sepuluh tahun lalu,Aldric veynheart kehilangan segalanya
ia kehilangan ayahnya di singgasana dengan pedang patah ditangan.
Ia kehilangan ibunya yang ditikam dari belakang saat berlindung.ia kehilangan adiknya - Liana enam tahun yang dilempar dari menara tertinggi.
dan dimalam yang sana,dibalik tirai,ia melihat Elera ,istri yang dinikahinya sebulan lalu,bersandar mesra di dada Darius veynheart ,Kaka tirinya.
senyum Elera,saat menatap Darius adalah paku terakhir di peti mati hati Aldric sebelum ia sempat berteriak,sebelum tendangan menghantam punggungnya.
Tubuhnya meluncur ke jurang maut - jurang tak berdasar di bawah istana ,tempat ribuan monster dan roh penasaran bercokol. Tempat tak seorangpun kembali tapi Aldric bisa kembali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: JEJAK DI UTARA
Fajar datang lambat di atas Nivalen.
Matahari berusaha menembus sisa-sisa kabut hitam yang masih bergelantungan di langit, tapi hanya berhasil menciptakan gradasi kelabu yang suram. Kota yang dulu ramai itu kini sunyi—bukan sunyi damai, tapi sunyi kematian. Mayat-mayat bergelimpangan di jalanan, rumah-rumah hancur, dan sesekali terdengar tangisan orang-orang yang kehilangan.
Aldric berdiri di halaman istana yang porak-poranda, menatap ke utara. Di sana, langit terlihat berbeda—lebih hitam, lebih pekat. Seolah malam abadi menyelimuti wilayah itu.
Varyn mendekat, ukurannya kini dikecilkan menjadi sebesar manusia—mungkin agar lebih mudah berkomunikasi. Wujud manusianya adalah pria tinggi kurus dengan kulit abu-abu, mata merah, dan rambut putih panjang. Ia masih terlihat seperti iblis, tapi setidaknya tidak menakutkan.
*"Abaddon,"* katanya, suaranya tetap dalam meskipun tubuhnya kecil. *"Dia berbeda dari Kael dan Malak. Kael suka menghancurkan dengan kekuatan. Malak suka merusak dengan racun. Tapi Abaddon... ia suka mengotori."*
"Mengotori?" tanya Elara sambil mendekat.
*"Ya. Ia mengambil sesuatu yang suci, indah, murni—lalu menodainya. Ia akan mengubah pahlawan menjadi penjahat, cinta menjadi benci, harapan menjadi keputusasaan."* Varyn menatap Aldric. *"Itu sebabnya ia paling berbahaya bagimu."*
Aldric mengerutkan dahi. "Maksudmu?"
*"Kau baru saja kehilangan Darius—tapi bukan di tanganmu. Ada kehampaan di hatimu. Abaddon akan memanfaatkan itu."*
Ren, yang duduk di pangkuan Sera, tiba-tiba bicara. "Om, Varyn bilang... Abaddon tahu kita datang. Dia siap."
Aldric menghela napas. "Tentu dia tahu. Kita tidak bisa bersembunyi."
Sera memeluk Ren cemas. "Apa kita harus bawa Ren? Mungkin lebih aman jika ia tinggal—"
"Tidak." Potongan Aldric tegas. "Ren punya koneksi dengan Varyn. Ia bisa jadi senjata rahasia kita. Dan aku tidak akan memisahkan kalian."
Elara meraih tangan Aldric. "Lalu kita berangkat sekarang?"
"Kita butuh informasi lebih dulu. Tentang di mana persisnya Abaddon, tentang kelemahannya, tentang medan perang." Aldric menatap Varyn. "Kau tahu sesuatu?"
Varyn menggeleng. *"Aku ribuan tahun terperangkap. Abaddon bangkit setelah aku di penjara. Yang aku tahu hanya dari cerita-cerita kuno."*
"Kalau begitu, kita cari yang tahu." Aldric berjalan menuju pintu istana yang masih utuh. "Di dalam pasti ada peta, arsip, sesuatu."
---
Istana terasa berbeda saat dimasuki.
Sunyi. Hening. Hanya suara langkah kaki mereka yang bergema di lorong-lorong panjang. Bayang-bayang di dinding seolah hidup, bergerak sendiri, tapi mungkin hanya efek dari kelelahan dan trauma.
Mereka menuju ruang arsip—tempat menyimpan peta dan dokumen kuno. Aldric ingat ruangan itu dari kecil, tempat ia sering bermain petak umpet dengan Liana.
Di dalam, debu tebal menutupi segala sesuatu. Rak-rak kayu menjulang, dipenuhi gulungan perkamen dan buku-buku tebal. Varyn mengendus-endus, mencoba merasakan aura magis.
*"Ada sesuatu di sini,"* gumamnya. *"Tua. Sangat tua."*
Ia berjalan ke sudut ruangan, di mana sebuah peti kayu hitam tersimpan. Peti itu diukir dengan simbol-simbol yang sama dengan Kuil Penjaga.
*"Buka."*
Aldric mendekat. Peti itu tidak terkunci. Ia membuka tutupnya perlahan.
Di dalam, sebuah gulungan perkamen tua—bukan kertas biasa, tapi kulit—tergulung rapi. Di atasnya, tulisan emas yang masih berkilau meskipun usang.
*"Ini..."* Varyn mengambilnya dengan hati-hati. *"...peta wilayah utara. Tapi bukan peta biasa. Ini peta leyak—garis-garis kekuatan magis yang membentang di seluruh benua."*
Ia membuka gulungan itu. Di atas kulit, garis-garis bercahaya membentuk jaringan rumit. Beberapa titik bersinar merah.
*"Titik merah ini adalah tempat-tempat dengan konsentrasi kegelapan tinggi. Abaddon pasti bersembunyi di salah satunya."*
Mereka mengamati peta itu bersama. Tiga titik merah: satu di pesisir timur, satu di pegunungan tengah, dan satu di utara jauh—di wilayah yang disebut Lembah Bayangan.
*"Lembah Bayangan,"* gumam Varyn. *"Tempat terlarang bahkan bagi iblis sekalipun."*
"Kenapa?"
*"Konon, di sana ada gerbang menuju dimensi lain—tempat para dewa kuno bersemayam. Atau bersemayam dulu, sebelum mereka mati."* Varyn menatap Aldric. *"Jika Abaddon benar-benar di sana, ia mungkin mencoba membuka gerbang itu."*
Elara bertanya, "Apa yang terjadi jika ia berhasil?"
*"Kiamat. Bukan hanya dunia ini yang hancur, tapi semua dunia."*
Hening.
Ren tiba-tiba merintih. Matanya terpejam, tubuhnya menegang. Sera memeluknya cemas.
"Varyn... Varyn masuk lagi..." bisiknya.
Mata Ren terbuka—merah.
*"Aldric."* Suara Varyn dari mulut Ren. *"Dengar. Abaddon tahu kau punya peta itu. Ia mengirim sesuatu."*
"Apa maksudmu?"
Dari luar ruangan, suara gemerisik mulai terdengar. Seperti jutaan kaki merayap di dinding, di lantai, di langit-langit.
*"Tikus,"* bisik Varyn. *"Ribuan tikus. Tapi bukan tikus biasa—mereka bagian dari Abaddon."*
Pintu ruang arsip mulai bergetar. Dari celah-celahnya, mata-mata merah mulai mengintip.
---
Mereka berlari.
Tikus-tikus itu menyerbu dari segala arah—dari ventilasi, dari retakan dinding, dari bawah pintu. Ribuan, puluhan ribu, membanjiri lorong-lorong istana dengan derap kaki yang memekakkan telinga.
Aldric memimpin, Soulrender di tangan. Setiap tebasan pedang itu membunuh puluhan tikus dalam satu ayunan, tapi yang lain terus datang, tidak kenal lelah.
"Ke luar!" teriaknya. "Ke halaman!"
Mereka berlari secepat mungkin. Elara dan Sera saling membantu, Varyn—dalam wujud kecilnya—membuka jalan dengan semburan api hitam.
Halaman istana akhirnya tercapai. Udara terbuka, matahari redup—tapi setidaknya tidak ada lorong sempit.
Tikus-tikus itu berhenti di ambang pintu. Mereka berkumpul, membentuk barisan rapi, lalu—dari dalam kerumunan mereka—sesosok bayangan mulai terbentuk.
Bukan tikus, tapi manusia. Pria tinggi kurus dengan kulit pucat, mata hitam tanpa putih, dan senyum lebar yang mengerikan. Ia mengenakan jubah usang, compang-camping, dan di tangannya, sebuah tongkat dari tulang.
*"Selamat pagi,"* sapaannya lembut, tapi mengerikan. *"Aku utusan Abaddon. Ia mengirim salam."*
Aldric menghunus Soulrender. "Sampaikan salam kembali—salam maut."
Utusan itu tertawa. *"Kau tidak bisa membunuhku. Aku bukan apa-apa. Hanya bayangan. Tapi aku bisa menyampaikan pesan."*
"Apa pesannya?"
*"Abaddon tahu kau datang. Ia menunggumu di Lembah Bayangan. Tapi sebelum kau sampai, ia ingin memberimu hadiah."*
Utusan itu mengangkat tongkatnya. Dari ujung tongkat, kabut hitam menyembur—tidak seperti kabut Kael, tapi lebih pekat, lebih berat. Kabut itu membentuk gambar-gambar.
Gambar Liana, menangis.
Gambar Ayah, tergeletak dengan racun di mulut.
Gambar Ibu, dengan belati di dada.
Gambar Mira, tersenyum terakhir kali.
*"Kenangan,"* bisik utusan itu. *"Abaddon bisa memberimu lebih banyak kenangan. Atau ia bisa menghapusnya. Kau ingin lupa? Ia bisa membuatmu lupa semua kesedihan ini."*
Aldric gemetar. Tawaran itu... menggoda. Untuk melupakan semua rasa sakit, semua kehilangan, semua dendam yang membebani.
Tapi Elara meraih tangannya.
"Jangan dengar dia," bisiknya. "Jika kau lupa mereka, siapa yang akan mengingat perjuangan mereka? Liana, ayahmu, ibumu, Mira—mereka mati untuk sesuatu. Jika kau lupa, kematian mereka sia-sia."
Aldric menatap Elara. Matanya—hijau zamrud itu—penuh keteguhan.
Ia berbalik pada utusan itu. "Sampaikan pada Abaddon: aku tidak butuh hadiahnya. Aku akan datang, dan aku akan membunuhnya."
Utusan itu tersenyum lebar. *"Seperti dugaanku. Abaddon akan senang mendengarnya."*
Ia mulai memudar, bersama dengan ribuan tikus itu. Sebelum benar-benar hilang, ia berkata, *"Oh, satu lagi. Lilith titip pesan: Ia sedang menjenguk orang-orang yang kau tinggalkan di Dusun Willow. Mungkin kau bisa mampir ke sana... sebelum semuanya terlambat."*
Utusan itu lenyap.
Sera menjerit. "Dusun Willow! Nenek Greta! Penduduk di sana!"
Aldric mengepalkan tangan. Lilith—ia menyerang orang-orang yang telah membantu mereka.
Varyn menghela napas. *"Ini jebakan, Aldric. Abaddon ingin memecah belah kita. Jika kau ke Dusun Willow, kau buang waktu. Jika kau ke utara, kau biarkan Lilith membantai mereka."*
Aldric berdiri diam, bergulat dengan pilihan.
Elara memegang tangannya. "Apa pun keputusanmu, aku ikut."
Sera menangis, memeluk Ren. "Tolong... tolong mereka..."
Ren meronta, menatap Aldric. "Om, Varyn bilang... kita harus pintar. Jangan pilih yang Om mau, tapi pilih yang benar."
Anak itu—anak kecil berusia lima tahun—memberi nasihat yang lebih bijak dari banyak orang dewasa.
Aldric menarik napas panjang. Ia menatap ke utara, lalu ke barat. Lalu keputusan muncul di benaknya.
"Varyn."
*"Ya?"*
"Kau bisa membuat salinan dirimu? Seperti avatar?"
*"Bisa. Tapi lemah. Hanya cukup untuk beberapa jam."*
"Kirim satu ke Dusun Willow. Tahan Lilith selama mungkin. Kita akan ke utara, hadapi Abaddon. Cepat."
Varyn tersenyum. *"Kau belajar taktik, Nak."*
Ia mengangkat tangan. Dari tubuhnya, bayangan lain keluar—Varyn kedua, lebih kecil, lebih redup. Ia melesat ke barat, menghilang dalam sekejap.
*"Itu yang bisa kulakukan. Sekarang, kita harus cepat. Abaddon tidak akan menunggu."*
Aldric mengangguk. Ia menatap Elara, Sera, dan Ren. "Kita berangkat sekarang. Tidak ada waktu istirahat."
Mereka berjalan ke utara, meninggalkan istana yang hancur, menuju Lembah Bayangan.
Di belakang mereka, bayangan Varyn yang kecil terus melesat ke barat, membawa harapan bagi Dusun Willow.
Di depan mereka, kegelapan Abaddon menanti.
---
*Perjalanan ke utara memakan waktu tiga hari. Tiga hari melewati hutan yang mulai layu, sungai yang mengering, desa-desa yang ditinggalkan. Semakin dekat mereka ke Lembah Bayangan, semakin pekat aura kegelapan.*
*Ren sering merintih dalam tidurnya—mungkin berkomunikasi dengan Varyn, mungkin merasakan kehadiran Abaddon. Sera menjaganya dengan cemas.*
*Elara tetap tegar di sisi Aldric, meskipun kelelahan. Ia tidak pernah mengeluh.*
*Dan Aldric... Aldric memegang Soulrender erat-erat. Pedang itu semakin panas, semakin bersinar, seolah tahu bahwa pertarungan besar akan segera tiba.*
*Di ambang lembah, mereka berhenti.*
*Di depan, kabut hitam pekat menari-nari, membentuk wajah-wajah mengerikan—wajah-wajah yang mereka kenal. Liana, Ayah, Ibu, Mira—semua tersenyum, tapi senyum yang salah, senyum yang mengejek.*
*"Selamat datang," suara bergema dari dalam kabut. "Aku sudah menunggumu, Aldric Veynheart."*
*Abaddon the Desecrator.*
*Pertarungan terakhir dimulai.*