Amira yang membutuhkan uang untuk operasi ibunya, terpaksa menyetujui permintaan Celine, untuk menjadi istri kedua suaminya, Dirga.
Celine memang lebih terobsesi dengan pekerjaan, dibandingkan rumah tangganya, dan ingin sepenuhnya melepas peran sebagai seorang istri demi mencapai puncak karir. Celine pun menjebak Dirga, agar mau menikahi Amira.
Seiring berjalannya waktu, Dirga dan Amira mulai timbul benih-benih cinta. Namun, di saat itu juga, Dirga mengetahui jika pernikahan tersebut hanyalah sebatas jebakan. Lantas, bagaimana kelanjutan hubungan mereka bertiga? Bisakah Amira meyakinkan Dirga jika perasaannya benar-benar tulus? Lalu, bagaimana dengan Celine? Apakah dia rela melepaskan Dirga sepenuhnya untuk Amira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Weny Hida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Donor Jantung
Di saat Amira masih menunduk, berusaha menahan tangisnya, ponsel Celine tiba-tiba bergetar di dalam tas.
Celine refleks merogoh tasnya. Nama yang muncul di layar membuat jantungnya ikut berdebar, “Bagian Kerja Sama Internasional - Kampus”
Celine menelan ludah. Di situasi seperti ini, dia tidak mungkin mengabaikan. Namun di sebelahnya, Amira masih tampak rapuh. Wajahnya pucat, matanya sembab, tangannya masih memegang botol minum. Celine ragu sepersekian detik. Lalu dia memutuskan mengangkat telepon.
“Halo, selamat pagi.”
Di ujung sana, suara seorang staf terdengar ramah dan formal.
“Selamat pagi, Bu Celine. Kami mau menginformasikan, proposal penelitian Ibu yang kemarin diajukan, sudah mendapat respon dari pihak Cambridge University.”
Celine membeku.
“Respon?” ulangnya pelan.
“Iya, Bu. Dan kabar baiknya, Ibu dinyatakan terpilih untuk program kolaborasi penelitian. Untuk tahap awal, Ibu diminta menyiapkan beberapa dokumen tambahan dan, kemungkinan besar ada jadwal keberangkatan untuk diskusi langsung.”
Celine menatap kosong ke depan.
Tangannya yang memegang ponsel mengencang, Cambridge. Kesempatan yang selama ini terasa terlalu jauh untuk digapai, tapi di kepalanya, yang muncul justru wajah Dirga semalam.
Pertengkaran, rasa lelah, dan keputusan yang barusan dia ambil diam-diam.
Di sampingnya, Amira mengusap air mata lagi, mencoba terlihat kuat.
Suara staf itu berlanjut, “Kami juga perlu konfirmasi dari Ibu. Karena program ini cukup intens. Akan menyita waktu, dan kemungkinan Ibu harus sering bolak-balik atau bahkan tinggal sementara.”
Celine menghela napas. Dadanya terasa penuh. Karena ini bukan sekadar kabar baik. Ini kabar baik yang datang, dengan harga yang dia perjuangkan.
“Iya, saya mengerti.”
“Apakah Ibu bersedia melanjutkan prosesnya?”
Celine menutup mata sebentar.
Di dalam dirinya, ada dua suara yang bertabrakan. Satu suara berkata, ini mimpi kamu, Celine. Ini yang kamu perjuangkan.
Akan tetapi, suara lain berkata, kamu akan makin jauh dari Dirga. Makin jauh dari rumah, dan kamu sudah punya masalah.
Celine membuka mata. Lalu dia melirik Amira. Gadis itu menunduk, rapuh, sendirian, dan anehnya, momen itu justru membuat Celine merasa semakin berat.
“Saya bersedia,” jawab Celine tegas walau suaranya masih sedikit gemetar.
“Baik, Bu Celine. Kami kirim email detailnya hari ini. Mohon dicek, ya.”
“Baik. Terima kasih.”
Telepon ditutup. Celine menatap layar ponselnya beberapa detik, lalu menurunkannya perlahan. Dia tidak langsung tersenyum. Tidak langsung bahagia. Karena yang ia rasakan justru, campur aduk.
Celine menoleh ke Amira. Dia masih diam, tapi menatap Celine pelan, seperti baru sadar Celine barusan menerima kabar besar.
“Anda sedang sibuk?” tanya Amira lirih.
Celine mengangguk.
“Nggak juga.”
Amira terdiam sebentar, lalu berkata pelan, “Maaf, saya udah ngerepotin."
Celine langsung menggeleng. “Kamu nggak ngerepotin.”
Lalu Celine menarik napas, memandang Amira lebih serius. Belum sempat Celine menanyakan lebih jauh, seorang perawat menghampiri mereka. Wajahnya serius, langkahnya cepat, seperti membawa kabar yang tidak bisa ditunda.
“Mbak Amira?”
Amira langsung menegakkan badan, meski wajahnya masih pucat. “Iya, Suster.”
Perawat itu menatapnya hati-hati, lalu menurunkan suaranya.
“Maaf, barusan ada pasien kecelakaan, dan keluarganya bersedia mendonorkan jantung pasien tersebut. Karena kondisinya sudah sangat tidak memungkinkan untuk bertahan.”
Amira membeku. Celine ikut terdiam, merasakan hawa dingin merayap di tengkuknya.
Perawat itu melanjutkan, “Dokter jantung tadi bilang ada kemungkinan donor jantung itu cocok untuk ibu Mbak. Tapi ini harus cepat, karena waktunya terbatas.”
Amira seperti tidak bisa bernapas.
“Jantungnya cocok?”
Suaranya keluar lirih, seperti bisikan.
Perawat mengangguk. “Iya. Ini kesempatan yang jarang. Tapi Mbak harus ikut konsultasi sekarang, untuk persetujuan awal dan administrasi.”
Amira menelan ludah, matanya mulai berkaca-kaca lagi. Celine melihatnya, dan dia tahu, Amira bukan tidak ingin, Amira cuma takut.
Takut pada satu hal yang paling kejam, biaya. Amira menunduk, suaranya gemetar.
“Sa-saya nggak punya uang sebanyak itu, Suster.”
Perawat itu terdiam sejenak, lalu berkata pelan, “Mbak, tolong dipikirkan lagi. Nyawa Ibu Anda bisa selamat jika kita mengambil tindakan cepat."
Amira memejamkan mata. Air matanya jatuh lagi, kali ini lebih deras. Celine reflek memegang punggung tangan Amira, pelan.
Amira menggeleng, hampir seperti orang putus asa.
“Kalau saya bilang iya, tapi nanti nggak bisa bayar gimana? Saya cuma kerja… saya cuma karyawan F&B. Bahkan, cicilan motor juga belum lunas.”
Perawat itu menghela napas kecil.
“Kalau Mbak ingin, kita bisa panggil petugas bagian sosial rumah sakit untuk menjelaskan opsi yang ada. Tapi keputusan awal harus cepat, Mbak.”
Celine berdiri pelan.
“Amira, ayo kita temui dokter itu sekarang."
"A-apa?"
"Suster, boleh kan saya ikut?"
Perawat itu mengangguk. “Boleh. Mbak juga keluarganya?”
Celine menatap Amira sebentar, lalu menjawab jujur, “Anggap saja seperti itu.”
Perawat itu tampak ragu sesaat, tapi akhirnya mengangguk lagi. “Baik. Tapi keputusan tetap di tangan Mbak Amira.”
“A-aku harus gimana?” bisik Amira, hampir tidak terdengar.
Celine menunduk, menatap Amira dengan suara yang lembut.
“Kita jalan dulu, dengerin penjelasannya. Tanya semuanya. Jangan ambil keputusan sendirian dalam keadaan kamu panik.”
Amira mengangguk pelan, meski tubuhnya masih gemetar.
Perawat itu memberi isyarat. “Ayo, Mbak.”
Amira berdiri, kakinya sempat goyah. Celine langsung memegang lengannya, menahan supaya Amira tidak jatuh, dan mereka pun berjalan menyusuri lorong rumah sakit.
"Kamu tenang saja ya, ada aku di sini."
kalau sakit ya pergi kedokter.
atau minum obat lah.
lakik di kasih orang...
kalau lakik mu dah nyaman sama yg lain. nanti kamu yang merasa paling tersakiti..
padahal kamu sendiri yang main api.
paling nanti celine bakal nyesel....trus dia balik nyalakan mira.. yang bilang pelakor lah.
awas jangan sampek kamu masok lubang yang kau galih sendiri...
..