiskusi sebentar dan merencanakan jadwal kunjungan lapangan, mereka segera berangkat menuju lokasi pertama. Mobil melaju melalui jalanan Medan yang mulai ramai dengan kendaraan pagi hari. Rania menunjukkan berbagai titik lokasi UMKM yang akan dikunjungi—mulai dari usaha kecil di pusat kota hingga yang berada di pinggiran kota.
“Kita akan mulai dengan mengunjungi usaha kerajinan tangan yang terletak di kawasan Kesawan,” jelas Rania sambil menunjukkan peta di layar tabletnya. “Kemudian kita akan melanjutkan ke warung makan yang sudah ada sejak lama namun mulai terlupakan karena perkembangan zaman.”
Ketika mereka sampai di lokasi pertama, sebuah usaha kecil dengan nama “Kerajinan Tangan ‘Asli Nusantara’” muncul di depan mata. Pemiliknya, Pak Joko, segera menyambut dengan senyum ramah. “Selamat datang ya, silakan masuk saja.”
Reza dan timnya langsung melihat-lihat berbagai produk kerajinan yang dibuat dengan tangan dengan sangat cermat. Maya mulai mencatat beberapa poin penting tentang bagaimana teknologi bisa membantu meningkatkan efisiensi produksi dan pemasaran.
“Kita bisa membuat sistem pemesanan online yang memudahkan pelanggan untuk membeli produk Anda secara langsung,” jelas Maya sambil menunjukkan contoh antarmuka aplikasi yang bisa digunakan. “Begitu juga dengan pembayaran yang bisa dilakukan secara digital.”
Pak Joko mengangguk dengan penuh kagum. “Itu akan sangat membantu sekali Bu. Kami sering kesulitan dalam mengatur pesanan dan menghubungi pembeli yang tersebar.”
Setelah mengambil beberapa foto dan catatan, mereka melanjutkan perjalanan ke lokasi berikutnya. Di jalan, mereka melihat sebuah warung kecil yang tampak terlupakan di sudut jalan raya. Rania tiba-tiba ingat bahwa warung tersebut pernah menjadi tempat favoritnya ketika masih kuliah.
“Mari kita berhenti sebentar ya,” ucap Rania dengan suara pelan. “Saya ingin melihat kondisi warung ini.”
Mereka berhenti di depan warung dengan nama “Warung Makan ‘Cita Rasa’” yang tampak sudah tidak beroperasi lagi. Pintu ditutup rapat dan ada tanaman liar yang tumbuh di sekitarnya. Rania mendekat dan melihat sebuah amplop kecil yang tertancap di pintu.
“Kelihatannya sudah tutup ya, Bu,” ucap Siti dengan suara pelan.
Rania mengambil amplop tersebut dan membacanya dengan hati yang sedikit berat. Isinya adalah surat dari pemilik warung yang harus berpindah kota karena alasan kesehatan keluarga. “Mereka harus pindah karena istri pemiliknya sakit parah dan perlu perawatan yang lebih baik,” jelas Rania sambil menyimpan surat tersebut. “Kita harus mencatat ini sebagai pelajaran bahwa kadang kita harus memilih antara usaha dan keluarga.”
Setelah mengambil beberapa foto dokumentasi, mereka melanjutkan perjalanan ke lokasi berikutnya. Di jalan, mereka melihat berbagai usaha kecil yang mulai berkembang dengan bantuan teknologi—mulai dari warung makan yang sudah menggunakan sistem pemesanan online hingga toko kerajinan yang menjual produknya melalui platform digital.
“Sangat menyenangkan melihat banyak usaha kecil yang bisa berkembang dengan baik,” ucap Bima dengan suara penuh kagum. “Kita bisa mengambil banyak inspirasi dari sini.”
Ketika mereka sampai di Kelompok Tani “Harapan Baru” yang terletak di luar kota, mata mereka langsung terpukau melihat hamparan lahan pertanian yang subur. Pak Soleh, ketua kelompok tani, segera menyambut dengan senyum ramah. “Selamat datang ya, silakan lihat-lihat hasil panen kita yang baru saja tiba.”
Mereka melihat berbagai jenis sayuran dan buah-buahan yang dipanen dengan cara tradisional namun sudah mulai menggunakan teknologi modern dalam pengelolaannya. “Kita menggunakan aplikasi untuk mencatat data tanaman dan memprediksi hasil panen,” jelas Pak Soleh dengan bangga. “Ini sangat membantu kita dalam mengatur produksi dan pemasaran.”
Reza mulai bertanya tentang bagaimana mereka bisa membantu lebih lanjut. “Kita bisa membuat sistem yang menghubungkan langsung antara petani dan pembeli besar, sehingga harga yang diterima lebih adil.”
Pak Soleh mengangguk dengan penuh harapan. “Itu akan sangat membantu sekali Pak. Kami selalu berharap bisa menjangkau pasar yang lebih luas.”
Setelah berdiskusi panjang dan mengambil berbagai data serta foto dokumentasi, mereka kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan. Di jalan pulang, mereka berhenti sebentar di sebuah warung makan kecil yang terletak di pinggir jalan. Warung tersebut memiliki nama yang sama dengan yang pernah mereka kunjungi sebelumnya—“Warung Makan Sederhana”.
Rania mendekat dan melihat wajah pemiliknya yang sudah tua namun masih mengenalnya. “Pak Yanto, masih ingat saya tidak ya?”
Wanita tersebut menoleh dan langsung tersenyum. “Rania kan? Sudah lama tidak datang ya. Kabarnya kamu sedang bekerja sama dengan perusahaan besar ya? Semoga sukses ya.”
Setelah berbincang sebentar dan berbagi cerita lama, mereka melanjutkan perjalanan pulang. Di dalam mobil, tim mulai membahas hasil kunjungan hari ini dengan antusias. Mereka menyadari bahwa banyak hal yang bisa dilakukan untuk membantu UMKM lokal tetap bertahan dan berkembang.
“Kita bisa membuat platform yang menghubungkan mereka secara langsung dengan pasar global,” jelas Reza sambil melihat catatan yang dibuat Maya. “Dengan begitu, mereka tidak perlu lagi melalui banyak perantara yang membuat harga jadi mahal.”
Rania mengangguk dengan penuh kesepakatan. “Itu adalah ide yang bagus Pak. Kita bisa mulai dengan membangun sistem yang sederhana namun efektif untuk mereka.”
Ketika mereka sampai kembali di warung Nenek Aminah menjelang sore hari, semua merasa puas dengan hasil kunjungan lapangan hari ini. Nenek sudah menunggu dengan hidangan spesial yang sudah siap disajikan.
“Silakan makan ya, setelah panjang perjalanan pasti sudah lapar,” ucap Nenek dengan suara hangat.
Mereka semua duduk bersama dan menikmati hidangan yang lezat sambil berbagi cerita tentang pengalaman mereka selama hari ini. Suasana menjadi hangat dengan candaan dan cerita yang saling bertukar.
Setelah makan dan bersantai sebentar, Rania membawa tim Jakarta melihat ruang kerja kecil yang sudah disiapkan untuk proyek. “Kita akan mulai mengembangkan sistemnya mulai hari ini ya Pak Reza. Semoga bisa memberikan manfaat yang besar bagi banyak orang.”
Reza mengangguk dengan senyum penuh keyakinan. “Kita akan bekerja sama dengan baik, Rania. Saya yakin proyek ini akan menjadi contoh bagi banyak daerah lain.”
Saat malam mulai menjelma dan mereka siap untuk berpisah, Rania merasa hati yang penuh dengan harapan dan tekad untuk terus bekerja keras. Dia melihat ke langit yang sudah mulai bersinar dengan bintang-bintang yang menjulang tinggi. Setiap langkah yang diambil hari ini adalah batu loncatan untuk masa depan yang lebih baik bagi semua pelaku UMKM di Indonesia.
Ketika pagi harinya tiba dan sinar matahari mulai menerangi warung Nenek Aminah, Rania sudah siap dengan segala persiapan yang telah dilakukan. Dia melihat ke arah jalan yang semakin ramai dengan kendaraan dan aktivitas warga yang mulai hari dengan penuh semangat.
“Sampai di sini kita sudah bisa mulai dengan langkah-langkah awal untuk membantu mereka ya Pak Reza,” jelas Rania sambil menunjukkan beberapa proposal yang sudah disiapkan. “Kita akan membagi menjadi beberapa tahap, mulai dari pendaftaran hingga pelatihan penggunaan teknologi.”
Reza mengangguk dan melihat ke arah timnya yang sudah siap dengan peralatan masing-masing. “Baiklah, mari kita mulai dengan pendaftaran UMKM yang ingin bergabung dengan proyek kita. Kita akan memberikan pelatihan dasar tentang penggunaan aplikasi yang telah kita kembangkan.”
Setelah semua persiapan selesai, mereka segera berangkat menuju lokasi pertama di kawasan Kota Lama Medan. Udara pagi yang masih segar dengan aroma bunga dan makanan khas daerah membuat suasana menjadi lebih menyenangkan. Ketika mereka sampai di lokasi pertama, sebuah usaha kecil dengan nama “Kerajinan Tangan ‘Pelangi Nusantara’” muncul di depan mata.
Pemiliknya, Bu Sri, segera menyambut dengan senyum ramah. “Selamat pagi ya, silakan masuk saja. Kami sudah menunggu kedatangan Anda semua.”
Mereka masuk dan melihat berbagai produk kerajinan tangan yang dibuat dengan sangat cermat—mulai dari tas anyaman, pernak-pernik dekoratif, hingga patung kayu yang diukir dengan indah. Maya mulai mencatat beberapa poin penting tentang bagaimana teknologi bisa membantu meningkatkan penjualan produk tersebut.
“Kita bisa membuat toko online yang menampilkan semua produk Anda dengan jelas,” jelas Maya sambil menunjukkan contoh antarmuka aplikasi yang bisa digunakan. “Pelanggan bisa melihat detail produk, harga, dan melakukan pembelian secara langsung.”
Bu Sri mengangguk dengan penuh kagum. “Itu akan sangat membantu sekali Bu. Kami sering kesulitan menjangkau pasar yang lebih luas karena keterbatasan teknologi.”
Setelah mengambil beberapa foto dan catatan penting, mereka melanjutkan perjalanan ke lokasi berikutnya—Warung Makan “Rumah Kita” yang terletak di pinggir jalan raya. Warung ini memiliki suasana yang hangat dengan dekorasi khas daerah dan hidangan yang lezat.
“Selamat datang ya,” sapaan pemiliknya, Pak Darmawan, terdengar ramah. “Silakan duduk dan coba hidangan kami yang sudah siap.”
Mereka semua duduk dan menikmati hidangan yang disajikan dengan penuh rasa. Rania merasa teringat dengan warung neneknya yang juga selalu memberikan rasa yang sama lezatnya. Setelah makan, mereka mulai berdiskusi tentang bagaimana teknologi bisa membantu meningkatkan efisiensi operasional warung tersebut.
“Kita bisa membuat sistem pemesanan yang memungkinkan pelanggan untuk memesan secara online dan mengambilnya di warung,” jelas Bima sambil menunjukkan contoh aplikasi yang sudah digunakan di beberapa kota besar. “Ini akan mengurangi antrian dan memudahkan Anda dalam mengatur pesanan.”
Pak Darmawan mengangguk dengan antusias. “Itu sangat bagus Pak. Kami sering kesulitan mengatur pesanan saat jam sibuk.”
Setelah berdiskusi panjang dan mengambil berbagai data serta dokumentasi, mereka melanjutkan perjalanan ke lokasi terakhir hari ini—Kelompok Peternak Ikan Lele “Sejahtera Makmur” yang terletak di luar kota. Jalanan yang semakin luas dengan pemandangan sawah dan kebun membuat perjalanan menjadi lebih menyenangkan.
Ketika mereka sampai di lokasi, para peternak sudah menunggu dengan penuh semangat. Pak Hadi, ketua kelompok, segera menyambut dengan membawa contoh hasil panen ikan lele yang segar. “Silakan lihat ya, ini hasil panen kita yang terbaik.”
Reza dan timnya langsung melihat dengan penuh kagum bagaimana sistem akuakultur modern bisa diterapkan dengan baik di sini. “Kita bisa membuat sistem pemantauan kualitas air dan pakan yang terkontrol secara digital,” jelas Reza sambil menunjukkan beberapa perangkat yang bisa digunakan. “Ini akan membantu meningkatkan produktivitas dan kualitas ikan.”
Setelah berdiskusi dan melihat langsung proses pembesaran ikan yang dilakukan dengan baik, mereka kembali ke mobil untuk pulang. Di jalan, mereka melihat berbagai usaha kecil yang mulai menggunakan teknologi untuk membantu aktivitas harian mereka—mulai dari warung yang menggunakan aplikasi pemesanan hingga toko yang menggunakan sistem pembayaran digital.
“Sangat menyenangkan melihat banyak usaha yang bisa berkembang dengan baik,” ucap Maya dengan suara penuh kagum. “Kita bisa mengambil banyak pelajaran dari sini.”
Ketika mereka sampai kembali di warung Nenek Aminah menjelang malam hari, suasana sudah semakin hangat dengan aroma makanan yang disajikan. Nenek Aminah segera menghampiri dengan hidangan spesial yang sudah siap.
“Silakan makan ya sebelum kembali ke Jakarta besok pagi,” ucap Nenek dengan suara penuh kasih sayang. “Semoga kerja sama kita bisa memberikan manfaat yang besar bagi banyak orang.”
Mereka semua duduk bersama dan menikmati hidangan yang lezat sambil berbagi cerita tentang pengalaman selama kunjungan lapangan. Suasana menjadi semakin hangat dengan candaan dan cerita yang saling bertukar. Setelah selesai makan, Reza mengangkat gelasnya sebagai tanda penghormatan.
“Mari kita rayakan awal kerja sama yang penuh harapan ini,” ucap Reza dengan suara jelas. “Semoga kita bisa memberikan yang terbaik untuk semua pelaku UMKM di Indonesia.”
Mereka semua mengangkat gelas dan bersulang bersama. Rania merasa hati yang penuh dengan harapan dan tekad untuk terus bekerja keras guna mewujudkan impian tersebut. Ketika malam mulai tiba dan mereka siap untuk berpisah, Rania melihat ke langit yang sudah bersinar dengan bintang-bintang yang menjulang tinggi. Setiap langkah yang diambil hari ini adalah investasi untuk masa depan yang lebih baik bagi semua orang.
Ketika malam benar-benar tiba dan lampu-lampu di sekitar warung mulai menyala terang, mereka semua masih duduk bersama sambil menikmati suasana yang hangat. Cerita-cerita tentang perjuangan dan keberhasilan para pelaku UMKM membuat mereka semakin yakin bahwa proyek ini akan memberikan dampak yang besar.
“Kita akan mulai mengembangkan platformnya mulai hari ini ya Pak Reza,” jelas Rania sambil menunjukkan beberapa rancangan aplikasi yang sudah disiapkan. “Kita akan membuatnya sesederhana mungkin agar mudah digunakan oleh semua kalangan.”
Reza mengangguk dengan senyum yang penuh keyakinan. “Baiklah Rania, tim kami akan siap membantu dalam pengembangan dan implementasinya. Kita akan bekerja sama dengan sepenuh hati untuk mencapai tujuan bersama.”
Setelah semua tamu pulang dan warung mulai sepi, Rania membantu nenek membersihkan meja-meja yang sudah kosong. Dia melihat ke arah langit yang sudah penuh dengan bintang-bintang yang bersinar terang. Setiap bintang mewakili harapan dan impian yang masih hidup dalam hati setiap pelaku usaha kecil di seluruh Indonesia.
“Kita akan terus berjuang ya Nenek,” ucap Rania dengan suara pelan saat membantu nenek menutup gerbang warung. “Untuk semua orang yang pernah merasa terlupakan dan membutuhkan bantuan.”
Nenek Aminah mengangguk dengan senyum yang penuh kebanggaan. “Ya nak, usaha kecil seperti kita adalah bukti bahwa kerja keras dan keikhlasan akan selalu menemukan jalan untuk berkembang dan memberikan manfaat bagi banyak orang.”
Ketika malam benar-benar tiba dan semua aktivitas di sekitar warung berhenti, Rania masih duduk di meja kecil sambil melihat ke arah jalan yang semakin sepi. Dia merenung tentang semua yang telah terjadi hari ini dan merasakan tekad yang semakin kuat untuk terus membantu para pelaku UMKM mencapai kesuksesan yang layak.