NovelToon NovelToon
Taipan Abadi: Kebangkitan Menantu Terbuang

Taipan Abadi: Kebangkitan Menantu Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Arya, seorang pewaris sekte abadi yang dikhianati dan kehilangan kekuatannya, terperangkap dalam tubuh seorang "menantu benalu" yang dihina oleh keluarga istrinya di kota metropolitan modern. Dengan ingatan masa lalu dan sisa kekuatan spiritualnya, ia harus membangun ulang fondasi kekuatannya, menaklukkan dunia bisnis, melindungi wanita yang ia cintai, dan perlahan mengungkap rahasia alam semesta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Harga Sebuah Kesombongan

​Ruang VIP di Grand Hotel Victoria memiliki pencahayaan temaram dan perabotan kayu pinus berusia ratusan tahun. Arya duduk di sofa berlapis kulit asli, sebuah cangkir teh porselen mengepul pelan di atas meja mahoni di depannya.

​Di seberangnya, Han Shixiong berdiri dengan sikap sempurna, seperti seorang pengawal setia meskipun usianya sudah sepuh. Sesekali ia meremas tangannya, mencoba menutupi kegugupan yang melandanya sejak melihat Arya menghancurkan gelas kopi tempo hari dengan aura murni.

​Di luar dinding kaca tebal, panggung lelang sudah dipenuhi barang antik peninggalan Dinasti Tang, namun tak satu pun menarik minat mata tajam sang Kaisar Abadi.

​Semuanya rongsokan. Debu yang bahkan tak layak berada di pekaranganku di kehidupan yang lalu.

​"Tuan," Han memecah kesunyian, menatap ke arah meja. "Apakah ada barang yang menarik hati Anda hari ini?"

​Arya menyesap tehnya perlahan. Ia mengangkat kelopak matanya, menatap lurus ke arah panggung. "Belum ada. Tapi sebentar lagi, sebuah mangkuk dari era yang berbeda akan muncul."

​Tiba-tiba, mata Arya terpaku pada seseorang di barisan kursi VIP depan panggung utama. Di sana, duduk Dion Atmaja bersama ayahnya, Herman Atmaja. Terusirnya Dion belum sampai ke telinga Herman, dan si pemuda sial itu tampak masih berusaha menutupi rasa malunya dengan berpura-pura menikmati lelang.

​"Kupikir aku menyuruhmu untuk mengusirnya, Han," gumam Arya santai, matanya tidak meninggalkan Dion.

​Han tersentak, peluhnya seketika dingin. "M-maaf, Tuan! Pelayan hotel mungkin terlambat karena dia langsung pergi ke kursi kehormatan ayahnya. Saya akan segera memerintahkan pengawal untuk melemparkan mereka—"

​Arya mengangkat satu tangan, menghentikan Han. Matanya menyipit, diwarnai kilauan emas misterius. "Tidak perlu. Tepat waktu. Mangkuk itu baru saja keluar."

​Di atas panggung, sang juru lelang baru saja melepaskan kain merah dari atas sebuah peti pualam. Di dalamnya, bertengger mangkuk keramik hitam yang kasar, seolah pembuatnya malas menghaluskan permukaannya. Tidak ada desain, tidak ada keindahan. Tampak usang, retak, dan mati.

​Suara juru lelang bergema ke seluruh ruangan, "Hadirin sekalian, ini adalah sebuah enigma. Kami tidak menemukan data era pembuatan mangkuk ini. Tidak bereaksi terhadap uji karbon apa pun. Satu-satunya alasan benda ini dilelang adalah daya tariknya yang sulit dipahami. Harga awal? Seratus juta."

​Sebagian besar hadirin, termasuk Nadia yang duduk jauh di belakang kerumunan VIP, tampak kehilangan minat. Itu benar-benar hanya barang rongsokan.

​Herman Atmaja memiringkan kepalanya, menatap curiga ke arah mangkuk tersebut. "Dion, ini barang tidak ada artinya. Ayo, jangan kita jadikan uang kita kayu bakar."

​"Tidak, Ayah," bantah Dion, matanya tertuju ke ruang VIP Arya. Dia masih merasa terhina oleh ucapan Arya sebelumnya soal mangkuk tua, dan ingin membalas dendam melalui tindakan. Dia mengangkat papan lelangnya.

​"Seratus sepuluh juta!" seru Dion lantang.

​Arya tersenyum dingin. Ia menekan tombol mikrofon yang tersambung langsung ke panggung utama. Suaranya bergema menembus speaker ruang VIP dengan kejernihan mutlak.

​"Dua ratus juta."

​Kehebohan seketika menyelimuti aula. Siapa yang menawar gila-gilaan dari ruang eksklusif itu?

​Dion langsung mengepalkan tangannya. Dia kenal suara itu. Suara benalu dari Keluarga Kusuma! Bagaimana mungkin sampah itu bisa masuk ke dalam ruangan Han Shixiong?!

​"Lima ratus juta!" raung Dion, mencoba mempertahankan harga dirinya.

​"Herman," sebuah suara lirih terdengar dari belakangnya. Itu Nadia. "Kumohon, lupakan saja. Itu suamiku. Aku... aku akan mengganti kerugiannya." Nadia tampak panik, tak habis pikir darimana Arya mendapatkan uang sebesar itu.

​Herman menoleh ke arah Nadia dengan sinis. "Keluarga Kusuma? Kau pikir aku akan mundur dari gertakan suamimu yang tak tahu diuntungkan itu?"

​"Satu miliar." Suara santai Arya kembali bergema.

​Kerumunan kini benar-benar tercengang. Lelang ini tidak lagi tentang nilai mangkuk, tapi tentang sebuah pertarungan ego.

​Dion hendak mengangkat papannya lagi, namun tangannya ditahan oleh Herman. Sang ayah sudah membaca situasi. Jika ini tentang ruang VIP eksklusif, dia tahu bahwa dia tidak sedang berhadapan dengan Arya, tapi... Han Shixiong!

​"Jangan gegabah," desis Herman pelan pada Dion. "Mangkuk itu hanya batu ujian. Han Shixiong mencoba menguji apakah kita akan terus menantang perlindungannya terhadap Keluarga Kusuma. Jika kau melawan lebih jauh, Emerald Group akan mencabik-cabik kita malam ini."

​Dion terbelalak, lalu menundukkan kepalanya, wajahnya merah padam menahan amarah yang meledak-ledak. Tangannya bergetar, papan lelangnya terjatuh.

​"Satu miliar, satu kali!" teriak juru lelang. "Dua kali! Tiga kali! Terjual!"

​Di dalam ruang VIP, Arya menyandarkan punggungnya, senyum tipis masih terukir.

​"Luar biasa, Tuan," kata Han penuh kekaguman. "Saya bahkan tidak perlu menggerakkan satu jari pun untuk membuat mereka mundur. Namun, mangkuk rongsokan itu..." Han berhenti, nadanya menahan penasaran.

​Arya melirik Han sejenak. "Dunia ini dipenuhi oleh mata yang buta. Apa yang mereka sebut rongsokan, adalah pusaka dari era yang bahkan sebelum peradaban Bumi ini dimulai."

​Arya mengangkat tangannya, telapaknya terbuka. Di tengah-tengah telapak tangannya, secercah api keemasan mekar seperti teratai kecil, meliuk-liuk bagai benang emas. Udara di ruangan VIP tiba-tiba menjadi sangat padat dan menekan.

​Han Shixiong terkesiap, nyaris terjatuh dari tempat berdirinya. Napasnya tercekat, merasakan energi kuno dan sakral yang memancar dari telapak tangan Arya.

​"Itu... bukan mangkuk," ucap Arya perlahan, matanya memancarkan otoritas seorang kaisar yang sedang menghakimi semestanya. "Itu adalah Tungku Alkemia Sembilan Naga, dan dengan benda ini, masa kejayaan yang sesungguhnya baru saja dimulai."

​Arya menurunkan tangannya, api emas itu menghilang secepat ia muncul. Ia bangkit dari kursi, merapikan setelan jasnya yang sedikit kebesaran.

​"Sekarang, mari kita bawa pulang barang kita," kata Arya santai, berjalan menuju pintu keluar VIP.

​Han Shixiong buru-buru mengikutinya, pikirannya masih berguncang melihat mukjizat barusan. Satu hal yang ia yakini: pria di depannya ini bukanlah sekadar tuan yang dihormati, melainkan dewa yang berjalan di antara manusia.

1
Sofian Dzikrul Hidayah
kpn update
Sofian Dzikrul Hidayah
kpn update nya
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Sofian Dzikrul Hidayah
mlh gx update
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut
Sofian Dzikrul Hidayah
up thor
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Sofian Dzikrul Hidayah
up
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Dirman Ha
ih gk
Dirman Ha
hbk
Dirman Ha
hv gb bn
Dirman Ha
jg gb BBM
Dirman Ha
ig di
Dirman Ha
jg CV
Dirman Ha
ih gb np
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!