Alderza Rajendra, seorang siswa tampan yang banyak digemari para siswi di sekolahnya. Kehadirannya tersebut, selain membuat kericuhan diantara para cewek-cewek di sekolahnya, ia juga menimbulkan rasa takut diantara para cowok maupun cewek di sekolah itu.
Seorang teman ceweknya yang juga merupakan teman sekelasnya, sering kali menjadi bahan bully-an oleh dia dan juga genk nya. Sebagai ketua, Alderza tentunya tidak pernah ngasih ampun dalam membully cewek tersebut.
Namun suatu hari, Alderza berhenti. Semua perilaku kekerasan dan cacian yang ia berikan pada cewek tersebut menghilang. Semua dikarenakan satu rahasia besar yang membuat dirinya hancur seketika.
Rahasia tersebut berasal dari Aily Marsela teman sekelasnya yang selalu ia sakiti.
novel ini banyak sekali terinspirasi dari novel Teluk Alaska karya Eka Aryani.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Saputra 0416, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1. Teman baru?
Happy Reading
Pagi itu, mentari sama sekali belum muncul sepenuhnya. Aily berjalan lurus melewati gerbang sekolahnya. Cewek berjaket ungu itu, memasukkan tangannya pada jaket rajut berwarna ungu tersebut, dengan rambutnya yang terikat rapi.
Seperti hari-hari biasanya, Aily selalu saja datang paling awal saat belum ada murid-murid yang datang.
Tapi, sepertinya hari ini tidak seperti itu. Saat ia memasuki kelasnya, Aily mendapati bahwa ada seorang cewek berambut lurus sebahu sedang duduk di samping bangkunya.
Aily tersenyum canggung pada cewek itu. Ia sama sekali tidak mengenal cewek itu.
"Hai," Ucap cewek tersebut sembari tersenyum kepada Aily.
"Ha-Hai," Balas Aily canggung.
Baru kali ini Aily mendapati ada orang yang mau menyapanya. Semenjak ia menjadi bahan bully-an genk Alderza, tidak ada siswa maupun siswi yang mau berbicara dengannya lagi. Sungguh menyedihkan.
"Ka-Kamu murid baru ya?" Tanya Aily gemetar.
"Hehe iya, kenalin nama aku Wulan." Tanpa ragu, cewek itu langsung mengulurkan tangannya berniat berjabat tangan dengan Aily.
Deg
"Wu-Wulan?"
Aily seketika terpikirkan dengan nama temannya yang selalu hadir dan selalu menyapanya di balik jendela kamarnya tersebut. Namun, namanya kali ini agak sedikit berbeda dengan Bulan temannya yang selalu mengunjunginya itu.
"Iya, Wulan. Kenapa? Kok kamu kayak keheranan gitu sama nama aku?"
"A-Ah gak papa kok, kenalin nama aku Aily." Mereka bersalaman dengan senyuman cerah terpancar di wajah mereka.
"Tadi, aku abis dari ruang TU. Kata guru yang jaga di sana, wali kelas aku belum datang. Jadinya, aku langsung dianterin ke sini deh."
Situasi saat itu benar-benar canggung bagi Aily. Ia sama sekali bingung untuk memulai obrolan seperti apa. Tapi sepertinya, hal itu tidak perlu ia khawatirkan lagi. Murid baru bernama Wulan ini benar-benar sangat ramah dan..... cerewet, yang membuatnya sedikit tenang.
Aily hanya mengangguk saja saat mendengarkan celotehan Wulan, tiba-tiba Wulan berkata lagi.
"Ada ikut organisasi?"
"Nggak." Balas Aily sambil tersenyum canggung.
"Oh, kalo gitu kamu ada ikut ekskul apa?" tanya Wulan lagi.
Aily hanya menggelengkan kepalanya, tanda ia sama sekali tidak mengikuti kegiatan organisasi, maupun ekstrakurikuler yang ada di sekolah tersebut. Karena, kebiasaannya sejak dulu adalah, sehabis bel pulang berbunyi, ia langsung pulang dan hampir tidak mau keluar lagi.
"Kalo aku dulu ikut banyak ekskul seperti musik, organisasi juga ikut malah. Malah, di sekolah lama aku, aku yang jadi ketos nya."
Sepertinya, Aily tidak perlu lagi memikirkan pertanyaan apa yang harus ia ajukan kepada Wulan. Karena, Wulan sendiri langsung menceritakan mengenai dirinya sendiri.
Sementara Aily? Dia hanya menjadi pendengar yang baik saja bagi Wulan.
"Eh, aku tuh suka tau sama kamu. Kamu orangnya kayak diem-diem gitu." Ucap Wulan dengan wajah sumringah mengetahui bahwa ia akan mempunyai teman seperti Aily.
"O-Oh gitu ya. Mendingan kamu cari tempat lain yang masih kosong aja deh." Ucap Aily agak ragu.
Bukannya ia bermaksud untuk mengusir Wulan, tapi Aily tidak ingin Wulan malah bernasib sepertinya, menjadi bahan bully-an genk Alderza.
"Kenapa? Di sini udah ada yang nempatin kah?" Tanya bulan merasa tidak enak.
"Bu-Bukan kok, cuma......"
Belum sempat Aily berkata apa-apa, ternyata anak-anak kelasnya mulai berdatangan masuk ke dalam kelas.
Mereka seketika kaget mengetahui bahwa Aily sedang mengobrol dengan seseorang. Mereka pun kemudian berbisik.
"Ih, ada yang duduk di samping Aily loh. Kasian ya."
"Bener tuh, tar kalo dia juga jadi korban gimana."
"Mendingan lo kasih tau langsung deh ke dia."
"Ih males amat, entar kalo tiba-tiba gw lagi ngobrol sama mereka, genk Alderza dateng, bisa berabe urusannya."
Meski mereka berbisik, tapi itu masih bisa terdengar sangat jelas bagi Aily. Namun, ia sama sekali tidak memperdulikan omongan mereka sama sekali.
"Em.... Aily, jadi gimana? Aku boleh duduk di sini?" Tanya Wulan memastikan.
Aily benar-benar bingung, ia tidak mau cewek itu jadi korban. Tapi, di sisi lain ia benar-benar merasa tidak enak memintanya untuk pindah.
"Mendingan kamu pindah aja ya." Balas Aily dengan tatapan memelas.
Wulan merasa ada yang janggal dengan perkataan Aily. Terlihat dari cara bicaranya yang gugup, ia yakin bahwa Aily pasti sedang menyembunyikan sesuatu.
BRAAKK
Pintu kelas terbuka dengan sangat kencangnya. Bagi Aily dan murid-murid lainnya di kelas itu, mereka sudah terbiasa dengan suara tersebut. Tapi berbeda dengan Wulan yang sangat kaget.
Tampak 3 orang cowok dan 2 orang cewek memasuki kelas tersebut. Semua yang ada di kelas itu terdiam begitu melihat mereka masuk.
Ya, siapa lagi kalau bukan Alderza dan teman-temannya.
Mereka langsung menyimpan tas mereka di belakang pojok kiri kelas. Sementara Alderza tampak kesal begitu melihat ada orang yang sedang berada di samping Aily saat ini.
"Lo siapa? Berani-beraninya lo duduk di sini." Tanya Alderza sinis.
Kancing atasnya terbuka, bajunya dikeluarkan, dan juga wajahnya yang berantakan, sama sekali tidak membuat Wulan takut.
"Gue temennya Aily, gue murid baru di sini. Kenapa, ada masalah?" Tanya Wulan menantang Alderza.
"Wow wow, murid baru udah berani berlagak ya." Balas Sinta sembari bertepuk tangan.
Genk Alderza mulai menatap Wulan tidak suka. Cewek itu benar-benar membuat mereka kesal.
"Udah. Udah. Wulan, kamu mending pindah aja ya tempat duduknya...." Ucap Aily memohon kepada Wulan.
"Tapi-"
"Wulan, plis..."
Aily terus memohon kepada Wulan untuk pindah saja. Sementara itu genk Alderza hanya tertawa melihatnya. Mereka sama sekali tidak suka ada yang dekat dengan Aily.
Terutama Sinta dan Riska. Mereka berdua sangat tidak menyukai jika ada siapapun yang mendekati Aily. Mereka selalu merasa bahwa mereka lah murid tercantik di sekolah itu, bukan Aily Marsela.
"Kerjain semua PR gue, buru." Alderza pun memberikan bukunya.
"Ini waktunya upacara, bukan ngerjain PR!" Ucap Wulan yang berhasil membuat kaget seisi kelas.
Sungguh, anak baru ini membuat Alderza kehabisan kesabaran. Alderza langsung menatapnya dengan sangat tajam sembari menggebrakkan meja.
"Lo gak tau siapa gue hah?" Bentak Alderza yang sudah kehabisan kesabaran.
Genk Alderza tersenyum. Itulah yang sangat mereka harapkan, Alderza marah kepada cewek yang sok berani itu.
"Emangnya itu urusan gue lo itu siapa." Ucap Wulan.
Ia kemudian memegang tangan Aily sembari tersenyum manis dan berkata.
"Buka jaketnya, kita langsung ke lapangan sekarang."
Aily pun membuka jaketnya, kemudian mengambil topi yang berada di tasnya. Sungguh, baru pertama kali baginya ada orang yang mau membelanya di kelas.
Wajahnya terus memasang wajah tidak percaya akan apa yang terjadi saat ini. Jantungnya berdebar kencang tidak karuan.
"Eh, lo songong banget dah jadi anak baru. Pinter kagak, cantik kagak, cuman mulut doang noh yang pinter." Bentak Riska yang mulai naik pitam karena tak terima melihat Alderza direndahkan seperti itu.
Bukan hanya Aily, semua yang ada di ruangan tersebut kaget melihat Wulan yang berani menentang genk Alderza.
Wulan itu, siapakah dia yang sebenarnya?
"Jijik bet gue sumpah ngeliatnya, Al." Ucap Sinta sembari melipat kedua tangannya.
"Yuk kita ke lapangan." Ajak Wulan sekali lagi.
Aily hanya mengangguk dan ia pun mengikuti Wulan lalu keluar kelas.
"Huuuuu...." Genk Alderza menyoraki kepergian kedua cewek tersebut.
Sementara Alderza, ia mengeratkan tangannya begitu kuat saking kesalnya. Tidak ada orang yang boleh membela Aily.
Saat itu saja, ada ketos yang berani membela Aily mati-matian, ia langsung menghajarnya sampai babak belur.
Haruskah ia melakukan hal yang serupa kepada murid baru tersebut?
Sepertinya tidak.
Kedua temannya, Sinta dan Riska lah yang akan melakukannya. Ia yakin baik Wulan dan Aily tidak akan ada yang selamat dari mereka berdua.
Tunggu saja nanti.
Terima kasih guys yang udah baca. Kalo ada typo atau kesalahan kata, mohon untuk diperbaiki ya.