Aruna anak keturunan Atmadja juga brata kini menjalani masa remaja nya dengan penuh warna. pertemuan nya dengan seorang pria dewasa mampu membuat pria itu langsung jatuh cinta pada aruna si gadis kecil dan imut
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JK의 할루 아내, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecelakaan
"jadi makan siang sama kak yudis..?" tanya ethan saat mereka membereskan alat tulis mereka dan bersiap pulang
"jadi kak, udah izin sama papi juga" jawab aruna yang masih memasuk kan buku pelajarannya
"mau di anter atau gimana.?" tanya ethan
"aru naik ojol aja ya, kakak ada latihan basket kan" aruna menolak tawaran sang kakak
"apa kakak anter aja dulu nanti kakak balik lagi ke sekolah" entah kenapa ethan masih enggan melepaskan adiknya pergi sendiri
"ngga usah kak, aru bisa koq" kembali aruna menolak tawaran sang kakak ia tak ingin terus menerus merepotkan kakaknya apalagi saat ini sang kakak akan latihan basket karena sebentar lagi akan ada turnamen persahabatan
"lagian kenapa kak yudis ngga jemput aja sih kesini" kesal ethan akhirnya
"tadinya mau jemput kak, tapi mendadak ada meeting dia, jadi sekalian aja kita ketemuan di resto dia meeting. Kalo lancar pas aru sampe kak yudis juga udah selesai meeting nya" aruna menjelaskan
"ya udah hati-hati ya, jangan lupa live share lok ya biar kakak tenang"
aruna tak menjawab tapi ia mengeluarkan ponselnya dan sebentar mengutak atik ponselnya
"udah aru share ya, ke grup keluarga bahagia" ujar aruna sambil memasukkan ponselnya sedangkan ethan malah memeriksa ponselnya dan setelah memastikan apa yang adiknya bicarakan benar mereka berdua pun beranjak keluar kelas.
Aruna yang sudah memesan ojol pun berdiri menunggu di temani ethan.
"bang hati-hati ya, ngga usah ngebut yang penting selamat" ethan mengingatkan driver ojol
"beres mas, dijamin pacarnya selamat" ujar sang driver tersenyum
"ya udah aru duluan ya, tuh udah di samperin sama yang lain" aruna menunjuk ke arah belakang ethan
Aruna melambaikan tangannya pada ethan saat motor ojol melaju pergi meninggalkan sekolah, dan ethan pun kembali masuk setelah memastikan adik nya sudah tak terlihat
"ya ampun posesif amat than, besok kan ketemu lagi" ledek teman ethan saat melihat ethan yang sudah bergabung dengan yang lain
"kak aru langsung pulang..?" tanya ghaly yang duduk dekat ethan
"ngga, mau ketemu orang dulu, baru pulang"
"ow..." jawab singkat ghaly yang tau kenapa kakak sepupunya murung
.
Awasssss.....
Teriak aruna saat melihat seorang wanita paruh baya yang akan terserempet motor. Dengan cepat aruna menarik tangan wanita itu dan membuat mereka berdua jatuh bersamaan dan menimbulkan luka lecet di beberapa bagian tubuh aruna dan wanita itu
"ya ampun... aru, kamu ngga apa-apa..?" tanya wanita itu mengkhawatirkan aruna
"ngga apa-apa tante, tante ngga apa-apa..?" tanya aruna saat menyadari siapa yang ia tolong. Ia adalah tante cantika wanita cantik paruh baya pemilik toko bakery di mana ia sering mampir
"atau kita ke rumah sakit sayang" ajak tante cantika langsung menghentikan taxi yang kebetulan lewat
Aruna hanya pasrah saja saat di bantu bangun, dan memang luka aruna lebih mengkhawatirkan di bandingkan tante cantika, badannya terasa sakit saat ia jatuh tadi, belum memar di tangannya
Hanya 20 menit mereka berdua sampai di rumah sakit pelita harapan, aruna menatap rumah sakit itu sesaat dan saat tante cantika datang dengan beberapa suster aruna membisikan sesuatu pada suster itu
"sus tolong panggil dokter devan, bilang saja anak perempuannya kecelakaan" bisik aruna lirih, ia ingat ayah devan bekerja di rumah sakit ini, aruna akan lebih tenang saat orang yang ia kenal menanganinya.
"baik saya akan sampaikan non" jawab suster itu sedikit bingung. Namun ia langsung memisahkan diri dan langsung ke resepsionis menekan nomor kepala rumah sakit dimana devan berada.
Drap... Drap...
Suara sepatu beradu dengan lantai, terdengar jelas. Seorang pria dengan jas putih khas seorang dokter berlari saat menerima telpon. Ia langsung memastikan kebenaran berita itu
"suster dimana anak saya..?" tanya devan saat ia sudah berada di depan UGD
"anak dokter..?" tanya suster bingung karena tak tau apa-apa karena baru saja selesai visit
"wanita yang baru saja dibawa, saya dapet kabar dari suster noni" jelas devan
"ow.. Nona aruna, dia baru aja masuk ke UGD dok, di sana ada suster noni juga" jelas nya dan devan langsung berlari kembali ke UGD
Menulikan pendengarannya dan tak menghiraukan sekitarnya yang melihatnya kebingungan tak seperti devan sebelumnya
"sayang..." panggil devan saat melihat tubuh mungil yang sedang berbaring di brankar UGD dan sedang di bersihkan luka-lukanya
"ayah... Sakit...." keluh aruna sambil menitikkan air mata yang sejak tadi ia tahan namun langsung lolos saat ia melihat ayah yang sangat menyayanginya sejak kecil
"sabar sayang, biar steril dulu ya, supaya ngga infeksi. gimana ceritanya kamu bisa kaya gini sih" tanya devan sambil mengalihkan perhatian dan sakit aruna
"tadi itu...." aruna pun menceritakan kejadian penyelamatan tadi
"anak ayah hebat, terus udah kasih kabar orang rumah..? Atau kakak kamu..?" devan mengingatkan
"ya ampun aru sampe lupa yah, bisa ayah aja yang ngabarin mereka dan oh iya suster tante yang bareng aruna juga luka, tolong di tangani juga ya" seketika aruna ingat dengan tante cantika
"sudah non, beliau sudah ditangani cuma memar di lengan sama kakinya aja, non aruna yang lebih parah lukanya" suster noni menjelaskan
"hehe... Kali aja suster lupa. Em... Tas aru mana ya sus" tanya aruna ingat ia juga belum mengabari yudis
"tadi dibawa tante nya non"
"nanti ayah yang ambil aja sayang, kamu istirahat dulu sambil nunggu kamar ya. Oh iya sus tolong di rontgen ya saya takut ada luka dalam" devan sangat berhati-hati pada anak perempuannya "ayah pamit sebentar ya sayang, mau urus kamar sama hubungin yang lain sekalian ambil tas kamu"
"iya ayah, jangan lupa kabarin kakak ya..." aruna mengingatkan
Devan keluar setelah memastikan luka-luka aruna sudah di tangani dan menunggu hasil rontgen agar lebih tenang, devan memang sangat menyayangi aruna sama seperti orang tuanya.
"non emang anaknya dokter devan ya..?" tanya suster yang merawat aruna itu penasaran
"iya sus, kenapa..?" tanya aruna heran
"setau saya anak dokter devan 2 dan itu kali-laki semua" ujar suster itu
"ow.... Suster tau kan cerita-cerita ada anak yang di rahasiakan identitasnya karena takut celaka" tanya aruna membuat suster itu mengangguk "nah aruna itu salah satu anak yang di rahasiakan identitasnya sus, suster tau kan posisi ayah di rumah sakit..." ucap aruna menggantung membuat suster kembali mengangguk mengerti
"sayang... Nih tas kamu, kayanya hp kamu mati deh tadi ayah coba cek ngga bisa nyala" devan kembali membawa tas sekolah aruna
"pinjem hp ayah dong, " aruna meminta dengan tangannya
"kakak sama yang lain udah di kabarin sayang" jawab devan namun ia tetap memberikan ponselnya
"hehe.. Ada 1 yang belum yah..." ucap aruna dan mencari nama kakak nya disana
"halo kak" ujar aruna saat sambungan telponnya tersambung
"kamu ngga apa-apa kan dek? Ada yang sakit..? Kakak langsung ke rumah sakit ya, ada yang mau di beli ngga.?" pertanyaan beruntun langsung di berikan ethan tanpa memberikan aruna bicara
"kakak tenang ya, ada ayah di sini dari tadi nemenin aru. Em.. Kak, hp aru rusak, aru belum ngabarin kak yudis. Kakak tolong kabarin ya, takut masih nunggu di resto" pinta aruna
"iya... Habis ini kakak telpon kak yudis ya"
"iya, kakak hati-hati ya..."
Panggilan pun terputus dan aruna mengembalikan ponsel devan padanya.
"Kak yudis..? Siapa dia sayang..?" tanya devan dengan senyum jahilnya
"ih ayah kepo deh" ujar aruna malu-malu
"hahaha... Anak gadis ayah udah mulai suka-sukaan ternyata, awas loh banyak penjaganya bilangin sama dia kalo mau deket sama kamu" devan mengingatkan
"ayah ih apa'an aru masih sekolah yah, lagian kak ethan sama papi kenal koq sama dia mangkanya mereka izinin aruna ketemuan sama dia"
"iya...iya... Jangan lupa kenalin sama ayah ya" devan kembali menggoda aruna