NovelToon NovelToon
My Cold Guardian Husband

My Cold Guardian Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Liana hamil anak pria lain, tapi Morgan—suami kontrak yang selalu ia maki—justru yang menggagalkan aborsinya dan mengaku sebagai ayahnya. 'Hiduplah untuk anak itu,' ucap Morgan dingin, meski hatinya hancur melihat istrinya merindukan pria yang telah membuangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebohongan Liana

Lampu gantung di ruang tengah apartemen memancarkan cahaya yang terasa terlalu terang bagi mata Morgan yang berdenyut nyeri. Pria itu duduk di pinggiran sofa, kemeja putihnya yang robek telah ia tanggalkan, menyisakan kaos dalam yang kini ternoda bercak darah dan debu aspal. Napasnya masih terasa berat, sisa-sisa adrenalin dari perkelahian tadi masih berdesir di pembuluh darahnya.

Di hadapannya, Liana berlutut di atas lantai porselen, memegang kotak pertolongan pertama dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Ia mengambil kapas dan cairan antiseptik, lalu perlahan mulai membersihkan luka sobek di pelipis Morgan.

"Aw—" Morgan meringis pelan saat cairan itu menyentuh luka terbukanya. Ia memejamkan mata rapat-rapat, rahangnya mengeras menahan perih yang menyengat.

"Maaf ... pelan-pelan," bisik Liana lirih. Ia meniup luka itu dengan lembut, jemarinya yang lentik menyentuh rahang Morgan agar posisi kepala pria itu tetap stabil.

Liana menatap wajah Morgan dari jarak yang sangat dekat. Ia melihat gurat kelelahan yang sangat dalam di bawah mata suaminya. Morgan harus bangun setiap fajar untuk menyiapkan materi kuliah, mengurus administrasi fakultas yang rumit, dan di sela-sela itu, ia harus terus mengawasi gerak-gerik Liana, menghadapi teror Derby, hingga terlibat baku hantam di parkiran.

Rasa bersalah mulai merayap di hati Liana, dingin dan menyesakkan. Ia menyadari bahwa kekacauan ini adalah akibat dari keegoisannya. Namun, ego remajanya yang keras kepala masih berbisik di sudut pikiran, menolak untuk mengakui bahwa ia telah menjadi beban bagi pria yang seharusnya tidak perlu mengalami semua ini.

"Kau tidak perlu melakukan ini jika kau tidak mau, Liana," ucap Morgan tiba-tiba, suaranya parau. Ia membuka matanya, menatap Liana dengan tatapan yang sangat dalam dan melelahkan. "Aku bisa mengobatinya sendiri."

"Diamlah, Morgan. Kau bahkan tidak bisa melihat luka di pelipismu sendiri," sahut Liana ketus, mencoba menutupi rasa harunya. Ia menekan plester ke luka Morgan dengan sedikit lebih keras dari yang seharusnya, sebuah mekanisme pertahanan untuk menyembunyikan sisi rapuhnya.

Setelah luka di wajah selesai, Liana beralih ke tangan Morgan. Buku-buku jari pria itu pecah-pecah dan membiru. Liana meraih tangan kanan Morgan, membasuhnya dengan air hangat, lalu mengoleskan salep memar. Saat melakukan itu, ia teringat kata-kata keji Derby di parkiran tadi. Kata-kata yang merobek topeng "muda-mudi pacaran biasa" yang selama ini Liana gunakan untuk melindungi dirinya.

Keheningan di antara mereka terasa sangat menyesakkan, hanya diiringi suara detik jam dinding. Morgan terus memperhatikan Liana yang tertunduk lesu saat mengobati tangannya. Ada satu pertanyaan yang sejak tadi menyumbat tenggorokan Morgan, sebuah kebenaran yang harus ia ketahui meski ia tahu itu akan menghancurkannya.

"Liana," panggil Morgan pelan.

"Hmm?"

"Kenapa kau berbohong padaku semalam?" Morgan menarik tangannya sedikit, memaksa Liana untuk mendongak dan menatap matanya. "Kenapa kau bilang hubunganmu dengan Derby hanya sebatas pacaran biasa, padahal dia berteriak di depan banyak orang bahwa dia sudah ... mengambil segalanya darimu?"

Tangan Liana yang memegang kapas seketika membeku. Ia mencoba menarik napas, namun paru-parunya seolah mengecil. Ia ingin membalas dengan kalimat kasar, ingin mengatakan bahwa itu bukan urusan Morgan, namun sorot mata Morgan yang penuh dengan kepedihan jujur membuatnya kehilangan kata-kata.

"Dia ... dia berbohong," bisik Liana, namun suaranya pecah di ujung kalimat.

"Jangan berbohong lagi padaku, Liana Shine," tekan Morgan, suaranya kini terdengar sangat rendah dan hancur. Ia mencengkeram bahu Liana dengan tangan yang gemetar, menuntut kejujuran dari mata gadis itu. "Apakah benar ... kau sudah menyerahkan kesucianmu padanya sebelum pernikahan ini dimulai?"

Liana tidak bisa lagi menahan bendungan di matanya. Air mata pertama jatuh membasahi punggung tangan Morgan. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, bahunya terguncang hebat oleh isak tangis yang selama ini ia pendam sendirian dalam kegelapan.

"Aku tidak punya pilihan, Morgan!" teriak Liana di sela tangisnya. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan, membiarkan kotak obat itu terguling di lantai. "Malam itu ... aku sedang mabuk di klub. Derby bilang dia akan menjagaku ... tapi dia justru membawaku ke hotel. Aku takut memberitahu Kak Liam, aku takut dia akan membunuh Derby atau mengirimku ke asrama militer. Aku tidak memberi tahu Kak Liam sama sekali. Jadi aku berpura-pura bahwa itu adalah keinginanku ... aku berpura-pura bahwa kami saling mencintai agar semuanya terlihat normal."

Dunia Morgan seolah runtuh mendengar pengakuan itu.

Pria yang selalu memuja logika dan keteraturan itu merasakan hantaman fisik yang lebih menyakitkan daripada pukulan Derby. Morgan menyandarkan punggungnya ke sofa, menatap langit-langit dengan mata yang berkaca-kaca. Selama ini, ia mengira Liana hanyalah gadis remaja yang nakal dan pemberontak. Ia mengira ia bisa memperbaiki Liana dengan aturan dan disiplin.

Namun kenyataannya jauh lebih mengerikan. Sebelum kontrak pernikahan itu ditandatangani, sebelum Morgan sempat mengucapkan sumpahnya untuk menjaga Liana, gadis di hadapannya ini sudah dihancurkan terlebih dahulu oleh pria yang ia anggap sebagai pelarian.

"Jadi itu sebabnya kau selalu membela dia?" tanya Morgan, suaranya sangat lirih, hampir tidak terdengar. "Bukan karena kau mencintainya, tapi karena kau merasa sudah tidak punya harga diri lagi untuk pergi darinya?"

Liana mengangguk pelan, tangisnya semakin menjadi-jadi. Ia merangkak mendekat dan membenamkan wajahnya di lutut Morgan, mencari perlindungan pada satu-satunya pria yang benar-benar membelanya malam ini. "Aku merasa kotor, Morgan ... aku merasa sampah seperti yang dia katakan tadi. Aku tidak pantas berada di sini, di apartemenmu yang bersih ini."

Morgan merasakan perih yang luar biasa menjalar di dadanya. Rasa cemburunya menguap, digantikan oleh empati yang menghancurkan hatinya. Ia mengulurkan tangannya yang terluka, perlahan membelai rambut Liana dengan sangat lembut, seolah-olah ia sedang memegang porselen retak yang nyaris hancur.

"Kau bukan sampah, Liana," bisik Morgan. Ia menarik Liana ke dalam pelukannya, membiarkan air mata gadis itu membasahi kaos dalamnya. "Dengarkan aku. Kau bukan sampah. Pria itu yang sampah karena telah memanfaatkan kerapuhanmu."

Morgan memejamkan mata, memeluk Liana dengan erat. Ia merasa gagal sebagai pelindung, meskipun kehancuran itu terjadi sebelum Liana menjadi istrinya. Ia menyesali setiap detik di mana ia bersikap kaku dan kasar pada Liana dalam beberapa hari terakhir.

"Maafkan aku," ucap Morgan, suaranya tersedak oleh emosi. "Maaf karena aku terlambat masuk ke dalam hidupmu. Maaf karena aku tidak ada di sana untuk mencegah malam itu terjadi."

Liana mendongak, menatap wajah Morgan yang kini basah oleh air mata yang jarang terlihat. Untuk pertama kalinya, Liana melihat Morgan bukan sebagai robot atau penjara, melainkan sebagai seorang pria yang hatinya benar-benar hancur demi dirinya.

"Morgan ... kau menangis?" tanya Liana tidak percaya.

Morgan mengusap matanya dengan punggung tangan, mencoba kembali pada topeng ketenangannya meski gagal total. "Aku hanya tidak bisa menerima kenyataan bahwa ada orang yang tega menyakiti seseorang yang seharusnya dijaga dengan seluruh nyawa."

Malam itu, di ruang tengah yang sunyi, dinding ego Liana runtuh sepenuhnya. Ia menyadari bahwa kesucian yang hilang bukan berarti hidupnya berakhir, selama ada seseorang yang mau merangkul keretakannya. Sementara itu, Morgan Bruggman, sang Dewa Ekonomi, menyadari bahwa kontrak lima tahun ini bukan lagi soal angka atau janji pada Liam. Ini adalah misi pemulihan bagi jiwa yang terluka.

"Istirahatlah di kamarmu," perintah Morgan lembut setelah Liana sedikit tenang. Ia membantu Liana berdiri, memegang lengannya dengan penuh kasih. "Besok, aku akan mengurus semuanya. Derby tidak akan pernah lagi berani menghina atau menyentuhmu."

Liana berjalan menuju kamarnya, namun ia berhenti di ambang pintu dan menoleh. "Bagaimana denganmu, Morgan? Lukamu belum selesai kuobati."

"Aku akan baik-baik saja, Liana. Tidurlah," jawab Morgan dengan senyum tipis yang tulus.

Saat Liana masuk ke kamar, Morgan kembali duduk di sofa. Ia mengepalkan tangannya yang terluka, menatap noda darah Derby yang masih ada di buku jarinya. Rasa benci yang membara pada Derby kini berubah menjadi tekad yang dingin. Morgan menyadari bahwa untuk menyembuhkan Liana, ia harus memastikan sumber luka itu benar-benar musnah dari dunia Liana.

Morgan mengambil ponselnya dan mengetik sebuah pesan singkat kepada Liam Shine: 'Kita perlu bicara soal Derby Neeson. Besok pagi. Jangan libatkan Liana.'

Bagi Morgan, malam ini adalah titik balik. Pernikahan kontrak yang kaku itu kini telah berubah menjadi ikatan batin yang nyata, di mana seorang pria yang hancur karena kebenaran bersumpah untuk menyatukan kembali potongan-potongan hidup wanita yang dicintainya secara diam-diam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!