Hanya karena perbedaan gaya hidup yang kini tak lagi sejalan, Tiffany menceraikan suaminya demi menjaga citra sebagai seorang konglomerat.
Ia bahkan melupakan siapa yang telah berjuang bersamanya dari nol hingga mencapai posisi tersebut.
Hans Rinaldi tidak menyimpan dendam. Ia menerima keputusan itu dengan lapang dada.
Namun, setelah perpisahan mereka, Tiffany tetap menyeretnya ke dalam berbagai masalah. Hingga akhirnya, terungkaplah siapa sebenarnya sosok pria sabar yang selama ini telah ia buang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Waktunya Balas Dendam
Hans terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka hubungan mereka seperti itu.
“Setahu aku Bimbo punya anak bernama Donio. Jadi Kamu siapa?”
“Nama aku Torra. Aku anak haram Bimbo.” Pria itu menundukkan kepala saat menjelaskan. “Bimbo maksa ibu aku dan bikin dia hamil. Demi jaga nama baiknya, dia nyembunyiin keberadaanku. Di depan orang-orang, aku cuma dianggap anak angkatnya.”
“Jadi kamu benci dia?” tanya Hans.
“Iya!” Torra mengertakkan giginya, matanya dipenuhi amarah. “Dia ninggalin aku sama ibuku dalam keadaan miskin selama bertahun-tahun. Sekarang dia cuma manfaatin aku buat bantu Donio. Aku gak bakal biarin mereka nginjek aku lagi. Aku harus ambil balik apa yang jadi hak aku!”
“Bagus.” Hans mengangguk puas. “Kalau Kamu punya ambisi, aku bakal bantu kamu. Selama Kamu ngikutin apa yang aku minta, aku bukan cuma bakal bantu Kamu naik kasta, tapi juga bantu Kamu menguasai Jakarta.”
“Terima kasih!” Torra langsung berlutut di lantai dengan wajah penuh kegembiraan.
Sebagai orang yang cukup cerdas, Torra bisa melihat bahwa Hans bukan orang biasa. Bagaimanapun juga, pria itu baru saja menjatuhkan seluruh Rumble Group sendirian. Kemampuannya jelas sulit dipahami. Jika dia bisa bekerja di sisi Hans, masa depannya pasti cerah.
“Kamu bisa panggil aku Rinaldi. Kalau nanti butuh apa pun, hubungi aku. Yang aku minta cuma satu, kesetiaan kamu,” kata Hans mengingatkan.
“Aku bersumpah bakal setia sampai mati, Tuan Rinaldi!” Torra mengangguk mantap.
“Kamu tahu harus ngapain setelah ini, kan?”
“Iya. Semua yang terjadi hari ini tanggung jawab aku. Tuan sama sekali gak ada hubungannya,” jawab Torra dengan cerdik.
“Kamu pintar.” Hans tersenyum tipis. Bidak yang dia temukan ini punya potensi.
Tiba-tiba HP di atas meja bergetar. Setelah mendapat izin dari Hans, Torra baru mengangkatnya.
“Halo? Ada apa? Kamu butuh 850 Miliar? Aku dengar kalian belum bayar pinjaman bank. Perusahaan Kamu mau bangkrut, tapi masih berani minta duit ke aku? Kamu kira aku bisa Kamu manfaatin? Udah, aku gak punya waktu buat urusan kamu. Pergi sana.”
Setelah mengatakan itu, Torra langsung menutup telepon tanpa ragu.
“Itu soal apa?” tanya Hans.
“Nggak penting. Ada orang bernama Hendrick Karimi yang minta pinjaman. Sekali minta langsung 850 Miliar.”
“Hendrick?” Hans mengangkat alis. “Dia punya anak bernama Othan, kan?”
“Kayaknya iya. Emangnya Tuan tahu dia?” Torra mulai penasaran.
“Udah, lupakan. Lanjut ceritain ke aku.”
“Kalau dulu, mungkin aku bakal setuju ngasih pinjaman. Soalnya memang itu bisnis perusahaanku. Tapi belakangan aku dengar Karimi Pharmaceuticals lagi diselidiki karena jual obat palsu, cuma kabarnya belum diumumkan ke publik. Mana mungkin aku minjemin uang ke perusahaan yang udah di ambang bangkrut? Kalau mereka kabur bawa uangnya, aku harus gimana?”
“Benar juga. Sepertinya Kamu cukup berpengalaman mengurus bisnis. Harusnya gak jadi masalah buat Kamu ngambil alih usaha Bimbo.” Hans mengangguk puas.
“Terima kasih atas pujiannya, Tuan Rinaldi,” jawab Torra dengan hormat.
“Baiklah. Beresin semua kekacauan di sini. Aku pergi dulu. Nanti kita hubungi lagi kalau ada perlu.”
Tanpa membuang waktu, Hans mengganti pakaiannya dengan setelan yang bersih lalu meninggalkan gedung Rumble Group.
Ini pertama kalinya dalam sepuluh tahun dia membantai begitu banyak orang. Namun perasaannya tetap tenang, bahkan hampir damai. Dibandingkan dengan apa yang pernah dia alami sepuluh tahun lalu, semua ini terasa seperti hal sepele.
Tiin! Tiin!
Saat Hans hendak memanggil taksi untuk pulang, sebuah mobil sport kuning melaju kencang ke arahnya dengan suara mesin yang meraung.
Ketika mobil itu terlihat hampir menabraknya, kendaraan itu tiba-tiba mengerem keras dan berhenti tepat di depannya.
Jendela mobil pun turun, memperlihatkan wajah seorang gadis yang sangat cantik.
Dia mengikat rambutnya dengan kuncir kuda dan terlihat berusia sekitar delapan belas tahun. Penampilannya muda dan menawan.
“Hey, Rinaldi! Masuk!” Gadis itu melambaikan tangan.
“Kamu siapa?” tanya Hans, benar-benar bingung.
“Serius? Kamu udah lupa aku? Kita baru ketemu kemarin!” Gadis itu mendengus kesal.
Menurutnya, dengan kecantikan alami yang dia miliki, ke mana pun dia pergi pasti selalu jadi pusat perhatian.
Dia adalah tipe gadis yang bisa membuat pria jatuh cinta pada pandangan pertama. Karena itu, dia sangat terkejut ketika tahu Hans sudah melupakannya hanya dalam semalam. Apa kehadirannya benar-benar tidak berarti?
“Hmm … wajah Kamu memang kelihatan familiar. Kayaknya aku pernah lihat kamu,” kata Hans sambil mencoba mengingat.
“Kemarin, di rumah sakit. Kamu yang ngobatin kakek aku. Sekarang ingat?” ucap gadis itu sambil mengatupkan giginya kesal.
“Oh! Kamu adiknya Maureen, Sonetta, kan?”
“Siapa yang Kamu panggil Sonetta? Nama aku Renatta! Renatta Wiraningrat!” Renatta hampir meledak karena kesal. Dia bahkan ingin menginjak pedal gas dan menabrak Hans dengan mobilnya. Seumur hidup, belum pernah ada orang yang memperlakukannya seperti ini. Benar-benar menyebalkan.
“Maaf ... Renatta, Kamu nyari aku ada perlu?” Hans cepat-cepat mengganti topik.
“Ya jelas! Kalau gak ada urusan, ngapain aku ke sini?” Renatta memutar matanya, lalu berkata tegas, “Cepat masuk mobil. Maureen sakit dan maksa mau ketemu kamu.”
“Hmm? Dia kenapa?”
“Mana aku tahu? Kamu kan dokter. Pergi aja lihat sendiri. Sekarang masuk!” perintah Renatta dengan nada tidak ramah.
Tidak punya pilihan lain, Hans masuk ke mobil. Mereka pun pergi di bawah tatapan iri orang-orang di sekitar.