Kirana Seo, seorang penulis novel yang hidup pas-pasan, baru saja menyelesaikan bab terakhir novelnya yang tragis. Namun, alih-alih merayakannya, ia justru terbangun dalam tubuh karakter antagonis utama yang ia ciptakan sendiri: Gwyneth Valerine.
Terjebak dalam tubuh seorang "monster" yang terkenal dingin dan kejam, Kirana menyadari situasi berbahaya yang dihadapinya. Dua hari lagi, suaminya, Xavier Zhang, akan kembali, dan sebuah insiden kelam yang seharusnya meninggalkan trauma mendalam bagi putrinya, Amethysta Valerine, akan terjadi.
Bertekad untuk mengubah takdir, Kirana—dalam tubuh Gwyneth—memutuskan untuk menulis ulang kisah hidup mereka. Ia berusaha mendekati Amethysta kecil yang ketakutan, mengganti ketakutan dengan kasih sayang, dan berusaha mencegah tragedi yang telah ia tulis sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Suara dari Balik Cermin
...— ✦ —...
Mimpi itu pertama kali datang pada malam Jumat.
Bukan mimpi yang menakutkan — tidak ada monster, tidak ada kegelapan yang mencekam, tidak ada suara yang berteriak. Hanya sebuah ruangan yang bersih dan sunyi, dengan dinding putih dan lantai marmer yang terasa dingin di telapak kaki, dan di tengahnya sebuah cermin besar berbingkai emas.
Kirana berdiri di depan cermin itu. Tapi pantulan yang menatap balik bukan wajah Gwyneth.
Itu wajahnya sendiri. Wajah Kirana Seo — rambut pendek yang selalu sedikit berantakan, lingkar mata yang datang dari terlalu banyak malam di depan layar laptop, garis senyum yang terbentuk bukan dari kecantikan tapi dari kebiasaan tertawa pada hal-hal kecil yang lucu. Wajah yang sudah hampir dua bulan tidak ia lihat di cermin manapun.
"Kamu masih ingat aku."
Bukan pertanyaan. Kalimat itu keluar dari pantulan di cermin — dari wajahnya sendiri — dengan nada yang tidak bisa Kirana artikan. Bukan tuduhan. Bukan kerinduan. Sesuatu di antaranya.
Kirana tidak menjawab dalam mimpi itu. Ia hanya berdiri dan menatap dirinya sendiri yang menatap balik, dan merasakan sesuatu yang berat menggantung di antara mereka — pertanyaan yang belum punya kata-kata untuk menamakannya.
Lalu mimpi itu selesai, dan Kirana terbangun di ranjang Gwyneth dengan langit-langit putih yang sudah akrab di atasnya dan suara hujan tipis di luar jendela.
Ia berbaring diam selama beberapa menit, mendengarkan hujan, dan membiarkan perasaan yang dibawa mimpi itu tinggal tanpa terburu-buru mengusirnya.
...✦ ✦ ✦...
Ia tidak menceritakan mimpi itu kepada siapapun.
Bukan karena takut — atau mungkin sedikit karena takut, tapi bukan jenis ketakutan yang perlu dilarikan. Lebih karena mimpi itu terasa seperti sesuatu yang perlu ia duduki sendiri dulu, diputar-putar dari berbagai sudut, sebelum ia tahu apa yang sebenarnya sedang ia rasakan tentangnya.
Sabtu pagi berlalu dengan normal — sarapan, Amethysta yang meminta izin mengundang Naira ke rumah sore nanti, Xavier yang menghabiskan pagi di taman sambil membaca. Hal-hal yang sudah mulai terasa seperti ritme, seperti tekstur hari-hari yang tidak dramatis dan justru karena itu terasa berharga.
Tapi di balik semua itu, di lapisan yang tidak terlihat dari luar, ada sesuatu yang berputar pelan di kepala Kirana.
Kamu masih ingat aku.
Pantulan di cermin itu — dirinya sendiri, Kirana Seo yang asli — tidak terlihat marah. Tidak terlihat menuntut. Hanya ada, seperti pengingat yang tidak memaksakan diri tapi juga tidak mau diabaikan.
Kirana sedang mencuci piring setelah sarapan ketika ia menyadari apa yang sebenarnya membuat mimpi itu berat: bukan bahwa ia takut kembali. Tapi bahwa ia tidak yakin lagi apa yang ia rasakan tentang kemungkinan itu.
Dua bulan yang lalu, jika ada jalan pulang, ia akan mengambilnya tanpa berpikir panjang. Kembali ke apartemennya, ke laptopnya, ke mi instan dan tenggat waktu dan kehidupan yang kecil tapi miliknya sendiri.
Sekarang?
Sekarang ada Amethysta yang tidur di kamar sebelah dengan pot lavender kecil di ambang jendelanya. Ada Xavier yang sudah mulai pulang lebih awal tanpa alasan bisnis. Ada Seren yang tidak lagi berdiri dengan punggung tegang setiap kali Kirana masuk ruangan. Ada Ibu Zhang yang menelepon setiap Minggu dan selalu menanyakan apakah Amethysta sudah menunjukkan konstelasi baru.
Ada hal-hal yang tumbuh di sini yang tidak ada sebelum ia datang.
Dan pertanyaan yang tidak berani ia tanyakan pada dirinya sendiri adalah: kalau ia pergi, apa yang terjadi pada semua itu?
...✦ ✦ ✦...
Naira datang pukul tiga sore dengan buku tentang galaksi spiral di tangan dan energi seorang anak yang sudah menabung antusias sejak pagi.
Ia adalah anak yang berbeda dari yang Kirana bayangkan — lebih ribut, lebih banyak bergerak, dengan cara tertawa yang tidak minta izin dulu. Kontras yang menarik dengan Amethysta yang lebih pelan dan lebih terukur. Tapi mereka bertemu di suatu titik yang tepat, seperti dua instrumen yang berbeda yang ternyata menghasilkan harmoni.
Kirana menyambut Naira di pintu, dan Naira menatapnya dengan mata yang belum belajar menyaring ekspresi.
"Ibu Amethysta ya?" tanyanya langsung.
"Ya."
"Amethysta bilang Ibu yang kasih tahu tentang Orion."
"Benar."
Naira mengangguk dengan ekspresi seseorang yang sedang mengkonfirmasi informasi penting. "Saya juga mau tahu tentang konstelasi lain. Boleh?"
Kirana hampir tersenyum. "Nanti tanya Amethysta. Ia tahu lebih banyak dari saya sekarang."
Naira mempertimbangkan ini, tampak puas, lalu berlari masuk memanggil nama Amethysta dengan volume yang tidak mengenal setengah-setengah.
...✦ ✦ ✦...
Sore itu Kirana duduk di teras belakang sementara kedua anak itu asyik di ruang bermain — suara mereka terdengar dari dalam, debat serius yang sesekali diselingi tawa Naira yang tidak minta izin itu.
Xavier duduk di kursi sebelahnya dengan kopi yang sudah dingin di tangan.
"Kamu kelihatan jauh hari ini," katanya tanpa menuduh. Hanya mengamati.
Kirana menatap taman. Pohon pir di pojok. Tanaman lavender Pak Wirawan yang bunganya mulai muncul. Hal-hal yang ia kenal sekarang seperti mengenal halaman belakang rumah yang sudah lama dihuni.
"Mimpi aneh semalam," katanya akhirnya.
"Mimpi apa?"
Kirana memikirkan cara menjelaskannya — versi mana yang bisa ia ceritakan tanpa menjelaskan hal-hal yang belum siap ia jelaskan. "Mimpi tentang diri sendiri. Dari sudut yang berbeda."
Xavier menatapnya sebentar. "Menakutkan?"
"Tidak." Kirana mencari kata yang tepat. "Lebih seperti... diingatkan. Tentang sesuatu yang masih ada tapi tidak selalu terlihat."
Xavier diam sejenak, memutar cangkir kopinya. "Itu terdengar seperti sesuatu yang penting."
"Mungkin." Kirana menoleh ke arahnya. "Kamu pernah merasa seperti kamu sedang menjalani dua kehidupan sekaligus? Satu yang nyata di depan mata dan satu yang ada di suatu tempat lain, menunggu?"
Xavier menatapnya lama. Dengan cara yang tidak terburu-buru mengisi keheningan.
"Pernah," katanya akhirnya. "Waktu aku masih terlalu banyak di kantor. Hidup yang nyata ada di rumah tapi aku selalu di tempat lain." Jeda. "Tapi aku rasa yang kamu maksud berbeda dari itu."
"Sedikit berbeda," akui Kirana.
Xavier tidak bertanya lebih jauh. Dan itu, Kirana pikir, adalah salah satu hal yang paling ia hargai dari pria ini — kemampuannya untuk hadir tanpa memaksa masuk ke ruang yang belum diundang.
...✦ ✦ ✦...
Malam itu, setelah Naira pulang dan Amethysta mandi dan semua sudah tenang, Kirana duduk di depan cermin kamar mandi.
Bukan karena rutinitas. Tapi karena ada sesuatu yang perlu ia hadapi langsung.
Ia menatap wajah Gwyneth di cermin — wajah yang sudah hampir dua bulan ia huni, yang sudah mulai terasa seperti miliknya meski tidak pernah benar-benar menjadi miliknya. Tulang pipi yang tinggi. Rambut hitam yang panjang. Bibir yang belajar tersenyum dengan cara yang berbeda dari sebelumnya.
"Hei," katanya pelan, pada pantulan itu, pada Gwyneth yang ada di sana atau mungkin tidak ada di sana atau mungkin ada di tempat yang tidak bisa dijangkau dengan kata-kata biasa. "Aku tidak tahu apakah kamu mendengar ini. Aku tidak tahu apakah kamu ada di suatu tempat yang membuatmu bisa mendengar."
Cermin tidak menjawab. Tentu saja tidak.
"Tapi kalau kamu mendengar," lanjut Kirana, lebih pelan, "aku ingin kamu tahu bahwa Amethysta baik-baik saja. Ia punya teman sekarang. Ia menggambar bintang dan berdebat tentang Mars dan ia tidak lagi memegang ujung gaunnya sampai knuckle-nya memutih waktu kamu — waktu *aku* — masuk ruangan."
Keheningan. Hujan tipis di luar yang belum sepenuhnya berhenti.
"Dan aku tidak tahu bagaimana ini akan berakhir," kata Kirana. "Aku tidak tahu apakah aku akan tetap di sini atau kembali ke tempatku atau sesuatu yang lain yang tidak ada dalam skenario yang bisa aku bayangkan. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa waktu yang ada di sini — aku tidak menyia-nyiakannya."
Ia berhenti. Mengatur napasnya.
"Ibumu meninggalkan surat. Mungkin kamu tidak pernah sempat membacanya. Tapi intinya ia minta maaf — untuk rantai yang ia teruskan, untuk cara ia membesarkanmu yang membuat kamu menjadi orang yang tidak kamu pilih sendiri untuk menjadi." Kirana menatap langsung ke pantulan di cermin. "Rantai itu sudah saya putus. Atau setidaknya, saya sedang memutusnya. Satu hari dalam satu waktu."
Cermin tetap diam.
Tapi Kirana merasa — tidak ada cara rasional untuk mendeskripsikan perasaan ini, tidak ada penjelasan yang akan terdengar masuk akal di luar konteks kehidupan yang sudah melampaui logika sejak hari pertama — bahwa ada sesuatu di sana yang mendengar. Bukan hadir secara fisik. Tapi ada. Seperti bintang yang tidak terlihat karena cahaya kota, tapi bukan berarti tidak ada.
"Terima kasih," kata Kirana akhirnya. "Untuk tubuh ini. Untuk kesempatan ini. Untuk Amethysta."
Ia berdiri, mematikan lampu kamar mandi, dan keluar.
...✦ ✦ ✦...
Di kamar Amethysta, lampu sudah mati tapi pintu sedikit terbuka — kebiasaan baru yang dimulai tiga minggu lalu, ketika Amethysta bilang ia lebih suka tidak tidur dalam gelap yang sepenuhnya tertutup. Cahaya dari lorong masuk melalui celah itu, cukup untuk melihat siluet gadis kecil yang sudah tidur dengan selimut biru muda sampai ke dagu.
Di ambang jendelanya, pot lavender kecil berdiri dengan tenang. Bunganya belum mekar — masih tunas-tunas kecil yang sedang belajar menjadi — tapi ada, dan akan mekar pada waktunya.
Kirana berdiri di ambang pintu sebentar, tidak masuk, hanya ada di sana.
Selama ini ia memikirkan pertanyaan tentang kembali atau tinggal seperti pertanyaan yang perlu dijawab sekarang, perlu diselesaikan sebelum bisa melanjutkan. Tapi mungkin itu bukan cara pertanyaan itu seharusnya ditanyakan.
Mungkin jawabannya bukan tentang memilih satu dan meninggalkan yang lain. Mungkin jawabannya adalah terus hadir di mana ia sekarang berada, sepenuhnya, sampai alam semesta memutuskan langkah berikutnya. Dan sementara itu — sementara ia masih di sini, masih dalam tubuh ini, masih di dalam cerita yang sudah melampaui versi aslinya — terus memilih, setiap hari, untuk menjadi seseorang yang layak dipercaya oleh gadis kecil dengan mata ungu yang tidur di balik pintu yang sedikit terbuka.
*Kamu masih ingat aku,* kata pantulan di mimpi itu.
Ya,* jawab Kirana dalam hati, sekarang, di lorong yang sunyi. *Aku masih ingat. Aku tidak akan pernah tidak ingat. Tapi mengingat tidak berarti berhenti ada di sini.
Ia menarik pintu kamar Amethysta kembali ke posisi semula — sedikit terbuka, cahaya lorong masuk secukupnya — dan berjalan ke kamarnya sendiri.
Di luar jendela, hujan akhirnya berhenti. Langit bersih dan gelap dan penuh dengan bintang yang sudah menunggu di balik awan selama beberapa hari terakhir — sabar, tidak pergi ke mana-mana, tetap ada.
Seperti selalu.
...✦ ✦ ✦...
...— Bersambung —...