Bima Sakti hanyalah seorang sopir di Garuda Group yang dikenal malas, sering terlambat, dan suka menggoda perempuan cantik. Namun, di balik sikapnya yang sembrono, Bima menyimpan identitas dan kemampuan luar biasa yang tidak diketahui siapa pun.
Kehidupan santainya berubah ketika ia harus berurusan langsung dengan Sari Lingga, Presiden Direktur Garuda Group yang dijuluki "Si Cantik Gunung Es". Di tengah persaingan bisnis yang kejam dan kejaran pria-pria berkuasa, Bima hadir bukan hanya sebagai sopir, melainkan sebagai pelindung rahasia bagi Sari.
Dari ruang kantor yang kaku hingga konflik dunia bawah Jakarta, Bima menunjukkan bahwa ia jauh lebih berbahaya daripada sekadar sopir armada biasa. Akankah si "Gunung Es" Sari Lingga akhirnya luluh oleh pesona sang sopir misterius ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Bima berdiri berdampingan dengan Sari di atas panggung. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga wanita itu, satu tangan melingkari pinggangnya, lalu berbisik pelan.
Sari sudah setengah mabuk. Ia sama sekali tidak menyadari betapa ambigu posisi mereka saat itu. Ketika musik kembali menggelegar, ia mulai menari dengan liar.
“Bro! Sentuh dia! Cubit dia!” teriak seorang pria bermata licik dari bawah.
“Dasar mesum! Tapi aku suka!” Bima tertawa. Tangan kanannya perlahan bergerak turun dari pinggang Sari…
Namun sebelum ia sempat melangkah lebih jauh, Sari yang sudah benar-benar kehilangan kendali tiba-tiba berbalik. Dengan gerakan spontan, ia melingkarkan kedua tangannya di leher Bima. Tubuhnya yang hangat langsung menempel padanya—ia benar-benar menari rapat bersamanya.
Merasakan tubuh wanita itu menempel padanya, Bima merasakan api aneh menyala di dalam dirinya. Tangan besar yang berada di tubuh Sari tanpa sadar mulai bergerak. Suasana Lembayung Bar mencapai puncaknya.
Saat keduanya masih menari di atas panggung, ponsel di saku Bima tiba-tiba berdering. Ia melirik nomor yang muncul. Senyumnya menghilang. Kilatan tajam melintas di matanya. Itu telepon dari seorang rekan lamanya.
“Bos, ayo pergi!” Bima segera membantu Sari turun dari panggung.
“Aku tidak mau pergi! Aku masih ingin minum!” Sari mendorongnya dengan keras, lalu berjalan terhuyung menuju lantai dua.
Tidak ada pilihan lain. Bima hanya bisa mengantarnya kembali ke ruang duduk di lantai dua. Teleponnya terus berdering tanpa henti. Bima berpikir sejenak lalu berkata,
“Kamu duduk di sini dulu. Aku keluar sebentar untuk menjawab telepon. Aku akan segera kembali.”
“Cepat kembali… kita lanjut minum…” gumam Sari dengan mata mabuk.
Bima mengangguk, lalu turun dari lantai dua, keluar dari bar, dan akhirnya mengangkat telepon.
“Bos! Aku sangat merindukanmu!”
Begitu panggilan tersambung, suara pria yang aneh langsung terdengar dari seberang.
“Pergi sana! Kalau tidak ada urusan penting, aku tutup teleponnya!” kata Bima dengan nada dingin, meski senyum hangat sempat melintas di matanya. Itu adalah suara yang sudah lama tidak ia dengar.
“Jangan ditutup! Jangan ditutup! Aku mau bicara serius! Kak Mira sudah beberapa hari mengambil cuti. Sepertinya dia kembali ke Indonesia untuk mencarimu!”
“Apa? Mira kembali?”
Bima menyipitkan mata. Namun sesaat kemudian, ekspresinya kembali tenang.
“Aku mengerti.”
“Bos… apa benar tidak ada kemungkinan lagi antara kamu dan Kak Mira? Mungkin tidak seperti yang kamu pikirkan. Bisa saja ada kesalahpahaman!”
“Jangan bahas itu lagi!”
Alis Bima terangkat.
“Bagaimana keadaan kalian sekarang?”
“Seperti biasa. Berburu ke seluruh dunia. Baru saja tiba di Afrika—tempat yang bahkan burung pun malas buang kotoran! Bos beruntung tidak ikut. Gadis-gadis di sini terlalu gelap. Kalau lampu dimatikan malam hari, bahkan wajah mereka tidak terlihat. Kalau tidak percaya, aku kirim satu ke kamu lewat paket!”
“Dasar bodoh. Jaga keselamatanmu,” jawab Bima sambil tertawa ringan. “Kalau tidak ada apa-apa lagi, aku tutup.”
“Oh…” Di seberang sana sempat terdiam lama. Akhirnya terdengar suara lagi. “Bos… saudara-saudari di Garuda Hitam selalu merindukanmu.”
Setelah menutup telepon, Bima berdiri diam beberapa menit.
Garuda Hitam.
Salah satu organisasi pasukan khusus paling rahasia yang pernah ada. Bahkan di dunia internasional, siapa pun yang berkecimpung di lingkaran itu pasti akan merasa gentar ketika nama Garuda Hitam disebut. Anggotanya sangat sedikit—tidak lebih dari sepuluh orang. Namun masing-masing memiliki kemampuan luar biasa.
Bima—kapten pasukan Garuda Hitam, sang “Naga” sejati—memiliki julukan lain: Death. Selama sepuluh tahun, ia memimpin Garuda Hitam dalam puluhan pertempuran tanpa pernah kalah sekalipun.
Kenangan bertarung bahu-membahu kembali terlintas. Bima mengepalkan tinjunya, lalu perlahan menghela napas panjang. Ekspresinya kembali santai. Kini ia hanya ingin menjadi seorang sopir kecil yang bahagia—cukup makan, cukup pakaian, dan sesekali menggoda gadis cantik.
Di sebuah ruang tersembunyi di lantai dua Lembayung Bar.
Dimas menatap panggung dengan wajah muram saat melihat Sari dan Bima berpelukan ketika menari tadi.
“Paman Surya! Segera panggil orang! Aku akan menebas pasangan bajingan itu sampai mati!”
Di sampingnya, seorang pria tua kurus berdiri dengan tangan di belakang punggung.
“Tuan Muda, tenangkan diri. Saya sudah menyuruh orang menyelidiki Bima itu. Setelah semuanya jelas, saya akan mengaturnya.”
“Bagus! Bocah itu bisa berkelahi, jadi kita harus mencari orang yang tepat! Dan Sari itu—berpura-pura suci di depanku, ternyata wanita murahan!” geram Dimas.
“Tuan Muda, pria itu sepertinya sudah pergi. Tinggal Sari yang minum sendirian,” kata salah satu anak buahnya.
Dimas melihat ke arah bawah. Benar saja. Bima telah keluar dari bar. Kilatan jahat muncul di matanya.
“Bukankah gadis kecil itu suka bermain? Malam ini aku akan membuatnya bermain sepuasnya! Panggil manajer gendut itu ke sini!”
Sambil berkata demikian, ia menyeringai. Dari sakunya ia mengeluarkan sebuah kantong kertas kecil dan menuangkan bubuk putih ke dalam botol anggur merah yang baru saja dibuka. Tak lama kemudian, manajer bar yang gemuk datang.
“Tuan Dimas, apa perintah Anda?”
“Gadis tadi menari dengan baik. Kirimkan botol anggur ini kepadanya. Katakan itu hadiah dari bar.”
Manajer gemuk itu segera mengangguk. “Tuan Dimas benar-benar dermawan...”
“Aku sudah bilang—katakan ini dari bar. Mengerti?” Dimas mencibir dingin.
Ketika Bima kembali ke bar, Sari sudah mabuk berat.
“Ayo minum! Siapa yang tidak minum adalah anak anjing!” katanya dengan wajah merah.
Bima segera merasa ada yang tidak beres. Ia mengangkat botol anggur di meja, mencium aromanya. Kilatan kemarahan muncul di matanya.
“Dari mana botol anggur ini?”
“Oh… yang ini? Manajer gemuk tadi membawanya. Katanya dari bar,” jawab Sari dengan linglung.
Bima berdiri dan memandang sekeliling. Ia melihat Dimas sedang berdiri di dekat area utama bar, memandangnya dengan senyum mengejek.
“Bajingan itu…” Niat membunuh langsung muncul di hati Bima.
“Panas… sangat panas…” Sari yang semula terbaring di meja tiba-tiba berdiri. Ia bergumam dengan wajah linglung sambil menarik-narik pakaiannya. Wajahnya memerah luar biasa.
Wajah Bima menjadi dingin. Jika tebakannya benar, Dimas telah memasukkan obat perangsang dosis tinggi ke dalam anggur itu. Hal paling penting sekarang adalah membawa Sari pergi dari sini sebelum ia kehilangan kendali di depan umum.
Tanpa ragu, Bima langsung menggendong Sari dan berjalan keluar dari bar.
“Aku panas… lepaskan aku… aku ingin minum…” Sari sudah tidak sadar sepenuhnya, terus meronta dalam pelukannya.
“Beritahu aku alamat rumahmu. Aku akan mengantarmu pulang.”
Bima menepuk pinggulnya dengan keras agar ia sedikit sadar. Dengan suara terputus-putus, Sari menyebutkan alamatnya sebelum kembali tenggelam dalam kondisi tak terkendali.
Bima menggertakkan gigi. Menggendong Sari yang terus menggeliat, ia berlari menuju mobil Cayenne yang diparkir di pinggir jalan.
Namun ia tidak menyadari, di sudut gelap tak jauh dari sana, sepasang mata penuh kesedihan sedang memperhatikan mereka sejak tadi.